Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

224. لاَ يَزِيدُ فِي عِزِّهِ إِقْبَالُ مَنْ أَقْبَلَ عَلَيْهِ، وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ عِزِّهِ إِدْبَارُ مَنْ أَدْبَرَ عَنْهُ.

Tidak menambah kemuliaan (kejayaan) Allah datang (menghadap)nya orang yang taat kepadaNYa, dan tidak mengurangi kemuliaan Allah menjauhnya orang yang menjauh daripadaNya. Sebab sifat kemuliaan/kejayaan Allah adalah sifat dzatNya, karena itu tidak dapat bertambah dan tidak berkurang, Allah dzat yang mulia sebelum adanya makhluk, dan tetap kejayaan kemulyaan itu sesudah menjadikan makhluk.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

241. إِنَّمَا جَعَلَهَا مَحَلاًّ لِلْأَغْيَارِ وَمَعْدِنًا لِلْأَكْدَارِ تَزْهِيدًا لَكَ فِيهَا.

Sesungguhnya Allah sengaja menjadikan dunia ini tempat kerusakan dan sumber kerusuhan, untuk menjemukan kau terhadap dunia.

Rasulullah saw. bersabda :

ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ.

Jauhkan dirimu dari tipuan dunia, niscaya Allah suka/kasih kepadamu. Dan jauhkan dirimu dari hak-hak orang, niscaya disukai orang. Imam Ali ar. menulis surat kepada Salman Alfarisy ra. : Sesungguhnya dunia ini bagaikan ular licin pegangannya, namun membunuh bisanya (racunnya), karena itu abaikanlah (berpalinglah) daripadanya, dan dari apa yang mengagumkan engkau, karena sedikitnya yang dapat engkau bawa sebagai bekal, dan jangan risau terhadapnya karena engkau yakin akan berpisah padanya, dan letakkan kesenanganmu dalam kewaspadaanmu terhadap apa-apa yang ada di dalamnya, sebab orang di dunia apabila ia mulai senang tenang langsung dibawa kejurang bahaya dan binasa. Seseorang Hakiem berkata : Dunia ini bagaikan impian orang tidur, kesenangannya bagaikan bayangan awan, kejadian-kejadian bagaikan anak panah yang mengenai sasarannya, sedang syahwat- syahwatnya bagaikan sesuatu yang beracun dan godaannya bagaikan gelombang yang besar.

Hikam Ibnu 'Atoillah

214. تَمَكُّنُ حَلاَوَةِ الْهَوَى مِنَ الْقَلْبِ هُوَ الدَّاءُ الْعُضَالُ.

Meresapnya rasa manisnya hawa nafsu dalam hati merupakan penyakit yang sukar diobatinya (disembuhkan). Hati itu tempat iman keyakinan dan ma'rifat, dan semua itu sebagai obat, tetapi apabila kecintaan kepada dunia dan syahwat telah menguasai/ memenuhi hati, maka tidak ada tempat untuk obatnya, maka disitulah letak kesukaran untuk mengobatinya, sehingga sukar disembuhkannya.

Rasulullah saw. bersabda :

حُبُّ الدُّنْيَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيئَةٍ.

Cinta kepada dunia itulah induk/pokok dari segala dosa.

Hikam Ibnu 'Atoillah

283. فَلَمْ تَزَلْ مَطِيَّةُ عَزْمِهِ لاَ يَقِرُّ قَرَارُهَا دَائِمًا، تَسِيرُ حَتَّى أَنَاخَتْ بِحَضْرَةِ الْقُدْسِ، وَبِسَاطِ الْأُنْسِ، مَحَلِّ الْمُفَاتَحَةِ وَالْمُوَاجَهَةِ وَالْمُجَالَسَةِ وَالْمُحَادَثَةِ وَالْمُشَاهَدَةِ وَالْمُطَالَعَةِ، فَصَارَتِ الْحَضْرَةُ مُعَشَّشَ قُلُوبِهِمْ، إِلَيْهَا يَأْوُونَ وَفِيهَا يَسْكُنُونَ.

Maka tetap terus kendaraan semangatnya tidak berhenti, bahkan tetap terus berjalan, sehingga berlabuh (berhenti) di hadratil qudsi (di sisi Allah) di atas hamparan kesenangan, tempat berbisik/ bermunajat, berhadapan, bercakap-cakap, musyahadah dan bertemu sehingga hadratil qudsi itu menjadi sarang hati mereka, ke sana mereka kembali, dan di sana pula mereka tetap tinggal. Semangat yang tidak padam, bagaikan kendaraan yang tidak kunjung berhenti perjalanan, kecuali setelah sampai stasiun (pelabuhan) yang berupa hadratul-qudsi, di mana Allah sendiri yang menyenangkan, membuka nur hati dan selalu di sisi Allah.

Disalin