Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

206. مِنْ عَلاَمَاتِ اتِّبَاعِ الْهَوَى الْمُسَارَعَةُ إِلَى نَوَافِلِ الْخَيْرَاتِ، وَالتَّكَاسُلُ عَنِ الْقِيَامِ بِالْوَاجِبَاتِ.

Setengah daripada tanda menurutkan hawa nafsu, ialah cetakan dalam mengerjakan yang sunnat-sunnat, tetapi malas untuk mengerjakan yang wajib.

Muhammad bin Abil-Ward berkata : Kebinasaan manusia terjadi dalam dua hal : Mengerjakan yang sunnat dan mengabaikan yang wajib (fardhu). Dan dalam amal perbuatan hanya mementingkan bagian lahir (luar), dan mengabaikan bagian hati (yakni niat dan keikhlasan beramal). Al-Khawwash berkata : Terputusnya makhluk dari Allah, karena dua hal : Mengejar amal-amal sunnat dan meninggalkan yang wajib. Dan memperbaiki lahirnya amal, tetapi tidak memperhatikan keikhlasan

beramal, sedang Allah tetap tidak menerima amal perbuatan kecuali jika ikhlas dan tepat menurut tuntunan syari’at. Sebagaimana firman Allah :

بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ (البقرة: ١١٢)

Aslama waj-hahu lillahi, berarti ikhlas melulu kepada Allah, tepat menurut tuntunan syari’at (Rasulullah saw.).

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

259. الْكَائِنُ فِي الْكَوْنِ وَلَمْ تُفْتَحْ لَهُ مَيَادِينُ الْغُيُوبِ مَسْجُونٌ بِمُحِيطَاتِهِ وَمَحْصُورٌ فِي هَيْكَلِ ذَاتِهِ.

Orang yang ada di alam dunia dan belum terbuka baginya lapangan ghaib, tetap terkurung dengan (oleh) syahwat dan adat kebiasaan- nya, dan terkepung oleh kepentingan-kepentingan kerangka badannya.

Demikianlah keadaan manusia yang belum terbuka nur iman dalam hatinya sehingga tidak mengenal pada Allah, medan (lapangan) perjuangannya hanya terkurung pada kebendaan belaka untuk pemuasan hawa nafsu dan syahwat semata-mata. Allah telah berfirman : HambaKu, jadikanlah perhatianmu seratus persen kepadaKu, niscaya Aku cukupi segala hajat kepentinganmu (kebutuhanmu), selama Aku dengan engkau, engkau dalam kedudukan hamba, dan selama engkau dengan Aku, maka engkau di tempat yang dekat, mintalah apa saja untuk dirimu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

029. طَلَبُكَ مِنْهُ اتِّهَامٌ لَهُ، وَطَلَبُكَ لَهُ غَيْبَةٌ عَنْهُ، وَطَلَبُكَ لِغَيْرِهِ لِقِلَّةِ حَيَائِكَ مِنْهُ، وَطَلَبُكَ مِنْ غَيْرِهِ لِوُجُودِ بُعْدِكَ عَنْهُ.

Permintaanmu dari Allah mengandung pengertian menuduh Allah, kuatir tidak memberi kepadamu. Dan mintamu kepada Allah supaya mendekatkan dirimu kepadaNya, berarti engkau masih merasa jauh daripadaNya. Dan mintamu kepada Allah untuk mencapai kedudukan dunia akherat, membuktikan tiada malumu kepadaNya, dan permintaanmu kepada sesuatu selain dari Allah menunjukkan jauhmu dari padaNya. Permintaan hamba kepada Allah terbagi dalam empat macam, dan kemudian kesemuanya itu tidak tepat bila diteliti lebih jauh dan mendalam. Permintaan kepada Allah mempunyai pengertian menuduh, sebab sekiranya ia percaya bahwa Allah akan memberi tanpa minta, tidak akan minta, maka karena kuatir tidak diberi apa yang dibutuhkannya menurut pendapatnya, atau menyangka Allah melupakannya, dan lebih jahat lagi bila ia merasa berhak, tetapi oleh Allah belum juga diberi. Dan permintaanmu untuk tagarrub, menunjukkan bahwa engkau merasa ghaib daripadaNya. Sedang permintaanmu sesuatu dari kepentingan- kepentingan duniawi membuktikan tiada malunya dari-padaNya, sebab sekiranya engkau malu dari Allah tentu tidak merasa ada kepentingan bagimu selain mendekatkan kepadaNya. Sedang bila engkau minta d ıri sesuatu selain Allah, membuktikan jauhmu daripadaNya, sebab sekiranya engkau mengetahui bahwa Allah dekat kepadamu tentu engkau takkan minta kepada lainNya. Kecuali permintaan yang semata- mata untuk menurut perintah Allah. Hanya inilah yang tepat benar.

Hikam Ibnu 'Atoillah

287. وَأَنَّ النَّاسَ فِي ذٰلِكَ عَلَى ثَلاَثَةِ أَقْسَامٍ: غَافِلٌ مُنْهَمِكٌ فِي غَفْلَتِهِ، قَوِيَتْ دَائِرَةُ حِسِّهِ وَانْطَمَسَتْ حَضْرَةُ قُدْسِهِ، فَنَظَرَ الْإِحْسَانَ مِنَ الْمَخْلُوقِينَ، وَلَمْ يَشْهَدْهُ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ، إِمَّا اعْتِقَادًا فَشِرْكُهُ جَلِيٌّ، وَإِمَّا اسْتِنَادًا فَشِرْكُهُ خَفِيٌّ.

Dan manusia dalam menghadapi nikmat pemberian Tuhan terbagi tiga : 1. Orang yang lalai terhadap Tuhan dan sangat memuncak kelalaiannya. Orang ini sangat kuat jiwa materialnya, sangat terpengaruh oleh panca inderanya, hingga padam sama sekali jiwa rohaninya (kesucian jiwanya), maka ia melihat bantuan/kebaikan itu hanya semata-mata dari sesama makhluk, dan sama sekali tidak melihat dari Allah Tuhan Rabbul-alamiin. Jika yang demikian ini berupa i tigad keyakinan, maka siriknya jelas, atau sekedar dianggap sebagai sebab yang andaikan tidak ada sebab itu tidak terjadi itu kurnia, maka ini sirik juga tetapisamar.

Mereka itu jika ditanya : Siapakah yang memberi kepadamu? Jawabnya : Allah, tetapi andaikan tidak ada fulan itu tentu tidak ada pemberian atau kurnia ini.

Disalin