Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Mutiara Kata

Himpunan Hikmah

294 petikan ilmu untuk direnung dan dikongsi.

Rawak
Hikam Ibnu 'Atoillah

201. رُبَّمَا عَبَّرَ عَنِ الْمَقَامِ مَنِ اسْتَشْرَفَ عَلَيْهِ، وَرُبَّمَا عَبَّرَ عَنْهُ مَنْ وَصَلَ إِلَيْهِ، وَذٰلِكَ مُلْتَبِسٌ إِلاَّ عَلَى صَاحِبِ بَصِيرَةٍ.

Adakalanya orang yang membicarakan (menerangkan) tentang suatu magam (tingkat) dalam kewalian itu, seorang yang ingin sampai kepadanya dan baru mengintai. Dan adakalanya orang yang membicarakan itu orang yang telah sampai kedalamnya, dan yang demikian itu kabur, kecuali terhadap orang yang tajam matahati (terang hati nuraninya).

Hikam Ibnu 'Atoillah

202. لاَ يَنْبَغِي لِلسَّالِكِ أَنْ يُعَبِّرَ عَنْ وَارِدَاتِهِ، فَإِنَّ ذٰلِكَ يُقِلُّ عَمَلَهَا فِي قَلْبِهِ، وَيَمْنَعُ وُجُودَ الصِّدْقِ مَعَ رَبِّهِ.

Tidak layak bagi seorang salik (yang baru merangkak dalam jihad melawan hawa nafsu) membuka atau menerangkan apa yang telah ia dapat daripada kurnia Tuhan, sebab yang demikian ini akan mengurangi pengaruhnya ke dalam hatinya sendiri, dan merusak (menghalangi) kesungguhannya terhadap Tuhan. Rahasia-rahasia yang diberikan oleh Tuhan kepada seorang salik harus disimpan baik-baik, dan jangan diobral murah kepada sesama manusia, kecuali kepada yang dapat memimpinnya. Sebab bila ternyata bahwa ia dapat menyimpan rahasia-rahasia Tuhan yang diberikan kepadanya, ia akan mendapat kepercayaan untuk rahasia-rahasia yang lebih besar selanjutnya. Dan bila selalu diobral, berarti pandangannya belum bulat kepada Allah, tetapi masih selalu mengharap apa-apa kepada sesama makhluk.

Hikam Ibnu 'Atoillah

203. لاَ تَمُدَّنَّ يَدَكَ إِلَى الْأَخْذِ مِنَ الْخَلاَئِقِ إِلاَّ أَنْ تَرَى أَنَّ الْمُعْطِيَ فِيهِمْ مَوْلاَكَ، فَإِذَا كُنْتَ كَذٰلِكَ فَخُذْ مَا وَافَقَكَ الْعِلْمُ.

Jangan mengulurkan tangan untuk menerima pemberian makhluk, kecuali bila merasa bahwa yang memberi itu sebenarnya Tuhanmu, maka bila engkau telah sedemikian, maka terimalah dari mereka yang sesuai, dengan ilmu pengetahuanmu.

Sebab bila engkau masih merasa ada sesuatu selain Allah yang dapat membantu kepadamu, maka tauhidmu belum benar (murni) menerima pengertian keesaan Allah dalam kalimat : Laa ilaaha illallaah dan Laa haula walaa quwwata illa billahi. Allah menjadikan dan memberi rizqi, yang menghidupkan dan mematikan, ini semua hak kekuasaan Allah semata-mata, sehingga kalau ada pemberian itu dari tangan siapa saja datangnya, harus tidak boleh lupa bahwa itu langsung dari Allah yang menyuruh salah satu hamba pesuruhNya, menyampaikan kepadamu. Khalid Al-Juhany ra. berkata : Rasullullah saw. bersabda : Siapa yang kedatangan hadiah/sedekah dari temannya tanpa minta-minta dan mengharap-harap dalam hatinya, maka hendaknya diterima, sebab yang demikian itu sebagai rizgi yang dihantar oleh Allah kepadanya. Dalam lain riwayat ada tambahan : Dan bila ia tidak membutuh- kannya karena sudah cukup, maka hendaknya diberikan kepada orang yang lebih berhajat daripadanya.

Ibrahim Al-Khawwas berkata : Seorang shufi tidak harus memilih jalan tidak berusaha, terkecuali jika memang sudah cukup keadaannya.

Abu Abdullah Alqurasy berkata : Selama keinginan berusaha itu kuat dalam perasaan nafsu, maka berkasab usaha itu lebih utama.

Umar bin Alkhattab ra. berkata : Rasulullah selalu memberi kepada saya, maka saya berkata : Berikan kepada orang yang lebih berhajat dari saya. Rasulullah berkata : Terimalah dan pergunakan atau sedekahkan, dan tiap harta yang datang kepadamu dengan tidak engkau harapkan atau engkau minta, maka terimalah, dan yang tidak jangan engkau angan-angan (harap-harapkan). Al-A'masy (Sulaiman) ra. berkata : Ada seorang pemuda yang datang kepada Ibrahim Attaimy untuk memberi hadiah uang sebanyak 2000 dirham, sambil berkata : Terimalah uang ini, ini bukan dari raja, juga bukan uang syubhat dan lain-lainnya. Jawab Ibrahim : Semoga Allah memberkahi hartamu, dan membalas engkau kebaikan dan terima kasih, lalu ditolaknya uang itu. Setelah pergi pemuda itu saya bertanya : Ya Aba Imran, mengapakah engkau tolak pemberian itu, demi Allah isterimu tidak mempunyai gamis (roko). Jawab Ibrahim : Benar, tetapi anak itu masih muda, belum banyak pengertian/pengalaman, saya kuatir kalau ia kembali ke kampungnya lalu memberi tahu kepada

teman-temannya : Saya telah memberii kepada Ibrahim dua ribu dirham, maka hilang pahalanya dan hilang pula uangnya.

Rasulullah saw. bersabda : Siapa yang menolak rizqi yang diberi oleh Allah tanpa minta-minta, maka sesungguhnya ia telah menolak pemberian Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

204. رُبَّمَا اسْتَحْيَا الْعَارِفُ أَنْ يَرْفَعَ حَاجَتَهُ إِلَى مَوْلاَهُ اكْتِفَاءً بِمَشِيئَتِهِ، فَكَيْفَ لاَ يَسْتَحِي أَنْ يَرْفَعَهَا إِلَى خَلِيقَتِهِ.

Adakalanya seorang aarif itu malu meminta hajatnya kepada Tuhannya karena merasa rela (puas) dengan kehendakNya, maka bagaimana tidak akan malu minta hajatnya kepada makhluknya. Sahel bin Abdullah berkata : "Tiada sesuatu nafas atau hati melainkan diperhatikan oleh Allah pada tiap detik, baik siang atau malam, maka apabila Allah melihat dalam hati itu ada hajat kepada sesuatu selain Allah, niscaya Allah mendatangkan iblis untuk hati itu.

Abu Ali Addaqgaq berkata : Sesuatu tanda dari ma'rifat, tidak minta hajat kebutuhan kecuali kepada Allah, baik besar maupun kecil. Contohnya : Nabi Musa rindu ingin melihat Allah ia berkata : Robbi arini andhur ilaika. Dan ketika berhajat roti berdoa :

رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ (القصص: ٢٤)

Ya Tuhan sungguh aku terhadap apa yang Engkau berikan kepadaku dari makanan itu sangat berhajat. Nabi Ibrahim as. ketika akan dilempar ke dalam api ia didatangi oleh Jibril dan ditanya : Apakah ada hajat ? Jawabnya : Kepadamu tidak. Dan kepada Allah ? Ya. Jika demikian mintalah kepada Allah. Jawab Ibrahim : Hasbi min su-ali ilmuhu bilahi : Cukup bagiku, ia mengetahui halku sehingga tidak usah saya minta padaNya.

وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا (الطور: ٤٨)

Sabarlah terhadap hukum Tuhanmu karena engkau selalu dibawah pengawasan Kami.

jabinika, fain dha'ufat yaçinuka fas'alil maula yu'inuka. Makanlah dari hasil usaha dan peluh dahimu, maka apabila lemah keyakinanmu mintalah kepada Tuhan niscaya ia membantu kepadamu. Abul-Hasan Assyadzily ketika ditanya tentang ilmu kimia jawabnya : Keluarkan semua makhluk dari dalam hatimu, dan putuskan harapanmu untuk mendapat sesuatu selain yang telah ditentukan oleh Tuhan untuk engkau.

Hikam Ibnu 'Atoillah

205. إِذَا الْتَبَسَ عَلَيْكَ أَمْرَانِ فَانْظُرْ أَثْقَلَهُمَا عَلَى النَّفْسِ فَاتَّبِعْهُ، فَإِنَّهُ لاَ يَثْقُلُ عَلَيْهَا إِلاَّ مَا كَانَ حَقًّا.

Jika kabur bagimu dua hal, maka perhatikan (lihatlah) mana yang lebih berat terhadap hawa nafsu, makarikutlah, sebab tidak akan terasa berat terhadap hawa nafsu kecuali yang hak. Jika kabur dan sukar bagimu untuk membedakan, apakah amal itu baik atau busuk diridhai oleh Allah atau dimurkai Allah, maka umpamakan sekiranya engkau mati sedang berbuat itu, jika tidak gentar menghadapi mati dalam mengerjakan itu, maka kerjakanlah. Sebab itu sebagai tanda perbuatan itu hak dan benar.

Hikam Ibnu 'Atoillah

206. مِنْ عَلاَمَاتِ اتِّبَاعِ الْهَوَى الْمُسَارَعَةُ إِلَى نَوَافِلِ الْخَيْرَاتِ، وَالتَّكَاسُلُ عَنِ الْقِيَامِ بِالْوَاجِبَاتِ.

Setengah daripada tanda menurutkan hawa nafsu, ialah cetakan dalam mengerjakan yang sunnat-sunnat, tetapi malas untuk mengerjakan yang wajib.

Muhammad bin Abil-Ward berkata : Kebinasaan manusia terjadi dalam dua hal : Mengerjakan yang sunnat dan mengabaikan yang wajib (fardhu). Dan dalam amal perbuatan hanya mementingkan bagian lahir (luar), dan mengabaikan bagian hati (yakni niat dan keikhlasan beramal). Al-Khawwash berkata : Terputusnya makhluk dari Allah, karena dua hal : Mengejar amal-amal sunnat dan meninggalkan yang wajib. Dan memperbaiki lahirnya amal, tetapi tidak memperhatikan keikhlasan

beramal, sedang Allah tetap tidak menerima amal perbuatan kecuali jika ikhlas dan tepat menurut tuntunan syari'at. Sebagaimana firman Allah :

بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ (البقرة: ١١٢)

Aslama waj-hahu lillahi, berarti ikhlas melulu kepada Allah, tepat menurut tuntunan syari'at (Rasulullah saw.).

Hikam Ibnu 'Atoillah

207. قَيَّدَ الطَّاعَاتِ بِأَعْيَانِ الْأَوْقَاتِ كَيْ لاَ يَمْنَعَكَ عَنْهَا وُجُودُ التَّسْوِيفِ، وَوَسَّعَ عَلَيْكَ الْوَقْتَ كَيْ تَبْقَى لَكَ حِصَّةُ الاِخْتِيَارِ.

Allah sengaja mengikat amal taat itu dengan waktu yang tertentu untuk tidak menahan engkau daripada mengerjakannya karena kebiasaan keteledoran dan kemalasanmu yang suka menunda- nunda, tetapi Allah memperluas waktunya supaya tetap ada bagimu kesempatan memilih waktu yang lebih tepat/ringan atau lebih khusyuk. Sebab apabila waktu itu tidak ditetapkan, niscaya manusia akan menunda-nunda yang akhirnya tidak sampai berbuat, dan diperluas waktu bagi orang yang betul-betul masih sibuk, sehingga ia berbuat setelah tenang dan dapat mengerjakan dengan lebih sempurna.

Hikam Ibnu 'Atoillah

208. عَلِمَ قِلَّةَ نُهُوضِ الْعِبَادِ إِلَى مُعَامَلَتِهِ، فَأَوْجَبَ عَلَيْهِمْ وُجُودَ طَاعَتِهِ، فَسَاقَهُمْ إِلَيْهَا بِسَلاَسِلِ الْإِيجَابِ. عَجِبَ رَبُّكَ مِنْ قَوْمٍ يُسَاقُونَ إِلَى الْجَنَّةِ بِالسَّلاَسِلِ.

Allah mengetahui kurang semangatnya hamba untuk mengerjakan taat maka diwajibkan kepada mereka melakukan taat dan ditarik mereka itu dengan rantai kewajiban : Tuhanmu kagum dari kaum yang ditarik masuk ke surga dengan rantai.

Hikam Ibnu 'Atoillah

209. أَوْجَبَ عَلَيْكَ وُجُودَ خِدْمَتِهِ، وَمَا أَوْجَبَ عَلَيْكَ إِلاَّ دُخُولَ جَنَّتِهِ.

Allah mewajibkan kepadamu berbuat taat, padahal yang sebenarnya hanya mewajibkan kepadamu masuk ke dalam surgaNya (dan tiada mewajibkan apa-apa kepadamu hanya semata-mata supaya masuk ke dalam surgaNya). Sebenarnya segala kewajiban-kewajiban yang diwajibkan oleh Allah kepada hamba semua itu semata-mata untuk kepentingan dan kemaslahatan hamba-hamba itu sendiri, sedang Allah sedikitpun tidak ada kepentingan manfaat atau madharrat. Abul Hasan Asshadzily berkata : Hendaknya engkau mempunyai satu wirid, yang tidak engkau lupakan selamanya, yaitu mengalahkan hawa nafsu dan cinta kepada Tuhan Allah swt. Nafas manusia ini sebagai amanat dari Tuhan, dan sebagai titipan wadah yang harus diisi. Dan hak ke Tuhanan tetap berlaku pada tiap detik yang harus dilakukan oleh hamba.

Abul-Hasan berkata : Pada tiap waktu (saat/detik) ada bagian yang mewajibkan kepadamu hai manusia terhadap Tuhan swt.

Hikam Ibnu 'Atoillah

210. مَنِ اسْتَغْرَبَ أَنْ يُنْقِذَهُ اللهُ مِنْ شَهْوَتِهِ، وَأَنْ يُخْرِجَهُ مِنْ وُجُودِ غَفْلَتِهِ، فَقَدِ اسْتَعْجَزَ الْقُدْرَةَ الْإِلٰهِيَّةَ، وَكَانَ اللهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِرًا.

Siapa yang merasa ganjil (tidak mungkin) dapat diselamatkan oleh Allah dari pengaruh hawa nafsu syahwatnya, atau dihindarkan dari kelalaiannya, maka berarti ia telah memperlemah kekuasaan Allah. Sedang Allah atas segala sesuatu maha berkuasa. Tuntunan iman harus percaya terhadap qudrat (kekuasaan) Allah secara mutlak tanpa kecuali : Sesungguhnya Allah atas segala sesuatu maha berkuasa. Dan qudrat Allah tergantung pada iradatNya, sehingga tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa iradat dan qudratnya, apabila

Allah berkehendak, maka berjalanlah qudratnya dengan perintahnya : Sesungguhnya perintah Allah jika menghendaki sesuatu, hanya berkata : Kun, maka terjadilah apa yang di kehendakiNya, pada saat yang ditentukanNya menurut apa yang dikehendakiNya. Maka karenanya kepercayaan terhadap taqdir kekuasaan Allah yang demikian itu, jangan ada seorang patah harapan dari rahmat Allah walau bagaimanapun keadaannya. Tetapi jangan mempermainkan atau meremehkan kekuasaan Allah itu.

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (الزمر: ٥٣)

Katakanlah : Hai hambaKu yang telah keterlampauan menjerumus- kan diri (berbuat dosa), jangan kamu putus harapan dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah sanggup mengampunkan semua dosa, sungguh Allah maha pengampun lagi penyayang.

Hikam Ibnu 'Atoillah

212. مَنْ لَمْ يَعْرِفِ النِّعَمَ بِوِجْدَانِهَا عَرَفَهَا بِوُجُودِ فِقْدَانِهَا.

Siapa yang tidak mengenal harga nikmat ketika adanya nikmat itu, maka ia akan mengetahui harga kebesaran nikmat setelah tidak adanya (lenyapnya). Sariy Assagathi berkata : Siapa yang tidak menghargai nikmat, maka akan dicabut nikmat itu dalam keadaan ia tidak mengetahui. Al-Fudhail bin Iyadh ra. berkata : Tetapkanlah mensyukuri nikmat, sebab jarang sekali nikmat yang telah hilang akan datang kembali. Sesungguhnya yang sangat mengetahui nikmat air itu, hanya orang yang benar-benar haus.

Rasulullah saw. bersabda : Jika seorang melihat pada orang yang lebih daripadanya kekayaan dan sehatnya, maka hendaklah juga melihat kepada orang yang lebih menderita daripadanya. Dalam lain riwayat Rasulullah saw. bersabda : Lihatlah kepada orang-orang yang dibawahmu, dan jangan melihat pada orang yang di atasmu, maka yang demikian itu lebih tepat untuk tidak meremehkan nikmat yang diberikan Allah kepadamu. Dan orang yang bahagia (untung) itu ialah yang dapat pengertian dengan pengalaman (dengan kejadian) yang terjadi pada lain orang. nikmat berarti membiarkannya hilang, dah siapa yang menyukurinya berarti telah mengikat nikmat itu dengan tali ikatnya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

213. لاَ تُدْهِشْكَ وَارِدَاتُ النِّعَمِ عَنِ الْقِيَامِ بِحُقُوقِ شُكْرِكَ، فَإِنَّ ذٰلِكَ مِمَّا يَحُطُّ مِنْ وُجُودِ قَدْرِكَ.

Jangan membingungkan kepadamu datangnya kurnia nikmat Allah yang bertimbun-timbun untuk menunaikan kewajiban mensyukurinya, sebab perasaan yang demikian berarti merendahkan harga dirimu sendiri.

Engkau diperintahkan mensyukuri nikmat Allah menurut kadar kekuatan yang diberikan Allah kepadamu, bukan sebanyak atau sebesar nikmat yang diberikan, sebab itu tidak mungkin engkau akan dapat menunaikannya, tetapi memberi nikmat yang besar sesuai dengan kebesaran Allah, sedangkan engkau diharuskan mensyukuri nikmat menurut kadar kelemahan/kekuatanmu. Nabi Dawud as. berkata : Tuhanku anak adam ini telah engkau beri pada tiap rambut ada nikmat di atas dan di bawahnya, maka bagaimana akan dapat menunaikan syukurnya kepadamu. Jawab Allah : Hai Dawud, Aku memberi sebanyak-banyaknya, dan rela menerima yang sedikit, dan untuk mensyukuri nikmat itu bila engkau mengetahui bahwa nikmat yang ada padamu itu daripadaKu.

Umar bin Abdul-Aziz ra. berkata : Tiadalah Allah memberikan suatu nikmat kepada hamba, kemudian hamba itu mengucap : duba ia m jah abis Alhamdulillah, melainkan nilai pujian Alhamdu lillah itu jauh lebih besar dari nikmat yang diberikan itu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

214. تَمَكُّنُ حَلاَوَةِ الْهَوَى مِنَ الْقَلْبِ هُوَ الدَّاءُ الْعُضَالُ.

Meresapnya rasa manisnya hawa nafsu dalam hati merupakan penyakit yang sukar diobatinya (disembuhkan). Hati itu tempat iman keyakinan dan ma'rifat, dan semua itu sebagai obat, tetapi apabila kecintaan kepada dunia dan syahwat telah menguasai/ memenuhi hati, maka tidak ada tempat untuk obatnya, maka disitulah letak kesukaran untuk mengobatinya, sehingga sukar disembuhkannya.

Rasulullah saw. bersabda :

حُبُّ الدُّنْيَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيئَةٍ.

Cinta kepada dunia itulah induk/pokok dari segala dosa.

Hikam Ibnu 'Atoillah

215. لاَ يُخْرِجُ الشَّهْوَةَ مِنَ الْقَلْبِ إِلاَّ خَوْفٌ مُزْعِجٌ أَوْ شَوْقٌ مُقْلِقٌ.

Tidak dapat mengeluarkan (mengusir) syahwat dari dalam hati kecuali rasa ketakutan yang menggetarkan, atas rindu yang menggelisahkan.

Syahwat hawa nafsu yang sudah mendalam, mempunyai kekuatan yang luar biasa, karena itu maka tidak dapat mengusirnya. Kecuali kekuatan yang lebih besar. Takut yang menggetarkan ialah takut terhadap balasan' siksa Allah, atau rindu pada apa yang dijanjikan oleh Allah. Maka bila ada rasa ketakutan yang sungguh-sungguh atau rindu yang menggelisahkan, maka syahwat hawa nafsu dapat ditekan.

Hikam Ibnu 'Atoillah

216. كَمَا لاَ يُحِبُّ الْعَمَلَ الْمُشْتَرَكَ، كَذٰلِكَ لاَ يُحِبُّ الْقَلْبَ الْمُشْتَرِكَ، الْعَمَلُ الْمُشْتَرَكُ لاَ يَقْبَلُهُ، وَالْقَلْبُ الْمُشْتَرِكُ لاَ يُقْبِلُ عَلَيْهِ.

Sebagaimana Allah tidak menerima amal yang dipersekutu- kan dengan lainNya, demikian pula Allah tidak suka pada hati yang bersekutu. Amal perbuatan yang dipersekutukan kepada suatu selain Allah tidak akan diterima oleh Allah, dan hati yang bersekutu tidak menghadap kepadaNya (Allah). Amal perbuatan yang bersekutu ialah riya', sum'ah dan yang dibuat- buat, dan hati yang bersekutu yaitu yang masih merasa cinta kepada lain Allah dan mengharap atau takut atau menyandar kepada lain Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

217. أَنْوَارٌ أُذِنَ لَهَا فِي الْوُصُولِ، وَأَنْوَارٌ أُذِنَ لَهَا فِي الدُّخُولِ.

Beberapa nur Ilahi hanya diizinkan oleh Allah untuk sampai ke hati, dan ada beberapa nur Ilahi yang lainnya diizinkan oleh Allah untuk masuk ke dalam hati. Nur Ilahi hanya sampai ke hati, tetapi tidak masuk ke dalam, maka orang yang mendapat nur ini masih dapat melihat Tuhan dan dirinya, dunia dan akheratnya, yakni cinta dunia dan cinta akherat, cinta diri dan cinta Tuhan. Adapun nur Ilahi yang langsung masuk ke dalam hati, maka tidak ada pandangan kecuali Allah, tidak ada yang dicintai, diharap, disembah melainkan Allah semata-mata. Apabila nur iman mașih di luar hati, maka orang masih cinta Allah dan dunia, tetapi apabila nur iman menembus ke dalam hati, maka hanya cinta kepada Allah tidak ada lainnya. Jika nur iman di luar hati bernama Islam, dan jika masuk ke dalam hati barulah bernama iman.

Hikam Ibnu 'Atoillah

218. رُبَّمَا وَرَدَتْ عَلَيْكَ الْأَنْوَارُ فَوَجَدَتِ الْقَلْبَ مَحْشُوًّا بِصُوَرِ الْآثَارِ، فَارْتَحَلَتْ مِنْ حَيْثُ نَزَلَتْ. فَرِّغْ قَلْبَكَ مِنَ الْأَغْيَارِ يَمْلَأْهُ بِالْمَعَارِفِ وَالْأَسْرَارِ.

Ada kalanya nur Ilahi turun kepadamu, tetapi didapatkan hati masih penuh dengan keduniaan/hawa nafsu, maka ia kembali ketempat yang ia turun dari padanya. Kosongkan hatimu dari segala sesuatu selain Allah, niscaya Allah akan memenuhinya dengan ma'rifat dan rahasia-rahasia. Nur Ilahi adakalanya datang ke hati, tetapi ia merasa tidak ada tempat karena itu ia kembali ke tempat asalnya. Maka oleh sebab demikian, maka bila engkau ingin mendapatkan nur Ilahi itu, hendaknya engkau kosongkan hatimu dari keduniaan dan segala sesuatu selain Allah. hati sedang gambar-gambar keduniaan masih melekat dalam cermin hatinya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

219. لاَ تَسْتَبْطِئْ مِنْهُ النَّوَالَ، وَلٰكِنِ اسْتَبْطِئْ مِنْ نَفْسِكَ وُجُودَ الْإِقْبَالِ.

Jangan merasa lambat datangnya kurnia pemberian Allah kepadamu, tetapi hendaknya engkau merasakan kelambatan dirimu untuk menghadap kepada Tuhan. Jangan merasa datangnya kurnia pemberian Allah yang lanfbat, tetapi rasakanlah kelambatan dirimu untuk membulatkan iktikat yang baik kepada Tuhanmu.

Disalin