Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Mutiara Kata

Himpunan Hikmah

294 petikan ilmu untuk direnung dan dikongsi.

Rawak
Hikam Ibnu 'Atoillah

281. فَصَرَفَ عَنْ هٰذِهِ الدَّارِ مُغْضِيًا، وَأَعْرَضَ عَنْهَا مُوَلِّيًا، فَلَمْ يَتَّخِذْهَا وَطَنًا وَلاَ جَعَلَهَا سَكَنًا.

Maka ia memalingkan muka dari dunia ini, dan mengabaikan dengan memejamkan mata dan berjalan terus (meletakkannya di belakang- nya), maka tidak menganggapnya sebagai tanah air atau tempat tinggal.

Hikam Ibnu 'Atoillah

282. بَلْ أَنْهَضَ الْهِمَّةَ فِيهَا إِلَى اللهِ تَعَالَى، وَسَارَعَ مُسْتَعِينًا بِهِ فِي الْقُدُومِ عَلَيْهِ.

Bahkan terus bangkit semangat ingin segera sampai kepada Allah dan terus berjalan menuju kepadaNya, sambil berharap pertolongan Allah untuk segera sampai kepada Allah.

Abu Muhammad Al-Jariry berkata : Siapa yang menyangka bahwa ada sesuatu amal perbuatannya dapat menyampaikannya ke tujuan keinginannya baik yang tinggi atau yang rendah, maka ia telah sesat dari jalannya. Sebab Nabi saw. bersabda : Tidak dapat menyelamatkan seorang itu amalnya sendiri. (Yakni tidak ada amal perbuatan yang dapat menyelamatkan orang lain). Hanya semua itu tergantung pada kurnia rahmat Allah semata- mata. Karena itu untuk mencapai segala hajat tujuan harus langsung kembali mengharap rahmat kurnia Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

283. فَلَمْ تَزَلْ مَطِيَّةُ عَزْمِهِ لاَ يَقِرُّ قَرَارُهَا دَائِمًا، تَسِيرُ حَتَّى أَنَاخَتْ بِحَضْرَةِ الْقُدْسِ، وَبِسَاطِ الْأُنْسِ، مَحَلِّ الْمُفَاتَحَةِ وَالْمُوَاجَهَةِ وَالْمُجَالَسَةِ وَالْمُحَادَثَةِ وَالْمُشَاهَدَةِ وَالْمُطَالَعَةِ، فَصَارَتِ الْحَضْرَةُ مُعَشَّشَ قُلُوبِهِمْ، إِلَيْهَا يَأْوُونَ وَفِيهَا يَسْكُنُونَ.

Maka tetap terus kendaraan semangatnya tidak berhenti, bahkan tetap terus berjalan, sehingga berlabuh (berhenti) di hadratil qudsi (di sisi Allah) di atas hamparan kesenangan, tempat berbisik/ bermunajat, berhadapan, bercakap-cakap, musyahadah dan bertemu sehingga hadratil qudsi itu menjadi sarang hati mereka, ke sana mereka kembali, dan di sana pula mereka tetap tinggal. Semangat yang tidak padam, bagaikan kendaraan yang tidak kunjung berhenti perjalanan, kecuali setelah sampai stasiun (pelabuhan) yang berupa hadratul-qudsi, di mana Allah sendiri yang menyenangkan, membuka nur hati dan selalu di sisi Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

284. فَإِذَا نَزَلُوا إِلَى سَمَاءِ الْحُقُوقِ أَوْ أَرْضِ الْحُظُوظِ فَبِالْإِذْنِ وَالتَّمْكِينِ وَالرُّسُوخِ فِي الْيَقِينِ، فَلَمْ يَنْزِلُوا إِلَى الْحُقُوقِ بِسُوءِ الْأَدَبِ وَالْغَفْلَةِ، وَلاَ إِلَى الْحُظُوظِ بِالشَّهْوَةِ وَالْمُتْعَةِ، بَلْ دَخَلُوا فِي ذٰلِكَ بِاللهِ وَلِلَّهِ وَمِنَ اللهِ وَإِلَى اللهِ.

Maka apabila mereka tiba di langit (yakni menunaikan) hak kewajiban, atau turun ke bumi (yang berarti) menurutkan hawa nafsu, maka keduanya itu dengan izin dan keyakinan yang mendalam. Karena itu tidak menunaikan kewajiban dengan menyalahi adab atau kelalaian, demikian pula bila menurutkan hawa nafsu, bukan semata-mata dorongan syahwat yang meluap atau kesenangan duniawi, tetapi mereka masuk dalam kedua-dua bagian itu dengan bantuan pertolongan Allah, dan untuk keridhaan Allah, menurut tuntunan Allah, serta berharap kepada Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

285. وَقُلْ رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ، لِيَكُونَ نَظَرِي إِلَى حَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ إِذَا أَدْخَلْتَنِي، وَاسْتِسْلاَمِي وَانْقِيَادِي إِلَيْكَ إِذَا أَخْرَجْتَنِي.

Katakanlah : Ya Tuhan, masukkanlah saya dalam kebenaran, dan keluarkanlah saya dalam kebenaran pula, supaya tetap pandanganku bulat pada kekuasaan dan kekuatanMu, ketika Engkau memasukkan saya, demikian pula penyerahan dan taatku selalu kepadaMu ketika Engkau mengeluarkan saya.

وَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًا يَنْصُرُنِي وَيَنْصُرُ بِي وَلَا يَنْصُرُ عَلَيَّ، يَنْصُرُنِي عَلَىٰ شُهُودِ نَفْسِي وَيُفْنِينِي عَنْ دَائِرَةِ حِسِّي.

Dan berikan untukku langsung daripadaMu kekuatan (bukti) yang membantu padaku, dan membantu kawan-kawanku, dan tidak membantu nafsu dan musuh-musuhku, membantu saya untuk mengenal kelemahan diri dari nafsuku, dan melenyapkan saya dari kurungan perasaanku. Selalu minta bantuan Allah supaya dapat istigamah, dan untuk kesempurnaan hal dalam menghadapi jiwa nafsu dan perasaan.

Hikam Ibnu 'Atoillah

286. إِنْ كَانَتْ عَيْنُ الْقَلْبِ تَنْظُرُ أَنَّ اللهَ وَاحِدٌ فِي مِنَّتِهِ، فَالشَّرِيعَةُ تَقْتَضِي أَنَّهُ لاَ بُدَّ مِنْ شُكْرِ خَلِيقَتِهِ.

Jika matahati memandang bahwa Allah itu tunggal dalam segala pemberian kurniaNya, maka syariat menyuruh harus berterima kasih (syukur) pula kepada sesama makhluk.

Firman Allah :

أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ (لقمان: ١٤)

Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua ayah bundamu. (Luqman 14). Annu'man bin Basyir ra. berkata : Rasulullah saw. bersabda :

مَنْ لَا يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَا يَشْكُرِ الْكَثِيرَ، وَمَنْ لَا يَشْكُرِ النَّاسَ لَا يَشْكُرِ اللَّهَ.

Siapa yang tidak mensyukuri pemberian yang sedikit, maka tidak akan dapat mensyukuri yang banyak. Demikian pula siapa yang tidak syukur (terima kasih) kepada sesama manusia, maka berarti tidak bersyukur kepada Allah. Hakikat yang sebenarnya bahwa segala nikmat itu hanya kurnia Allah semata-mata, sedang syariat mengharuskan manusia syukur terima kasih kepada sesama manusia.

Hikam Ibnu 'Atoillah

287. وَأَنَّ النَّاسَ فِي ذٰلِكَ عَلَى ثَلاَثَةِ أَقْسَامٍ: غَافِلٌ مُنْهَمِكٌ فِي غَفْلَتِهِ، قَوِيَتْ دَائِرَةُ حِسِّهِ وَانْطَمَسَتْ حَضْرَةُ قُدْسِهِ، فَنَظَرَ الْإِحْسَانَ مِنَ الْمَخْلُوقِينَ، وَلَمْ يَشْهَدْهُ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ، إِمَّا اعْتِقَادًا فَشِرْكُهُ جَلِيٌّ، وَإِمَّا اسْتِنَادًا فَشِرْكُهُ خَفِيٌّ.

Dan manusia dalam menghadapi nikmat pemberian Tuhan terbagi tiga : 1. Orang yang lalai terhadap Tuhan dan sangat memuncak kelalaiannya. Orang ini sangat kuat jiwa materialnya, sangat terpengaruh oleh panca inderanya, hingga padam sama sekali jiwa rohaninya (kesucian jiwanya), maka ia melihat bantuan/kebaikan itu hanya semata-mata dari sesama makhluk, dan sama sekali tidak melihat dari Allah Tuhan Rabbul-alamiin. Jika yang demikian ini berupa i tigad keyakinan, maka siriknya jelas, atau sekedar dianggap sebagai sebab yang andaikan tidak ada sebab itu tidak terjadi itu kurnia, maka ini sirik juga tetapisamar.

Mereka itu jika ditanya : Siapakah yang memberi kepadamu? Jawabnya : Allah, tetapi andaikan tidak ada fulan itu tentu tidak ada pemberian atau kurnia ini.

Hikam Ibnu 'Atoillah

288. وَصَاحِبُ حَقِيقَةٍ غَابَ عَنِ الْخَلْقِ بِشُهُودِ الْمَلِكِ الْحَقِّ، وَفَنِيَ عَنِ الْأَسْبَابِ بِشُهُودِ مُسَبِّبِ الْأَسْبَابِ، فَهُوَ عَبْدٌ مُوَاجِهٌ بِالْحَقِيقَةِ، ظَاهِرٌ عَلَيْهِ سَنَاهَا، سَالِكٌ لِلطَّرِيقَةِ قَدِ اسْتَوْلَى عَلَى مَدَاهَا، غَيْرَ أَنَّهُ غَرِيقُ الْأَنْوَارِ مَطْمُوسُ الْآثَارِ، قَدْ غَلَبَ سُكْرُهُ عَلَى صَحْوِهِ، وَجَمْعُهُ عَلَى فَرْقِهِ، وَفَنَاؤُهُ عَلَى بَقَائِهِ، وَغَيْبَتُهُ عَلَى حُضُورِهِ.

Orang ahli hakikat yang telah melupakan makhluk karena langsung melihat kepada Allah raja yang hak, dan lupa dari sebab musabab karena teringat kepada yang menentukan sebab dan menjadikannya. Orang ini sebagai hamba yang menghadapi hakikat yang nyata baginya terang cahayanya, dan sedang berjalan pada jalannya, telah sampai pada puncaknya, hanya ia sedang tenggelam dalam alam cahaya, sehingga tidak kelihatan bekas-bekas makhluk, lebih banyak lupanya terhadap alam daripada ingatnya, dan bertemunya pada Allah dari renggangnya, dan lenyaplah dirinya dari tetapnya perasaannya, dan lupanya terhadap makhluk daripada ingatnya pada mereka.

Hikam Ibnu 'Atoillah

289. وَأَكْمَلُ مِنْهُ عَبْدٌ شَرِبَ فَازْدَادَ صَحْوًا، وَغَابَ فَازْدَادَ حُضُورًا، فَلاَ جَمْعُهُ يَحْجُبُهُ عَنْ فَرْقِهِ، وَلاَ فَرْقُهُ يَحْجُبُهُ عَنْ جَمْعِهِ، وَلاَ فَنَاؤُهُ يَصُدُّهُ عَنْ بَقَائِهِ، وَلاَ بَقَاؤُهُ يَصُدُّهُ عَنْ فَنَائِهِ، يُعْطِي كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ، وَيُوَفِّي كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ.

Dan yang sempurna ialah seorang hamba yang minum dari nur tauhid, maka ia bertambah kesadarannya, dan lenyap dari melihat sesuatu selain Allah, kemudian bertambah dekatnya, maka dekatnya kepada Allah tidak mempengaruhi (menutup) pisahnya, demikian pula pisahnya tidak menutupi dekatnya, fana'nya dari makhluk tidak menghalangi tetap ingatnya, demikjan ingatnya kepada makhluk tidak merintangi fana'nya, dapat menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, dan memberi pada tiap sesuatu haknya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

290. وَقَدْ قَالَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لِعَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا لَمَّا نَزَلَتْ بَرَاءَتُهَا مِنَ الْإِفْكِ عَلَى لِسَانِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا عَائِشَةُ! اشْكُرِي رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَقَالَتْ: وَاللهِ لاَ أَشْكُرُ إِلاَّ اللهَ. دَلَّهَا أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَلَى الْمَقَامِ الْأَكْمَلِ مَقَامَ الْبَقَاءِ الْمُقْتَضِي لِإِثْبَاتِ الْآثَارِ، وَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ. وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ يَشْكُرِ اللهَ مَنْ لاَ يَشْكُرِ النَّاسَ. وَكَانَتْ هِيَ فِي ذٰلِكَ الْوَقْتِ مَشْغُولَةً عَنْ شَاهِدِهَا غَائِبَةً عَنِ الْآثَارِ، فَلَمْ تَشْهَدْ إِلاَّ الْوَاحِدَ الْقَهَّارَ.

Abubakar Assiddiq ra. telah berkata kepada 'Aisyah ra. ketika Allah menurunkan ayat yang menerangkan kesuciannya dari tuduhan-tuduhan orang munafiq yang diturunkan kepada Rasulullah saw. : Hai 'Aisyah bersyukur (terima kasih)lah kepada Rasulullah saw. Jawab 'Aisyah : Demi Allah, saya tidak akan bersyukur melainkan kepada Allah. Abubakar menunjukkan kepadanya tingkat kedudukan yang lebih sempurna yaitu bagaa' yang mengakui adanya makhluk. Sedang Allah telah berfirman : Syukurlah kepadaKu dan kepada kedua ayah bundamu. Juga Rasulullah saw. bersabda : Tidak bersyukur kepada Allah, orang yang tidak berterima kasih terhadap sesama manusia. Tetapi Siti A'isyah ra. ketika itu sedang terpengaruh dari perasaannya, lupa dari semua makhluk, sehingga tidak melihat sesuatu kecuali dzat Allah yang Esa dan Maha Kuasa.

Hikam Ibnu 'Atoillah

291. وَقَدْ سُئِلَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلاَةِ – قُرَّةُ الْعَيْنِ كِنَايَةٌ عَنْ غَايَةِ الْفَرَحِ وَالسُّرُورِ وَاللَّذَّةِ، فَكَأَنَّهُ يَقُولُ: وَجُعِلَتْ غَايَةُ فَرَحِي وَسُرُورِي فِي الصَّلاَةِ لِمُشَاهَدَةِ الرَّبِّ فِيهَا – هَلْ ذٰلِكَ خَاصٌّ بِهِ أَوْ لِغَيْرِهِ مِنْ أُمَّتِهِ مِنْهُ شِرْبٌ وَنَصِيبٌ؟ فَأَجَابَ: إِنَّ قُرَّةَ الْعَيْنِ بِالشُّهُودِ عَلَى قَدْرِ الْمَعْرِفَةِ بِالْمَشْهُودِ، فَالرَّسُولُ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْهِ وَسَلاَمُهُ لَيْسَ مَعْرِفَةُ غَيْرِهِ كَمَعْرِفَتِهِ، فَلَيْسَ قُرَّةُ عَيْنٍ كَقُرَّتِهِ. وَإِنَّمَا قُلْنَا إِنَّ قُرَّةَ عَيْنِهِ فِي صَلاَتِهِ لِشُهُودِ جَلاَلِ مَشْهُودِهِ، وَلِأَنَّهُ قَدْ أَشَارَ.

Ketika Ibn Atha' Allah ditanya tentang sabda Nabi sav. Dan telah diberi oleh Allah kepuasanku dalam sembahyang. Apakah itu khusus untuk Rasulullah saw. sendiri atau juga ummatnya mendapat

(bagian)? Jawabnya : Sesungguhnya kesenangan melihat kebesaran Jalalullah itu menurut kadar kekuatan ma'rifatnya terhadap apa yang dilihat itu, sedang ma'rifat Rasulullah saw. tidak dapat disamakan dengan ma'rifat lain-lainnya, karena itu tidak ada kesenangan (kepuas- an) seperti kesenangannya. Dan kami katakan bahwa kesenangan itu dalam sembahyang, karena melihat kebesaran yang dilihatnya, sebab Nabi sendiri telah mengisyaratkan dalam sabdanya : "Di dalam sembahyang", dan tidak berkata "Dengan sembahyang," sebab Nabi saw. tidak akan puas/senang hatinya selain kepada Tuhannya. Bagaimana tidak demikian, padahal ia sendiri menganjurkan untuk mencapai tingkat itu dalam sabdanya : Sembahlah Allah seakan-akan engkau melihat kepadaNya. Dan mustahil jika melihat Allah dan melihat lain-lainnya di samping Allah. Jika ada orang berkata : Adakalanya kesenangan itu karena sembahyang (dengan sembahyang), sebab sembahyang itu sebagai kurnia yang timbul langsung dari sumber pemberian Allah, maka bagaimana tidak akan gembira dengan itu, dan bagaimana tidak menjadi puncak kesenangan karenanya, sedang Allah telah berfirman : Katakanlah : Hanya dengan (karena) kurnia dan rahmat Allah itulah mereka harus bergembira. Maka ketahuilah bahwa dalam ayat itu juga telah ada isyarat untuk jawaban terhadap pertanyaan ini bagi orang yang memperhatikan rahasia kata-katanya. Sebab Allah berkata : Maka dengan itulah mereka harus bergembira. Dan tidak berkata : Dengan itulah engkau bergembira ya Muhammad. Seolah-olah berkata : Katakan kepada mereka supaya mereka bergembira dengan pemberian kurnia itu, tetapi kegembiraanmu hanya dengan yang memberi kurnia itu, sebagaimana tersebut dalam ayat : Katakanlah : Allah, kemudian biarkan mereka dalam kesibukan mereka ber- kecimpung- Sembahyang itu sebagai pemberian Allah yang terbesar untuk hambaNya, sebagaimana tersebut dalam sabda Nabi saw. : Tiada diberi- kan kepada seorang hamba di dunia ini sesuatu yang lebih baik daripada Grizinkan baginya untuk sembahyang dua rakaat. Sebab sembahyang itu sebagai hubungan langsung antara hamba dengan Allah, bertemu berkata-kata, dan berkhalwat. Di situlah seorang menyatakan kehambaan, kerendahan, kehinaan, hajat dan kebutuhannya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

292. النَّاسُ فِي وُرُودِ الْمِنَنِ عَلَى ثَلاَثَةِ أَقْسَامٍ: فَمُفْرَحٌ بِالْمِنَنِ لاَ مِنْ حَيْثُ مُهْدِيهَا وَمُنْشِئُهَا، وَلٰكِنْ بِوُجُودِ مُتْعَةٍ فِيهَا، فَهٰذَا مِنَ الْغَافِلِينَ يَصْدُقُ عَلَيْهِ قَوْلُهُ تَعَالَى: حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً. وَمُفْرَحٌ بِالْمِنَنِ مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ شَهِدَهَا مِنَّةً مِمَّنْ أَنْشَأَهَا وَنِعْمَةً مِمَّنْ أَوْصَلَهَا، يَصْدُقُ عَلَيْهِ قَوْلُهُ تَعَالَى: قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ. وَمُفْرَحٌ بِاللهِ مَا شَغَلَهُ مِنَ الْمِنَنِ ظَاهِرُ مُتْعَتِهَا وَلاَ بَاطِنُ مِنَّتِهَا، بَلْ شَغَلَهُ النَّظَرُ إِلَى اللهِ عَمَّا سِوَاهُ، وَالْجَمْعُ عَلَيْهِ، فَلاَ يَشْهَدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، يَصْدُقُ عَلَيْهِ قَوْلُهُ تَعَالَى: قُلِ اللهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ.

Manusia di dalam menghadapi nikmat kurnia Allah terbagi tiga : 1. Gembira dengan nikmat itu, bukan karena yang memberikannya, tetapi semata-mata karena kelezatan dan kepuasan hawa nafsu dari nikmat itu, maka ini termasuk orang lalai (ghafil), orang ini sesuai dengan firman Allah : Sehingga bila mereka telah puas gembira dengan apa yang diberikan itu, Kami tangkap mereka dengan tiba-tiba (Kami siksa mereka dengan tiba-tiba). 2. Orang yang gembira dengan nikmat karena ia merasa bahwa itu kuria yang diberikan Allah kepadanya, ini sesuai dengan firman Allah : Katakanlah : Karena merasa mendapat kurnia dan rahmat Allah, maka dengan itulah mereka harus gembira. yang demikian itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. 3. Orang yang hanya gembira dengan

Allah, tidak terpengaruh oleh kelezatan lahirnya nikmat, dan tidak karena kurnia Allah, sebab ia sibuk memperhatikan Allah sehingga terhibur dari segala lainNya, maka tidak ada yang terlihat padanya kecuali Allah, ini sesuai dengan firman Allah : Katakanlah : Hanya Allah, kemudian biarkan mereka dalam kesibukan mereka berkecimpung (main-main).

Asysyibly berkata : Syukur itu jalan melihat pada yang memberi, bukan melihat nikmat pemberiannya.

Abdul Aziz Almahdawy berkata : Siapa yang tidak melihat pemberi nikmat di dalam nikmat itu, maka nikmat itu hanya berupa istidraj (dilulu) dan berubah menjadi bala. Abu Hamid (Muhammad) Alghazzaly membuat contoh : Seorang raja memberi hadiah kuda pada rakyatnya, maka dalam menerima nikmat pemberian hadiah ada tiga macam : 1. Merasa gembira karena ia mendapat sesuatu yang berguna dan berharga, sesuai dengan maksud tujuannya, dan dapat menyampaikan hajat keinginannya. Orang yang sedemikian ini tidak memperhatikan raja sama sekali, pandangannya hanya semata-mata pada kuda, diberi raja atau mendapat di hutan tidak beda baginya. 2. Orang yang gembira bukan karena kudanya, tetapi karena merasa diberi, diingati, dikasihi oleh raja, orang ini dapat membedakan antara pemberian raja dengan jika ia mendapat di hutan. 3. Orang yang merasa gembira karena dengan pemberian itu, ia dapat menggunakan untuk lebih mendekat kepada raja, sehingga dapat lebih meningkatkan kedudukannya di sisi raja.

Hikam Ibnu 'Atoillah

293. وَقَدْ أَوْحَى اللهُ إِلَى دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ: قُلْ لِلصِّدِّيقِينَ بِي فَلْيَفْرَحُوا، وَبِذِكْرِي فَلْيَتَنَعَّمُوا.

Allah telah mewahyukan kepada Nabi Dawud as. : Hai Dawud katakan kepada orang-orang siddiqin : Dengan Aku mereka hendaknya bersenang gembira, dan dengan berdzikir menyebut namaKu hendaknya mereka merasakan nikmat. Allah teiah menurunkan wahyu kepada Nabi Dawud as., supaya menyampaikan firman Allah kepada orang-orang yang benar-benar dalam iman percaya kepada Allah, supaya mereka hanya senang

kepada Allah tidak pada lain-lainnya, dan supaya mereka merasakan nikmat dalam berdzikir kepada Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

294. وَاللهُ يَجْعَلُ فَرَحَنَا وَإِيَّاكُمْ بِهِ، وَبِالرِّضَا مِنْهُ، وَأَنْ يَجْعَلَنَا مِنْ أَهْلِ الْفَهْمِ عَنْهُ، وَأَنْ لاَ يَجْعَلَنَا مِنَ الْغَافِلِينَ، وَأَنْ يَسْلُكَ بِنَا مَسَالِكَ الْمُتَّقِينَ، بِمَنِّهِ وَكَرَمِهِ، آمِينَ.

Semoga Allah menjadikan kesenangan (kegembiraan) kamı dan kamu dengan Allah dan dengan rela (ridha) terhadap apa-apa yang dari Allah, semoga Allah menjadikan kami dari golongan yang mengerti segala sesuatu daripada Allah, dan jangan menjadikan kami dari golongan orang yang ghafil (lalai), dan semoga Allah menjadikan kami di jalanan orang-orang muttagin dengan kurnia dan kemurahan Allah swt.

Hikam Ibnu 'Atoillah

232. لاَ تَسْتَحْقِرَنَّ وِرْدًا لاَ تَعْلَمُ ثَمَرَتَهُ، فَلَيْسَ الْمُرَادُ مِنَ السَّحَابَةِ الْأَمْطَارَ، وَإِنَّمَا الْمُرَادُ مِنْهَا وُجُودُ الْأَثْمَارِ.

Jangan membanggakan (gembira) terhadap suatu warid (yakni kecondongan hati untuk berbuat taat) yang belum engkau ketahui buahnya, sebab bukan yang diharapkan dari awan itu sekedar hujan, tetapi tujuan utamanya ialah adanya buah dari pohon-pohonan. Contohnya amal ibadat sembahyang, jangan keburu merasa bangga dan gembira, karena sudah dapat sembahyang, selama belum merasakan buah sembahyang sebagaimana yang tersebut dalam ayat :

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ (العنكبوت: ٤٥)

Sesungguhnya sembahyang itu dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Ini buahnya sembahyang, maka selama belum mendapat buah yang demikian, jangan merasa bangga atau gembira, tetapi disamping itu jangan putus harapan untuk diterimanya meskipun belum berhasil segera buahnya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

233. لاَ تَطْلُبَنَّ بَقَاءَ الْوَارِدَاتِ بَعْدَ أَنْ بَسَطَتْ أَنْوَارَهَا عَلَيْكَ وَأَوْدَعَتْ أَسْرَارَهَا، فَلَكَ فِي اللهِ غِنًى عَنْ كُلِّ شَيْءٍ، وَلَيْسَ يُغْنِيكَ عَنْهُ شَيْءٌ.

Jangan minta tetapnya itu warid setelah kau merasakan (mendapatkan) buah terangnya nur (cahaya)nya, dan tertangkap semua rahasia-rahasianya, maka cukup bagimu mengabdi kepada Allah sehingga tidak membutuhkan sesuatu yang lainnya, sebab tidak ada sesuatu yang dapat mencukupi sehingga tidak berhajat kepada Allah.

Ketahuilah bahwa semua isi alam, dan segala nur, tingkat-tingkat magam kewalian dan lain-lainnya itu, semata-mata kurnia Allah kepada anak Adam, karena itu manusia tidak boleh bergantung kepada semua itu, adanya itu atau tidak adanya sama saja, tidak boleh menggoncangkan jiwa manusia, selama ada Allah yang memberi itu semua. Dunia dibuat oleh Allah untuk manusia, dan manusia dijadikan untuk mengabdi kepada Allah. Karena itu manusia harus merasa kaya dengan adanya Allah, sehingga tidak boleh menyandar (menggantungkan) pada sesuatu selain Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

235. النَّعِيمُ وَإِنْ تَنَوَّعَتْ مَظَاهِرُهُ إِنَّمَا هُوَ لِشُهُودِهِ وَاقْتِرَابِهِ، وَالْعَذَابُ وَإِنْ تَنَوَّعَتْ مَظَاهِرُهُ إِنَّمَا هُوَ لِوُجُودِ حِجَابِهِ، فَسَبَبُ الْعَذَابِ وُجُودُ الْحِجَابِ، وَتَمَامُ النَّعِيمِ بِالنَّظَرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيمِ.

Nikmat itu meskipun beraneka bentuk warnanya hanya disebabkan oleh karena melihat dan dekat kepada Allah, demikian pula siksa walau bagaimanapun aneka macamnya hanya karena terhijabnya dari Allah, maka sebabnya siksa itu karena adanya hijab, dan sempurna nikmat itu ialah melihat kepada dzat Allah yang mulia.

Firman Allah :

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ * إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ (القيامة: ٢٢ - ٢٣)

Berapa wajah manusia kelak berseri-seri, dapat melihat wajah Tuhannya. Nikmat dekat kepada Allah, lebih-lebih melihat kepada Allah itu memang tiada bandingannya, sehingga apabila manusia di surga ditanya oleh Tuhan : Apakah yang kamu rasa kurang, dan yang akan kamu minta ? Jawab mereka : Kami cukup puas dan tidak ada hasrat untuk minta apa- apa lagi, sebab sudah cukup puas, tiba-tiba dibukakan oleh Allah hijab untuk melihat wajah (zat) Allah, maka di situlah mereka merasa tidak ada nikmat yang lebih besar daripada melihat kepada zat Allah swt.

Hikam Ibnu 'Atoillah

236. مَا تَجِدُهُ الْقُلُوبُ مِنَ الْهُمُومِ وَالْأَحْزَانِ فَلِأَجْلِ مَا مُنِعَتْ مِنْ وُجُودِ الْعِيَانِ.

Semua yang dirasakan oleh hati (perasaan/fikiran) dari berbagai macam kerisauan itu, maka semata-mata karena masih tertahan belum dapat melihat musyahadah kepada Tuhan Allah swt.

Firman Allah menceritakan ketika Abubakar Assiddiq ra. bersama Rasulullah di gua Tsur, dimana Abubakar risau dan sedih hati, langsung oleh Rasulullah diingatkan :

لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا (التوبة: ٤٠)

Jangan risau/sedih sesungguhnya Allah beserta kami.

Asysyibly berkata : Siapa yang benar-benar mengenal Allah tidak akan risau atau berduka cita untuk selama-lamanya.

Firman Allah :

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (يونس: ٦٢)

Ingatlah, sesungguhnya para waliyullah itu tidak merasa takut dan tidak merasa duka cita. Dan sabda Nabi saw. kepada Abubakar Assiddiq ketika digua Tsur : Ya Aba Bakr ma dhannuka bi isnain allahu tsalitsu huma. Bagaimanakah perasaanmu hai Abubakar terhadap dua orang yang ditigai oleh Allah (disertai/dilindungi oleh Allah).

Disalin