Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Mutiara Kata

Himpunan Hikmah

294 petikan ilmu untuk direnung dan dikongsi.

Rawak
Hikam Ibnu 'Atoillah

015. مِمَّا يَدُلُّكَ عَلَى وُجُودِ قَهْرِهِ سُبْحَانَهُ أَنْ حَجَبَكَ عَنْهُ بِمَا لَيْسَ بِمَوْجُودٍ مَعَهُ.

Di antara bukti-bukti yang menunjukkan adanya kekuasaan Allah yang luar biasa, ialah dapat menghijab engkau daripada melihat kepada-Nya dengan hijab yang tidak ada wujudnya (yakni : Bayangan- bayangan hijab) di sisi Allah. Sepakat para arifin, bahwa segala sesuatu selain Allah tidak ada, artinya : tidak dapat disamakan adanya sebagaimana adanya Allah, sebab adanya alam terserah kepada karunia Allah, bagaikan adanya bayangan yang tergantung selalu kepada benda yang membayanginya. Maka siapa yang melihat bayangan dan tidak melihat kepada yang membayanginya, di sini terhijabnya.

Firman Allah :

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ (القصص: ٨٨)

Segala sesuatu rusak hancur kecuali dzat Allah. Rasulullah saw. membenarkan perkataan pujangga yang berkata :

أَلَا كُلُّ شَيْءٍ مَا خَلَا اللَّهَ بَاطِلٌ

Camkanlah, bahwa segala sesuatu selain Allah itu palsu belaka.

وَكُلُّ نَعِيمٍ لَا مَحَالَةَ زَائِلٌ

Dan tiap nikmat kesenangan dunia, pasti akan rusak lenyap.

Hikam Ibnu 'Atoillah

031. لاَ تَتَرَقَّبْ فُرُوغَ الْأَغْيَارِ، فَإِنَّ ذٰلِكَ يَقْطَعُكَ عَنْ وُجُودِ الْمُرَاقَبَةِ لَهُ فِيمَا هُوَ مُقِيمُكَ فِيهِ.

Jangan menantikan selesai (habis)nya perintang-perintang untuk lebih mendekat kepada Allah, sebab yang demikian itu akan memutuskan engkau dari kewajiban menunaikan hak terhadap apa yang Allah telah mendudukkan engkau di dalamnya. (Sebab yang demikian itu memutuskan kewaspadaanmu terhadap kewajibanmu). Abbdullah bin Umar ra. berkata : Jika engkau berada di waktu senja, maka jangan menunggu tibanya pagi, demikian pula jika engkau berada diwaktu pagi, jangan menunggu sore. Pergunakan kesempatan di waktu muda, sehat kuat dan kaya untuk menghadapi masa tua, sakit, lemah

Sahl bin Abdullah Attustary berkata : Jika tiba waktu malam maka jangan mengharap tibanya siang hari, sehingga engkau menunaikan hak Allah, waktu malam itu. Dan menjaga benar-benar hawa nafsumu, demikian pula bila engkau berada pada pagi hari.

Firman Allah :

وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ (الأنبياء: ٣٥)

Kami (Allah) akan menguji kamu dengan kejahatan dan kebaikan, sebagian ujian, dan kepada Kami kamu kembali. (Al-Anbiyaa' 35). Ujian itu berupa : sehat, sakit, kesukaran, kelapangan, kaya dan miskin. Untuk ujian kekuatan atau ketetapan beriman/ber-Tuhan kepada Allah sampai di mana syukurnya menerima nikmat dan bagaimana sabarnya menghadapi ujian kesukaran bala'.

Hikam Ibnu 'Atoillah

047. لاَ تَتَعَدَّ نِيَّةُ هِمَّتِكَ إِلَى غَيْرِهِ، فَالْكَرِيمُ لاَ تَتَخَطَّاهُ الْآمَالُ.

Jangan melanggar/melampaui niat tujuanmu (hasrat harapanmu) kepada lain-lainNya. Maka Tuhan yang maha murah itu tidak dapat diliwati oleh sesuatu harapan (angan-angan). Perasaan yang luhur enggan membuka hajat kebutuhannya kepada orang yang tidak dermawan, dan tidak ada yang dermawan pada hakikat yang sebenarnya kecuali Allah ta'ala.

Al-Junaid berkata : Al-Karim (Dermawan) itu ialah yang memberi hajat kebutuhan sebelum diminta. Ada pula pendapat : Al-Karim ialah yang tidak pernah mengecewakan harapan orang yang berangan-angan (berharap). Al-Karim yaitu apabila berkuasa memaafkan, dan bila berjanji menepati, dan bila memberi lebih memuaskan dari harapan, dan tidak

hirau berapa pemberiannya, dan kepada siapa memberinya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

032. لاَ تَسْتَغْرِبْ وُقُوعَ الْأَكْدَارِ مَا دُمْتَ فِي هٰذِهِ الدَّارِ، فَإِنَّهَا مَا أَبْرَزَتْ إِلاَّ مَا هُوَ مُسْتَحِقُّ وَصْفِهَا وَوَاجِبُ نَعْتِهَا.

Jangan heran atas terjadinya kesukaran-kesukaran selama engkau masih di dunia ini, sebab ia tidak melahirkan kecuali yang layak atau asli menjadi sifatnya.

Abdullah bin Mas'ud ra. berkata : Dunia adalah kerisauan dan duka cita, maka apabila terdapat kesenangan di dalamnya berarti laba dan keuntungannya. Ja'far Asshaddiq ra. : Siapa yang meminta sesuatu yang tidak dijadikan oleh Allah, berarti melelahkan dirinya dan tidak akan diberi. Ketika ditanya : Apakah itu ? Jawabnya : Kesenangan di dunia.

Junaid Al-Bagh-dady ra. berkata : Aku tidak merasa keji terhadap apa yang menimpa pada diriku, sebab saya telah berpendirian bahwa dunia ini tempat kerisauan dan ujian, dan alam ini diliputi-oleh bencana, maka sudah selayaknya ia menyambut saya dengan segala kesukaran, kerisauan, maka apabila ia menyambut aku dengan kesenangan maka itu berarti suatu kurnia dan kelebihan.

Rasulullah saw. berkata kepada Abdullah bin Abbas : Jika engkau dapat beramal karena Allah dengan rela dan keyakinan, maka laksana- kanlah, dan jika tidak dapat, maka bersabarlah. Maka sesungguhnya sabar menghadapi kesukaran itu suatu keuntungan yang besar.

Umar bin Khoththob ra. berkata kepada seorang yang dinasehati- nya : Jika engkau sabar, maka hukum Allah tetap berjalan dan engkau mendapat pahala, dan apabila engkau tidak sabar tetap berlaku ketentuan Allah sedang engkau berdosa.

Hikam Ibnu 'Atoillah

048. لاَ تَرْفَعَنَّ إِلَى غَيْرِهِ حَاجَةً هُوَ مُورِدُهَا عَلَيْكَ، فَكَيْفَ يَرْفَعُ غَيْرَهُ مَا كَانَ هُوَ لَهُ وَاضِعًا. مَنْ لاَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَرْفَعَ حَاجَةً عَنْ نَفْسِهِ فَكَيْفَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَكُونَ لَهَا عَنْ غَيْرِهِ رَافِعًا.

Jangan mengadu/meminta sesuatu hajat kepada lain Allah, sebab la sendiri yang memberi/menurunkan hajat itu kepadamu. Maka bagaimanakah sesuatu selain Allah akan dapat menyingkirkan sesuatu yang diletakkan oleh Allah. Siapa yang tidak dapat menyingkirkan bencana yang menimpa dirinya sendiri, maka bagaimanakah akan dapat menyingkirkan bencana dari lainnya. Tibanya sesuatu bencana itu menyebabkan engkau berhajat kepada bantuan pertolongan, maka dalam tiap hajat jangan mengharap kepada lain Allah, sebab segala sesuatu selain Allah itu juga berhajat seperti kau. Sebab siapa yang menyandar (menggantungkan nasib) pada sesuatu selain Allah, berarti tertipu oleh sesuatu bayangan khayal, sebab tidak ada yang tetap selain Allah yang selalu tetap karunia dan nikmat rahmatNya kepadamu. Athaa* Al-Khurasani berkata : Saya bertemu dengan wahb bin Munabbih di suatu jalan, maka saya berkata : Ceritakan kepadaku suatu hadits yang dapat saya ingat, tetapi persingkatlah. Maka berkata Wahb : Allah telah mewahyukan kepada nabi Dawud as : Hai Dawud, demi kemuliaan dan kebesaranKu, tiada seorang hambaKu yang minta tolong kepadaKu dengan sungguh-sungguh kepadaKu, tidak pada lainnya, dan saya ketahui yang demikian dari niatnya, kemudian orang itu akan diperdaya oleh penduduk langit yang tujuh dan bumi yang tujuh, melainkan pasti Aku akan meng- hindarkannya dari semua itu, sebaliknya demi kemuliaan dan kebesaranKu, tiada seorang yang berlindung kepada seorang makhlukKu, tidak kepadaKu dan Aku ketahui yang demikian dari niatnya melainkan Aku putuskan ia dari rahmat yang dari langit, dan Aku longsorkan bumi di bawahnya, dan tidak Aku hiraukan dalam lembah jurang yang mana ia binasa.

Muhammad bin Husain bin Hamdan berkata : Ketika saya di majlis Yazid bin Harun, saya bertanya kepada seorang yang duduk di sampingku : Siapakah namamu? Jawabnya : Saied. Saya bertanya : Siapakah gelarmu ? Jawabnya : Abu Usman. Lalu saya bertanya tentang keadaannya. Jawabnya : Kini telah habis belanjaku. Lalu saya tanya : Dan siapakah yang engkau harapkan untuk kepentinganmu itu ? Jawab- nya : Yazid bin Harun. Maka saya berkata kepadanya : Jika demikian , maka ia tidak menyampaikan hajatmu, dan tidak akan membantu/ meringankan kebutuhanmu. Dia bertanya : Dari mana engkau mengetahui hal itu ? Jawabku : Saya telah membaca dalam sebuah kitab : Bahwasanya Allah telah berfirman : Demi kemuliaanKu dan kebesaranKu, dan kemurahanKu dan ketinggian kedudukanKu, di atas arsy. Aku akan mematahkan harapan orang yang mengharap kepada lainKu dengan kekecewaan, dan akan Aku pakaikan kepadanya pakaian kehinaan di mata orang, dan Aku singkirkan ia dari dekatku, dan Aku putuskan dari hubunganku. Mengapa ia mengharap lain Ku dalam kesukaran, padahal kesukaran itu di tanganku, dan Aku dapat menyingkirkannya, dan mengharapkan kepada lainKu serta mengetuk pintu lain, padahal kunci pintu-pintu itu tertutup, hanya pintuKu yang terbuka bagi siapa yang berdoa minta kepadaKu. Siapakah yang pernah mengharapkan Aku untuk menghalau kesukarannya lalu Aku kecewakan? Siapakah yang pernah mengharapkan Aku karena besar dosanya, lalu Aku putuskan harapannya? Atau siapakah yang pernah mengetuk pintuKu, lalu tidak Aku bukakan ? Aku telah mengadakan hubungan yang langsung antaraKu dengan angan-angan dan harapan semua makhlukKu, maka mengapakah kau bersandar kepada lainKu. Dan Aku telah menyediakan semua harapan hambaKu, tetapi tidak puas dengan perlindunganKu, dan Aku telah memenuhi langitKu dengan makhluk yang tidak jemu bertasbih kepadaKu dari para Malaikat dan Aku perintahkan mereka supaya tidak menutup pintu antaraKu dengan para hambaKu, tetapi mereka tidak percaya kepada sabdaKu. Tidakkah mengetahui bahwa siapa yang ditimpa oleh bencana yang Aku turunkan, tiada yang dapat menyingkirkannya selain Aku, maka mengapakah Aku melihat ia dengan segala angan-angan harapannya selalu berpaling dari padaKu, mengapakah ia tertipu oleh lainKu. Aku telah memberi kepadanya dengan kemurahanKu apa-apa yang tidak ia minta, kemudian Aku yang mencabut dari padanya lalu ia tidak minta kepadaKu untuk mengembalikannya, dan minta kepada lainKu. Apakah Aku yang memberi sebelum diminta, kemudian jika dimintai lalu tidak memberi an Abd pede Khalonye)

kepada peminta ? Apakah aku bakhil (kikir), sehingga dianggap bakhil oleh hambaKu. Tidakkah dunia dan akherat itu semua milikKu ? Tidakkah semua rahmat dan kurnia itu di tanganKu ? Tidakkah derma- wan dan kemurahan itu sifatKu ? Tidakkah hanya Aku tempat semua harapan ? Maka siapakah yang dapat memutuskannya daripadaKu. Dan apapula yang diharapkan oleh orang-orang yang mengharap, andaikan Aku berkata kepada semua penduduk langit dan bumi : Mintalah kepadaKu, kemudian Aku memberi kepada masing-masing orang fikiran apa yang terfikir pada semuanya, lalu Aku beri semua itu tidak akan mengurangi kekayaanKu meskipun sekecil debu ? Maka bagaimana akan berkurang kekayaan yang lengkap, sedang Aku yang mengawasinya ? Alangkah sial (celaka) orang yang putus dari rahmatKu, alangkah kecewa orang maksiat kepadaKu dan tidak memperhatikan Aku, dan tetap melakukan yang haram dan tiada malu kepadaKu. Maka orang itu berkata : Ulangilah keteranganmu itu, lalu menulisnya. Kemudian ia berkata : Demi Allah setelah ini saya tidak usah menulis suatu keterangan yang lain.

Hikam Ibnu 'Atoillah

001. مِنْ عَلاَمَاتِ الاِعْتِمَادِ عَلَى العَمَلِ نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُودِ الزَّلَلِ.

Setengah dari tanda bahwa seorang itu bersandar diri pada kekuatan amal usahanya, yaitu berkurangnya pengharapan terhadap rahmat karunia Allah ketika terjadi padanya suatu kesalahan / dosa. Kalimat : Laa ilaaha illallaah. Tidak ada Tuhan, berarti tidak ada tempat bersandar, berlindung, berharap kecuali Allah, tidak ada yang menghidupkan dan mematikan, tiada yang memberi dan menolak melainkan Allah. Dhohirnya syariat menyuruh kita berusaha beramal, sedang hakikat syariah melarang kita menyandarkan diri pada amal usaha itu, supaya tetap bersandar pada karunia rahmat Allah. Kalimat : Laa haula walaa quwwata illaa billaahi. Tidak ada daya untuk mengelakkan diri dari bahaya kesalahan. Dan tidak ada kekuatan untuk berbuat amal kebaikan kecuali dengan bantuan pertolongan Allah dan karunia rahmat-Nya semata-mata.

Firman Allah :

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ (يونس: ٥٨)

"Katakanlah : Hanya karena merasakan kurnia rahmat Allah lah kamu boleh bergembira, dan itulah yang lebih baik (berguna) bagi mereka daripada apa yang dapat mereka kumpulkan sendiri.

(Yunus 59).

Sedang bersandar pada amal usaha itu berarti lupa pada kurnia rahmat Allah yang memberi taufiq hidayat kepadanya yang akhirnya pasti ia ujub, sombong, merasa sempurna diri, sebagaimana yang telah terjadi pada iblis ketika diperintah bersujud kepada Adam, ia berkata : Aku lebih baik dari dia (Adam).

أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ

Juga telah terjadi pada Qaarun ia berkata :

إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِي (القصص: ٧٨)

"Sesungguhnya Aku mendapat kekayaan ini karena ilmuku semata-mata.

(Al-Qashash 78).

Apabila kita dilarang menyekutukan Allah dengan berhala, batu, kayu, pohon, binatang dan manusia, maka janganlah menyekutukan Allah dengan kekuatan diri sendiri, seolah-olah merasa sudah cukup kuat dan dapat berdiri sendiri tanpa pertolongan Allah, tanpa rahmat taufiq hidayat dan karunia Allah. Sedangkan kita harus bertauladan pada Nabi Sulaiman as. ketika ia menerima nikmat karunia Allah, ketika mendapat istana ratu Bulqis.

Firman Allah :

هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۚ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ (النمل:٤٠)

Ini semata-mata dari karunia Tuhanku, untuk menguji padaku, apakah aku bersyukur (terima kasih) atau kufur (lupa pada Allah). Maka siapa yang syukur, maka syukur itu untuk dirinya. Dan siapa yang kufur, maka Tuhanku dzat yang terkaya lagi

pemurah (tidak berhajat sedikitpun dari makhluknya, bahkan makhluk yang berhajat kepada-Nya)";

(An-Naml 40).

Hikam Ibnu 'Atoillah

033. مَا تَوَقَّفَ مَطْلَبٌ أَنْتَ طَالِبُهُ بِرَبِّكَ، وَلاَ تَيَسَّرَ مَطْلَبٌ أَنْتَ طَالِبُهُ بِنَفْسِكَ.

Tidak akan terhenti (macet) suatu permintaan yang semata-mata engkau minta (engkau sandarkan) kepada kurnia (kekuasaan) Tuhanmu, dan tidak mudah tercapai permintaan (pengharapan) yang engkau sandar- kan kepada kekuatan dan daya upaya serta kepandaian dirimu sendiri.

Hikam Ibnu 'Atoillah

049. إِنْ لَمْ تُحْسِنْ ظَنَّكَ بِهِ لِأَجْلِ حُسْنِ وَصْفِهِ، فَحَسِّنْ ظَنَّكَ بِهِ لِوُجُودِ مُعَامَلَتِهِ مَعَكَ، فَهَلْ عَوَّدَكَ إِلاَّ حَسَنًا، وَهَلْ أَسْدَى إِلَيْكَ إِلاَّ مِنَنًا.

Jika engkau tidak bersangka baik (husnudh-dhan) terhadap Allah ta'ala karena sifat-sifat Allah yang baik itu, sangkalah baik kepada Allah karena kurnia pemberianNya kepadamu. Tidakkah selalu ia memberi nikmat dan kurniaNya kepadamu ? Apabila engkau tidak dapat berbaik sangka terhadap Allah, karena Allah itu bersifat : Rabbul alamien (Tuhan yang mencipta, melengkapi, memelihara dan menjamin seisi alam, Arrahman, Arrahhiem : Pemurah lagi Penyayang). Maka sudah selayaknya engkau harus berbaik sangka kepada Allah, karena tiada henti-hentinya nikmat kurnia Allah atas dirimu dan anak keluargamu. Yakni sejak engkau berupa mani hingga matimu. Dan sebaik-baik husnudh-dhan (baik sangka) terhadap Allah, diwaktu menerima nikmat Allah yang berupa ujian (bala'), bagaikan ayah yang menyambuk putera yang amat disayang, demi untuk kebaikan putera itu sendiri.

Firman Allah :

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ (البقرة: ٢١٦)

Mungkin kamu enggan (tidak menyukai) sesuatu padahal itu baik bagimu.

(S. Al-Bagarah 216).

فَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا. (النساء : ١٩)

Mungkin kamu enggan (tidak menyukai) sesuatu, sedang Allah telah menjadikan pada apa yang tidak engkau sukai itu kebaikan yang sebanyak-banyaknya * (S. Annisaa' 19).

Jabir ra. berkata : Bersabda Rasulullah saw. : Siapa yang dapat melakukan husnudh-dhan (baik sangka) kepada Allah, sehingga ia tiada mati kecuali tetap dalam husnudh-dhan terhadap Allah, maka harus berbuat demikian. Kemudian membacakan ayat :

( فصلت رحم السجدة : ١٢)

Dan itulah jahat sangkamu kepada Tuhanmu itulah yang mem- binasakan kamu. (S. Haa' Mim Fussilat (Assajdah) ayat 23).

Abuhurairah ra. berkata : Bersabda Nabi saw. : Sesungguhnya baik sangka terhadap Allah itu, sebaik-baik kelakuan ibadat kepada Allah. (Atau : Sesungguhnya baik sangka terhadap Allah itu dari sebab baiknya ibadat kepada Allah). Ibnu Mas'ud ra. bersumpah : Demi Allah tiada seorang yang baik sangka terhadap Allah, melainkan pasti Allah akan memberikan kepadanya apa yang ia sangka, sebab kebaikan itu semuanya di tangan Allah, maka apabila Allah telah memberi husnudh-dhan, berarti Allah

akan memberi apa yang disangkanya itu. Maka Allah yang memberinya husnudh-dhan berarti akan melaksanakannya.

Abu Said Al-Khudry ra. berkata : Rasulullah saw. sambang orang sakit, maka Rasulullah bertanya kepada orang yang sakit itu : Bagaimanakah sangkamu terhadap Tuhanmu ? Jawabnya : Ya Rasulullah husnudh-dhan. Maka bersabda Nabi saw. : Sangkalah sesukamu kepada Allah, maka Allah selalu akan memberi apa yang disangka oleh orang mukmin.

Hikam Ibnu 'Atoillah

002. إِرَادَتُكَ التَّجْرِيدَ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِي الْأَسْبَابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الخَفِيَّةِ، وَإِرَادَتُكَ الْأَسْبَابَ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِي التَّجْرِيدِ انْحِطَاطٌ مِنَ الْهِمَّةِ الْعَلِيَّةِ.

Keinginan untuk tajrid (melulu beribadat, tanpa berusaha dunia), padahal Allah masih menempatkan engkau pada golongan orang-orang yang harus berusaha (kasab) untuk mendapat kebutuhan sehari-hari, maka keinginanmu itu termasuk syahwat hawa nafsu yang samar (halus). Sebaliknya keinginanmu untuk berusaha kasab, padahal Allah telah menempatkan dirimu pada golongan orang yang melulu beribadat tanpa kasab, maka keinginan yang demikian berarti menurun dari semangat dan tingkat yang tinggi. Sebab kewajiban seorang hamba, menyerah kepada apa yang dipilihkan oleh majikannya. Lebih-lebih apabila majikan itu Tuhan Allah yang mengetahui benar-benar apa yang menguntungkan baginya dan yang menyusahkannya. Dan tanda bahwa Allah menempatkan dirimu dalam golongan orang yang harus berusaha kasab, apabila terasa ringan bagimu, sehingga tidak menyebabkan tertinggalnya sesuatu kewajiban dalam agamamu,juga menyebabkan kau tidak tamak (rakus) terhadap hak orang lain. Dan tanda bahwa Allah telah mendudukkan dirimu dalam golongan hamba yang tidak berusaha kasab : Apabila Tuhan memudahkan bagimu kebutuhan hidup dari jalan yang tidak disangka, kemudian jiwamu tetap tenang ketika terjadi kekurangan, karena tetap ingat dan bersandar kepada Tuhan, dan tidak berubah dalam menunaikan kewajiban-kewajiban. Syaithan sebagai musuh manusia, tidak suka bila melihat manusia itu tenang maka ia datang membisikkan kepada manusia, supaya tidak puas terhadap apa yang telah diberikan Allah kepadanya, dan selalu membayangkan kepadanya kesenangan, kemewahan, ketenangan lain orang untuk membangkitkan sifat tamak (rakus), iri hati terhadap apa yang bukan bagiannya, sehingga apabila ia telah melepaskan apa yang ia telah tenang, tentram itu untuk menurutkan sifat tamak rakusnya gagal amal perbuatannya dan kecewa. Firman Allah yang menunjukkan bagaimana tipu daya syaithan terhadap bapak Adam dan Hawa as.

مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَٰذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَن تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ . (الأعراف: ٢٠)

Berkata syaithan : Tuhan tidak melarang kamu mendekati pohon ini melainkan supaya kamu tidak dapat mencapai kedudukan Malaikat atau tidak dapat kekal.dalam surga. (S. Al -A'raf 20).

Dalam surat Thoha ayat 120 :

فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلَىٰ؟ (طه : ١٢٠)

Maka membisikkan syaithan, ia berkata : Hai Adam sukakah Aku tunjukkan kepadamu pohon khuldi, (sesuatu yang dapat mengekalkan) dan kekayaan yang takkan habis (rusak).

(S. Thoha 120).

Seorang berkata : Beberapa kali saya telah meninggalkan usaha kasab tetapi terpaksa kembali berkasab, sehingga akhirnya akulah yang di tinggalkan oleh kasab itu, maka tiadalah aku kembali kepadanya. Seorang murid merasa, bahwa untuk sampai kepada Allah dan masuk dalam barisan para wali dengan sibuk pada ilmu dhahir dan bergaul dengan sesama manusia agak jauh dan tak mungkin lalu ia pergi menghadap gurunya, tiba-tiba sebelum ia sempat bertanya, guru bercerita : Ada seorang terkemuka dalam ilmu dhahir, ketika ia dapat merasakan sedikit dari perjalanan ini, Ia datang kepadaku dan berkata : Aku akan meninggalkan kebiasaanku untuk mengikuti per- jalananmu. Jawab : Bukan itu yang harus kamu lakukan, tetapi tetapiah dalam kedudukanmu, sedang apa yang akan diberikan Allan kepadamu pasti sampai (tercapai) kepadamu (olehmu).

Hikam Ibnu 'Atoillah

034. مِنْ عَلاَمَاتِ النَّجْحِ فِي النِّهَايَاتِ الرُّجُوعُ إِلَى اللهِ فِي البِدَايَاتِ.

Suatu tanda akan lulusnya seorang pada akhir perjuangannya, jika selalu tawakkal, menyerah kepada Allah sejak mulai perjuangannya. Seorang arief berkata : Siapa yang menyangka bahwa ia akan dapat sampai kepada Allah, dengan perantaraan sesuatu selain Allah, pasti akan putus karenanya, Dan siapa dalam ibadatnya bersandar pada kekutan dirinya diserahkan oleh Allah kepada kekuatan dirinya. Yakni, hanya sampai disitu saja, dan tidak dapat mencapai bahagian- bahagian yang hanya dapat dicapai dengan tawakkal menyandarkan diri kepada Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

050. الْعَجَبُ كُلُّ الْعَجَبِ مِمَّنْ يَهْرُبُ مِمَّا لاَ انْفِكَاكَ لَهُ عَنْهُ، وَيَطْلُبُ مَا لاَ بَقَاءَ لَهُ مَعَهُ، فَإِنَّهَا لاَ تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ.

Keajaiban yang sangat mengherankan (ajaib) terhadap orang yang lari dari apa yang sangat dibutuhkan, dan tidak dapat lepas dari padanya, dan berusaha mencari apa yang tidak akan kekal padanya. Sesungguhnya bukan mata kepala yang buta, tetapi yang buta ialah matahati yang di dalam dada. Seorang yang melarikan diri dari panggilan Tuhan untuk berbuat ibadat semata-mata karena ingin memuaskan hawa nafsu syahwatnya, nyata-nyata sebagai tanda buta matahatinya, sebab ia telah meng- utamakan bayangan daripada hakikat, mengutamakan yang sementara dan meninggalkan yang kekal abadi, mengutamakan yang rusak daripada yang tetap kekal untuk selamanya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

003. سَوَابِقُ الْهِمَمِ لاَ تَخْرِقُ أَسْوَارَ الْأَقْدَارِ.

Kekerasan semangat/perjuangan itu, tidak dapat menembus tirai takdir, kekeramatan atau kejadian-kejadian yang luar biasa dari seorang wali itu, tidak dapat menembus keluar dari takdir, maka segala apa yang terjadi semata-mata dengan takdir Allah.

Firman Allah :

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ (التكوير: ٢٩)

"Dan tiadalah kamu berkehendak, kecuali apa yang di kehendaki Allah Tuhan yang mengatur seisi alam".

(S. Kuwwirot 29).

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا ( الإنسان: ٣)

iDan tiada kamu menghendaki kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah. Sungguh Allah Maha mengetahui lagi bijaksana".

(S. Al-Insan 30).

Hikam Ibnu 'Atoillah

019. كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَ لِكُلِّ شَيْءٍ. كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَهُوَ الظَّاهِرُ قَبْلَ وُجُودِ كُلِّ شَيْءٍ.

Bagaimana akan dapat ditutupi oleh sesuatu, padahal la yang tampak pada tiap segala sesuatu. Bagaimana akan dapat dibayangkan, bahwa Allah dapat dihijab oleh sesuatu, padahal Allah yang ada dhahir sebelum adanya sesuatu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

035. مَنْ أَشْرَقَتْ بِدَايَتُهُ أَشْرَقَتْ نِهَايَتُهُ.

Siapa yang terang (makmur) waktunya dengan taat di masa salik (permulaannya), pasti akan terang pula di masa akhirnya (sampai- nya) dengan cahaya nur ma'rifat. Siapa yang kuat tawakkalnya di masa bidayah (permulaan), maka akan terang terus hingga masa sampainya ke hadirat Tuhannya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

051. لاَ تَرْحَلْ مِنْ كَوْنٍ إِلَى كَوْنٍ فَتَكُونَ كَحِمَارِ الرَّحَى، يَسِيرُ مِنَ الْمَكَانِ الَّذِي ارْتَحَلَ عَنْهُ إِلَى الْمَكَانِ الَّذِي ارْتَحَلَ إِلَيْهِ، وَلٰكِنِ ارْحَلْ مِنَ الْأَكْوَانِ إِلَى الْمُكَوِّنِ، وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى.

Jangan berpindah dari satu alam ke alam yang lain, berarti sama dengan himar (keledai) yang berputar di sekitar penggilingan, ia berjalan menuju ke tempat tujuan, tiba-tiba itu pula tempat.yang ia mula-mula berjalan daripadanya, tetapi hendaklah engkau pergi dari semua alam menuju kepada pencipta alam; Sesunggunya kepada Tuhanmu puncak segala tujuan. Jangan berpindah dari syirik yang terang ke alam syirik yang samar. Amal kebaikan yang dinodai oleh riya', sum'ah mengharap pujian orang), tidak dianggap oleh syariat/tidak diterima oleh Allah. Dan apabila telah bersih dari semua itu, kemudian beramal terdorong oleh karena menginginkan kedudukan atau kekayaan, atau kekeramatan dunia atau akherat, sebab itu masih termasuk alam hawa nafsu, tetapi belum mencapai tujuan ikhlas yang berarti bersih dari segala tujuan selain melulu kepada Allah, yakni sepi ing pamrih. Karena itu selama berpindah dari alam ke alam tidak berbeda dengan keledai yang berputar di sekitar penggilingan, tetapi seharusnya sekali berangkat dari alam langsung menuju pencipta alam. Karena itu Nabi Isa as. pernah berkata kepada sahabat hawariyyin : Semua yang ada padamu dari berbagai nikmat kesenangan itu langsung dari kurnia Allah kepadamu, maka manakah kiranya yang lebih besar harganya (nilainya) ? Apakah pemberiannya, ataukah yang memberi ? "Wa anna ila Rabbikal-muntaha" : Sesungguhnya kepada Tuhanmu itulah puncak segala tujuan. Sebab siapa yang telah mendapatkan Allah, berarti telah mencapai segala sesuatu, baikpun urusan dunia maupun urusan akherat.

Disalin