Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Mutiara Kata

Himpunan Hikmah

294 petikan ilmu untuk direnung dan dikongsi.

Rawak
Hikam Ibnu 'Atoillah

256. لَوْلاَ مَيَادِينُ النُّفُوسِ مَا تَحَقَّقَ سَيْرُ السَّائِرِينَ، إِذْ لاَ مَسَافَةَ بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ تَطْوِيهَا رِحْلَتُكَ، وَلاَ قَطْعَةَ بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ حَتَّى تَمْحُوَهَا وُصْلَتُكَ.

Andaikan tidak ada lapangan perjuangan melawan hawa nafsu (syahwat), pasti tidak dapat terbukti perjalanan orang-orang yang menuju kepada Allah, sebab memang tidak ada jarak antaramu dengan Allah untuk dijalani (ditempuh) dengan kendaraan, dan juga tidak pernah putus antaramu dengan Allah, sehingga dapat disambung oleh hubunganmu. Berjalan menuju kepada Allah, ialah memutuskan segala rintangan syahwat hawa nafsu dan adat kebiasaan yang akan menghambat. Tidak mungkin hidup (terang) hati nurani kecuali setelah mematikan pengaruh hawa nafsu. Nikmat yang terbesar ialah bila telah dapat bebas dari pengaruh tipu daya hawa nafsu, sebab hawa nafsu itu sebagai tirai yang tebal antara engkau dengan Allah ta'ala. Hatim Al-asham berkata : Siapa yang akan masuk golongan kami harus dapat membunuh hawa nafsunya empat kali : Mati yang merah yaitu menahan (mengekang) hawa nafsu. Mati yang hitam yaitu sabar tabah menanggung gangguan orang. Mati yang putih yaitu tahan lapar, dan mati yang hijau dapat memakai pakaian tembelan (compang- camping). Sahl bin Abdullah ra. berkata : Rahasia nafsu belum pernah terbukti kecuali dalam pernyataan Fir'aun ketika ia berkata : Ana Tidak mungkin dapat terlepas dari belenggu hawa nafsu, kecuali dengan memperhatikan dan melaksanakan ajaran-ajaran syariat lahir batin, tanpa mengurangi atau berlebihan, tanpa teledor dan malas. A'isyah ra. berkata : Rasulullah saw. telah bersabda : Laksanakan amal perbuatan itu sekuat tenagamu, sesungguhnya Allah tidak jemu menerima dan memberi pahala, hingga kamu jemu beramal. Dan

seutama-utama amal perbuatan itu ialah yang terus menerus (dawam) dilakukan meskipun sedikit.

Abul Qasin Alqusyairy berkata : Hakikat membunuh hawa nafsu itu, ialah lepas bebas dari tipu dayanya, dan tidak memperhatikan sesuatu yang timbul daripadanya, dan menolak segala pengakuan- pengakuannya, dan tidak bingung (sibuk) untuk mengaturnya, dan tetap menyerahkan segala urusan itu kepada Allah swt. dengan melepaskan usaha ikhtiar dan kehendak sendiri, sehingga lenyap dan hapus sama sekali pengaruh hawa nafsu itu terhadap kemanusiaannya. Adapun sisa-sisa yang berupa gambaran kerangkanya, maka itu tidak berbahaya. Demikianlah jalan untuk membunuh hawa nafsu yang dapat segera mencapai haderatal-qudsi (tempat yang suci luhur), yang sesuai dengan tuntutan syariat dan hakikat yang menjadi pelita bagi tiap salik yang menempuh jalan untuk mendekat kepada Allah. Karena itulah Rasulullah saw. berpesan kepada Abu Dzar untuk banyak membaca : Laa haula wa laa quwwata illa billahi. .

Hikam Ibnu 'Atoillah

257. جَعَلَكَ فِي الْعَالَمِ الْمُتَوَسِّطِ بَيْنَ مُلْكِهِ وَمَلَكُوتِهِ لِيُعْلِمَكَ جَلاَلَةَ قَدْرِكَ بَيْنَ مَخْلُوقَاتِهِ، وَأَنَّكَ جَوْهَرٌ تَنْطَوِي عَلَيْكَ أَصْدَافُ مُكَوَّنَاتِهِ.

Allah sengaja menempatkan engkau dalam alam yang pertengahan antara alam mulk (dunia) dan alam malakut (ghaib) untuk memberimu pengetahuan tentang kebesaran kedudukanmu diantara semua makhluk, dan bahwa engkau sebagai permata yang diliputi/ dikelilingi oleh wadah tempatnya yang berupa alam ini.

Abul-Abbas Almarsy ra. berkata : Isi alam ini semua bagaikan hamba tunduk padamu hai manusia, sedang engkau hanya hamba Allah ta'ala semata-mata. Tersebut dalam kitab-kitab Allah yang terdahulu : Hai anak Adam, Akulah (Allah kepentinganmu/kebutuhanmu) yang tidak dapat engkau abaikan, karena itu tetaplah engkau pada apa yang engkau butuhkan itu.

Allah juga berfirman : Hai anak Adam, Aku jadikan segala sesuatu untukmu dan aku jadikan engkau untukku, karena itu jangan sibuk dengan apa yang pasti datang kepadamu, sehingga meninggalkan apa yang engkau dijadikan untukNya.

Firman Allah :

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا (البقرة: ٢٩)

Dialah Allah yang menjadikan untuk kamu semua apa yang di bumi.

Firman Allah :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (الذاريات: ٥٦)

Tiadalah Aku menjadikan manusia dan jin kecuali supaya ibadah kepadaKu. Al-Wasithy dalam menafsirkan ayat : Sungguh Kami (Allah) telah memuliakan anak Adam (manusia). Yakni Kami serahkan kepada mereka alam seisinya supaya mereka tidak bingung atau tertipu oleh sesuatu dan supaya bulat melulu beribadah (mengabdikan diri kepada Allah).

Hikam Ibnu 'Atoillah

258. إِنَّمَا وَسِعَكَ الْكَوْنُ مِنْ حَيْثُ جُسْمَانِيَّتُكَ، وَلَمْ يَسَعْكَ مِنْ حَيْثُ رُوحَانِيَّتُكَ.

Sesungguhnya alam dapat mencukupi engkau hanya dari sudut jasmanimu semata-mata, tetapi tidak memuaskan engkau dalam hal kerohanianmu. Karena badan jasmani sejenis dengan benda-benda alam, maka di situlah letak hajat kebutuhan badan jasmanimu, sebaliknya rohanimu sama sekali tidak sejenis dengan benda-benda alam ini, bahkan jauh berbeda, maka karenanya tidak usah engkau harus menggantungkan. soal dengan kebendaan dan seharusnya hanya berhubungan kepada Tuhan Allah ta'ala. Ahmad bin Khadharawaih ketika ditanya : Amal perbuatan apakah yang utama? Jawabnya : Menjaga hati jangan sampai condong, menoleh/ menghadap pada sesuatu selain Allah ta'ala.

Abu Abdullah Al-Jallaab berkata : Siapakah yang hasrat semangat tujuannya lebıh tinggi dari alam benda, maka ia pasti sampai kepada Allah yang mencipta alam, tetapi siapa yang tujuannya hanya pada sesama makhluk maka tidak mendapat Tuhan, sebab Allah maha mulia untuk dapat menerima persekutuan/dipersekutukan.

Hikam Ibnu 'Atoillah

259. الْكَائِنُ فِي الْكَوْنِ وَلَمْ تُفْتَحْ لَهُ مَيَادِينُ الْغُيُوبِ مَسْجُونٌ بِمُحِيطَاتِهِ وَمَحْصُورٌ فِي هَيْكَلِ ذَاتِهِ.

Orang yang ada di alam dunia dan belum terbuka baginya lapangan ghaib, tetap terkurung dengan (oleh) syahwat dan adat kebiasaan- nya, dan terkepung oleh kepentingan-kepentingan kerangka badannya.

Demikianlah keadaan manusia yang belum terbuka nur iman dalam hatinya sehingga tidak mengenal pada Allah, medan (lapangan) perjuangannya hanya terkurung pada kebendaan belaka untuk pemuasan hawa nafsu dan syahwat semata-mata. Allah telah berfirman : HambaKu, jadikanlah perhatianmu seratus persen kepadaKu, niscaya Aku cukupi segala hajat kepentinganmu (kebutuhanmu), selama Aku dengan engkau, engkau dalam kedudukan hamba, dan selama engkau dengan Aku, maka engkau di tempat yang dekat, mintalah apa saja untuk dirimu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

260. أَنْتَ مَعَ الْأَكْوَانِ مَا لَمْ تَشْهَدِ الْمُكَوِّنَ، فَإِذَا شَهِدْتَهُ كَانَتِ الْأَكْوَانُ مَعَكَ.

Engkau tetap terikat oleh alam benda, selama engkau belum melihat yang mencipta alam, tetapi bila engkau telah melihat pencipta alam, maka alam ini akan tunduk kepadamu. Selama masih ada hajat kebutuhan kepada alam benda, maka engkau tetap menjadi budak hamba kebendaan, tetapi bila engkau telah sadar bahwa benda ini tidak bergerak sendiri, bahkan tergantung pada penciptanya, maka ketika engkau sadar yang demikian, engkau tidak berhajat lagi kepada alam benda, dan merasa kaya cukup dengan pencipta alam benda, sehingga benda itu pun tunduk kepadamu dengan izin Allah penciptanya.

Asysyibly berkata : Tidak pernah tergerak di dalam hati orang yang mengenal kepada Allah pencipta alam ini, sesuatu dari hal alam benda : Yakni seorang yang benar-benar telah mengenal Allah, sama sekali tidak merasa butuh kepada kebendaan.

Hikam Ibnu 'Atoillah

261. لاَ يَلْزَمُ مِنْ ثُبُوتِ الْخُصُوصِيَّةِ عَدَمُ وَصْفِ الْبَشَرِيَّةِ، إِنَّمَا مَثَلُ الْخُصُوصِيَّةِ كَإِشْرَاقِ شَمْسِ النَّهَارِ، ظَهَرَتْ فِي الْأُفُقِ وَلَيْسَتْ مِنْهُ، تَارَةً تُشْرِقُ شُمُوسُ أَوْصَافِهِ عَلَى لَيْلِ وُجُودِكَ، وَتَارَةً يَقْبِضُ ذٰلِكَ عَنْكَ فَيَرُدُّكَ إِلَى حُدُودِكَ، فَالنَّهَارُ لَيْسَ مِنْكَ وَإِلَيْكَ، وَلٰكِنَّهُ وَارِدٌ عَلَيْكَ.

Adanya sifat-sifat khushusiyah (kewalian) itu, tidak melazimkan, lengkapnya sifat-sifat manusia yang biasa dan umum. Sesungguhnya contoh/perumpamaan khushusiyah itu bagaikan terangnya matahari di waktu siang, tampak di ufuk tetapi bukan dari ufuk, ada kalanya terbit nur cahaya sifat-sifat Allah pada kegelapan kejadian wujudmu, dan ada kalanya dicabut yang demikian itu daripadamu, maka kembali engkau ke batas-batas asal kejadianmu, maka terang siang itu bukan daripadamu dan kepadamu tetapi ia datang menjelang padamu. Sifat-sifat khushusiyah (kewalian) seperti kasyaf terhadap sesuatu hal, atau kekuatan yang istimewa untuk berbuat dan mengadakan sesuatu, itu semua tidak melazimkan lenyap sifat-sifat manusia yang biasa, seperti kebodohan, kemiskinan dan kelemahan. Sama dengan sinar matahari terhadap benda-benda yang tadinya gelap mendapat cahaya matahari maka berubah menjadi terang, tetapi jika terbenam matahari itu kembali benda-benda itu kepada kegelapannya, sebab cahaya matahari itu tidak termasuk sifat dzatnya, maka apabila menerima nur tajalli maka tampak keluar dari padanya sifat-sifat Allah yang menerangi dzatnya itu, tetapi bila ditarik kembali nur

tajalli itu, maka kembalilah sifat-sifat yang asli pada manusia. Maka sifat-sifat khushusiyah (keistimewaan/kewalian) itu bukan sifat manusıa yang aslı, hanya menjelma (datang) kepadanya, pada sifat- sifat yang ditentukan Allah sendiri yang memberi itu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

262. دَلَّ بِوُجُودِ آثَارِهِ عَلَى وُجُودِ أَسْمَائِهِ، وَبِوُجُودِ أَسْمَائِهِ عَلَى ثُبُوتِ أَوْصَافِهِ، وَبِثُبُوتِ أَوْصَافِهِ عَلَى وُجُودِ ذَاتِهِ، إِذْ مُحَالٌ أَنْ يَقُومَ الْوَصْفُ بِنَفْسِهِ. فَأَرْبَابُ التَّجَلِّي يُكْشَفُ لَهُمْ عَنْ كَمَالِ ذَاتِهِ، ثُمَّ يُرْجَعُونَ إِلَى شُهُودِ صِفَاتِهِ، ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَى التَّعَلُّقِ بِأَسْمَائِهِ، ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَى شُهُودِ آثَارِهِ. وَالسَّالِكُونَ عَلَى عَكْسِ ذٰلِكَ، فَنِهَايَةُ السَّالِكِينَ بِدَايَةُ الْمَجْذُوبِينَ، وَبِدَايَةُ السَّالِكِينَ نِهَايَةُ الْمَجْذُوبِينَ، لٰكِنْ لاَ بِمَعْنًى وَاحِدٍ، فَرُبَّمَا الْتَقَيَا فِي الطَّرِيقِ، هٰذَا فِي تَرَقِّيهِ وَهٰذَا فِي تَدَلِّيهِ.

Terbukti dengan adanya makhluk (alam) atas adanya nama- nama Allah dan dengan nama-nama itu atas adanya sifat, dan dengan pastinya adanya, sifat-sifat itu atas adanya dzat Allah, sebab muhal (tidak dapat diterima oleh akal) adanya sifat yang berdiri sendiri tanpa dzat. Maka orang-orang yang maj-dzub pertama terbuka (terlihat) oleh mereka kesempurnaan dzat Allah, kemudian menurun melihat sifat-sifat Allah, dan menurun pula melihat (bersandar) kepada nama- nama Allah, sehingga menurun melihat makhluk buatan Allah, sebaliknya orang salik dari bawah naik ke atas, maka puncak orang salik sampai ke permulaannya orang maj-dzub, dan permulaan orang

salik itulah penghabisan orang maj-dzub, tetapi tidak berarti sama dalam segala-galanya, hanya saja ada kalanya bertemu di jalanan yang satu ketika sedang mendaki dan yang lain sedang menurun. Adanya makhluk alam ini menunjukkan (membuktikan) adanya nama-nama Allah : Qaadir, aliim, hakiim, murid dan adanya nama- nama itu pasti adanya sifat-sifat : Qudrat, iradat, ilmu dan tiap-tiap sifat pasti berdiri di atas dzat sebab sifat tidak berdiri sendiri, maka pasti pula adanya dzat Allah. Sedang sifat makhluk (manusia) ada yang maj-dzub (yakni langsung dibukakan oleh Allah dan sampai kepada ilmu/mengenal Allah) bukan dari bawah/saluran yang umum, dan ada yang melalui jalan biasa dari bawah ke atas yaitu orang yang disebut orang salik. Dan keduanya selama belum mencapai puncak akhirannya belum dapat dijadikan guru yang dapat ditiru. Orang maj-dzub jika belum mengetahui perjalanan orang salik dan orang salik jika belum sampai ke puncak yang didapat (dibukakan) bagi orang maj-dzub.

Hikam Ibnu 'Atoillah

263. لاَ يُعْلَمُ قَدْرُ أَنْوَارِ الْقُلُوبِ وَالْأَسْرَارِ إِلاَّ فِي غَيْبِ الْمَلَكُوتِ، كَمَا لاَ تَظْهَرْ أَنْوَارُ السَّمَاءِ إِلاَّ فِي شَهَادَةِ الْمُلْكِ.

Tidak dapat diketahui nilai (kebesaran) nur hati dan sir itu, kecuali dalam alam malakut yang ghaib, sebagaimana matahari, bulan, bintang itu hanya terang di alam mulk (dunia ini).

Hikam Ibnu 'Atoillah

264. وِجْدَانُ ثَمَرَاتِ الطَّاعَاتِ عَاجِلاً بِشَارَاتُ الْعَامِلِينَ بِوُجُودِ الْجَزَاءِ آجِلاً.

Terasanya kelezatan buah taat ketika hidup di dunia, sebagai bukti (berita gembira) bagi orang yang beramal, atas adanya pahala yang segera (kontan) di akhirat kelak. Rasulullah saw. telah bersabda : Pasti akan dapat merasakan kelezatan iman, siapa yang benar-benar rela ber-Tuhan kepada Allah, bernabikan Nabi Muhammad dan beragama Islam.

Buah iman itu ialah bertambahnya keyakinan, merasa senang melakukan ibadah, bertambah puas menerima segala ajaran tuntunan Allah dan Rasulullah saw. Maka siapa yang dapat merasakan semua itu, sebagai tanda diterima amal dan akan mendapat pembalasan pahala kelak di akhirat, sebagaimana telah mendapat rasa lezat dan enaknya di dunia.

Hikam Ibnu 'Atoillah

265. كَيْفَ تَطْلُبُ الْعِوَضَ عَلَى عَمَلٍ هُوَ مُتَصَدِّقٌ بِهِ عَلَيْكَ، أَمْ كَيْفَ تَطْلُبُ الْجَزَاءَ عَلَى صِدْقٍ هُوَ مُهْدِيهِ إِلَيْكَ.

Bagaimana engkau akan minta upah terhadap suatu amal yang Allah sendiri yang bersedekah kepadamu amal itu, atau bagaimanakah engkau minta balasan atas suatu keikhlasan, padahal Allah sendiri yang memberi hidayah keikhlasan itu kepadamu. Amal yang boleh minta upah, ialah apabila amal itu menguntungkan atau menghindarkan kerugian terhadap siapa yang engkau beramal untuknya, sedang amal ibadah itu semuanya tidak menguntungkan Tuhan, dan tidak menolak mudharat terhadap Tuhan, bahkan semua amal itu kembali kepada yang beramal sendiri. Lebih-lebih amal perbuatan itu sebagai sedekah dari Tuhan, sedang keikhlasan beramal itu suatu hadiah yang sangat berharga dari Tuhan pula. Al-Wasithy berkata : Menuntut balasan atas amal taat itu disebabkan oleh karena lupa terhadap kurnia pemberian Allah. Abul-Abbas bin Atha'-ullah ketika ditanya : Amal perbuatan apakah yang terdekat kepada murka Allah? Jawabnya : Melihat diri dan perbuatannya, dan lebih dari itu menuntut upah/balasan atas kelakuan amalnya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

266. قَوْمٌ تَسْبِقُ أَنْوَارُهُمْ أَذْكَارَهُمْ، وَقَوْمٌ تَسْبِقُ أَذْكَارُهُمْ أَنْوَارَهُمْ، وَقَوْمٌ تَتَسَاوَى أَذْكَارُهُمْ وَأَنْوَارُهُمْ، وَقَوْمٌ لاَ أَذْكَارَ وَلاَ أَنْوَارَ، نَعُوذُ بِاللهِ مِنْ ذٰلِكَ. ذَاكِرٌ ذَكَرَ لِيَسْتَنِيرَ قَلْبُهُ فَكَانَ ذَاكِرًا، وَذَاكِرٌ اسْتَنَارَ قَلْبُهُ فَكَانَ ذَاكِرًا، وَالَّذِي اسْتَوَتْ أَذْكَارُهُ وَأَنْوَارُهُ فَبِذِكْرِهِ يُهْتَدَى وَبِنُورِهِ يُقْتَدَى.

Segolongan (sebagian) orang nur imannya mendahului daripada dzikirnya, dan sebagian dzikirnya mendahului nur imannya, dan ada pula golongan yang berbarengan antara nur dengan dzıkirnya, dan ada pula kaum yang tidak ada dzikir dan tidak ada nur. Na'udzu billahi min dzalika. (Kami berlinduıng kepada Allah dari golongan yang tidak ada dzikir dan tidak ada nur itu). Ada yang berdzikir untuk mendapatkan nur terang hatinya, maka disebut berdzikir, dan ada yang telah terang nur hatinya, ini pun juga ber- dzikir. Sedang orang yang sama/berbanding antara dzikir dengan nurnya, maka dengan dzikirnya dapat hidayah, dan dengan nurnya dapat diikuti. Golongan yang mendapat nur sebelum dzikir ialah sebagian tersebut dalam ayat :

يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَن يَشَاءُ (آل عمران: ٧٤)

Allah menentukan rahmatNya pada siapa yang dikehendakiNya. Sedang golongan yang berdzikir kemudian mendapat nur ialah yang tersebut dalam ayat :

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا (العنكبوت: ٦٩)

Dan mereka yang benar-benar berjuang dalam jalan keridhaanKu, pasti Aku pimpin (tunjukkan jalan Kami).

Abul-Abbas Almarsy berkata : Manusia ada dua macam, ada yang mendapat kurnia Allah, sehingga berbuat taat kepada Allah, dan adapula yang dengan taatnya kepada Allah mencapai kebesaran kurnia Allah.

Firman Allah :

اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَن يُنِيبُ (الشورى: ١٣)

Allah memilih untuk kurniaNya siapa yang dikehendakiNya, dan memberi petunjuk kepadanya, siapa yang sungguh-sungguh datang/ kembali kepadaNya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

267. مَا كَانَ ظَاهِرُ ذِكْرٍ إِلاَّ عَنْ بَاطِنِ شُهُودٍ وَفِكْرٍ.

Tidak terjadi dzikir pada lahirnya kecuali timbul dari pemikiran dan kesadaran/penglihatan batin. Tiap dzikir yang terjadi pada seseorang itu, pasti disebabkan adanya kesadaran ingat akan kebesaran dan mengharap kurnia pemberian Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

268. أَشْهَدَكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَسْتَشْهِدَكَ، فَنَطَقَتْ بِإِلٰهِيَّتِهِ الظَّوَاهِرُ، وَتَحَقَّقَتْ بِأَحَدِيَّتِهِ الْقُلُوبُ وَالسَّرَائِرُ.

Allah memperlihatkan dzatNya kepadamu, sebelum ia menuntut kepadamu harus mengakui kebesaranNya, sehingga nyata mengakui ke-TuhananNya segala makhluk yang lahir, dan nyata hakikat ke-Esa-anNya dalam hati dan sir perasaan. Allah bertajalli ke dalam hati tiap orang, menurut kadar kekuatan tingkat orang itu, sehingga iman tiap orang itu pun menurut apa yang diperlihatkan oleh Allah daripada kebesaran kekuasaannya. Apabila Allah telah bertajalli kepada seorang hambaNya, maka tampak pada orang ini bahwa semua makhluk ini seolah-olah mengakui ketuhanannya, sebagaimana makin yakin dalam hati sanubarinya (perasaannya ke Esa- an) Allah yang tidak bersekutu dalam dzat, sifat, af' aal, kekuasaan dan Kebesaran-Nya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

269. أَكْرَمَكَ كَرَامَاتٍ ثَلاَثٍ: جَعَلَكَ ذَاكِرًا لَهُ، وَلَوْلاَ فَضْلُهُ لَمْ تَكُنْ أَهْلاً لِجَرَيَانِ ذِكْرِهِ عَلَيْكَ، وَجَعَلَكَ مَذْكُورًا بِهِ إِذْ حَقَّقَ نِسْبَتَهُ لَدَيْكَ، وَجَعَلَكَ مَذْكُورًا عِنْدَهُ فَتَمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ.

Allah telah memuliakan engkau dengan tiga kehormatan (kemuliaan) kebesaran : menjadikan engkau berdzikir padaNya, padahal andaikan tidak ada kurniaNya, niscaya tidak patut (layak) engkau berdzikir padaNya. Dan menjadikan engkau terkenal dengan dzikir itu, karena Allah sendiri yang menisbahkan dzikir itu kepadamu. Dan men- jadikan engkau terkenal (tersebut) di sisi Allah, maka dengan demikian Allah telah menyempurnakan (melengkapi) nikmatNya kepadamu.

Firman Allah :

وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ (العنكبوت: ٤٥)

Demi sungguh dzikir Allah kepada hamba itulah yang lebih besar (daripada dzikir hamba terhadap Allah). Dan bagi hamba berdzikir kepada Allah itulah kemuliaan/ kebesaran hamba dan kekayaanNya yang tidak ada lebih besar dari itu.

Abu Hurairah ra. berkata : Rasulullah saw. bersabda : Allah berfirman : Aku selalu mengikuti persangkaan hambaKu, dan Aku selalu mendampingiNya selama ia berdzikir padaKu, jika ia dzikir padaKu dalam hatinya Aku ingat padanya dalam dzat Ku, dan bila dzikir padaKu di muka umum Aku ingati dia dalam umum yang lebih baik dari golongannya, dan bila ia mendekat padaKu sejengkal Aku mendekat padanya sehasta, dan bila ia mendekat padaKu sehasta, Aku mendekat padanya sedepa, dan bila ia datang kepadaKu berjalan, Aku datang kepadanya berlari.

Firman Allah :

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ (البقرة: ١٥٢)

Berdzikirlah kamu kepadaKu niscaya Aku (Allah) berdzikir kepadamu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

270. رُبَّ عُمْرٍ اتَّسَعَتْ آمَادُهُ وَقَلَّتْ أَمْدَادُهُ، وَرُبَّ عُمْرٍ قَلَّتْ آمَادُهُ وَكَثُرَتْ أَمْدَادُهُ.

Adakalanya umur (usia) itu lanjut (panjang) masanya tetapı sedikit manfaatnya, dan adakalanya umur itu pendek (singkat) masanya, tetapi banyak (besar) manfaatnya. (Yakni : Kurnia yang didapatnya dari Allah banyak).

Hikam Ibnu 'Atoillah

271. مَنْ بُورِكَ لَهُ فِي عُمْرِهِ أَدْرَكَ فِي يَسِيرٍ مِنَ الزَّمَنِ مِنْ مِنَنِ اللهِ تَعَالَى مَا لاَ يَدْخُلُ تَحْتَ دَوَائِرِ الْعِبَارَةِ وَلاَ تَلْحَقُهُ الْإِشَارَةُ.

Siapa yang diberi berkah umur (usia)nya, maka dapat mencapai dalam masa yang singkat dari kurnia Allah yang tidak dapat dihitung oleh kata-kata, dan tidak dapat dikejar oleh isyarat. (Yakni tidak terhitung dan tidak terbatas). Usia (umur) yang berkah itu ialah jika Allah memberi kesadaran terhadap seseorang untuk mempergunakan kesempatan yang ada padanya untuk amal kebaikan, sebab ada kalanya amal kebaikan jika tepat pada sasarannya dapat mencapai apa yang tidak tercapai dalam masa seribu bulan.

Rasulullah saw. bersabda : Amal kebaikan (albirr) itu menambah umur. Bukan bertambah masanya, tetapi kebesaran hasil yang didapat pada usia itu. Abdul-Abbas Almarsy ber mdulillah waktu- waktu kami semuanya berupa lailatul-ga kni semua waktu- waktunya diisi penuh dengan kelakuan dan amal yang sangat berguna.

Hikam Ibnu 'Atoillah

272. اَلْخِذْلاَنُ كُلُّ الْخِذْلاَنِ أَنْ تَتَفَرَّغَ مِنَ الشَّوَاغِلِ، ثُمَّ لاَ تَرْحَلَ إِلَيْهِ، وَلاَ تَتَوَجَّهَ إِلَيْهِ وَتَقِلَّ عَوَائِقُكَ.

Kekecewaan yang serendah-rendah kekecewaan ialah jika kosong lari segala kesibukan/kerja, tetapi kemudian tidak menghadap kepada Allah atau sedikit rintangan, kemudian tidak pergi kepadaNya (Allah). Siapa yang cukup mendapat kesempatan untuk tagarrub (mendekat) kepada Allah, lalu tidak dipergunakannya, maka yang demikian itu suatu kekecewaan dan kehinaan yang tidak ada bandingnya, sebab tiap detik bagi anak Adam, dapat dipergunakan untuk menebus dosa dan segera masuk surga, karena itu bila kesempatan itu disia-siakan hingga akhirnya masuk ke dalam jurang neraka, maka itulah contoh

Firman Allah :

انفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا (التوبة: ٤١)

Berjuanglah kamu baik dalam keadaan ringan atau berat. Lain ayat : Tiadalah kami menjadikan manusia dan jin, kecuali supaya mereka beribadah. Sebab ibadah itulah amal manusia yang utama dan terbaik dunia akhirat, dan dengan itu manusia dapat mencapai bahagia dunia akhirat.

Hikam Ibnu 'Atoillah

273. الْفِكْرَةُ سَيْرُ الْقَلْبِ فِي مَيَادِينِ الْأَغْيَارِ.

Fikir itu ialah jalannya perasaan hati di dalam lapangan makhluk benda-benda alam ini. Berfikir yang dianjurkan Allah kepada makhluknya, ialah memperhatikan kebesaran kekuasaan Allah yang telah dijelmakan pada makhluk yang dijadikan di alam ini. Rasulullah saw. melihat suatu kaum, maka ditanya : Mengapakah 1 kamu? Jawab mereka: Kami sedang memikirkan dzat Allah. Maka sabda Nabi : Berfikirlah (perhatikanlah) makhluk Allah, dan jangan memikirkan dzat Allah, maka sungguh kamu tidak dapat memper- kirakannya (menjangkaunya), atau membatasi kebésaranNya.

Disalin