Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

089. مَطْلَبُ الْعَارِفِينَ مِنَ اللهِ تَعَالَى الصِّدْقُ فِي الْعُبُودِيَّةِ وَالْقِيَامُ بِحُقُوقِ الرُّبُوبِيَّةِ.

Tujuan permintaan orang aarif kepada Allah, hanya semoga dapat bersungguh-sungguh dalam kehambaan dan tetap dalam menunaikan kewajiban terhadap Tuhan.

Abu Mad-yan berkata : Jauh berbedå antara orang yang semangat keinginannya hanya bidadari dan gedung, dengan orang yang keinginan- nya selalu bertemu kepada Tuhan yang menciptakan dan yang mempunyai gedung. Sungguh-sungguh dalam sifat kehambaan : lalah berakhlak dan beradab sebagai seorang yang patuh taat kepada tuannya.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

268. أَشْهَدَكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَسْتَشْهِدَكَ، فَنَطَقَتْ بِإِلٰهِيَّتِهِ الظَّوَاهِرُ، وَتَحَقَّقَتْ بِأَحَدِيَّتِهِ الْقُلُوبُ وَالسَّرَائِرُ.

Allah memperlihatkan dzatNya kepadamu, sebelum ia menuntut kepadamu harus mengakui kebesaranNya, sehingga nyata mengakui ke-TuhananNya segala makhluk yang lahir, dan nyata hakikat ke-Esa-anNya dalam hati dan sir perasaan. Allah bertajalli ke dalam hati tiap orang, menurut kadar kekuatan tingkat orang itu, sehingga iman tiap orang itu pun menurut apa yang diperlihatkan oleh Allah daripada kebesaran kekuasaannya. Apabila Allah telah bertajalli kepada seorang hambaNya, maka tampak pada orang ini bahwa semua makhluk ini seolah-olah mengakui ketuhanannya, sebagaimana makin yakin dalam hati sanubarinya (perasaannya ke Esa- an) Allah yang tidak bersekutu dalam dzat, sifat, af' aal, kekuasaan dan Kebesaran-Nya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

037. شَتَّانَ بَيْنَ مَنْ يَسْتَدِلُّ بِهِ أَوْ يَسْتَدِلُّ عَلَيْهِ، فَالْمُسْتَدِلُّ بِهِ عَرَفَ الحَقَّ لِأَهْلِهِ فَأَثْبَتَ الْأَمْرَ مِنْ وُجُودِ أَصْلِهِ، وَالاِسْتِدْلاَلُ عَلَيْهِ مِنْ عَدَمِ الْوُصُولِ إِلَيْهِ، وَإِلاَّ فَمَتَى غَابَ حَتَّى تُسْتَدَلَّ عَلَيْهِ، وَمَتَى بَعُدَ حَتَّى تَكُونَ الْآثَارُ هِيَ الَّتِي تُوصِلُ إِلَيْهِ.

Jauh berbeda antara orang yang berdalil; adanya Allah menunjukkan adanya alam, dengan orang yang berdalil; bahwa adanya alam inilah yang menunjukkan adanya Allah. Orang yang berdalil adanya Allah menunjukkan adanya alam, yaitu orang yang mengenal hak dan meletakkan pada tempatnya, sehingga menetapkan adanya sesuatu dari asal mulanya. Sedang orang yang berdalil adanya alam menunjukkan adanya Allah, karena ia tidak sampai kepada Allah. Maka bilakah Allah itu ghaib sehingga memerlukan dalil untuk mengetahuinya. Dan bilakah Allah itu jauh sehingga adanya alam ini dapat menyampaikan kepadanya.

Firman Allah :

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (النحل: ٧٨)

Dan Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibumu tidak mengetahui apa-apa, kemudian Allah memberi kepadamu pendengaran dan penglihatan serta fikiran (perasaan), supaya kamu bersyukur. (S. An-Nahi 78). Memang asal mula kejadian manusia bodoh tidak mengetahui apa- apa, kemudian Allah memberinya alat untuk mengetahui dan mengenal- Nya, pendengaran, penglihatan, perasaan dan fikiran semua alat mengenal Allah itu supaya manusia bersyukur, sebab dengan bersyukur itu manusia sempurna dan sejahtera hidupnya, yaitu setelah mengenal kepada Tuhan Allah yang menjadikan dan menjamin segala hajat kebutuhannya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

015. مِمَّا يَدُلُّكَ عَلَى وُجُودِ قَهْرِهِ سُبْحَانَهُ أَنْ حَجَبَكَ عَنْهُ بِمَا لَيْسَ بِمَوْجُودٍ مَعَهُ.

Di antara bukti-bukti yang menunjukkan adanya kekuasaan Allah yang luar biasa, ialah dapat menghijab engkau daripada melihat kepada-Nya dengan hijab yang tidak ada wujudnya (yakni : Bayangan- bayangan hijab) di sisi Allah. Sepakat para arifin, bahwa segala sesuatu selain Allah tidak ada, artinya : tidak dapat disamakan adanya sebagaimana adanya Allah, sebab adanya alam terserah kepada karunia Allah, bagaikan adanya bayangan yang tergantung selalu kepada benda yang membayanginya. Maka siapa yang melihat bayangan dan tidak melihat kepada yang membayanginya, di sini terhijabnya.

Firman Allah :

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ (القصص: ٨٨)

Segala sesuatu rusak hancur kecuali dzat Allah. Rasulullah saw. membenarkan perkataan pujangga yang berkata :

أَلَا كُلُّ شَيْءٍ مَا خَلَا اللَّهَ بَاطِلٌ

Camkanlah, bahwa segala sesuatu selain Allah itu palsu belaka.

وَكُلُّ نَعِيمٍ لَا مَحَالَةَ زَائِلٌ

Dan tiap nikmat kesenangan dunia, pasti akan rusak lenyap.

Disalin