Jika terlanjur (terjadi) perbuatan dosa, maka yang demikian itu jangan sampai menyebabkan patah hatimu untuk mendapatkan istigamah kepada Tuhanmu, sebab kemungkinan yang demikian itu sebagai dosa yang terakhir yang telah ditakdirkan bagimu. Perbuatan dosa itu tidak menyalahi istigamah dalam kehambaan, asalkan jangan terus-menerus dan merupakan kegembiraan dalam melakukannya, tetapi bila semata-mata karena terlanjut, dengan tidak ada sifat gembira dalam melakukan perbuatan itu, bahkan segera bertobat daripadaNya. Sebab manusia tidak akan mungkin dapat mengelakkan diri dari takdir yang telah tertulis baginya. Karena itu terjadinya perbuatan dosa jangan sekali-kali menyebabkan putus asa dari tetapnya istigamah dalam kehambaan kepada Allah swt.
202. لاَ يَنْبَغِي لِلسَّالِكِ أَنْ يُعَبِّرَ عَنْ وَارِدَاتِهِ، فَإِنَّ ذٰلِكَ يُقِلُّ عَمَلَهَا فِي قَلْبِهِ، وَيَمْنَعُ وُجُودَ الصِّدْقِ مَعَ رَبِّهِ.
Tidak layak bagi seorang salik (yang baru merangkak dalam jihad melawan hawa nafsu) membuka atau menerangkan apa yang telah ia dapat daripada kurnia Tuhan, sebab yang demikian ini akan mengurangi pengaruhnya ke dalam hatinya sendiri, dan merusak (menghalangi) kesungguhannya terhadap Tuhan. Rahasia-rahasia yang diberikan oleh Tuhan kepada seorang salik harus disimpan baik-baik, dan jangan diobral murah kepada sesama manusia, kecuali kepada yang dapat memimpinnya. Sebab bila ternyata bahwa ia dapat menyimpan rahasia-rahasia Tuhan yang diberikan kepadanya, ia akan mendapat kepercayaan untuk rahasia-rahasia yang lebih besar selanjutnya. Dan bila selalu diobral, berarti pandangannya belum bulat kepada Allah, tetapi masih selalu mengharap apa-apa kepada sesama makhluk.
Tidak layak bagi seorang salik (yang baru merangkak dalam jihad melawan hawa nafsu) membuka atau menerangkan apa yang telah ia dapat daripada kurnia Tuhan, sebab yang demikian ini akan mengurangi pengaruhnya ke dalam hatinya sendiri, dan merusak (menghalangi) kesungguhannya terhadap Tuhan. Rahasia-rahasia yang diberikan oleh Tuhan kepada seorang salik harus disimpan baik-baik, dan jangan diobral murah kepada sesama manusia, kecuali kepada yang dapat memimpinnya. Sebab bila ternyata bahwa ia dapat menyimpan rahasia-rahasia Tuhan yang diberikan kepadanya, ia akan mendapat kepercayaan untuk rahasia-rahasia yang lebih besar selanjutnya. Dan bila selalu diobral, berarti pandangannya belum bulat kepada Allah, tetapi masih selalu mengharap apa-apa kepada sesama makhluk.
276. وَقَالَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مِمَّا كَتَبَ بِهِ لِبَعْضِ إِخْوَانِهِ: أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ الْبِدَايَاتِ مَرْآةُ النِّهَايَاتِ، وَإِنَّ مَنْ كَانَتْ بِاللهِ بِدَايَتُهُ كَانَتْ إِلَيْهِ نِهَايَتُهُ.
Berkată Ibn Atha'allah dalam surat yang ditulis untuk kawan-kawannya : Amma ba'du : Sesungguhnya bidayah (permulaan) itu bagaikan cermin yang memperlihatkan nihayah (puncak akhirnya). Dan siapa yang sejak mula (bidayahnya) selalu bersandar kepada Allah, maka pasti akhirnya (nihayahnya) akan sampai kepada Allah).
Berkată Ibn Atha'allah dalam surat yang ditulis untuk kawan-kawannya : Amma ba'du : Sesungguhnya bidayah (permulaan) itu bagaikan cermin yang memperlihatkan nihayah (puncak akhirnya). Dan siapa yang sejak mula (bidayahnya) selalu bersandar kepada Allah, maka pasti akhirnya (nihayahnya) akan sampai kepada Allah).
149. لَوْلاَ ظُهُورُهُ فِي الْمُكَوَّنَاتِ مَا وَقَعَ عَلَيْهَا وُجُودُ أَبْصَارٍ، وَلَوْ ظَهَرَتْ صِفَاتُهُ لاَضْمَحَلَّتْ مُكَوَّنَاتُهُ.
Andaikan Allah tidak dhahir pada benda-benda alam ini, tidak mungkin adanya penglihatan padaNya, dan andaikan Allah mendhahirkan sifatNya pasti lenyaplah alam bendaNya.
Firman Allah :
فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا (الأعراف: ١٤٣)
Ketika Allah bertajalli kepada bukit, hancurlah (lenyaplah) bukit itu, sedang Nabi Musa jatuh pingsan.
Rasulullah saw. bersabda : Hijab Allah itu berupa cahaya, andaikan dibuka pasti akan terbakar segala sesuatu yang menghadapinya. n Abdi pada Khalanya)
Andaikan Allah tidak dhahir pada benda-benda alam ini, tidak mungkin adanya penglihatan padaNya, dan andaikan Allah mendhahirkan sifatNya pasti lenyaplah alam bendaNya.
Firman Allah :
فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا (الأعراف: ١٤٣)
Ketika Allah bertajalli kepada bukit, hancurlah (lenyaplah) bukit itu, sedang Nabi Musa jatuh pingsan.
Rasulullah saw. bersabda : Hijab Allah itu berupa cahaya, andaikan dibuka pasti akan terbakar segala sesuatu yang menghadapinya. n Abdi pada Khalanya)