Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

163. نُورٌ مُسْتَوْدَعٌ فِي الْقُلُوبِ مَدَدُهُ مِنَ النُّورِ الْوَارِدِ مِنْ خَزَائِنِ الْغُيُوبِ.

Nur cahaya yang tersimpan dalam hati itu datangnya dari nur yang datang langsung dari perbendaharaan ghaib. Nur keyakinan yang ada dalam hati orang-orang aarif itu salurannya langsung daripada nur yang berasal dari perbendaharaan ghaib. Allah telah menerangi alam benda yang lahir ini dengan nur cahaya benda buatanNya, dan Allah menerangi hati batin itu dengan nur cahaya sifat-sifat-Nya.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

137. مَنَعَكَ أَنْ تَدَّعِيَ مَا لَيْسَ لَكَ مِنْ حُقُوقِ الْمَخْلُوقِينَ، أَفَيُبِيحُ لَكَ أَنْ تَدَّعِيَ وَصْفَهُ وَهُوَ رَبُّ الْعَالَمِينَ.

Allah melarang engkau meng: akui apa-apa yang bukan hakmu dari hak-hak lain orang. Apakah mungkin akan membolehkan kepadamu mengakui sifat-sifat Allah padahal la Tuhan yang memelihara, meng- atur dan menjamin seisi alam.

Ibn Abbas ra. berkata : Rasulullah saw. telah bersabda : Allah telah bersabda : Kesombongan itu pakaianku (selendangku) dan kebesaran itu sebagai sarungku, maka siapa akan bersaingan dengan Aku dalam salah satu sifat itu, Aku lemparkannya ke dalam neraka. Memang sebaik-baiknya hamba ialah yang mengakui dan menyadari sifat-sifat hamba, dan sejahat-jahat hamba ialah yang tidak menyadari kehambaan dirinya, bahkan merasa seolah-olah memiliki kekuatan/ kekuasaan, kemulyaan yang semata-mata hak Tuhan dan sifat-sifat utama bagi Allah ta'ala. Jika seorang hamba menginginkan semua itu dapat dengan menyandarkan diri kepada Tuhan Allah yang memiliki semua itu. Rasulullah telah bersabda : Tiada seorang yang lebih cemburu dari Allah karena itu Allah mengharamkan segala perbuatan yang keji. Dan karena itu pula Allah takkan mengampunkan orang yang menyekutukanNya dengan sesuatu apapun. Karena itu pula sifat-sifat kesempurnaan Allah, tidak boleh dikurangi walau sedikitpun.

Hikam Ibnu 'Atoillah

281. فَصَرَفَ عَنْ هٰذِهِ الدَّارِ مُغْضِيًا، وَأَعْرَضَ عَنْهَا مُوَلِّيًا، فَلَمْ يَتَّخِذْهَا وَطَنًا وَلاَ جَعَلَهَا سَكَنًا.

Maka ia memalingkan muka dari dunia ini, dan mengabaikan dengan memejamkan mata dan berjalan terus (meletakkannya di belakang- nya), maka tidak menganggapnya sebagai tanah air atau tempat tinggal.

Hikam Ibnu 'Atoillah

121. لَيْسَ كُلُّ مَنْ ثَبَتَ تَخْصِيصُهُ كَمُلَ تَخْلِيصُهُ.

Bukan semua orang yang telah tampak terang kekeramatannya itu berarti telah sempurna pembersihannya (dari penyakit-penyakit hawa nafsu) atau penyaringannya (yakni dalam kalangan/golongan para wali). Kekeramatan yang diberi Allah kepara para wali, tujuannya untuk memperkenalkan dengan kenyataan bukti, bahwa kekuasaan Allah tidak tergantung (terikat) kepada sebab dan kebiasaan, bahkan sebab kebiasaan itu sering menghijab manusia dari qudrat kekuasaan Allah, sebagai awan yang menutup sinar matahari keesaan Allah. Maka yang silau oleh kekeramatan itu terhina, tetapi yang tetap menembus awan itu kepada kekuasaan Allah, sehingga tetap hubungannya tidak terputus. Seorang sahabat Sahel bin Abdullah berkata : Adakalanya jika saya wudhu' tiba-tiba air itu mengalir di tangan saya berupa lantakan emas dan perak. Jawab Sahel : Apakah engkau tidak mengerti bahwa anak kecil jika menangis dihibur dengan boneka supaya diam.

Abu Nahser Assarraj berkata : Saya bertanya kepada Al-Hasan bin Salim : Apakah arti kekeramatan, sedang mereka telah dimuliakan oleh Allah sehingga sanggup mengabaikan dunia dan meninggalkannya

dengan suka rela, tetapi bagaimana lalu diberi kemuliaan (keramat) batu berubah menjadi emas, apakah artinya itu ? Jawabnya : Bukannya Allah memberikan karena kotornya, tetapi diberi itu untuk dijadikan hujjah menekan bisikan nafsu (hawa nafsu) yang selalu goncang kuatir tidak dapat rizqi, sehingga oleh Allah diperlihatkan yang demikian, sehingga dapat berkata : Bahwa Tuhan yang dapat merubah batu menjadi emas, dapat mendatangkan rizqi dan memberi dari jalan yang tidak disangka. Ishaq bin Ahmad berkata kepada Sahel : Nafsuku ini selalu merasa kuatir tidak dapat makan. Maka berkata Sahel : Engkau ambil batu itu dan minta kepada Allah supaya dijadikan makan untuk engkau makan. Ishaq bertanya : Jika berbuat demikian, maka siapa pimpinan (tauladanku) dalam berbuat demikian ? Jawab Sahel : Bertauladanlah kepada Nabi Ibrahim ketika berkata : Hai Tuhan tunjukkan perlihatkan kepadaku bagaimana caranya Engkau meng-hidupkan sesuatu yang telah mati, supaya tenteram hatiku (nafsuku) sebenarnya aku telah percaya etapi nafsu ini tidak puas, kecuali jika telah melihat dengan mata kepala.

Disalin