Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

233. لاَ تَطْلُبَنَّ بَقَاءَ الْوَارِدَاتِ بَعْدَ أَنْ بَسَطَتْ أَنْوَارَهَا عَلَيْكَ وَأَوْدَعَتْ أَسْرَارَهَا، فَلَكَ فِي اللهِ غِنًى عَنْ كُلِّ شَيْءٍ، وَلَيْسَ يُغْنِيكَ عَنْهُ شَيْءٌ.

Jangan minta tetapnya itu warid setelah kau merasakan (mendapatkan) buah terangnya nur (cahaya)nya, dan tertangkap semua rahasia-rahasianya, maka cukup bagimu mengabdi kepada Allah sehingga tidak membutuhkan sesuatu yang lainnya, sebab tidak ada sesuatu yang dapat mencukupi sehingga tidak berhajat kepada Allah.

Ketahuilah bahwa semua isi alam, dan segala nur, tingkat-tingkat magam kewalian dan lain-lainnya itu, semata-mata kurnia Allah kepada anak Adam, karena itu manusia tidak boleh bergantung kepada semua itu, adanya itu atau tidak adanya sama saja, tidak boleh menggoncangkan jiwa manusia, selama ada Allah yang memberi itu semua. Dunia dibuat oleh Allah untuk manusia, dan manusia dijadikan untuk mengabdi kepada Allah. Karena itu manusia harus merasa kaya dengan adanya Allah, sehingga tidak boleh menyandar (menggantungkan) pada sesuatu selain Allah.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

197. مَنْ أُذِنَ لَهُ فِي التَّعْبِيرِ فُهِّمَتْ فِي مَسَامِعِ الْخَلْقِ عِبَارَتُهُ، وَجُلِّيَتْ إِلَيْهِمْ إِشَارَتُهُ.

Şiapa yang telah mendapat izin dari Allah untuk berkata- kata (menerangkan), maka segala kata-katanya dapat dimengerti oleh pendengarannya, dan semua isyarat petunjuknya dapat terang jelas Orang yang diizinkan itu ialah yang berbicara Lillahi wa billahi wa fillah. Karena Allah dan dengan bantuan Allah, dan dalam tuntunan hukum Allah. Hamdun bin Ahmad bin Umarah Algashshar ketika ditanya : Mengapakah kata-kata orang dahulu jauh lebih berguna dari ajaran kita ini ? Jawabnya : Karena mereka bicara (berkata) untuk kemuliaan Islam, dan keselamatan jiwa dan untuk mendapat keridhaan Allah. Sedang kami bicara untuk kemuliaan diri dan mencari dunia, dan keridhaan (penerima) makhluk. Al-Junaid berkata : Kalimat yang benar itu hanya yang diucapkan setelah mendapat izin. Sebagaimana firman Allah :

لَّا يَتَكَلَّمُونَ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَٰنُ وَقَالَ صَوَابًا (النبأ: ٣٨)

Mereka tidak dapat berkata-kata, kecuali yang diizinkan oleh Arrahman (Allah dan berkata benar (tepat).

Hikam Ibnu 'Atoillah

203. لاَ تَمُدَّنَّ يَدَكَ إِلَى الْأَخْذِ مِنَ الْخَلاَئِقِ إِلاَّ أَنْ تَرَى أَنَّ الْمُعْطِيَ فِيهِمْ مَوْلاَكَ، فَإِذَا كُنْتَ كَذٰلِكَ فَخُذْ مَا وَافَقَكَ الْعِلْمُ.

Jangan mengulurkan tangan untuk menerima pemberian makhluk, kecuali bila merasa bahwa yang memberi itu sebenarnya Tuhanmu, maka bila engkau telah sedemikian, maka terimalah dari mereka yang sesuai, dengan ilmu pengetahuanmu.

Sebab bila engkau masih merasa ada sesuatu selain Allah yang dapat membantu kepadamu, maka tauhidmu belum benar (murni) menerima pengertian keesaan Allah dalam kalimat : Laa ilaaha illallaah dan Laa haula walaa quwwata illa billahi. Allah menjadikan dan memberi rizqi, yang menghidupkan dan mematikan, ini semua hak kekuasaan Allah semata-mata, sehingga kalau ada pemberian itu dari tangan siapa saja datangnya, harus tidak boleh lupa bahwa itu langsung dari Allah yang menyuruh salah satu hamba pesuruhNya, menyampaikan kepadamu. Khalid Al-Juhany ra. berkata : Rasullullah saw. bersabda : Siapa yang kedatangan hadiah/sedekah dari temannya tanpa minta-minta dan mengharap-harap dalam hatinya, maka hendaknya diterima, sebab yang demikian itu sebagai rizgi yang dihantar oleh Allah kepadanya. Dalam lain riwayat ada tambahan : Dan bila ia tidak membutuh- kannya karena sudah cukup, maka hendaknya diberikan kepada orang yang lebih berhajat daripadanya.

Ibrahim Al-Khawwas berkata : Seorang shufi tidak harus memilih jalan tidak berusaha, terkecuali jika memang sudah cukup keadaannya.

Abu Abdullah Alqurasy berkata : Selama keinginan berusaha itu kuat dalam perasaan nafsu, maka berkasab usaha itu lebih utama.

Umar bin Alkhattab ra. berkata : Rasulullah selalu memberi kepada saya, maka saya berkata : Berikan kepada orang yang lebih berhajat dari saya. Rasulullah berkata : Terimalah dan pergunakan atau sedekahkan, dan tiap harta yang datang kepadamu dengan tidak engkau harapkan atau engkau minta, maka terimalah, dan yang tidak jangan engkau angan-angan (harap-harapkan). Al-A'masy (Sulaiman) ra. berkata : Ada seorang pemuda yang datang kepada Ibrahim Attaimy untuk memberi hadiah uang sebanyak 2000 dirham, sambil berkata : Terimalah uang ini, ini bukan dari raja, juga bukan uang syubhat dan lain-lainnya. Jawab Ibrahim : Semoga Allah memberkahi hartamu, dan membalas engkau kebaikan dan terima kasih, lalu ditolaknya uang itu. Setelah pergi pemuda itu saya bertanya : Ya Aba Imran, mengapakah engkau tolak pemberian itu, demi Allah isterimu tidak mempunyai gamis (roko). Jawab Ibrahim : Benar, tetapi anak itu masih muda, belum banyak pengertian/pengalaman, saya kuatir kalau ia kembali ke kampungnya lalu memberi tahu kepada

teman-temannya : Saya telah memberii kepada Ibrahim dua ribu dirham, maka hilang pahalanya dan hilang pula uangnya.

Rasulullah saw. bersabda : Siapa yang menolak rizqi yang diberi oleh Allah tanpa minta-minta, maka sesungguhnya ia telah menolak pemberian Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

130. الصَّلاَةُ مَحَلُّ الْمُنَاجَاةِ وَمَعْدِنُ الْمُصَافَاةِ، تَتَّسِعُ فِيهَا مَيَادِينُ الْأَسْرَارِ، وَتُشْرِقُ فِيهَا شَوَارِقُ الْأَنْوَارِ.

Sembahyang itu sebagai tempat bermunajat (menyampaikan hajat kepada Allah), serta memanjatkan puji syukur. Dam sebagai tempat pembersihan hati dari berbagai kotoran. Leluasa di dalamnya datangnya berbagai rahasia-rahasia Tuhan. Dan terbit terang padanya cahaya-cahaya ilmu dan ma'rifat.

Firman Allah :

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي (طه: ١٤)

Tegakkan sembahyang itu untuk dzikir ingat kepadaKu. Sesungguhnya seorang hamba bila ia berdiri sembahyang, maka Allah membuka untuknya tirai hijab, dan langsung dihadapinya, dan berdiri tegak para Malaikat dari atas bahunya hingga langit, mengikuti sembahyangnya dan mengaminkan doanya. Dan seorang yang sembahyang itu ditaburi rahmat dari langit hingga ubun kepalanya. Dan dipanggil oleh suara: Andaikata orang yang munajat ini mengetahui siapakah yang diajak bicara, tidak akan berhenti (memutuskan) sembahyangnya. Dan sesungguhnya pintu pintu langit terbuka untuk orang yang sembahyang. Dan sesungguhnya Allah membanggakan barisan orang-orang yang sembahyang di hadapan MalaikatNya. Dalam Kitab Taurat ada tersebut demikian : Hai anak Adam, jangan malas untuk berdiri sembahyang dihadapanKu sambil menangis, maka Akulah Allah yang telah mendekat dari hatimu, dan karena ghaib engkau telah dapat melihat cahayaKu.

Muhammad bin Ali Attirmidzy berkata : Allah telah memanggil orang- orang yang bertauhid supaya sembahyang lima waktu, karena rahmat kasihan kepada mereka, dan menyediakan berbagai macam hidangan, supaya seorang hamba itu dapat merasakan pada tiap bacaan dan gerak itu kurnia pemberian-pemberiannya, maka gerak itu bagaikan makanan, sedang bacaan itu bagaikan minuman. Dan hidangan itu disediakan oleh Allah tiap hari lima kali, supaya tidak ada lagi sisa kotoran atau debunya.

Disalin