Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

250. مَنْ أَثْبَتَ لِنَفْسِهِ تَوَاضُعًا فَهُوَ الْمُتَكَبِّرُ حَقًّا، إِذِ التَّوَاضُعُ لاَ يَكُونُ إِلاَّ عَنْ رِفْعَةٍ، فَمَتَى أَثْبَتَّ لِنَفْسِكَ رِفْعَةً فَأَنْتَ الْمُتَكَبِّرُ حَقًّا.

Siapa yang merasa diri bertawadhu’, maka berarti ia benar- benar sombong, sebab tidak mungkin ia merasa tawadhu’ kecuali kalau ia merasa besar/tinggi, karena itu bila engkau menetapkan bahwa dirimu itu besar/tinggi, maka benar-benar engkau telah sombong (mutakabbir). Maka apabila engkau menetapkan d (merendah diri) yakni padahal engkau ıtu seorang besar dan tinggi, maka itu berarti engkau benar-benar telah sombong (mutakabbir). Seorang yang merasa bertawadhu’ (merendah diri) itu disebabkan ia merasa besar tinggi, hanya saja ia merendah dan perasaan besar/ tinggi diri itulah hakikat kesombongan, dan itu pula arti takabbur yang arul haqqi wa ghamthunnas a orang lain). ar dan tinggi, mulia.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

165. رُبَّمَا وَقَفَتِ الْقُلُوبُ مَعَ الْأَنْوَارِ كَمَا حُجِبَتِ النُّفُوسُ بِكَثَائِفِ الْأَغْيَارِ.

Adakalanya hati ini terhenti pada sinar cahaya-cahaya itu, sebagaimana terhijabnya nafsu dengan padatnya benda-benda makhluk. Hijab yang dapat merintangi atau menghijab manusia berjalan kepada Allah itu adakalanya nurani dan adakalanya kegelapan, maka bila yang menghentikan perjalanan manuju kepada Allah berupa ilmu pengetahuan, maka itu bernama hijab nurani, sebaliknya jika yang menghalangi per- jalanan itu adat kebiasaan dan syahwat, maka berama kegelapan benda dunia. Hati dapat silau oleh nur cahaya, sebagaimana silaunya nafsu dengan kegelapan benda, sedang Allah di balik itu semuanya. AL-BIRAM (Pendelatan Abdi padu Khulgnya)

Hikam Ibnu 'Atoillah

199. عِبَارَاتُهُمْ إِمَّا لِفَيَضَانِ وَجْدٍ، أَوْ لِقَصْدِ هِدَايَةِ مُرِيدٍ، فَالْأَوَّلُ حَالُ السَّالِكِينَ، وَالثَّانِي حَالُ أَرْبَابِ التَّمْكِينِ وَالْمُحَقِّقِينَ.

Kata-kata kalimat mereka itu, imma karena luapan perasaan yang penuh dalam hati, yang tidak dapat ditahan, atau karena tujuan memberi petunjuk pada seorang murid. Yang pertama itu hal keadaan yang masih salik (sedang berjalan), sedang kedua : Hal keadaan orang yang sudah matang dan mendalam benar-benar dalam ilmu hakikat. Jika seorang salik (yang sedang berjalan) menuju hakikat itu berkata- kata bukan karena luapan hatinya, niscaya ia hanya merupakan dakwa (pengakuan) yang palsu belaka, demikian pula orang yang sudah di puncak jika bicara bukan untuk memberi petunjuk kepada murid, berarti ia telah membuka rahasia yang tidak diizinkan. Sedang lazimnya ia diam tidak bicara sebab ia selalu dalam adab hadirat Allah ta'ala

Firman Allah :

وَخَشَعَتِ الْأَصْوَاتُ لِلرَّحْمَٰنِ فَلَا تَسْمَعُ إِلَّا هَمْسًا (طه: ١٠٨)

Telah tunduk semua suara-suara itu kepada Arrahman (Allah), maka tidak terdengar kecuali bisik-bisikan semata-mata.

Hikam Ibnu 'Atoillah

283. فَلَمْ تَزَلْ مَطِيَّةُ عَزْمِهِ لاَ يَقِرُّ قَرَارُهَا دَائِمًا، تَسِيرُ حَتَّى أَنَاخَتْ بِحَضْرَةِ الْقُدْسِ، وَبِسَاطِ الْأُنْسِ، مَحَلِّ الْمُفَاتَحَةِ وَالْمُوَاجَهَةِ وَالْمُجَالَسَةِ وَالْمُحَادَثَةِ وَالْمُشَاهَدَةِ وَالْمُطَالَعَةِ، فَصَارَتِ الْحَضْرَةُ مُعَشَّشَ قُلُوبِهِمْ، إِلَيْهَا يَأْوُونَ وَفِيهَا يَسْكُنُونَ.

Maka tetap terus kendaraan semangatnya tidak berhenti, bahkan tetap terus berjalan, sehingga berlabuh (berhenti) di hadratil qudsi (di sisi Allah) di atas hamparan kesenangan, tempat berbisik/ bermunajat, berhadapan, bercakap-cakap, musyahadah dan bertemu sehingga hadratil qudsi itu menjadi sarang hati mereka, ke sana mereka kembali, dan di sana pula mereka tetap tinggal. Semangat yang tidak padam, bagaikan kendaraan yang tidak kunjung berhenti perjalanan, kecuali setelah sampai stasiun (pelabuhan) yang berupa hadratul-qudsi, di mana Allah sendiri yang menyenangkan, membuka nur hati dan selalu di sisi Allah.

Disalin