Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

285. وَقُلْ رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ، لِيَكُونَ نَظَرِي إِلَى حَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ إِذَا أَدْخَلْتَنِي، وَاسْتِسْلاَمِي وَانْقِيَادِي إِلَيْكَ إِذَا أَخْرَجْتَنِي.

Katakanlah : Ya Tuhan, masukkanlah saya dalam kebenaran, dan keluarkanlah saya dalam kebenaran pula, supaya tetap pandanganku bulat pada kekuasaan dan kekuatanMu, ketika Engkau memasukkan saya, demikian pula penyerahan dan taatku selalu kepadaMu ketika Engkau mengeluarkan saya.

وَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًا يَنْصُرُنِي وَيَنْصُرُ بِي وَلَا يَنْصُرُ عَلَيَّ، يَنْصُرُنِي عَلَىٰ شُهُودِ نَفْسِي وَيُفْنِينِي عَنْ دَائِرَةِ حِسِّي.

Dan berikan untukku langsung daripadaMu kekuatan (bukti) yang membantu padaku, dan membantu kawan-kawanku, dan tidak membantu nafsu dan musuh-musuhku, membantu saya untuk mengenal kelemahan diri dari nafsuku, dan melenyapkan saya dari kurungan perasaanku. Selalu minta bantuan Allah supaya dapat istigamah, dan untuk kesempurnaan hal dalam menghadapi jiwa nafsu dan perasaan.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

267. مَا كَانَ ظَاهِرُ ذِكْرٍ إِلاَّ عَنْ بَاطِنِ شُهُودٍ وَفِكْرٍ.

Tidak terjadi dzikir pada lahirnya kecuali timbul dari pemikiran dan kesadaran/penglihatan batin. Tiap dzikir yang terjadi pada seseorang itu, pasti disebabkan adanya kesadaran ingat akan kebesaran dan mengharap kurnia pemberian Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

246. مَتَى أَلَمَّكَ عَدَمُ إِقْبَالِ النَّاسِ عَلَيْكَ أَوْ تَوَجُّهُهُمْ بِالذَّمِّ إِلَيْكَ، فَارْجِعْ إِلَى عِلْمِ اللهِ فِيكَ، فَإِنْ كَانَ لاَ يُقْنِعُكَ عِلْمُهُ، فَمُصِيبَتُكَ بِعَدَمِ قَنَاعَتِكَ بِعِلْمِهِ أَشَدُّ مِنْ مُصِيبَتِكَ بِوُجُودِ الْأَذَى مِنْهُمْ.

Apabila menyakitkan hatimu (menyedihkan hatimu) tidak menghadapnya orang-orang kepadamu, atau celaan orang-orang kepadamu, maka selidikilah apa yang diketahui Allah dari perbuatanmu (maka koreksilah keadaan diri yang sebenarnya menurut apa yang diketahui oleh Allah), maka apabila engkau belum puas dengan apa yang sebenarnya telah diketahui oleh Allah itu, maka bala' yang menimpa kepadamu karena tidak puas terhadap yang telah diketahui oleh Allah itu, lebih besar dari bala' sekedar diganggu oleh sesama manusia. Seharusnya seorang hamba hanya memperhatikan ridha dan murka Tuhannya saja, tidak gembira kecuali jika diridhai oleh Tuhan dan tidak sedih kecuali jika dimurkai oleh Tuhan, adapaun puji dan celaan orang, maka tidak harus dihiraukan, sebab jika engkau di sisi Allah baik, maka biarpun dicela oleh semua manusia niscaya engkau tetap baik dan untung, sebaliknya jika engkau busuk disisi Allah, maka walaupun engkau dipuji- puji oleh semua manusia, maka engkau tetap tersiksa dan binasa. Contohnya para Nabi, Rasul dan wali mereka tidak selamat dari makian orang. Karena itu kewajibanmu ialah membereskan dan memperbaiki hubungan dengan Allah, asal sudah beres sudah cukup baik.

Hikam Ibnu 'Atoillah

205. إِذَا الْتَبَسَ عَلَيْكَ أَمْرَانِ فَانْظُرْ أَثْقَلَهُمَا عَلَى النَّفْسِ فَاتَّبِعْهُ، فَإِنَّهُ لاَ يَثْقُلُ عَلَيْهَا إِلاَّ مَا كَانَ حَقًّا.

Jika kabur bagimu dua hal, maka perhatikan (lihatlah) mana yang lebih berat terhadap hawa nafsu, makarikutlah, sebab tidak akan terasa berat terhadap hawa nafsu kecuali yang hak. Jika kabur dan sukar bagimu untuk membedakan, apakah amal itu baik atau busuk diridhai oleh Allah atau dimurkai Allah, maka umpamakan sekiranya engkau mati sedang berbuat itu, jika tidak gentar menghadapi mati dalam mengerjakan itu, maka kerjakanlah. Sebab itu sebagai tanda perbuatan itu hak dan benar.

Disalin