Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

002. إِرَادَتُكَ التَّجْرِيدَ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِي الْأَسْبَابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الخَفِيَّةِ، وَإِرَادَتُكَ الْأَسْبَابَ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِي التَّجْرِيدِ انْحِطَاطٌ مِنَ الْهِمَّةِ الْعَلِيَّةِ.

Keinginan untuk tajrid (melulu beribadat, tanpa berusaha dunia), padahal Allah masih menempatkan engkau pada golongan orang-orang yang harus berusaha (kasab) untuk mendapat kebutuhan sehari-hari, maka keinginanmu itu termasuk syahwat hawa nafsu yang samar (halus). Sebaliknya keinginanmu untuk berusaha kasab, padahal Allah telah menempatkan dirimu pada golongan orang yang melulu beribadat tanpa kasab, maka keinginan yang demikian berarti menurun dari semangat dan tingkat yang tinggi. Sebab kewajiban seorang hamba, menyerah kepada apa yang dipilihkan oleh majikannya. Lebih-lebih apabila majikan itu Tuhan Allah yang mengetahui benar-benar apa yang menguntungkan baginya dan yang menyusahkannya. Dan tanda bahwa Allah menempatkan dirimu dalam golongan orang yang harus berusaha kasab, apabila terasa ringan bagimu, sehingga tidak menyebabkan tertinggalnya sesuatu kewajiban dalam agamamu,juga menyebabkan kau tidak tamak (rakus) terhadap hak orang lain. Dan tanda bahwa Allah telah mendudukkan dirimu dalam golongan hamba yang tidak berusaha kasab : Apabila Tuhan memudahkan bagimu kebutuhan hidup dari jalan yang tidak disangka, kemudian jiwamu tetap tenang ketika terjadi kekurangan, karena tetap ingat dan bersandar kepada Tuhan, dan tidak berubah dalam menunaikan kewajiban-kewajiban. Syaithan sebagai musuh manusia, tidak suka bila melihat manusia itu tenang maka ia datang membisikkan kepada manusia, supaya tidak puas terhadap apa yang telah diberikan Allah kepadanya, dan selalu membayangkan kepadanya kesenangan, kemewahan, ketenangan lain orang untuk membangkitkan sifat tamak (rakus), iri hati terhadap apa yang bukan bagiannya, sehingga apabila ia telah melepaskan apa yang ia telah tenang, tentram itu untuk menurutkan sifat tamak rakusnya gagal amal perbuatannya dan kecewa. Firman Allah yang menunjukkan bagaimana tipu daya syaithan terhadap bapak Adam dan Hawa as.

مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَٰذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَن تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ . (الأعراف: ٢٠)

Berkata syaithan : Tuhan tidak melarang kamu mendekati pohon ini melainkan supaya kamu tidak dapat mencapai kedudukan Malaikat atau tidak dapat kekal.dalam surga. (S. Al -A’raf 20).

Dalam surat Thoha ayat 120 :

فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلَىٰ؟ (طه : ١٢٠)

Maka membisikkan syaithan, ia berkata : Hai Adam sukakah Aku tunjukkan kepadamu pohon khuldi, (sesuatu yang dapat mengekalkan) dan kekayaan yang takkan habis (rusak).

(S. Thoha 120).

Seorang berkata : Beberapa kali saya telah meninggalkan usaha kasab tetapi terpaksa kembali berkasab, sehingga akhirnya akulah yang di tinggalkan oleh kasab itu, maka tiadalah aku kembali kepadanya. Seorang murid merasa, bahwa untuk sampai kepada Allah dan masuk dalam barisan para wali dengan sibuk pada ilmu dhahir dan bergaul dengan sesama manusia agak jauh dan tak mungkin lalu ia pergi menghadap gurunya, tiba-tiba sebelum ia sempat bertanya, guru bercerita : Ada seorang terkemuka dalam ilmu dhahir, ketika ia dapat merasakan sedikit dari perjalanan ini, Ia datang kepadaku dan berkata : Aku akan meninggalkan kebiasaanku untuk mengikuti per- jalananmu. Jawab : Bukan itu yang harus kamu lakukan, tetapi tetapiah dalam kedudukanmu, sedang apa yang akan diberikan Allan kepadamu pasti sampai (tercapai) kepadamu (olehmu).

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

113. الْعَارِفُ لاَ يَزُولُ اضْطِرَارُهُ، وَلاَ يَكُونُ مَعَ غَيْرِ اللهِ قَرَارُهُ.

Seorang aarif tidak kunjung hilang rasa hajat kebutuhannya, dan tidak pernah merasa tenang, atau bersandar pada sesuatu selain Allah ta'ala. Seorang aarif (wali) yaitu yang tetap merasa berhajat kepada Allah, sebab memang tidak ada sesuatu yang dapat memuaskan kepadanya selain Allah. Juga karena sadar benar-benar terhadap kekuasaan Allah di samping kelemahan dan kebutuhan diri sendiri kepada Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

101. كَفَى لِلْعَامِلِينَ جَزَاءً مَا هُوَ فَاتِحُهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ فِي طَاعَتِهِ، وَمَا هُوَ مُورِدُهُ عَلَيْهِمْ مِنْ وُجُودِ مُؤَانَسَتِهِ.

Cukup sebagai pembalasan Allah pada orang -orang yang beramal, apa yang telah dibukakan oleh Allah dalam hati mereka dari kegemaran melakukan taat dan apa yang diberikan Allah kepada mereka yang berupa kesenangan berdzikir kepuasan berkhalwat, menyendiri dengan Allah. Tidak ada suatu nikmat di dunia yang menyamai (menyerupai) nikmat surga, kecuali nikmat yang dirasakan oleh ahli dzikir dalam perasaan hati mereka daripada kelezatan berdzikir di tengah malam.

Hikam Ibnu 'Atoillah

271. مَنْ بُورِكَ لَهُ فِي عُمْرِهِ أَدْرَكَ فِي يَسِيرٍ مِنَ الزَّمَنِ مِنْ مِنَنِ اللهِ تَعَالَى مَا لاَ يَدْخُلُ تَحْتَ دَوَائِرِ الْعِبَارَةِ وَلاَ تَلْحَقُهُ الْإِشَارَةُ.

Siapa yang diberi berkah umur (usia)nya, maka dapat mencapai dalam masa yang singkat dari kurnia Allah yang tidak dapat dihitung oleh kata-kata, dan tidak dapat dikejar oleh isyarat. (Yakni tidak terhitung dan tidak terbatas). Usia (umur) yang berkah itu ialah jika Allah memberi kesadaran terhadap seseorang untuk mempergunakan kesempatan yang ada padanya untuk amal kebaikan, sebab ada kalanya amal kebaikan jika tepat pada sasarannya dapat mencapai apa yang tidak tercapai dalam masa seribu bulan.

Rasulullah saw. bersabda : Amal kebaikan (albirr) itu menambah umur. Bukan bertambah masanya, tetapi kebesaran hasil yang didapat pada usia itu. Abdul-Abbas Almarsy ber mdulillah waktu- waktu kami semuanya berupa lailatul-ga kni semua waktu- waktunya diisi penuh dengan kelakuan dan amal yang sangat berguna.

Disalin