Semoga Allah menjadikan kesenangan (kegembiraan) kamı dan kamu dengan Allah dan dengan rela (ridha) terhadap apa-apa yang dari Allah, semoga Allah menjadikan kami dari golongan yang mengerti segala sesuatu daripada Allah, dan jangan menjadikan kami dari golongan orang yang ghafil (lalai), dan semoga Allah menjadikan kami di jalanan orang-orang muttagin dengan kurnia dan kemurahan Allah swt.
092. الْبَسْطُ تَأْخُذُ النَّفْسُ مِنْهُ حَظَّهَا بِوُجُودِ الْفَرَحِ، وَالْقَبْضُ لاَ حَظَّ لِلنَّفْسِ فِيهِ.
Di dalam masa kelapangan (baseth) hawa nafsu dapat mengambil bagiannya karena gembira, sedang dalam masa sempit (qabdh) tidak ada bagian sama sekali untuk hawa nafsu. Karena itu manusia lebih aman dalam kesempitan, karena hawa nafsu tidak dapat memperdaya.
Abul-Hasan Assyadzily ra. berkata : Algabdhu wal basthu (risau hati, dan riang hati) selalu silih berganti dalam perasaan tiap hamba, bagaikan silih berganti siang dan malam. Dan sebabnya gabdh (risau hati) itu salah satu dari tiga : Karena dosa atau kehilangan dunia, atau dihina orang, Maka ada seorang hamba, jika merasa berdosa harus segera bertobat, dan jika kehilangan dunia, harus rela dan menyerah kepada hukum Allah, dan bila dihina orang harus sabar. Dan jagalah dirimu jangan sampai kamu merugikan (aniaya) lain orang. dan apabila terjadi qabdh (risau hati) itu tidak diketahui sebabnya, maka harus tenang menyerah. Insya Allah jika tenang menyerah, tidak lamå akan sirna masa gelap dan berganti dengan terang, ada kalanya terang bintang yaitu ilmu atau sinar bulan yaitu tauhid, atau matahari yaitu ma'rifat, tetapi jika tidak tenang dimasa gelap (risau hati) mungkin akan terjerumus dalam kebinasaan. Adapun dalam masa bashet (riang hati), maka sebabnya adalah satu dari tiga : Karena bertambahnya kelakuan ibadat (taat) dan bertambahnya ilmu ma'rifat atau karena bertambahnya kekayaan atau kehormatan, dan yang ketiga karena pujian dan sanjungan orang kepadanya. Maka adab seorang hamba : Jika merasa bertambah taat ibadatnya dan ilmu ma'rifatnya harus merasa bahwa itu semata-mata kurnia Tuhan, dan berhati-hati jangan sampai merasa bahwa itu dari kerajinan sendiri. Dan jika mendapat tambah keduniaan, maka ini pula yang harus dianggap bahwa itu semata- mata kurnia Allah, dan harus waspada jangan sampai terkena bahayanya. Adapun jika berupa pujian sanjungan orang kepadamu, maka kehamba- anmu mengharuskan bersyukur kepada Allah yang telah menutupi kejelekkan- mu, sehingga orang-orang hanya mengenal kebaikanmu, semata-mata.
Di dalam masa kelapangan (baseth) hawa nafsu dapat mengambil bagiannya karena gembira, sedang dalam masa sempit (qabdh) tidak ada bagian sama sekali untuk hawa nafsu. Karena itu manusia lebih aman dalam kesempitan, karena hawa nafsu tidak dapat memperdaya.
Abul-Hasan Assyadzily ra. berkata : Algabdhu wal basthu (risau hati, dan riang hati) selalu silih berganti dalam perasaan tiap hamba, bagaikan silih berganti siang dan malam. Dan sebabnya gabdh (risau hati) itu salah satu dari tiga : Karena dosa atau kehilangan dunia, atau dihina orang, Maka ada seorang hamba, jika merasa berdosa harus segera bertobat, dan jika kehilangan dunia, harus rela dan menyerah kepada hukum Allah, dan bila dihina orang harus sabar. Dan jagalah dirimu jangan sampai kamu merugikan (aniaya) lain orang. dan apabila terjadi qabdh (risau hati) itu tidak diketahui sebabnya, maka harus tenang menyerah. Insya Allah jika tenang menyerah, tidak lamå akan sirna masa gelap dan berganti dengan terang, ada kalanya terang bintang yaitu ilmu atau sinar bulan yaitu tauhid, atau matahari yaitu ma'rifat, tetapi jika tidak tenang dimasa gelap (risau hati) mungkin akan terjerumus dalam kebinasaan. Adapun dalam masa bashet (riang hati), maka sebabnya adalah satu dari tiga : Karena bertambahnya kelakuan ibadat (taat) dan bertambahnya ilmu ma'rifat atau karena bertambahnya kekayaan atau kehormatan, dan yang ketiga karena pujian dan sanjungan orang kepadanya. Maka adab seorang hamba : Jika merasa bertambah taat ibadatnya dan ilmu ma'rifatnya harus merasa bahwa itu semata-mata kurnia Tuhan, dan berhati-hati jangan sampai merasa bahwa itu dari kerajinan sendiri. Dan jika mendapat tambah keduniaan, maka ini pula yang harus dianggap bahwa itu semata- mata kurnia Allah, dan harus waspada jangan sampai terkena bahayanya. Adapun jika berupa pujian sanjungan orang kepadamu, maka kehamba- anmu mengharuskan bersyukur kepada Allah yang telah menutupi kejelekkan- mu, sehingga orang-orang hanya mengenal kebaikanmu, semata-mata.
094. مَتَى فَتَحَ لَكَ بَابَ الْفَهْمِ فِي الْمَنْعِ عَادَ الْمَنْعُ عَيْنَ الْعَطَاءِ.
Apabila Allah membukakan bagimu pengertian (faham) tentang penolakanNya, maka berubahlah penolakan itu berarti (menjadi) pemberian. bijaksanaanNya dalam apa yang dijauhkannya daripadamu, maka itu berarti suatu kurnia Tuhan kepadamu, sehingga terasa olehmu keselamatanmu dunia dan akheratmu.
Apabila Allah membukakan bagimu pengertian (faham) tentang penolakanNya, maka berubahlah penolakan itu berarti (menjadi) pemberian. bijaksanaanNya dalam apa yang dijauhkannya daripadamu, maka itu berarti suatu kurnia Tuhan kepadamu, sehingga terasa olehmu keselamatanmu dunia dan akheratmu.
010. الْأَعْمَالُ صُوَرٌ قَائِمَةٌ، وَأَرْوَاحُهَا وُجُودُ سِرِّ الْإِخْلاَصِ فِيهَا.
Amal perbuatan itu sebagai kerangka yang tegak, sedang ruh (jiwa)nya, ialah terdapatnya rahasia ikhlas (ketulusan) dalam amal perbuatan itu. Keikhlasan seseorang dalam amal perbuatannya menurut tingkat kedudukannya, maka keikhlasan orang abrar, apabila amal perbuatan itu telah bersih dari riyaa' yang jelas maupun yang samar, sedang tujuan amal perbuatan mereka selalu hanya pahala yang dijanjikan oleh Allah kepada hambaNya yang ikhlas. Dan ini terambil dari ayat : "Iyyaaka na'budu : Hanya kepadaMu kami menyembah, dan tiada kami mempersekutukan Engkau dalam ibadatku ini kepada sesuatu yang lain. Adapun keikhlasan orang-orang mugarrabin ialah menterapkan pengertian : "Laa haula walaa quwwata illaa billaahi" : Tiada daya untuk mengelakkan, dan tiada kekuatan untuk berbuat apapun kecuali dengan pertolongan langsung dari Allah, tiada daya kekuatan sendiri, sedang semua itu hanya daripada Allah, ia merasa bahwa semua amal perbuatan semata-mata kurnia Allah kepadanya, sebab Allah yang memberi hidayat dan taufiq, ini terambil dari ayat : "Iyyaaka nasta' iin" Hanya kepadaMu kami mengharap bantuan pertolongan, sebab kami sendiri tidak berdaya. Amal orang abrar dinamakan amal lillah : Beramal karena Allah. Sedangkan amal mugarrabin dinamakan : Amal billahi : Beramal dengan bantuan kurnia Allah. Amal lillah menghasilkan sekedar memperhatikan hukum lahir, sedangkan amal billahi menembus ke dalam perasaan hati. Seorang guru berkata : Perbaikilah amal perbuatan- mu dengan ikhlas, dan perbaikilah keikhlasanmu itu dengan perasaan tidak ada kekuatan sendiri, sedang semua kejadian itu hanya semata- mata karena bantuan pertolongan Allah ta'ala.
Amal perbuatan itu sebagai kerangka yang tegak, sedang ruh (jiwa)nya, ialah terdapatnya rahasia ikhlas (ketulusan) dalam amal perbuatan itu. Keikhlasan seseorang dalam amal perbuatannya menurut tingkat kedudukannya, maka keikhlasan orang abrar, apabila amal perbuatan itu telah bersih dari riyaa' yang jelas maupun yang samar, sedang tujuan amal perbuatan mereka selalu hanya pahala yang dijanjikan oleh Allah kepada hambaNya yang ikhlas. Dan ini terambil dari ayat : "Iyyaaka na'budu : Hanya kepadaMu kami menyembah, dan tiada kami mempersekutukan Engkau dalam ibadatku ini kepada sesuatu yang lain. Adapun keikhlasan orang-orang mugarrabin ialah menterapkan pengertian : "Laa haula walaa quwwata illaa billaahi" : Tiada daya untuk mengelakkan, dan tiada kekuatan untuk berbuat apapun kecuali dengan pertolongan langsung dari Allah, tiada daya kekuatan sendiri, sedang semua itu hanya daripada Allah, ia merasa bahwa semua amal perbuatan semata-mata kurnia Allah kepadanya, sebab Allah yang memberi hidayat dan taufiq, ini terambil dari ayat : "Iyyaaka nasta' iin" Hanya kepadaMu kami mengharap bantuan pertolongan, sebab kami sendiri tidak berdaya. Amal orang abrar dinamakan amal lillah : Beramal karena Allah. Sedangkan amal mugarrabin dinamakan : Amal billahi : Beramal dengan bantuan kurnia Allah. Amal lillah menghasilkan sekedar memperhatikan hukum lahir, sedangkan amal billahi menembus ke dalam perasaan hati. Seorang guru berkata : Perbaikilah amal perbuatan- mu dengan ikhlas, dan perbaikilah keikhlasanmu itu dengan perasaan tidak ada kekuatan sendiri, sedang semua kejadian itu hanya semata- mata karena bantuan pertolongan Allah ta'ala.