Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

260. أَنْتَ مَعَ الْأَكْوَانِ مَا لَمْ تَشْهَدِ الْمُكَوِّنَ، فَإِذَا شَهِدْتَهُ كَانَتِ الْأَكْوَانُ مَعَكَ.

Engkau tetap terikat oleh alam benda, selama engkau belum melihat yang mencipta alam, tetapi bila engkau telah melihat pencipta alam, maka alam ini akan tunduk kepadamu. Selama masih ada hajat kebutuhan kepada alam benda, maka engkau tetap menjadi budak hamba kebendaan, tetapi bila engkau telah sadar bahwa benda ini tidak bergerak sendiri, bahkan tergantung pada penciptanya, maka ketika engkau sadar yang demikian, engkau tidak berhajat lagi kepada alam benda, dan merasa kaya cukup dengan pencipta alam benda, sehingga benda itu pun tunduk kepadamu dengan izin Allah penciptanya.

Asysyibly berkata : Tidak pernah tergerak di dalam hati orang yang mengenal kepada Allah pencipta alam ini, sesuatu dari hal alam benda : Yakni seorang yang benar-benar telah mengenal Allah, sama sekali tidak merasa butuh kepada kebendaan.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

067. لِلنُّورِ الْكَشْفُ، وَلِلْبَصِيرَةِ الْحُكْمُ، وَلِلْقَلْبِ الْإِقْبَالُ وَالْإِدْبَارُ.

Nur itulah yang menerangi (membuka) dan bashirah (matahati) itulah yang menentukan hukum, dan hati yang melaksanakan atau meninggalkan Nur itulah yang menerangi baik dan buruk, lalu dengan matahati ditetapkan hukum, dan setelah itu maka hatinya yang melaksanakan atau menggagalkannya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

083. إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَعْرِفَ قَدْرَكَ عِنْدَهُ فَانْظُرْ فِيمَا ذَا يُقِيمُكَ.

Jika kau ingin mengetahui kedudukanmu di sisi Allah, maka perhatikan di dalam bagian apa Allah menempatkan kau.

Rasulullah saw. bersabda : Siapa yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah, maka hendaknya memperhatikan bagaimana kedudukan Allah dalam hatinya. Maka sesungguhnya Allah menempatkan/men- dudukkan hambaNya, sebagaimana hamba itu mendudukkan Allah dalam *Alfudhail bin Iyaadh ra. berkata : Sesungguhnya seorang hamba dapat melakukan taat ibadat kepada Tuhan itu hanya menurut kedudukannya di sisi Tuhan, atas perasaan imannya terhadap Tuhan, atau kedudukan Tuhan di dalam hatinya.

Wahb bin Munabbih berkata : Saya telah membaca dalam kitab- kitab Allah yang dahulu. Firman Allah :

يَا ابْنَ آدَمَ أَطِعْنِي فِيمَا أَمَرْتُكَ وَلَا تُعَلِّمْنِي مَا يُصْلِحُكَ.

Hai anak Adam, taatilah perintahKu dan jangan engkau beritahu- kan kepadaKu apa kebutuhan yang baik bagimu. (Yakni engkau jangan mengajari kepadaKu apakah yang baik bagimu). Sesungguhnya Aku telah mengetahui kepentingan hambaKu, Aku memuliakan siapa yang patuh pada perintahKu, dan menghina siapa yang meremehkan perintahKu. Aku tidak menghiraukan kepentingan hambaKu, sehingga hambaKu memperhatikan hakKu (yakni kewajibannya terhadap Aku).

Hikam Ibnu 'Atoillah

038. لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ، الْوَاصِلُونَ إِلَيْهِ، وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ السَّائِرُونَ إِلَيْهِ.

Hendaknya membelanjakan tiap orang kaya menurut kekaya- annya, ialah mereka yang telah sampai kepada Allah. Dan orang yang terbatas rizqinya yaitu orang sedang berjalan menuju kepada Allah.

Orang yang telah sampai kepada Allah, karena mereka telah terlepas dari kurungan melihat kepada sesuatu selain Allah, ke alam tauhid maka luaslah pandangan mereka, maka mereka berbuat di alam mereka lebih leluasa, sebaliknya orang yang masih merangkak-rangkak di dalam ilmu dan faham yang terbatas, mereka inipun mengeluarkan sekedarnya.

Disalin