Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

106. مَعْصِيَةٌ أَوْرَثَتْ ذُلاًّ وَافْتِقَارًا خَيْرٌ مِنْ طَاعَةٍ أَوْرَثَتْ عِزًّا وَاسْتِكْبَارًا.

Maksiat (dosa) yang menimbulkan rasa rendah diri dan membutuhkan rahmat Allah, lebih baik dari perbuatan taat yang membangkitkan rasa sombong, ujub dan besar diri.

Abu Mad-yan ra. berkata : Perasaan rendah diri seorang yang telah berbuat maksiat dosa, itu lebih baik dari kesombongan seorang yang taat. Ada kalanya seorang hamba berbuat kebaikan (hasanat) yang menimbulkan rasa ujub sombong, sehingga dapat menggugurkan segala amal-amal yang sebelumnya, dan ada kalanya seorang berbuat dosa yang menyedihkan hatinya, sehingga timbul rasa takut kepada Allah , dan menyebabkan keselamatan dirinya. Asysya’by meriwayatkan dari Alkhalil bin Ayyud, bahwasanya seorang aabid (ahli ibadah) Bani Israil ketika ia berjalan ia dinaungi oleh awan, tiba-tiba ada seorang pelacur Bani Israil, maka tergerak dalam hati pelacur itu : Ini seorang aabid Bani Israil, aku ingin mendekat kepadaNya. maka ketika pelacur itu mendekat kepada aabid itu tiba- tiba si aabid itu mengusir dengan berkata : Enyah engkau dari sini. Maka Allah menurunkan wahyu kepada Nabi saw. bahwa aku (Allah mengampunkan dosa pelacur itu dan membatalkan amal aabid itu. maka berpindah awan dari atas kepala aabid ke atas kepala pelacur itu. Al-Harits Al-Muhassiby berkata : Allah menghendaki supaya anggota lahir ini sesuai dengan batinnya (hatinya), maka apabila sombong congkak orang alim/aabid, sedang pelacur itu bertawadhu’ merendah diri, maka ketika itu si pelacur lebih taat kepada Allah dari aabid dan alim. Ada pula kejadian ketika seorang aabid Bani Israil sedang sujud, tiba-tiba diinjak kepalanya oleh orang, maka berkata aabid itu : Angkat kakimu, demi Allah tidak akan mengampunkan cngkau. Maka Allah menjawab : Hai orang yang bersumpah dengan namaKu, bahkan engkau yang tidak diampunkan karena kesombonganmu. Al-Harits dalam komentarnya berkata : Dia berkata satu kata yang merusakkan dunia dan akhiratnya.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

044. لَأَنْ تَصْحَبَ جَاهِلاً لاَ يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تَصْحَبَ عَالِمًا يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ، فَأَيُّ عِلْمٍ لِعَالِمٍ يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ، وَأَيُّ جَهْلٍ لِجَاهِلٍ لاَ يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ.

Dan sekiranya engkau berkawan seorang bodoh yang tidak menurutkan hawa nafsunya, lebih baik daripada berkawan seorang alim yang selalu menurutkan hawa nafsunya. Maka ilmu, apakah yang dapat digelarkan bagi seorang alim yang selalu menurutkan hawa nafsunya itu, sebaliknya kebodohan apakah yang dapat

disebutkan bagi seorang yang sudah dapat mengekang (menahan) hawa nafsunya. Bagaimana akan dinamakan bodoh, seorang yang telah dapat menahan dan mengekang hawa nafsunya, sehingga membuktikan bahwa semua amal perbuatannya hanya semata-mata untuk keridhaan Allah dan bersih dari dorongan hawa nafsu. Sebaliknya apakah arti syatu ilmu yang tidak dapat menahan atau memimpin hawa nafsu dari sifat kebinatangan dan kejahatannya.

Dalam sebuah hadits ada keterangan :

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ.

Seorang itu akan mengikuti pendirian sahabat karibnya, karena itu hendaknya seseorang itu memperhatikan, siapakah yang harus dikawaninya.

Ahli syair berkata :

مَنْ عَاشَرَ الْأَشْرَافَ عَاشَ مُشَرَّفًا وَمُعَاشِرُ الْأَنْذَالِ غَيْرُ مُشَرَّفٍ.

Siapa bergaul dengan orang-orang yang baik, akan hidup mulia. Dan yang bergaul dengan orang-orang yang rendah akhlagnya, pasti tidak mulia.

Hikam Ibnu 'Atoillah

195. تَسْبِقُ أَنْوَارُ الْحُكَمَاءِ أَقْوَالَهُمْ، فَحَيْثُ صَارَ التَّنْوِيرُ وَصَلَ التَّعْبِيرُ.

mereka, karena itu di mana telah mendapat penerangan dari nur itu sampailah kalimat yang dikatakan oleh mereka itu. iman keyakinan mereka, bahwa segala sesuatu langsung di tangan Allah yang tidak bersekutu, karena bila mereka akan menyampaikan nasehat, maka terlebih dahulu kontak hubungan mereka kepada Allah ta'ala hanya minta taufiq dan hidayat petunjuk daripadaNya. karena hanya Allah yang mengatur kalimat yang keluar dari lidah penasehat, dan Allah pula yang mengatur pendengaran yang mendengar. Rasulullah saw bersabda :

رَأْسُ الْحِكْمَةِ مَخَافَةُ اللَّهِ.

Firman Allah :

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ (فاطر: ٢٨)

Sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Allah hanyalah para ulama. Ulama yang tidak takut kepada Allah, adalah ulama' suu' (penipu ummat). Siapa yang bertambah ilmu tetapi tidak bertambah hidayat iman- nya, maka tidak bertambah dekat kepada Allah, bahkan bertambah jauh.

Hikam Ibnu 'Atoillah

051. لاَ تَرْحَلْ مِنْ كَوْنٍ إِلَى كَوْنٍ فَتَكُونَ كَحِمَارِ الرَّحَى، يَسِيرُ مِنَ الْمَكَانِ الَّذِي ارْتَحَلَ عَنْهُ إِلَى الْمَكَانِ الَّذِي ارْتَحَلَ إِلَيْهِ، وَلٰكِنِ ارْحَلْ مِنَ الْأَكْوَانِ إِلَى الْمُكَوِّنِ، وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى.

Jangan berpindah dari satu alam ke alam yang lain, berarti sama dengan himar (keledai) yang berputar di sekitar penggilingan, ia berjalan menuju ke tempat tujuan, tiba-tiba itu pula tempat.yang ia mula-mula berjalan daripadanya, tetapi hendaklah engkau pergi dari semua alam menuju kepada pencipta alam; Sesunggunya kepada Tuhanmu puncak segala tujuan. Jangan berpindah dari syirik yang terang ke alam syirik yang samar. Amal kebaikan yang dinodai oleh riya', sum'ah mengharap pujian orang), tidak dianggap oleh syariat/tidak diterima oleh Allah. Dan apabila telah bersih dari semua itu, kemudian beramal terdorong oleh karena menginginkan kedudukan atau kekayaan, atau kekeramatan dunia atau akherat, sebab itu masih termasuk alam hawa nafsu, tetapi belum mencapai tujuan ikhlas yang berarti bersih dari segala tujuan selain melulu kepada Allah, yakni sepi ing pamrih. Karena itu selama berpindah dari alam ke alam tidak berbeda dengan keledai yang berputar di sekitar penggilingan, tetapi seharusnya sekali berangkat dari alam langsung menuju pencipta alam. Karena itu Nabi Isa as. pernah berkata kepada sahabat hawariyyin : Semua yang ada padamu dari berbagai nikmat kesenangan itu langsung dari kurnia Allah kepadamu, maka manakah kiranya yang lebih besar harganya (nilainya) ? Apakah pemberiannya, ataukah yang memberi ? "Wa anna ila Rabbikal-muntaha" : Sesungguhnya kepada Tuhanmu itulah puncak segala tujuan. Sebab siapa yang telah mendapatkan Allah, berarti telah mencapai segala sesuatu, baikpun urusan dunia maupun urusan akherat.

Disalin