Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

212. مَنْ لَمْ يَعْرِفِ النِّعَمَ بِوِجْدَانِهَا عَرَفَهَا بِوُجُودِ فِقْدَانِهَا.

Siapa yang tidak mengenal harga nikmat ketika adanya nikmat itu, maka ia akan mengetahui harga kebesaran nikmat setelah tidak adanya (lenyapnya). Sariy Assagathi berkata : Siapa yang tidak menghargai nikmat, maka akan dicabut nikmat itu dalam keadaan ia tidak mengetahui. Al-Fudhail bin Iyadh ra. berkata : Tetapkanlah mensyukuri nikmat, sebab jarang sekali nikmat yang telah hilang akan datang kembali. Sesungguhnya yang sangat mengetahui nikmat air itu, hanya orang yang benar-benar haus.

Rasulullah saw. bersabda : Jika seorang melihat pada orang yang lebih daripadanya kekayaan dan sehatnya, maka hendaklah juga melihat kepada orang yang lebih menderita daripadanya. Dalam lain riwayat Rasulullah saw. bersabda : Lihatlah kepada orang-orang yang dibawahmu, dan jangan melihat pada orang yang di atasmu, maka yang demikian itu lebih tepat untuk tidak meremehkan nikmat yang diberikan Allah kepadamu. Dan orang yang bahagia (untung) itu ialah yang dapat pengertian dengan pengalaman (dengan kejadian) yang terjadi pada lain orang. nikmat berarti membiarkannya hilang, dah siapa yang menyukurinya berarti telah mengikat nikmat itu dengan tali ikatnya.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

087. مَا الْعَارِفُ مَنْ إِذَا أَشَارَ وَجَدَ الْحَقَّ أَقْرَبَ إِلَيْهِ مِنْ إِشَارَتِهِ، بَلِ الْعَارِفُ مَنْ لاَ إِشَارَةَ لَهُ لِفَنَائِهِ فِي وُجُودِهِ، وَانْطِوَائِهِ فِي شُهُودِهِ.

Bukan seorang arif itu, orang yang bila ia menunjuk sesuatu ia merasa bahwa Allah lebih dekat dari isyaratNya, tetapi orang arif itu ialah yang tidak mempunyai isyarat, karena merasa lenyap diri dalam wujud Allah, dan diliputi oleh pandangan (syuhud) kepada Allah. Yakni siapa yang masih mempunyai pandangan kepada sesuatu selain Allah, maka belum sempurna sebagai seorang (yang mengenal kepada Allah). Tetapi seorang arif yang sesungguhnya ialah yang merasakan kepalsuan segala sesuatu selain Allah, sehingga pandangan- nya tiada lain melainkan kepada Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

207. قَيَّدَ الطَّاعَاتِ بِأَعْيَانِ الْأَوْقَاتِ كَيْ لاَ يَمْنَعَكَ عَنْهَا وُجُودُ التَّسْوِيفِ، وَوَسَّعَ عَلَيْكَ الْوَقْتَ كَيْ تَبْقَى لَكَ حِصَّةُ الاِخْتِيَارِ.

Allah sengaja mengikat amal taat itu dengan waktu yang tertentu untuk tidak menahan engkau daripada mengerjakannya karena kebiasaan keteledoran dan kemalasanmu yang suka menunda- nunda, tetapi Allah memperluas waktunya supaya tetap ada bagimu kesempatan memilih waktu yang lebih tepat/ringan atau lebih khusyuk. Sebab apabila waktu itu tidak ditetapkan, niscaya manusia akan menunda-nunda yang akhirnya tidak sampai berbuat, dan diperluas waktu bagi orang yang betul-betul masih sibuk, sehingga ia berbuat setelah tenang dan dapat mengerjakan dengan lebih sempurna.

Hikam Ibnu 'Atoillah

157. الزُّهَّادُ إِذَا مُدِحُوا انْقَبَضُوا لِشُهُودِهِمُ الثَّنَاءَ مِنَ الْخَلْقِ، وَالْعَارِفُونَ إِذَا مُدِحُوا انْبَسَطُوا لِشُهُودِهِمْ ذٰلِكَ مِنَ الْمَلِكِ الْحَقِّ.

Orang-orang zahid (ahli ibadat) jika dipuji merasa ketakutan, karena melihat pujian itu dari sesama makhluk, sebaliknya orang aarif jika dipuji merasa gembira karena mengerti benar-benar bahwa pujian itu langsung dari Allah raja yang hak. Karena itu Rasulullah mengajarkan secara umum : Siratkan (hamburkan) tanah di muka orang yang memuji-muji. Sedang Rasulullah sendiri ketika dipuji dengan gasidah oleh Hassan dan Ka'ab bin Zuhair, Rasulullah saw. menunjukkan kegembiraan bahkan melemparkan mantel (serban) kepada Ka'ab bin Zuhair. Dan suatu tanda bahwa ia seorang aarif bila ia tidak berubah dalam pujian maupun celaan orang, sebab yang diperhatikan hanya semata-mata hubungannya kepada Allah.

Disalin