Jika kabur bagimu dua hal, maka perhatikan (lihatlah) mana yang lebih berat terhadap hawa nafsu, makarikutlah, sebab tidak akan terasa berat terhadap hawa nafsu kecuali yang hak. Jika kabur dan sukar bagimu untuk membedakan, apakah amal itu baik atau busuk diridhai oleh Allah atau dimurkai Allah, maka umpamakan sekiranya engkau mati sedang berbuat itu, jika tidak gentar menghadapi mati dalam mengerjakan itu, maka kerjakanlah. Sebab itu sebagai tanda perbuatan itu hak dan benar.
196. كُلُّ كَلاَمٍ يَبْرُزُ وَعَلَيْهِ كِسْوَةُ الْقَلْبِ الَّذِي مِنْهُ بَرَزَ.
Tiap-tiap kalimat yang keluar, pasti membawa corak bentuk hati yang mengeluarkannya. Dalam peribahasa :
كُلُّ إِنَاءٍ يَنْضَحُ بِمَا فِيهِ.
Tiap bejana (moci dan sebagainya) pasti mengeluarkan yang terisi didalamnya. Terjadi seorang mencela : Mengapakah hati orang-orang sekarang tidak khusyu' dan matapun tidak mencucurkan air mata. Maka dijawab oleh Muhammad bin Wasi : Kemungkinan yang demikian itu dari engkau sendiri, sebab bila nasehat itu keluar dari hati yang ikhlas pasti masuk ke dalam hati. Sebaliknya yang hanya berupa gubahan lidah dan fantasi belaka, maka ia akan masuk dari telinga kanan dan keluar dari telinga kiri. Abul-Abbas Almarsy berkata : Keadaan hamba ini hanya ada empat macam : Nikmat, bala', taat dan maksiat. Maka jika di dalam nikmat kewajiban hamba bersyukur kepada Allah, dan jika menerima bala' harus sabar. Dan jika dapat melakukan taat harus merasa taufiq hidayat dari kurnia Allah. dan bila tergelincir dalam dosa maksiat maka harus membaca istighfar.
Tiap-tiap kalimat yang keluar, pasti membawa corak bentuk hati yang mengeluarkannya. Dalam peribahasa :
كُلُّ إِنَاءٍ يَنْضَحُ بِمَا فِيهِ.
Tiap bejana (moci dan sebagainya) pasti mengeluarkan yang terisi didalamnya. Terjadi seorang mencela : Mengapakah hati orang-orang sekarang tidak khusyu' dan matapun tidak mencucurkan air mata. Maka dijawab oleh Muhammad bin Wasi : Kemungkinan yang demikian itu dari engkau sendiri, sebab bila nasehat itu keluar dari hati yang ikhlas pasti masuk ke dalam hati. Sebaliknya yang hanya berupa gubahan lidah dan fantasi belaka, maka ia akan masuk dari telinga kanan dan keluar dari telinga kiri. Abul-Abbas Almarsy berkata : Keadaan hamba ini hanya ada empat macam : Nikmat, bala', taat dan maksiat. Maka jika di dalam nikmat kewajiban hamba bersyukur kepada Allah, dan jika menerima bala' harus sabar. Dan jika dapat melakukan taat harus merasa taufiq hidayat dari kurnia Allah. dan bila tergelincir dalam dosa maksiat maka harus membaca istighfar.
097. الطَّيُّ الْحَقِيقِيُّ أَنْ تُطْوَى مَسَافَةُ الدُّنْيَا عَنْكَ حَتَّى تَرَى الْآخِرَةَ أَقْرَبَ إِلَيْكَ مِنْكَ.
Singkatnya jalan yang sesungguhnya, ialah jika terlipat untukmu jarak-jarak dunia ini, sehingga engkau dapat melihat akherat itu lebih dekat kepadamu daripada dirimu sendiri. Ath-thayyu : Terlipatnya bumi, sehingga jarak yang sejauh- jauhnya dapat ditempuh dengan satu langkah sudah sampai. Ath-thayyu, juga berarti menghabiskan masa siang malam dengan sembahyang dan puasa semata-mata. Dalam lain keterangan Ibn Atha Allah berkata : Andaikan nur keyakinan itu telah terbit terang dalam hatimu, pasti engkau akan dapat melihat akherat itu lebih dekat kepadamu daripada engkau akan pergi ke sana, dan pasti dapat melihat segala keindahan dunia ini diliputi oleh suramnya kerusakan/kehancuran yang bakal menimpa kepadanya.
Singkatnya jalan yang sesungguhnya, ialah jika terlipat untukmu jarak-jarak dunia ini, sehingga engkau dapat melihat akherat itu lebih dekat kepadamu daripada dirimu sendiri. Ath-thayyu : Terlipatnya bumi, sehingga jarak yang sejauh- jauhnya dapat ditempuh dengan satu langkah sudah sampai. Ath-thayyu, juga berarti menghabiskan masa siang malam dengan sembahyang dan puasa semata-mata. Dalam lain keterangan Ibn Atha Allah berkata : Andaikan nur keyakinan itu telah terbit terang dalam hatimu, pasti engkau akan dapat melihat akherat itu lebih dekat kepadamu daripada engkau akan pergi ke sana, dan pasti dapat melihat segala keindahan dunia ini diliputi oleh suramnya kerusakan/kehancuran yang bakal menimpa kepadanya.
104. إِنَّمَا يُؤْلِمُكَ الْمَنْعُ لِعَدَمِ فَهْمِكَ عَنِ اللهِ فِيهِ.
Sesungguhnya sebab terasa pedihnya penolakan Allah dalam penolakan (tidak memberi harapanmu) itu. Tiada sempurna iman keyakinan seorang terhadap Allah sebelum ia memiliki dua sifat : 1. Percaya penuh kepada Allah, yakni menyandar dan berharap hanya kepada Allah. 2. Dan syukur (terima kasih) kepada Allah karena dihindarkan dari padanya apa yang diujikan kepada lain- lain orang yaitu yang berupa kekayaan dunia. Juga tidak sempurna iman keyakinan hamba sebelum ia mengerti bahwa pemberian Allah sesuatu yang manfaat, dan penolakan Allah itu karena madharrat bahaya.
Sesungguhnya sebab terasa pedihnya penolakan Allah dalam penolakan (tidak memberi harapanmu) itu. Tiada sempurna iman keyakinan seorang terhadap Allah sebelum ia memiliki dua sifat : 1. Percaya penuh kepada Allah, yakni menyandar dan berharap hanya kepada Allah. 2. Dan syukur (terima kasih) kepada Allah karena dihindarkan dari padanya apa yang diujikan kepada lain- lain orang yaitu yang berupa kekayaan dunia. Juga tidak sempurna iman keyakinan hamba sebelum ia mengerti bahwa pemberian Allah sesuatu yang manfaat, dan penolakan Allah itu karena madharrat bahaya.