Seorang yang lalai dalam tauhidnya bahwa segala sesuatu itu berjalan menurut ketentuan takdir Allah, jika pagi hari dia bingung apakah yang harus dikerjakan, sedang seorang yang sempurna akal tauhidnya memikirkan apakah yang akan ditakdirkan oleh Allah baginya hari itu. _Memang pertama yang bergerak dalam hati fikiran tiap orang pada pagi hari menurut timbangan tauhid/imannya kepada Allah, maka orang yang lalai terhadap peraturan Allah dan kebijaksanaanNya, ia bingung mengatur dirinya dan apa yang harus diperbuatnya hari itu, sebaliknya yang sehat akal iman tauhidnya kepada Allah, selalu teringat kepada kekuasaan dan kebijaksanaan Allah, maka ia dengan tenang hati menantikan apa yang akan diberikan Allah kepadanya hari itu.
Umar bin Abdil Aziz berkata : Kini aku tidak merasa kesenangan kecuali dalam ketentuan-ketentuan takdir Allah.
Abu Mad-yan ra. berkata : Usahakan dengan sungguh bila dapat, supaya hatimu tiap pagi dan sore menyerah bulat-bulat kepada Alah, semoga Allah melihat kepadamu dengan pandangan rahmatNya, niscaya termasuk orang bahagia dunia dan akheratmu. Siapa yang melihat kepada Allah tidak terlihat dirinya sendiri, dan siapa yang melihat pada dirinya sendiri, tidak terlihat kepada Allah. Karena itu jika engkau menghadapi sesuatu hal, perhatikan hatimu ke mana condongnya, jika langsung kepada kekuatanmu, maka terputus dari Allah. Dan jika langsung kepada kekuasaan Allah, berarti engkaulah yang telah sampai kepada Allah, sedang alam ini semuanya dalam genggaman Allah. Dan tiap pagi harus berdoa demikian :
اللَّهُمَّ إِنِّي أَصْبَحْتُ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي ضَرًّا وَلَا نَفْعًا وَلَا مَوْتًا وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُورًا، وَلَا أَسْتَطِيعُ أَنْ آخُذَ إِلَّا مَا أَعْطَيْتَنِي وَلَا أَتَّقِي إِلَّا مَا وَقَيْتَنِي، اللَّهُمَّ وَفِّقْنِي لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ مِنَ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ فِي طَاعَتِكَ إِنَّكَ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ.
Ya Allah kini aku berada di waktu pagi, tiada menguasai diriku untuk kebaikan atau menolak bahaya, atau mati atau hidup atau bangkit sesudah mati, dan aku tidak dapat mengambil kecuali yang Engkau beri, dan tidak dapat menghindari sesuatu kecuali yang Engkau hindarkan. Ya Allah, pimpinlah aku kepada jalan yang Engkau ridhai (restui) baik dalam perkataan atau amal perbuatan di dalam taat kepadaMu, sungguh Engkau yang besar kurniaNya. Doa Abul-Hasan Asysyadzily :
اللَّهُمَّ إِنَّ الْأَمْرَ عِنْدَكَ وَهُوَ مَحْجُوبٌ عَنِّي، وَلَا أَعْلَمُ أَمْرًا أَخْتَارُهُ لِنَفْسِي، فَكُنْ أَنْتَ الْمُخْتَارَ لِي وَاحْمِلْنِي فِي أَجْمَلِ الْأُمُورِ عِنْدَكَ وَأَحْمَدِهَا عَاقِبَةً فِي الدِّينِ وَالدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.
“Ya Allah sungguh segala sesuatu ada di tanganMu, dan tertutup daripadaku, dan aku tidak mengetahui apa yang harus aku pilih untuk diriku, maka pilihkanlah apa yang baik bagiku, dan bawalah aku dalam hal yang amat baik serta terpuji akibatnya dalam agama, dunia dan akherat, sungguh Engkau atas segala sesuatu maha berkuasa”.