Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Mutiara Kata

Himpunan Hikmah

294 petikan ilmu untuk direnung dan dikongsi.

Rawak
Hikam Ibnu 'Atoillah

221. مَا فَاتَ مِنْ عُمْرِكَ لاَ عِوَضَ لَهُ، وَمَا حَصَلَ لَكَ مِنْهُ لاَ قِيمَةَ لَهُ.

Yang telah hilang dari umur (usia) hidupmu tidak dapat ditarik kembali, sedang yang telah berhasil bagimu, tidak dapat dinilai harganya. Waktu itu sangat berharga karena itu jangan digunakan kecuali untuk sesuatu yang berharga. Adapula kata : Waktu itu adalah uang. Kata ahli sya'ir : Saat-saat dalam usia hidupmu itu bagaikan berlian yang sangat berharga, karena itu jadikanlah masa dan saat-saat yang berharga itu untuk mencapai kejayaan dunia akheratmu dan kebahagiaan.

Rasulullah saw. bersabda : Tiada sesuatu saat/masa yang datang pada seorang hamba, kemudian ia tidak berdzikir kepada Allah dalam saat itu, melainkan saat itu akan merupakan kemenyesalan pada hari qiamat. Kelak pada hari qiamat saat-saat umur manusia pada tiap hari dan malam itu akan diperlihatkan berupa 24 lemari yang berbaris, maka dapat melihat masing-masing lemari itu penuh dengan nikmat pembalasan, terhadap amal perbuatan yang dilakukan pada saat itu, adapun saat-saat yang tidak beramal apa-apa didalamnya, maka lemarinya pun kosong, maka di situlah letak kemenyesalan yang tidak terhingga. Dan sesal kemudian tetap tidak berguna.

Hikam Ibnu 'Atoillah

237. مِنْ تَمَامِ النِّعْمَةِ عَلَيْكَ أَنْ يَرْزُقَكَ مَا يَكْفِيكَ وَيَمْنَعَكَ مَا يُطْغِيكَ.

Setengah dari kesempurnaan nikmat Allah kepadamu jika Allah memberi rizqi yang cukup dan menahan daripadamu apa yang dapat menyesatkan kamu.

Firman Allah :

كَلَّا إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَىٰ * أَن رَّآهُ اسْتَغْنَىٰ (العلق: ٦ - ٧)

Sesungguhnya manusia itu pasti melampaui batas (tersesat) jika merasa diri kaya tidak berhajat. Sa'ad bin Abi Waggash ra. berkata : Saya telah mendengar Rasulullah saw. bersabda : Sebaik-baik rizqi yang mencukupi, dan sebaik-baik dzikir yang samar. Abu Dardaa' ra. berkata : Rasulullah saw bersabda : Tiada terbit atau terbenam matahari melainkan disisinya ada dua Malaikat yang berseru, seruan itu dapat didengar oleh semua makhluk kecuali manusia dan jin : Hai sekalian manusia silahkan kembali kepada Tuhan, sesungguhnya yang sedikit tetapi mencukupi itu lebih baik dari yang banyak hingga melalaikan (menyesatkan).

Firman Allah :

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا (القصص: ٧٧)

Pergunakan semua yang diberikan Allah kepadamu (yaitu yang berupa hidup panca indera, akal pikiran, tenaga dan harta kekayaan) untuk mencapai kebahagiaan dan keuntungan akherat, dan jangan kau lupakan bagianmu daripada dunia. Kepentingan yang pertama dan,utama ialah keselamatan akherat, adapun dunia maka ia sambil lalu jika tidak lupa. Sebab siapa yang sungguh beramal untuk akherat maka dunianya terjamin untung dan puas, sebaliknya jika amal usahanya hanya untuk dunia maka baginya tidak bertambah dari ketetapan Allah dan akheratnya rugi tidak dapat apa-apa.

Rasulullah saw. bersabda :

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ.

Bukannya kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sesungguhnya ialah kaya hati/tenang jiwa. Tersebut dalam kitab-kitab yang dahulu, Allah berfirman : Sesungguhnya seringan-ringan hukumanKu terhadap seorang alim jika ia condong kepada keduniaan, akan Aku cabut daripadannya kelezatan bermunajat kepadaKu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

253. لاَ يُخْرِجُكَ عَنِ الْوَصْفِ إِلاَّ شُهُودُ الْوَصْفِ.

Tidak ada sesuatu yang dapat mengeluarkan (melepaskan) engkau dari sifat kesombonganmu, kecuali jika engkau melihat sifat-sifat Allah. Yakni selama engkau tidak memperhatikan dan ingat selalu kepada sifat ketuhanan, kebesaran dan kekuasaan Allah, maka selama itu engkau

merasa besar, kuasa dan congkak (sombong). Selama engkau tidak melihat sifat kesempurnaan Allah, maka selama itu juga engkau tidak mengakui kekurangan-kekurangan atau kehambaan dirimu terhadap Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

269. أَكْرَمَكَ كَرَامَاتٍ ثَلاَثٍ: جَعَلَكَ ذَاكِرًا لَهُ، وَلَوْلاَ فَضْلُهُ لَمْ تَكُنْ أَهْلاً لِجَرَيَانِ ذِكْرِهِ عَلَيْكَ، وَجَعَلَكَ مَذْكُورًا بِهِ إِذْ حَقَّقَ نِسْبَتَهُ لَدَيْكَ، وَجَعَلَكَ مَذْكُورًا عِنْدَهُ فَتَمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ.

Allah telah memuliakan engkau dengan tiga kehormatan (kemuliaan) kebesaran : menjadikan engkau berdzikir padaNya, padahal andaikan tidak ada kurniaNya, niscaya tidak patut (layak) engkau berdzikir padaNya. Dan menjadikan engkau terkenal dengan dzikir itu, karena Allah sendiri yang menisbahkan dzikir itu kepadamu. Dan men- jadikan engkau terkenal (tersebut) di sisi Allah, maka dengan demikian Allah telah menyempurnakan (melengkapi) nikmatNya kepadamu.

Firman Allah :

وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ (العنكبوت: ٤٥)

Demi sungguh dzikir Allah kepada hamba itulah yang lebih besar (daripada dzikir hamba terhadap Allah). Dan bagi hamba berdzikir kepada Allah itulah kemuliaan/ kebesaran hamba dan kekayaanNya yang tidak ada lebih besar dari itu.

Abu Hurairah ra. berkata : Rasulullah saw. bersabda : Allah berfirman : Aku selalu mengikuti persangkaan hambaKu, dan Aku selalu mendampingiNya selama ia berdzikir padaKu, jika ia dzikir padaKu dalam hatinya Aku ingat padanya dalam dzat Ku, dan bila dzikir padaKu di muka umum Aku ingati dia dalam umum yang lebih baik dari golongannya, dan bila ia mendekat padaKu sejengkal Aku mendekat padanya sehasta, dan bila ia mendekat padaKu sehasta, Aku mendekat padanya sedepa, dan bila ia datang kepadaKu berjalan, Aku datang kepadanya berlari.

Firman Allah :

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ (البقرة: ١٥٢)

Berdzikirlah kamu kepadaKu niscaya Aku (Allah) berdzikir kepadamu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

222. مَا أَحْبَبْتَ شَيْئًا إِلاَّ كُنْتَ لَهُ عَبْدًا، وَهُوَ لاَ يُحِبُّ أَنْ تَكُونَ لِغَيْرِهِ عَبْدًا.

Tiada engkau menyintai sesuatu melainkan pasti engkau menjadi hamba dari apa yang engkau cinta itu, dan Allah tidak suka bila engkau menjadi hamba sesuatu selain daripadaNya. Cinta pada sesuatu itu menjadikan buta dan pekak.

Rasulullah saw. bersabda : Celaka hamba dinar, celaka hamba dirham, celaka hamba baju, permadani dan isteri, celaka dan rugi, dan umpama kena duri semoga tidak keluar.

Al-Junaid berkata : Engkau takkan mencapai hakikat ubudiyah (kehambaan) selama engkauı masih diperbudak oleh sesuatu selain Allah, yaitu harta, isteri atau lain-lainnya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

238. لِيَقِلَّ مَا تَفْرَحُ بِهِ يَقِلَّ مَا تَحْزَنُ عَلَيْهِ.

Kurangilah kesenanganmu dengan dunia, supaya berkurang pula kedukaanmu pada dunia. Seorang ditanya : Mengapakah engkau tidak pernah risau ? Jawabnya : Karena saya tidak menyimpan barang yang akan merisau- kan/menyusahkan bila hilang, sebab yang menyenangkan itulah pula yang menyusahkan, jika sedikit maka sedikit pula, dan bila banyak yang dişenangi tentu banyak pula yang akan menyusahkan. Hikayat : Seorang memberi hadiah kepada raja sebuah gelas dari pirus yang bertaburkan permata yang sangat berharga, maka karena

sangat gembira raja menerimanya. Ia menunjukkan hadiah itu pada ini ? Jawab Hakiem : Pendapatku itu suatu bala' dan kefakiran. Tanya raja : Bagaimana pendapatmu itu ? Jawabnya : Jika pecah berupa bala' sebab tidak dapat ditembel, dan tidak ada gantinya, jika tercuri kau sangat butuh kepadanya sehingga menjadi fakir kepadanya. Maka tidak lama tiba-tiba gelas itu pecah, maka benar raja merasa mendapat bala' dan sangat menyesal, lalu berkata : Benar, kata Hakiem itu. Seorang yang berakal sehat yaitu orang yang tidak terpengaruh oleh sesuatu jika ada (tiba) menyebabkan repot/sibuk, dan bila hilang menyebabkan menyesal dan bingung. Al Junaid berkata : Seorang yang berakal sehat itu ialah yang menyelidiki segala sesuatu, mencari yang lebih utama untuk dikerjakan dan didahulukan dari lain-lainnya, dan selalu mengikuti petunjuk Allah dan Rasulullah, dalam membedakan apa yang berguna atau madharrat baginya dunia dan akheratnya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

254. الْمُؤْمِنُ يُشْغِلُهُ الثَّنَاءُ عَلَى اللهِ تَعَالَى عَنْ أَنْ يَكُونَ لِنَفْسِهِ شَاكِرًا، وَتُشْغِلُهُ حُقُوقُ اللهِ عَنْ أَنْ يَكُونَ لِحُظُوظِهِ ذَاكِرًا.

Seorang mukmin sibuk memuji syukur kepada Allah, sehingga tidak sempat memandang diri (memuji diri) sendiri, sebagaimana ia sibuk menunaikan kewajiban-kewajiban terhadap Allah, sehingga lupa kepentingan diri. Memuji diri, ialah merasa telah berbuat amal kebaikan. Sedang hakikat mukmin itu apabila tidak merasa mempunyai kebaikan sendiri, hanya semua itu semata-mata pemberian kurnia Allah, sebagaimana ia lupa kepentingan diri sendiri karena sibuk menunaikan kewajiban- kewajibannya terhadap Allah ta'ala.

Hikam Ibnu 'Atoillah

270. رُبَّ عُمْرٍ اتَّسَعَتْ آمَادُهُ وَقَلَّتْ أَمْدَادُهُ، وَرُبَّ عُمْرٍ قَلَّتْ آمَادُهُ وَكَثُرَتْ أَمْدَادُهُ.

Adakalanya umur (usia) itu lanjut (panjang) masanya tetapı sedikit manfaatnya, dan adakalanya umur itu pendek (singkat) masanya, tetapi banyak (besar) manfaatnya. (Yakni : Kurnia yang didapatnya dari Allah banyak).

Hikam Ibnu 'Atoillah

223. لاَ تَنْفَعُهُ طَاعَتُكَ وَلاَ تَضُرُّهُ مَعْصِيَتُكَ، وَإِنَّمَا أَمَرَكَ بِهٰذِهِ وَنَهَاكَ عَنْ هٰذِهِ لِمَا يَعُودُ عَلَيْكَ.

Tidak berguna bagi Allah taatmu dan tidak madharrat (bahaya) pada Allah maksiat (dosa)mu, dan sesungguhnya Allah menyuruh kamu berbuat taat dan melarang kamu dari maksiat (dosa) itu untuk kepentinganmu sendiri. Allah Tuhan yang maha sempurna, kesempurnaan Allah tidak membutuhkan apa-apa, sedang semua makhluk sebagai hamba Tuhan tetap berhajat kepada Tuhan. Maka karena rahmat Allah untuk kepentingan kemaslahatan hamba, maka mengadakan perintah dan larangan, perintah dan larangan itu sedikitpun tidak berguna atau Dalam Hadits Allah berfirman : Hai hambaKu, andaikan orang yang pertama hingga yang terakhir dari kamu, manusia dan jin semua berbuat setaqwa-taqwa (sebaik-baik) hati seorang di antara kamu, maka yang demikian itu tidak menambah kekayaanKu sedikitpun, dan sebaliknya jika semua itu berbuat sejahat-jahat perbuatan seorang di antara kamu, maka yang demikian itu tidak mengurangi kekuasaan kerajaanKu sedikitpun, kecuali sebagai kurangnya air laut jika diambil dengan jarum, hai hambaKu sesungğuhnya amal perbuatanmu Aku catat untukmu kemudian Aku. serahkan kembali kepadamu, maka siapa yang mendapat kebaikan, hendaknya mengucapkan Alhamdulillah, dan siapa yang mendapatkan kejahatan maka jangan menista kecuali dirinya sendiri.

Hikam Ibnu 'Atoillah

255. لَيْسَ الْمُحِبُّ الَّذِي يَرْجُو مِنْ مَحْبُوبِهِ عِوَضًا أَوْ يَطْلُبُ مِنْهُ غَرَضًا، فَإِنَّ الْمُحِبَّ مَنْ يَبْذُلُ لَكَ، لَيْسَ الْمُحِبُّ مَنْ تَبْذُلُ لَهُ.

Bukan seorang yang mencintai itu yang meminta apa-apa dari yang dicintai, tetapi sesungguhnya seorang yang cinta kasih itu, ialah yang berkorban untukmu, bukan yang engkau memberi apa-apa padanya.

Abu Abdullah Alqurasyi berkata : Hakikat kasih/cinta itu, bila engkau telah dapat memberikan keseluruhanmu kepada yang engkau cinta, sehingga tidak ada sisa apa-apa bagimu. Allah telah menurunkan wahyu kepada Nabi Isa as. : Apabila Aku melihat hati hambaKu, tidak ada padanya cinta dunia dan akhirat, niscaya Aku penuhi hati itu dengan cinta kepadaKu.

Allah telah menurunkan wahyu kepada Nabi Dawud as. : Hai Dawud, sungguh Aku telah mengharamkan cintaKu untuk masuk ke dalam hati di mana dalam hati itu ada cinta kepada lainKu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

271. مَنْ بُورِكَ لَهُ فِي عُمْرِهِ أَدْرَكَ فِي يَسِيرٍ مِنَ الزَّمَنِ مِنْ مِنَنِ اللهِ تَعَالَى مَا لاَ يَدْخُلُ تَحْتَ دَوَائِرِ الْعِبَارَةِ وَلاَ تَلْحَقُهُ الْإِشَارَةُ.

Siapa yang diberi berkah umur (usia)nya, maka dapat mencapai dalam masa yang singkat dari kurnia Allah yang tidak dapat dihitung oleh kata-kata, dan tidak dapat dikejar oleh isyarat. (Yakni tidak terhitung dan tidak terbatas). Usia (umur) yang berkah itu ialah jika Allah memberi kesadaran terhadap seseorang untuk mempergunakan kesempatan yang ada padanya untuk amal kebaikan, sebab ada kalanya amal kebaikan jika tepat pada sasarannya dapat mencapai apa yang tidak tercapai dalam masa seribu bulan.

Rasulullah saw. bersabda : Amal kebaikan (albirr) itu menambah umur. Bukan bertambah masanya, tetapi kebesaran hasil yang didapat pada usia itu. Abdul-Abbas Almarsy ber mdulillah waktu- waktu kami semuanya berupa lailatul-ga kni semua waktu- waktunya diisi penuh dengan kelakuan dan amal yang sangat berguna.

Hikam Ibnu 'Atoillah

224. لاَ يَزِيدُ فِي عِزِّهِ إِقْبَالُ مَنْ أَقْبَلَ عَلَيْهِ، وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ عِزِّهِ إِدْبَارُ مَنْ أَدْبَرَ عَنْهُ.

Tidak menambah kemuliaan (kejayaan) Allah datang (menghadap)nya orang yang taat kepadaNYa, dan tidak mengurangi kemuliaan Allah menjauhnya orang yang menjauh daripadaNya. Sebab sifat kemuliaan/kejayaan Allah adalah sifat dzatNya, karena itu tidak dapat bertambah dan tidak berkurang, Allah dzat yang mulia sebelum adanya makhluk, dan tetap kejayaan kemulyaan itu sesudah menjadikan makhluk.

Hikam Ibnu 'Atoillah

240. إِنْ رَغَّبَتْكَ الْبِدَايَاتُ زَهَّدَتْكَ النِّهَايَاتُ، إِنْ دَعَاكَ إِلَيْهَا ظَاهِرٌ نَهَاكَ عَنْهَا بَاطِنٌ.

Jika engkau tertarik oleh permulaannya, pandangan luarnya (lahir), maka akan menjemukan engkau pada akhirnya jika engkau terpengaruh oleh pandangan lahir, maka akan dilarang oleh hakekat batinnya (akan dicegah oleh hakikat batinnya). Memang kedudukan itu pada lahirnya menarik tetapi pada hakikatnya amanat yang berat jarang orang yang selamat dari bahaya firnahnya.

Firman Allah :

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ (الحديد: ٢٠)

Ketahuilah bahwa penghidupan dunia, hanya main-main, dan hiburan dan perhiasan, dan bangga-banggaan di antara kamu dan berlomba memperbanyak harta dan anak buah. Bagaikan air hujan yang mengagumkan petani hasil tanamannya, kemudian berubah menjadi kering, maka terlihat menguning warnanya, kemudian menjadi sampah (bahan bakar), sedang di akherat tersedia siksa yang berat, disamping ada pula peng- ampunan Allah dan keridhaanNya. Dan tiadalah kehidupan dunia kecuali kesenangan yang menipu. (Alhadid 20).

Rasulullah saw. bersabda :

حُبُّ الدُّنْيَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيئَةٍ.

Cinta pada dunia itu pokok dari segala dosa.

Hikam Ibnu 'Atoillah

256. لَوْلاَ مَيَادِينُ النُّفُوسِ مَا تَحَقَّقَ سَيْرُ السَّائِرِينَ، إِذْ لاَ مَسَافَةَ بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ تَطْوِيهَا رِحْلَتُكَ، وَلاَ قَطْعَةَ بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ حَتَّى تَمْحُوَهَا وُصْلَتُكَ.

Andaikan tidak ada lapangan perjuangan melawan hawa nafsu (syahwat), pasti tidak dapat terbukti perjalanan orang-orang yang menuju kepada Allah, sebab memang tidak ada jarak antaramu dengan Allah untuk dijalani (ditempuh) dengan kendaraan, dan juga tidak pernah putus antaramu dengan Allah, sehingga dapat disambung oleh hubunganmu. Berjalan menuju kepada Allah, ialah memutuskan segala rintangan syahwat hawa nafsu dan adat kebiasaan yang akan menghambat. Tidak mungkin hidup (terang) hati nurani kecuali setelah mematikan pengaruh hawa nafsu. Nikmat yang terbesar ialah bila telah dapat bebas dari pengaruh tipu daya hawa nafsu, sebab hawa nafsu itu sebagai tirai yang tebal antara engkau dengan Allah ta'ala. Hatim Al-asham berkata : Siapa yang akan masuk golongan kami harus dapat membunuh hawa nafsunya empat kali : Mati yang merah yaitu menahan (mengekang) hawa nafsu. Mati yang hitam yaitu sabar tabah menanggung gangguan orang. Mati yang putih yaitu tahan lapar, dan mati yang hijau dapat memakai pakaian tembelan (compang- camping). Sahl bin Abdullah ra. berkata : Rahasia nafsu belum pernah terbukti kecuali dalam pernyataan Fir'aun ketika ia berkata : Ana Tidak mungkin dapat terlepas dari belenggu hawa nafsu, kecuali dengan memperhatikan dan melaksanakan ajaran-ajaran syariat lahir batin, tanpa mengurangi atau berlebihan, tanpa teledor dan malas. A'isyah ra. berkata : Rasulullah saw. telah bersabda : Laksanakan amal perbuatan itu sekuat tenagamu, sesungguhnya Allah tidak jemu menerima dan memberi pahala, hingga kamu jemu beramal. Dan

seutama-utama amal perbuatan itu ialah yang terus menerus (dawam) dilakukan meskipun sedikit.

Abul Qasin Alqusyairy berkata : Hakikat membunuh hawa nafsu itu, ialah lepas bebas dari tipu dayanya, dan tidak memperhatikan sesuatu yang timbul daripadanya, dan menolak segala pengakuan- pengakuannya, dan tidak bingung (sibuk) untuk mengaturnya, dan tetap menyerahkan segala urusan itu kepada Allah swt. dengan melepaskan usaha ikhtiar dan kehendak sendiri, sehingga lenyap dan hapus sama sekali pengaruh hawa nafsu itu terhadap kemanusiaannya. Adapun sisa-sisa yang berupa gambaran kerangkanya, maka itu tidak berbahaya. Demikianlah jalan untuk membunuh hawa nafsu yang dapat segera mencapai haderatal-qudsi (tempat yang suci luhur), yang sesuai dengan tuntutan syariat dan hakikat yang menjadi pelita bagi tiap salik yang menempuh jalan untuk mendekat kepada Allah. Karena itulah Rasulullah saw. berpesan kepada Abu Dzar untuk banyak membaca : Laa haula wa laa quwwata illa billahi. .

Hikam Ibnu 'Atoillah

272. اَلْخِذْلاَنُ كُلُّ الْخِذْلاَنِ أَنْ تَتَفَرَّغَ مِنَ الشَّوَاغِلِ، ثُمَّ لاَ تَرْحَلَ إِلَيْهِ، وَلاَ تَتَوَجَّهَ إِلَيْهِ وَتَقِلَّ عَوَائِقُكَ.

Kekecewaan yang serendah-rendah kekecewaan ialah jika kosong lari segala kesibukan/kerja, tetapi kemudian tidak menghadap kepada Allah atau sedikit rintangan, kemudian tidak pergi kepadaNya (Allah). Siapa yang cukup mendapat kesempatan untuk tagarrub (mendekat) kepada Allah, lalu tidak dipergunakannya, maka yang demikian itu suatu kekecewaan dan kehinaan yang tidak ada bandingnya, sebab tiap detik bagi anak Adam, dapat dipergunakan untuk menebus dosa dan segera masuk surga, karena itu bila kesempatan itu disia-siakan hingga akhirnya masuk ke dalam jurang neraka, maka itulah contoh

Firman Allah :

انفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا (التوبة: ٤١)

Berjuanglah kamu baik dalam keadaan ringan atau berat. Lain ayat : Tiadalah kami menjadikan manusia dan jin, kecuali supaya mereka beribadah. Sebab ibadah itulah amal manusia yang utama dan terbaik dunia akhirat, dan dengan itu manusia dapat mencapai bahagia dunia akhirat.

Hikam Ibnu 'Atoillah

225. وُصُولُكَ إِلَى اللهِ وُصُولُكَ إِلَى الْعِلْمِ بِهِ، وَإِلاَّ فَجَلَّ رَبُّنَا أَنْ يَتَّصِلَ بِهِ شَيْءٌ أَوْ يَتَّصِلَ هُوَ بِشَيْءٍ.

Sampaimu kepada Allah itu ialah sampaimu kepada ilmu yakin, atau ma'rifatmu yang sempurna terhadap Allah, (sehingga bagaikan melihat : Ka annakatarahu : Seolah-olah engkau melihat

kepada Allah). Kalau tidak demikian, maka maha suci (maha agung) Allah untuk disambung oleh sesuatu atau bersambung dengan sesuatu. Karena soal sampai kepada Allah itu berbeda antara semua orang yang sampai, sebab iman itu suatu kurnia Allah yang tidak dapat dicapai oleh apapun juga, dan itu pertama jalan untuk sampai kepada yakin yang bernama ilmul yagin, 'ainul-yaqin dan haqqul-yaqin. Maka apabila seorang telah beriman dan tiada ragu, dan makin hari makın bertambah kuat/tebal inannya hingga berupa keyakinan, maka di saat itulah manusia berarti telah sampai kepada Tuhan Allah swt.

Hikam Ibnu 'Atoillah

241. إِنَّمَا جَعَلَهَا مَحَلاًّ لِلْأَغْيَارِ وَمَعْدِنًا لِلْأَكْدَارِ تَزْهِيدًا لَكَ فِيهَا.

Sesungguhnya Allah sengaja menjadikan dunia ini tempat kerusakan dan sumber kerusuhan, untuk menjemukan kau terhadap dunia.

Rasulullah saw. bersabda :

ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ.

Jauhkan dirimu dari tipuan dunia, niscaya Allah suka/kasih kepadamu. Dan jauhkan dirimu dari hak-hak orang, niscaya disukai orang. Imam Ali ar. menulis surat kepada Salman Alfarisy ra. : Sesungguhnya dunia ini bagaikan ular licin pegangannya, namun membunuh bisanya (racunnya), karena itu abaikanlah (berpalinglah) daripadanya, dan dari apa yang mengagumkan engkau, karena sedikitnya yang dapat engkau bawa sebagai bekal, dan jangan risau terhadapnya karena engkau yakin akan berpisah padanya, dan letakkan kesenanganmu dalam kewaspadaanmu terhadap apa-apa yang ada di dalamnya, sebab orang di dunia apabila ia mulai senang tenang langsung dibawa kejurang bahaya dan binasa. Seseorang Hakiem berkata : Dunia ini bagaikan impian orang tidur, kesenangannya bagaikan bayangan awan, kejadian-kejadian bagaikan anak panah yang mengenai sasarannya, sedang syahwat- syahwatnya bagaikan sesuatu yang beracun dan godaannya bagaikan gelombang yang besar.

Disalin