Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Mutiara Kata

Himpunan Hikmah

294 petikan ilmu untuk direnung dan dikongsi.

Rawak
Hikam Ibnu 'Atoillah

073. مَنْ لَمْ يُقْبِلْ عَلَى اللهِ بِمُلاَطَفَاتِ الْإِحْسَانِ قِيدَ إِلَيْهِ بِسَلاَسِلِ الاِمْتِحَانِ.

Siapa yang tidak suka menghadap (mendekat) kepada Allah dengan halusnya pemberian kurnia Allah, maka akan diseret supaya ingat kepada Allah dengan rantai ujian (bala'). Siapa yang tidak suka sadar dzikir kepada Allah ketika sehat afiat dan murah rizqi, maka akan dipaksa supaya dzikir ingat kepada Allah dengan tibanya bala' bencana. maka dalam kedua hal itu Allah berkenan akan menuangkan nikmat kurnia yang sebesar-besarnya kepada hambaNya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

089. مَطْلَبُ الْعَارِفِينَ مِنَ اللهِ تَعَالَى الصِّدْقُ فِي الْعُبُودِيَّةِ وَالْقِيَامُ بِحُقُوقِ الرُّبُوبِيَّةِ.

Tujuan permintaan orang aarif kepada Allah, hanya semoga dapat bersungguh-sungguh dalam kehambaan dan tetap dalam menunaikan kewajiban terhadap Tuhan.

Abu Mad-yan berkata : Jauh berbedå antara orang yang semangat keinginannya hanya bidadari dan gedung, dengan orang yang keinginan- nya selalu bertemu kepada Tuhan yang menciptakan dan yang mempunyai gedung. Sungguh-sungguh dalam sifat kehambaan : lalah berakhlak dan beradab sebagai seorang yang patuh taat kepada tuannya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

105. رُبَّمَا فَتَحَ لَكَ بَابَ الطَّاعَةِ وَمَا فَتَحَ لَكَ بَابَ الْقَبُولِ، وَرُبَّمَا قَضَى عَلَيْكَ بِالذَّنْبِ فَكَانَ سَبَبًا فِي الْوُصُولِ.

Mungkin Allah membuka untukmu pintu taat, tetapi belum dibukakan bagimu kabul (penerimaan), sebagaimana ada kalanya ditakdirkan engkau berbuat dosa, tetapi menjadi sebab sampaimu (mendekatmu) kepada Allah.

Abuhurairah ra. berkata : Bersabda Nabi saw. : Demi Allah yang jiwaku ada di tanganNya, andaikan kamu tidak berbuat dosa, niscaya Allah menyingkirkan (mematikan) kamu dan diganti dengan orang-or- ang yang berbuat dosa lalu minta ampun kepada Allah, lalu diampuni oleh Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

074. مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النِّعَمَ فَقَدْ تَعَرَّضَ لِزَوَالِهَا، وَمَنْ شَكَرَهَا فَقَدْ قَيَّدَهَا بِعِقَالِهَا.

Siapa yang tidak mensyukuri nikmat Tuhan, maka berarti berusaha untuk hilangnya nikmat itu, dañ siapa yang syukur atas nikmat berarti telah mengikat nikmat itu dengan ikatan yang kuat kukuh.

Firman Allah :

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ (إبراهيم: ٧)

Bila kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat bagimu.

Firman Allah :

وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ (النحل: ٥٣)

Tiada terjadi suatu nikmat bagimu melainkan itu dari Allah (maka itu dari Allah).

Firman Allah :

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ (الضحى: ١١)

Adapun terhadap nikmat pemberian Tuhanmu, maka kau pergunakan (ceritakan/sebarkan).

Annu'maan bin Basyir ra. berkata : Bersabda Nabi saw. : Siapa yang tidak mensyukuri nikmat yang sedikit, maka tidak akan dapat mensyukuri nikmat yang banyak, dan siapa yang tidak berterima kasih kepada sesama manusia berarti tidak bersyukur kepada Allah. Syukur : lalah merasa dalam hati, dan menyebut dengan lidah, dan mengerjakan dengan anggota badan.

Al-Junaid berkata : Ketika saya baru berusia 7 tahun hadir dalam majlis Assariyussagathi, tiba-tiba saya ditanya : Apakah arti syukur ? Jawabku : Syukur ialah tidak menggunakan suatu nikmat yang diberi Allah untuk perbuatan maksiat. Assary berkata: Saya kuatir kalau bagianmu dari kurnia Allah hanya dalam lidahmu belaka. Berkata Al-Junaid : Maka karena kalimat yang dikeluarkan oleh Assary itu saya selalu menangis, kuatir kalau benar apa yang dikatakan oleh Assary itu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

090. بَسَطَكَ كَيْ لاَ يُبْقِيَكَ مَعَ الْقَبْضِ، وَقَبَضَكَ كَيْ لاَ يَتْرُكَكَ مَعَ الْبَسْطِ، وَأَخْرَجَكَ عَنْهُمَا كَيْ لاَ تَكُونَ لِشَيْءٍ دُونَهُ.

Allah melapangkan bagimu, supaya engkau tidak selalu dalam kesempitan, dan Allah menyempitkan bagimu supaya engkau tidak hanyut dalam kelapangan, dan Allah melepaskan engkau dari keduanya, supaya engkau tidak bergantung kepada sesuatu selain Allah. Allah merubah-rubah keadaanmu dari sedih ke gembira, dari sehat ke sakit, dari kaya ke miskin, dari terang ke gelap, supaya mengerti bahwa engkau tidak bebas dari hukuman ketentuanNya, supaya selalu engkau berdiri di atas landasan LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAH. (Tidak ada daya untuk mengelakkan sesuatu dan tidak ada kekuatan untuk melaksanakan sesuatu, kecuali dengan pertolongan Allah ta'ala).

Firman Allah :

لِّكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ (الحديد: ٢٣)

Supaya kamu tidak sedih (menyesal) terhadap apa yang terlepas dari tanganmu, dan tidak gembira atas apa yang diberikan kepadamu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

106. مَعْصِيَةٌ أَوْرَثَتْ ذُلاًّ وَافْتِقَارًا خَيْرٌ مِنْ طَاعَةٍ أَوْرَثَتْ عِزًّا وَاسْتِكْبَارًا.

Maksiat (dosa) yang menimbulkan rasa rendah diri dan membutuhkan rahmat Allah, lebih baik dari perbuatan taat yang membangkitkan rasa sombong, ujub dan besar diri.

Abu Mad-yan ra. berkata : Perasaan rendah diri seorang yang telah berbuat maksiat dosa, itu lebih baik dari kesombongan seorang yang taat. Ada kalanya seorang hamba berbuat kebaikan (hasanat) yang menimbulkan rasa ujub sombong, sehingga dapat menggugurkan segala amal-amal yang sebelumnya, dan ada kalanya seorang berbuat dosa yang menyedihkan hatinya, sehingga timbul rasa takut kepada Allah , dan menyebabkan keselamatan dirinya. Asysya'by meriwayatkan dari Alkhalil bin Ayyud, bahwasanya seorang aabid (ahli ibadah) Bani Israil ketika ia berjalan ia dinaungi oleh awan, tiba-tiba ada seorang pelacur Bani Israil, maka tergerak dalam hati pelacur itu : Ini seorang aabid Bani Israil, aku ingin mendekat kepadaNya. maka ketika pelacur itu mendekat kepada aabid itu tiba- tiba si aabid itu mengusir dengan berkata : Enyah engkau dari sini. Maka Allah menurunkan wahyu kepada Nabi saw. bahwa aku (Allah mengampunkan dosa pelacur itu dan membatalkan amal aabid itu. maka berpindah awan dari atas kepala aabid ke atas kepala pelacur itu. Al-Harits Al-Muhassiby berkata : Allah menghendaki supaya anggota lahir ini sesuai dengan batinnya (hatinya), maka apabila sombong congkak orang alim/aabid, sedang pelacur itu bertawadhu' merendah diri, maka ketika itu si pelacur lebih taat kepada Allah dari aabid dan alim. Ada pula kejadian ketika seorang aabid Bani Israil sedang sujud, tiba-tiba diinjak kepalanya oleh orang, maka berkata aabid itu : Angkat kakimu, demi Allah tidak akan mengampunkan cngkau. Maka Allah menjawab : Hai orang yang bersumpah dengan namaKu, bahkan engkau yang tidak diampunkan karena kesombonganmu. Al-Harits dalam komentarnya berkata : Dia berkata satu kata yang merusakkan dunia dan akhiratnya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

075. خَفْ مِنْ وُجُودِ إِحْسَانِهِ إِلَيْكَ وَدَوَامِ إِسَاءَتِكَ مَعَهُ أَنْ يَكُونَ ذٰلِكَ اسْتِدْرَاجًا لَكَ، سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لاَ يَعْلَمُونَ.

Hendaknya kau merasa takut jika kau selalu mendapat kurnia Allah, sebaliknya kau tetap dalam perbuatan maksiat kepadaNya jangan sampai kurnia itu semata-mata istidraj (dilulu) oleh Allah. Sebagaimana firman Allah :

سَنَسْتَدْرِجُهُم مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ (الأعراف: ١٨٢)

Akan aku lulu (putar) mereka itu dengan jalan yang mereka tidak mengetahui (tidak sadar). Istidraj : Yaitu mengulur, memberi terus menerus supaya bertambah lupa kemudian dibinasakan, juga berarti memperdaya.

Firman Allah :

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ (الأنعام: ٤٤)

Maka ketika mereka telah melupakan apa yang telah diperingat- kan kepada mereka. Kami bukakan bagi mereka segala jalan, sehingga apabila mereka telah mabuk gembira terhadap segala hasil usahanya. Kami tangkap dengan tiba-tiba, sehingga mereka mengalami dan merasa gagal total, dan putus harapan sama sekali.

(Al-An'aam 44).

Demikian contoh istidraj : Tiap berbuat dosa ditambah dengan nikmat, dan dilupakan minta ampun istighfar.

Hikam Ibnu 'Atoillah

091. الْعَارِفُونَ إِذَا بُسِطُوا أَخْوَفُ مِنْهُمْ إِذَا قُبِضُوا، وَلاَ يَقِفُ عَلَى حُدُودِ الْأَدَبِ فِي الْبَسْطِ إِلاَّ قَلِيلٌ.

Orang aarif jika merasa lapang lebih kuatir (takut), dari pada jika berada dalam kesempitan, dan tidak dapat tegak di batas-batas adab dalam keadaan lapang itu kecuali sedikit sekali.

Abu Bakar Assiddiq ra. berkata : Kami diuji dengan kesukaran, maka kami tahan sabar, tetapi ketika diuji dengan kesenangan (kelapangan), hampir tidak sabar (tahan). Yusuf bin Husain Arrazy menulis surat kepada Al-Junaid : Semoga Allah tidak memberi kepadamu rasa kelezatan hawa nafsumu, sebab jika engkau merasakan kelezatannya, maka tidak akan merasakan kebaikan untuk selamanya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

107. نِعْمَتَانِ مَا خَرَجَ مَوْجُودٌ عَنْهُمَا وَلاَ بُدَّ لِكُلِّ مُكَوَّنٍ مِنْهُمَا: نِعْمَةُ الْإِيجَادِ وَنِعْمَةُ الْإِمْدَادِ.

Dua nikmat yang tıdak uatu makhluk yang terlepas dari keduanya yaitu nikmat ciptaan dan n ulan. Karena tiap makhluk asalnya tidak ada, maka nikmat yang pertama diterimanya ialah nikmat ciptaan Allah yang menjadikannya (mewujudkannya), kemudian dilanjutkan dengan nikmat kelanjutan hidup itu, yakni melengkapi kebutuhan hidup, sebab bila tidak dilengkapi kebutuhan, tidak akan dapat bertahan hidup.

Hikam Ibnu 'Atoillah

076. مِنْ جَهْلِ الْمُرِيدِ أَنْ يُسِيءَ الْأَدَبَ فَتُؤَخَّرَ الْعُقُوبَةُ عَنْهُ، فَيَقُولَ: لَوْ كَانَ هٰذَا سُوءَ أَدَبٍ لَقَطَعَ الْإِمْدَادَ وَأَوْجَبَ الْإِبْعَادَ. فَقَدْ يُقْطَعُ الْمَدَدُ عَنْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَشْعُرُ، وَلَوْ لَمْ يَكُنْ إِلاَّ مَنْعُ الْمَزِيدِ. وَقَدْ يُقَامُ مَقَامَ الْبُعْدِ وَهُوَ لاَ يَدْرِي، وَلَوْ لَمْ يَكُنْ إِلاَّ أَنْ يُخَلِّيَكَ وَمَا تُرِيدُ.

Setengah dari tanda kebodohan murid jika ia berbuat salah lalu ditangguhkan hukumannya, lalu ia berkata : Andaikata termasuk dosa tentu sudah diputuskan bantuan dan sudah dijauhkan. Ingatlah adakalanya telah diputuskan bantuan (kurnia) dengan jalan yang ia tidak merasa, meskipun hanya berupa tidak ada tambahan baru, dan adakalanya pula ia telah dijauhkan padahal ia tidak mengetahui, meskipun jauh itu hanya berupa membiarkan engkau menurutkan hawa nafsumu.

Abul-Qasim Al-Junaid ra. berkata : Ketika saya sedang menunggu janazah bersama orang-orang banyak yang akan disembahyangkan di masjid Assyuniziyah, tiba-tiba ada seorang miskin minta-minta, maka dalam perasaan hatiku : Andaikan orang itu bekerja sedikit- sedikit supaya tidak minta-minta, tentu akan lebih baik baginya. Kemudian ketika pada malam harinya, saya akan mengerjakan wirid yang biasa saya kerjakan pada tiap malam. terasa sangat berat dan tidak dapat berbuat apa-apa, sambil duduk akhirnya tertidurlah mataku. Tiba-tiba mimpi orang-orang datang membawa orang miskin itu di di atas talam, dan orang-orang itu berkata kepadaku : Makanlah daging orang ini sebab engkau telah meng-ghibah padanya. Maka langsung saya sadar, dan saya tidak merasa ghibah padanya hanya

tergerak dalam hati, tetapi saya diperintahkan harus minta halal kepada orang itu, maka tiap hari saya berusaha mencari orang itu, akhirnya bertemu di tepi sungai sedang mengambil daun-daunan yang rontok untuk dimakan dan ketika saya memberi salam kepadanya, langsung ia berkata : Apakah akan mengulangi lagi hai Abul Qasim ? Jawabku : Tidak. Maka ia berkata : Semoga Allah mengampunkan kami dan kamu. Tanda seorang mendapat taufiq itu ada tiga : 1. Mudah mengerjakan amal kebaikan, padahal ia tidak niat dan bukan tujuannya. 2. Berusaha untuk berbuat maksiat, tetapi selalu terhindar daripadanya. 3. Selalu terbuka baginya kebutuhan dan hajat kepada Allah ta'ala. Tanda seorang yang dihinakan oleh Allah ada tiga : I. Sukar melakukan ibadat/taat, padahal ia sudah berusaha sungguh-sungguh.

2. Mudah terjerumus ke dalam maksiat, padahal ia berusaha meng- hindarkannya. 3. Tertutupnya pintu berhajat kepada Allah, sehingga merasa tidak perlu berdoa dalam segala hal.

Rasulullah saw. bersabda :

أَدَّبَنِي رَبِّي فَأَحْسَنَ تَأْدِيبِي

Tuhan telah mendidik saya sebaik-baik didikan dan menyuruhku melakukan akhlaq yang sebaik-baiknya. Yaitu dalam ayat :

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ (الأعراف: ١٩٩)

Ambilah hati mereka dengan suka memaafkan, dan anjurkan perbuatan-perbuatan yang baik dan mudah, dan abaikanlah orang-orang yang masih bodoh, (jangan dituntut) mereka yang masih bodoh itu. Seorang sufi kehilangan anak, hingga tiga hari tidak mendapat beritanya, maka ada orang yang berkata kepadanya : Mengapa engkau tidak minta kepada Allah, supaya mengembalikan anak itu kepadamu ? Jawabnya : Tantanganku terhadap putusan Allah itu akan lebih berat bagiku daripada hilangnya anak.

Abu Sulaiman Addarany ra. berkata : Allah telah mewahyukan kepada Nabi Dawud as. : Sesungguhnya Aku menjadikan itu syahwat hanya untuk orang-orang yang lemah dari pada hambaKu, kareną itu awaslah jangan sampai hatimu tertawan oleh syahwat itu, maka seringan- ringan siksa untuknya ialah aku cabut manisnya rasa cinta kepadaku dari dalam hatimu. Dalam sebagian wahyu Allah kepada Dawud as. : Hai Dawud berpeganglah pada ajaranKu, dan tahanlah nafsumu untuk kesenangan dirimu, jangan sampai engkau tertipu daripadanya, niscaya engkau terhijab dari cintaKu, putuskan syahwatmu karena Aku, sebab Aku hanya memberikan syahwat itu untuk hambaKu yang lemah, untuk apakah orang-orang yang kuat akan memuaskan syahwat, padahal ia akan mengurangi kelezatan bermunajat kepadaKu, sebab Aku tidak merelakan dunia ini untuk kekasihKu, bahkan Aku bersihkan ia dari padanya. Hai Dawud, jangan engkau mengadakan antaraKu dengan engkau suatu alam yang dapat menghijab engkau karena mabuk pada alam itu daripada cinta kepada-Ku, mereka hanya perampok di tengah jalan terhadap hambaKu yang baru berjalan. Usahakanlah untuk meninggalkan syahwat dengan banyak puasa. Hai Dawud cintailah Aku dengan memusuhi hawa nafsumu, dan tahanlah dari syahwatnya, niscaya engkau melihat kepadaKu, dan engkau akan dapat melihat yang terbuka antaraKu dengan engkau.

Ibrahim bin Adham ra. berkata : Seorang tidak akan mencapai derajat orang shalihin, sehingga melalui enam rintangan : 1. Menutup pintu kemuliaan, membuka pintu kehinaan. 2. Menutup pintu nikmat, membuka pintu kesukaran. 3. Menutup pintu istirahat, membuka pintu perjuangan. 4. Menutup pintu tidur, membuka pintu jaga. 5. Menutup pintu kekayaan, membuka pintu kemiskinan. 6. Menutup pintu harapan, membuka pintu bersiap menghadapi maut.

Ibrahim Al-Khawaash ra. berkata : Ketika saya di tengah perjalanan tiba-tiba merasa lapar, kemudian sampai di kota Array, maka berkata dalam hati : Di sini saya ada banyak sahabat, maka jika saya bertemu tentu mereka akan menjamu saya, maka ketika telah masuk ke kota, tiba-tiba saya melihat perbuatan-perbuatan mungkar, yang mana saya merasa berkewajiban harus nahi mungkar. Tiba-tiba saya ditangkap dan dipukuli oleh orang-orang. Sehingga bertanya dalam hati : Mengapa saya dipukuli oleh orang padahal saya ini lapar. Tiba-tiba diingatkan dalam hatiku : Engkau mendapat hukuman itu karena kau mengharap dijamu oleh sahabat-sahabatmu.

Firman Allah dalam salah satu wahyunya

إِنَّ أَدْنَى مَا أَصْنَعُ بِالْعَالِمِ إِذَا آثَرَ شَهْوَتَهُ عَلَى مَحَبَّتِي أَنْ أَحْرِمَهُ لَذِيذَ مُنَاجَاتِي.

Sesungguhnya seringan-ringan siksaKu terhadap orang alim jika ia mengutamakan syahwatnya daripada cintaKu, akan Aku haramkan daripada merasakan kelezatan bermunajat kepadaKu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

092. الْبَسْطُ تَأْخُذُ النَّفْسُ مِنْهُ حَظَّهَا بِوُجُودِ الْفَرَحِ، وَالْقَبْضُ لاَ حَظَّ لِلنَّفْسِ فِيهِ.

Di dalam masa kelapangan (baseth) hawa nafsu dapat mengambil bagiannya karena gembira, sedang dalam masa sempit (qabdh) tidak ada bagian sama sekali untuk hawa nafsu. Karena itu manusia lebih aman dalam kesempitan, karena hawa nafsu tidak dapat memperdaya.

Abul-Hasan Assyadzily ra. berkata : Algabdhu wal basthu (risau hati, dan riang hati) selalu silih berganti dalam perasaan tiap hamba, bagaikan silih berganti siang dan malam. Dan sebabnya gabdh (risau hati) itu salah satu dari tiga : Karena dosa atau kehilangan dunia, atau dihina orang, Maka ada seorang hamba, jika merasa berdosa harus segera bertobat, dan jika kehilangan dunia, harus rela dan menyerah kepada hukum Allah, dan bila dihina orang harus sabar. Dan jagalah dirimu jangan sampai kamu merugikan (aniaya) lain orang. dan apabila terjadi qabdh (risau hati) itu tidak diketahui sebabnya, maka harus tenang menyerah. Insya Allah jika tenang menyerah, tidak lamå akan sirna masa gelap dan berganti dengan terang, ada kalanya terang bintang yaitu ilmu atau sinar bulan yaitu tauhid, atau matahari yaitu ma'rifat, tetapi jika tidak tenang dimasa gelap (risau hati) mungkin akan terjerumus dalam kebinasaan. Adapun dalam masa bashet (riang hati), maka sebabnya adalah satu dari tiga : Karena bertambahnya kelakuan ibadat (taat) dan bertambahnya ilmu ma'rifat atau karena bertambahnya kekayaan atau kehormatan, dan yang ketiga karena pujian dan sanjungan orang kepadanya. Maka adab seorang hamba : Jika merasa bertambah taat ibadatnya dan ilmu ma'rifatnya harus merasa bahwa itu semata-mata kurnia Tuhan, dan berhati-hati jangan sampai merasa bahwa itu dari kerajinan sendiri. Dan jika mendapat tambah keduniaan, maka ini pula yang harus dianggap bahwa itu semata- mata kurnia Allah, dan harus waspada jangan sampai terkena bahayanya. Adapun jika berupa pujian sanjungan orang kepadamu, maka kehamba- anmu mengharuskan bersyukur kepada Allah yang telah menutupi kejelekkan- mu, sehingga orang-orang hanya mengenal kebaikanmu, semata-mata.

Hikam Ibnu 'Atoillah

108. أَنْعَمَ عَلَيْكَ أَوَّلاً بِالْإِيجَادِ، وَثَانِيًا بِتَوَالِي الْإِمْدَادِ.

Pada pertamanya Allah memberi kepadamu nikmat me- wujudkan (menjadikan), kemudian nikmat yang kedua : Melengkapi kebutuhan-kebutuhan wujudmu yang terus-menerus (yang kedua : Terus menerusnya bantuan Allah kepadamu).

Firman Allah :

وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً (لقمان: ٢٠)

Allah menuangkan kepadamu nikmat lahir dan batin yang terang dan yang samar, yang terasa dan yang tidak terasa.

Firman Allah :

وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَٰئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ * فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (الحجرات: ٧ - ٨)

Tetapi Allah yang mencintakan kamu kepada iman, dan Allah yang menghias iman itu dalam hatimu, dan Allah yang membencikan kamu kepada kufur (kekafiran) dan pelanggaran dan maksiat dosa. Mereka- lah orang yang dapat petunjuk. Itu semua kurnia dari Allah dan nikmat, dan Allah maha mengetahui lagi bijaksana. (Alhujaraat 8). Dzin-Nun AI-Misri berkata : Siapa yang di dalam tauhid itu merasa seolah-olah sebagai hasil kecerdasannya sendiri, maka tauhid itu tidak dapat menyelamatkannya dari api neraka, sehingga merasa bahwa tauhidnya itupun karunia dari Allah ta'ala.

Seorang apabila telah merasa asal kejadiannya dari Allah dan kelanjutannyapun dari Allah, merasa bahwa sifat fakirnya itu memang asli pada kejadiannya, dan ia tidak dapat melepaskan diri dari Tuhan yang dihajatkannya pada tiap detik dalam wujudnya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

061. لاَ عَمَلَ أَرْجَى لِلْقَبُولِ مِنْ عَمَلٍ يَغِيبُ عَنْكَ شُهُودُهُ وَيَحْتَقِرُ عِنْدَكَ وُجُودُهُ.

Tiada suatu amal kebaikan yang dapat diharapkan diterima oleh Allah, melebihi dari amal yang terlupa olehmu adanya dan remeh/kecil dalam pandanganmu kejadiannya. Amal kebaikan yang pasti diterima oleh Allah, yaitu jika merasa bahwa amal itu semata-mata terjadi karena taufiq hidayah dari Allah, kemudian ia tidak berbangga dengan amal itu, dan tidak merasa seolah- olah sudah cukup baik dengan adanya amal itu. Karena amal itu telah ditujukan kepada keridhaan Allah, maka tidak usah diingat-ingat lagi. Sebab siapa yang merasa sudah beramal, jarang sekali yang tidak merasa ujub/bangga dengan amalnya itu. Dan itu suatu bahaya bagi amal itu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

077. إِذَا رَأَيْتَ عَبْدًا أَقَامَهُ اللهُ تَعَالَى بِوُجُودِ الْأَوْرَادِ وَأَدَامَهُ عَلَيْهَا مَعَ طُولِ الْإِمْدَادِ، فَلاَ تَسْتَحْقِرَنَّ مَا مَنَحَهُ مَوْلاَهُ، لِأَنَّكَ لَمْ تَرَ عَلَيْهِ سِيمَا الْعَارِفِينَ وَلاَ بَهْجَةَ الْمُحِبِّينَ، فَلَوْلاَ وَارِدٌ مَا كَانَ وِرْدٌ.

Jika kau melihat seorang yang ditetapkan oleh Allah dalam menjaga wiridnya, sampai lama tidak juga menerima kurnia (keistimewaan) dari Allah, maka jangan kau remehkan pemberian Tuhan kepadanya, karena belum terlihat padanya tanda orang arif, atau keindahan orang cinta pada Allah, sebab sekiranya tidak ada warid (kurnia Allah), maka tidak mungkin adanya wirid. Hamba Allah yang mendapat keistimewaan dari Allah ada dua macam : Abraar dan Mugarrabin. Adapun hamba yang mugarrabin itu, maka mereka yang telah dibebaskan dari kepentingan dunia, yang hanya sibuk menunaikan ibadat kepada Tuhan, karena merasa sebagai hamba yang mengharapkan keridhaan Allah semata-mata, dan mereka ini yang disebut aarifin, muhibbin. Adapun orang Abraar, mereka yang masih merasa banyak kepentingan di dunia, di samping kewajiban- kewajiban taat ibadat kepada Allah, dan mereka yang dinamakan orang zahid aabid, dan masing-masing mendapat kurnia sendiri- sendiri di dalam tingkat derajatnya yang langsung dari Allah ta'ala. Sebenarnya seorang yang mendapat taufiq hidayat dari Allah sehingga istigamah dalam menjalankan suatu wirid (kelakuan taat/ ibadat), berarti telah mendapat kurnia dan rahmat yang besar sekali, sebab ia berarti telah diberi kunci oleh Allah untuk membuka dan menghasilkan lain-lain karunia kebesaran dari Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

093. رُبَّمَا أَعْطَاكَ فَمَنَعَكَ، وَرُبَّمَا مَنَعَكَ فَأَعْطَاكَ.

Ada kalanya Allah memberi kepadamu kekayaan (kesenangan) dunia, tetapi tidak memberi kepadamu taufiq hidayatNya, dan ada kalanya Allah menolak (tidak memberi) kamu dari kesenangan dunia dan kemewaanNya, tetapi memberi kepadamu taufiq dan hidayatNya. Muhyiddin Ibn Araby berkata : Jika ditahan permintaanmu maka berarti engkau telah diberi, dan jika segera diberi permintaanmu berarti telah ditolak dari sesuatu yang lebih besar. Karena itu utamakan

tidak dapat, daripada dapat, dan sebaiknya seorang hamba tidak memilih sendiri, tetapi menyerah sebulat-bulatnya kepada Tuhan yang menjadikannya, yang mencukupi segala kebutuhan.

Hikam Ibnu 'Atoillah

109. فَاقَتُكَ لَكَ ذَاتِيَّةٌ، وَوُرُودُ الْأَسْبَابِ مُذَكِّرَةٌ لَكَ بِمَا خَفِيَ عَلَيْكَ مِنْهَا، وَالْفَاقَةُ الذَّاتِيَّةُ لاَ تَرْفَعُهَا الْعَوَارِضُ.

Kebutuhanmu itu adalah sifat asli dalam dzat kejadianmu sedang sebab-sebab (kejadian-kejadian) yang menghinggapi dirimu itu untuk mengingatkan engkau apa yang tersembunyi bagimu dari sifat aslimu itu, sedang kebutuhan yang asli itu tidak dapat dihindarkan oleh sesuatu yang sementara (fantasi). Apabila telah nyata bahwa wujudmu itu pemberian (ciptaan) Tuhan, demikian pula segala hajat kebutuhan tiap detik untuk kelanjutan hidup, itupun pemberian Tuhan, maka nyata, bahwa kebutuhan dan kemiskinanmu itu asli dalam kejadianmu, maka jika engkau merasa seolah-olah tidak berhajat karena sudah hidup, maka hal itu sesuatu yang hinggap sementara terasa ketika engkau lupa dari asal kejadianmu, maka Allah memberi padamu peringatan berupa penyakit, lapar, haus, panas, dingin dan lain-lainnya untuk memperingatkan kepada keaslianmu. Sedang segala sesuatu yang fantasi atau sementara tidak dapat merubah yang asli.

Hikam Ibnu 'Atoillah

062. إِنَّمَا أَوْرَدَ عَلَيْكَ الْوَارِدَ لِتَكُونَ بِهِ عَلَيْهِ وَارِدًا.

Sesunggunya Tuhan memberikan kepadamu warid (yaitu ilmu pengertian atau perasaan dalam hati, sehingga mengenal dan merasa benar-benar akan kebesaran kurnia rahmat Allah), hanya semata-mata supaya kau mendekat dan masuk ke hadirat Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

078. قَوْمٌ أَقَامَهُمُ الْحَقُّ لِخِدْمَتِهِ، وَقَوْمٌ اخْتَصَّهُمْ بِمَحَبَّتِهِ، كُلاًّ نُّمِدُّ هٰؤُلاَءِ وَهٰؤُلاَءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ، وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا.

Ada kaum yang oleh Allah didudukkan dalam bagian ibadat semata-mata dan ada kaum yang diistimewakan oleh Allah dengan kecintaanNya. Untuk masing-masing Kami (Allah) memberi Kurnia dan pemberian-pemberian, dan pemberian Tuhanmu tidak terbatas. Allah sendiri yang memilih hambanya, maka ada yang dipilih untuk melaksanakan ibadat yang lahir ialah mereka para aabid dan zahid, dan ada pula yang dipilih oleh Allah untuk kesayangan (kekasih) Allah dan mereka ini orang-orang aarif muhibbin yang tidak ada tempat dalam hati mereka kecuali dzikrullah semata-mata. Menganggap dunia ini kosong tidak ada apa-apa kecuali Allah yang menciptakan dan melaksanakan segala sesuatunya.

Disalin