Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Mutiara Kata

Himpunan Hikmah

294 petikan ilmu untuk direnung dan dikongsi.

Rawak
Hikam Ibnu 'Atoillah

100. كَفَى مِنْ جَزَائِهِ إِيَّاكَ عَلَى الطَّاعَةِ أَنْ رَضِيَكَ لَهَا أَهْلاً.

Cukup menjadi balasan Allah atas ketaatanmu, jika Allah ridha (rela) menjadikan engkau ahli taat/ibadat. Taufiq dan hidayah yang diberikan Allah kepada seorang hamba itu sebagai karunia yang sebesar-besarnya bagi seorang hamba, sebab dengan hidayat dan taufiq itulah seorang hamba dapat menerima nikmat dan bahagia dunia akherat.

Hikam Ibnu 'Atoillah

101. كَفَى لِلْعَامِلِينَ جَزَاءً مَا هُوَ فَاتِحُهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ فِي طَاعَتِهِ، وَمَا هُوَ مُورِدُهُ عَلَيْهِمْ مِنْ وُجُودِ مُؤَانَسَتِهِ.

Cukup sebagai pembalasan Allah pada orang -orang yang beramal, apa yang telah dibukakan oleh Allah dalam hati mereka dari kegemaran melakukan taat dan apa yang diberikan Allah kepada mereka yang berupa kesenangan berdzikir kepuasan berkhalwat, menyendiri dengan Allah. Tidak ada suatu nikmat di dunia yang menyamai (menyerupai) nikmat surga, kecuali nikmat yang dirasakan oleh ahli dzikir dalam perasaan hati mereka daripada kelezatan berdzikir di tengah malam.

Hikam Ibnu 'Atoillah

102. مَنْ عَبَدَهُ لِشَيْءٍ يَرْجُوهُ مِنْهُ أَوْ لِيَدْفَعَ بِطَاعَتِهِ وُرُودَ الْعُقُوبَةِ عَنْهُ فَمَا قَامَ بِحَقِّ أَوْصَافِهِ.

Siapa yang menyembah kepada Allah karena mengharap sesuatu, atau untuk menolak bahaya siksa atas dirinya, maka belum menunaikan hak kewajibannya terhadap sifat-sifat Allah. Allah telah menurunkan wahyu kepada Nabi Dawud as. : Sesungguhnya orang yang sangat Aku kasih kepadanya ialah yang beribadat bukan karena upah pemberian, tetapi semata-mata karena Aku berhak untuk disembah. Dalam kitab Zabur ada tersebut : Dan siapakah yang lebih kejam dari orang yang menyembahKu karena surga atau neraka, apakah andaikan Aku tidak membuat surga dan neraka, tidak berhak untuk disembah.

Bersabda Nabi saw. : Jangan berlaku sebagai seorang hamba yang busuk jika takut, lalu bekerja dan jangan berbuat sebagai buruh yang busuk jika tidak dibayar tidak bekerja.

Sebab sebenarnya pemberian Allah kepada hamba itu sudah lebih dari yang diharapkan yaitu hidupnya, nafasnya, panca inderanya dan kesehatannya dan lain-lainnya.

Abu Hazim berkata : Saya malu menyembah Allah karena pahala, seperti buruh yang busuk jika tidak dibayar tidak bekerja atau menyembah karena takut siksa seperti budak yang curang jika tidak takut siksa tidak bekerja, tetapi saya menyembah Allah karena cinta kepadaNya. Sufyan Astsaury minta nasehat dari Rabi'ah Al-adawiyah, maka berkata Rabi'ah : Engkau seorang yang baik, andaikan engkau tidak cinta kepada dunia.

Hikam Ibnu 'Atoillah

103. مَتَى أَعْطَاكَ أَشْهَدَكَ بِرَّهُ، وَمَتَى مَنَعَكَ أَشْهَدَكَ قَهْرَهُ، فَهُوَ فِي كُلِّ ذٰلِكَ مُتَعَرِّفٌ إِلَيْكَ، وَمُقْبِلٌ بِوُجُودِ لُطْفِهِ عَلَيْكَ.

Apabila Allah memberi karunia kepadamu, maka la akan menunjukkan kepadamu kurnia belas kasihNya, dan apabila menolak pemberianNya atasmu, maka la akan menunjukkan kepadamu kekuasaanNya, maka la dalam semua itu memperkenalkan diri kepadamu, dan menghadapkan kepadamu dengan kehalusan pemberian pemeliharaanNya kepadamu. Keharusan tiap hamba harus mengenal Tuhan, dengan segala sifat- sifat kebesaranNya. Maka siapa yang tidak suka mengenal dengan sifat Mu'thi. Wahhab (pemberi) harus ia mengenal Allah dengan sifat : Mani' (menolak) Muntaqim (membalas) Qahhar (memaksa). Tetapi apabila semata-mata kurnia Allah kepada hambaNya. Sufyan Astsaury bertemu dengan Abu Habib Al-Badry, dan memberi salam. Abu Habib bertanya : Engkaulah Sufyan Astsaury yang terkenal itu ? Jawabnya : Benar, semoga Allah memberkahi apa yang dikatakan orang-orang itu. Lalu berkata Abu Habib : Hai Sufyan, tidak ada suatu kebaikan melainkan berasal dari Tuhan. Jawab Sufyan.: Benar. Ditanya : Mengapakah kamu tidak suka bertemu pada siapa yang tidak kebaikan kecuali dari padaNya. Hai Sufyan : Penolakan Allah kepadamu itu berarti pemberian kurniaNya kepadamu, sebab ia tidak menolak karena bakhil atau tidak ada, hanya ia menolak permintaanmu itu karena kasihnya kepada- mu dan untuk menguji kamu. Hai Sufyan, Sesungguhnya aku masih senang duduk dengan engkau tetapi bersamamu itu ada kesibukan, kemudian Abu Habib menuju ke kambingnya dan membiarkan Sufyan Astsaury.

Hikam Ibnu 'Atoillah

104. إِنَّمَا يُؤْلِمُكَ الْمَنْعُ لِعَدَمِ فَهْمِكَ عَنِ اللهِ فِيهِ.

Sesungguhnya sebab terasa pedihnya penolakan Allah kepadamu itu kerana engkau tidak mengerti hikmah rahmat Allah dalam penolakan (tidak memberi harapanmu) itu. Tiada sempurna iman keyakinan seorang terhadap Allah sebelum ia memiliki dua sifat : 1. Percaya penuh kepada Allah, yakni menyandar dan berharap hanya kepada Allah. 2. Dan syukur (terima kasih) kepada Allah karena dihindarkan dari padanya apa yang diujikan kepada lain- lain orang yaitu yang berupa kekayaan dunia. Juga tidak sempurna iman keyakinan hamba sebelum ia mengerti bahwa pemberian Allah sesuatu yang manfaat, dan penolakan Allah itu karena madharrat bahaya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

105. رُبَّمَا فَتَحَ لَكَ بَابَ الطَّاعَةِ وَمَا فَتَحَ لَكَ بَابَ الْقَبُولِ، وَرُبَّمَا قَضَى عَلَيْكَ بِالذَّنْبِ فَكَانَ سَبَبًا فِي الْوُصُولِ.

Mungkin Allah membuka untukmu pintu taat, tetapi belum dibukakan bagimu kabul (penerimaan), sebagaimana ada kalanya ditakdirkan engkau berbuat dosa, tetapi menjadi sebab sampaimu (mendekatmu) kepada Allah.

Abuhurairah ra. berkata : Bersabda Nabi saw. : Demi Allah yang jiwaku ada di tanganNya, andaikan kamu tidak berbuat dosa, niscaya Allah menyingkirkan (mematikan) kamu dan diganti dengan orang-or- ang yang berbuat dosa lalu minta ampun kepada Allah, lalu diampuni oleh Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

106. مَعْصِيَةٌ أَوْرَثَتْ ذُلاًّ وَافْتِقَارًا خَيْرٌ مِنْ طَاعَةٍ أَوْرَثَتْ عِزًّا وَاسْتِكْبَارًا.

Maksiat (dosa) yang menimbulkan rasa rendah diri dan membutuhkan rahmat Allah, lebih baik dari perbuatan taat yang membangkitkan rasa sombong, ujub dan besar diri.

Abu Mad-yan ra. berkata : Perasaan rendah diri seorang yang telah berbuat maksiat dosa, itu lebih baik dari kesombongan seorang yang taat. Ada kalanya seorang hamba berbuat kebaikan (hasanat) yang menimbulkan rasa ujub sombong, sehingga dapat menggugurkan segala amal-amal yang sebelumnya, dan ada kalanya seorang berbuat dosa yang menyedihkan hatinya, sehingga timbul rasa takut kepada Allah , dan menyebabkan keselamatan dirinya. Asysya'by meriwayatkan dari Alkhalil bin Ayyud, bahwasanya seorang aabid (ahli ibadah) Bani Israil ketika ia berjalan ia dinaungi oleh awan, tiba-tiba ada seorang pelacur Bani Israil, maka tergerak dalam hati pelacur itu : Ini seorang aabid Bani Israil, aku ingin mendekat kepadaNya. maka ketika pelacur itu mendekat kepada aabid itu tiba- tiba si aabid itu mengusir dengan berkata : Enyah engkau dari sini. Maka Allah menurunkan wahyu kepada Nabi saw. bahwa aku (Allah mengampunkan dosa pelacur itu dan membatalkan amal aabid itu. maka berpindah awan dari atas kepala aabid ke atas kepala pelacur itu. Al-Harits Al-Muhassiby berkata : Allah menghendaki supaya anggota lahir ini sesuai dengan batinnya (hatinya), maka apabila sombong congkak orang alim/aabid, sedang pelacur itu bertawadhu' merendah diri, maka ketika itu si pelacur lebih taat kepada Allah dari aabid dan alim. Ada pula kejadian ketika seorang aabid Bani Israil sedang sujud, tiba-tiba diinjak kepalanya oleh orang, maka berkata aabid itu : Angkat kakimu, demi Allah tidak akan mengampunkan cngkau. Maka Allah menjawab : Hai orang yang bersumpah dengan namaKu, bahkan engkau yang tidak diampunkan karena kesombonganmu. Al-Harits dalam komentarnya berkata : Dia berkata satu kata yang merusakkan dunia dan akhiratnya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

107. نِعْمَتَانِ مَا خَرَجَ مَوْجُودٌ عَنْهُمَا وَلاَ بُدَّ لِكُلِّ مُكَوَّنٍ مِنْهُمَا: نِعْمَةُ الْإِيجَادِ وَنِعْمَةُ الْإِمْدَادِ.

Dua nikmat yang tıdak uatu makhluk yang terlepas dari keduanya yaitu nikmat ciptaan dan n ulan. Karena tiap makhluk asalnya tidak ada, maka nikmat yang pertama diterimanya ialah nikmat ciptaan Allah yang menjadikannya (mewujudkannya), kemudian dilanjutkan dengan nikmat kelanjutan hidup itu, yakni melengkapi kebutuhan hidup, sebab bila tidak dilengkapi kebutuhan, tidak akan dapat bertahan hidup.

Hikam Ibnu 'Atoillah

108. أَنْعَمَ عَلَيْكَ أَوَّلاً بِالْإِيجَادِ، وَثَانِيًا بِتَوَالِي الْإِمْدَادِ.

Pada pertamanya Allah memberi kepadamu nikmat me- wujudkan (menjadikan), kemudian nikmat yang kedua : Melengkapi kebutuhan-kebutuhan wujudmu yang terus-menerus (yang kedua : Terus menerusnya bantuan Allah kepadamu).

Firman Allah :

وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً (لقمان: ٢٠)

Allah menuangkan kepadamu nikmat lahir dan batin yang terang dan yang samar, yang terasa dan yang tidak terasa.

Firman Allah :

وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَٰئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ * فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (الحجرات: ٧ - ٨)

Tetapi Allah yang mencintakan kamu kepada iman, dan Allah yang menghias iman itu dalam hatimu, dan Allah yang membencikan kamu kepada kufur (kekafiran) dan pelanggaran dan maksiat dosa. Mereka- lah orang yang dapat petunjuk. Itu semua kurnia dari Allah dan nikmat, dan Allah maha mengetahui lagi bijaksana. (Alhujaraat 8). Dzin-Nun AI-Misri berkata : Siapa yang di dalam tauhid itu merasa seolah-olah sebagai hasil kecerdasannya sendiri, maka tauhid itu tidak dapat menyelamatkannya dari api neraka, sehingga merasa bahwa tauhidnya itupun karunia dari Allah ta'ala.

Seorang apabila telah merasa asal kejadiannya dari Allah dan kelanjutannyapun dari Allah, merasa bahwa sifat fakirnya itu memang asli pada kejadiannya, dan ia tidak dapat melepaskan diri dari Tuhan yang dihajatkannya pada tiap detik dalam wujudnya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

109. فَاقَتُكَ لَكَ ذَاتِيَّةٌ، وَوُرُودُ الْأَسْبَابِ مُذَكِّرَةٌ لَكَ بِمَا خَفِيَ عَلَيْكَ مِنْهَا، وَالْفَاقَةُ الذَّاتِيَّةُ لاَ تَرْفَعُهَا الْعَوَارِضُ.

Kebutuhanmu itu adalah sifat asli dalam dzat kejadianmu sedang sebab-sebab (kejadian-kejadian) yang menghinggapi dirimu itu untuk mengingatkan engkau apa yang tersembunyi bagimu dari sifat aslimu itu, sedang kebutuhan yang asli itu tidak dapat dihindarkan oleh sesuatu yang sementara (fantasi). Apabila telah nyata bahwa wujudmu itu pemberian (ciptaan) Tuhan, demikian pula segala hajat kebutuhan tiap detik untuk kelanjutan hidup, itupun pemberian Tuhan, maka nyata, bahwa kebutuhan dan kemiskinanmu itu asli dalam kejadianmu, maka jika engkau merasa seolah-olah tidak berhajat karena sudah hidup, maka hal itu sesuatu yang hinggap sementara terasa ketika engkau lupa dari asal kejadianmu, maka Allah memberi padamu peringatan berupa penyakit, lapar, haus, panas, dingin dan lain-lainnya untuk memperingatkan kepada keaslianmu. Sedang segala sesuatu yang fantasi atau sementara tidak dapat merubah yang asli.

Hikam Ibnu 'Atoillah

110. خَيْرُ أَوْقَاتِكَ وَقْتٌ تَشْهَدُ فِيهِ وُجُودَ فَاقَتِكَ، وَتُرَدُّ فِيهِ إِلَى وُجُودِ ذِلَّتِكَ.

Sebaik-baik saat dalam masa hidupmu, ialah saat-saat di mana engkau merasa dan mengakui kebutuhanmu, dan kembali kepada adanya kerendahan dirimu. Sebaik-baik saat dalam masa hidupmu, ialah saat ingat kepada Tuhan dan putus hubungan dengan segala sesuatu yang lainnya. Yaitu pada saat merasakan benar-benar kebutuhanmu kepada Tuhan. Sedang segala sesuatu yang lain tidak dapat menolong meringankan kebutuhan- mu. Dan pada saat tidak ada pandangan yang lain dari Allah, maka pada saat itu murnilah pengertian tauhidmu kepada Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

111. مَتَى أَوْحَشَكَ مِنْ خَلْقِهِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَفْتَحَ لَكَ بَابَ الْأُنْسِ بِهِ.

Apabila Allah telah menjemukan engkau dari makhluk, maka ketahuilah bahwa Allah akan membukakan untukmu perasaan jinak, dan senang kepada Allah. Apabila engkau telah merasa jemu kepada makhluk, karena merasa bahwa mereka tidak bermanfaat bagimu, bahkan ada kalanya membawa madharrat/bahaya bagimu, maka di saat yang demikian engkau merasa jinak senang kepada Allah. Riwayat Abu Yazid Al-Busthamy ketika ia diperlihatkan oleh Allah alam malakut, kemudian ditanya : Adakah sesuatu yang menyenangkan engkau ? Jawabnya : Tidak. Maka dikatakan kepadanya : Engkau hamba Allah yang sesungguhnya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

112. مَتَى أَطْلَقَ لِسَانَكَ بِالطَّلَبِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ يُرِيدُ أَنْ يُعْطِيَكَ.

Apabila Allah telah melepaskan lidahmu untuk meminta, maka ketahuilah bahwa Allah akan memberi kepadamu.

Abdullah bin Umar ra. berkata : Rasulullah saw. bersabda : Siapa yang telah mendapat izin untuk berdoa, berarti telah dibukakan baginya pintu rahmat, dan tiada dimintai sesuatu yang lebih disukai oleh Allah daripada dimintai maaf dan selamat dunia akherat. Lain Hadits : Rasulullah saw. bersabda : Siapa yang telah diberi kesempatan berdoa, maka tidak akan diharamkan dari ijabah (di- terimanya doa). Anas bin Malik ra. berkata : Rasulullah saw. bersabda : Apabila Allah kasih sayang pada seorang hamba, maka dituangkan kepadanya bala', maka bila ia berdoa, berkata Malaikat : Suara yang sudah terkenal. dan berkata Jibril : Tuhanku, hambaMu Fulan, sampaikan hajatnya. Jawab Allah : Biarkan hambaKu, Aku suka mendengar suaranya. maka apabila hamba berkata : Ya Rabbi. Jawab Tuhan : Labbaika hambaKu, tiada engkau berdoa melainkan Aku sambut, dan n Abdi pade Khalgnya)

tiada engkau minta suatu melainkan pasti Aku berikan, Imma (ada kalanya) Aku segerakan untukmu, atau Aku simpan untukmu yang lebih baik bagimu, atau tolak daripadamu bala' yang lebih besar dari itu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

113. الْعَارِفُ لاَ يَزُولُ اضْطِرَارُهُ، وَلاَ يَكُونُ مَعَ غَيْرِ اللهِ قَرَارُهُ.

Seorang aarif tidak kunjung hilang rasa hajat kebutuhannya, dan tidak pernah merasa tenang, atau bersandar pada sesuatu selain Allah ta'ala. Seorang aarif (wali) yaitu yang tetap merasa berhajat kepada Allah, sebab memang tidak ada sesuatu yang dapat memuaskan kepadanya selain Allah. Juga karena sadar benar-benar terhadap kekuasaan Allah di samping kelemahan dan kebutuhan diri sendiri kepada Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

114. أَنَارَ الظَّوَاهِرَ بِأَنْوَارِ آثَارِهِ، وَأَنَارَ السَّرَائِرَ بِأَنْوَارِ أَوْصَافِهِ، لِأَجْلِ ذٰلِكَ أَفَلَتْ أَنْوَارُ الظَّوَاهِرِ وَلَمْ تَأْفُلْ أَنْوَارُ الْقُلُوبِ وَالسَّرَائِرِ، وَلِذٰلِكَ قِيلَ: إِنَّ شَمْسَ النَّهَارِ تَغْرُبُ بِاللَّيْلِ، وَشَمْسَ الْقُلُوبِ لَيْسَتْ تَغِيبُ.

Allah telah menerangi alam dengan cahaya makhluknya, dan menerangi hati dengan nur (cahaya) sifatnya, maka karena itu terbenam cahaya alam dan tidak dapat terbenam nur (cahaya) hati dan sir. Kata seorang syair : "Sesungguhnya matahari siang itu terbenam di waktu malam". "Tetapi matahari hati tidak pernah terbenam" Sahl bin Abdullah ketika ditanya tentang makanan (qut) Jawabnya : Huwa alhayyul ladzi laa yamut (la yang hidup dan tiada mati). Penanya berkata : Saya tidak bertanya tentang makanan itu, telapi makanan yang menegakkan (menguatkan) Jawabnya : Ilmu. Ketika ditanya : Makanan sehari-hari yang lazim ? Jawabnya : Dzikir. Ditanya : makanan jasmani ? Jawabnya : Apa urusanmu dengan jasmani, biarkan pada yang membuat pada mulanya dia akan mengurusi selanjutnya, jika ada kerusakan kembalikan kepada yang membuat, tidakkah sudah lazim, buatan sesuatu jika rusak dikembalikan kepada yang membuat untuk diperbaiki. Allah menerangi alam dengan nur (cahaya) bulan, bintang dan matahari yang semua itu makhluk yang rusak dan berubah, tetapi Allah menerangi hati (sir) dengan nur (cahaya), ilmu dan ma'rifat yang langsung dari sifat-sifat Allah, maka karenanya tidak dapat suram terbenam.

Hikam Ibnu 'Atoillah

115. لِيُخَفِّفْ أَلَمَ الْبَلاَءِ عَلَيْكَ عِلْمُكَ بِأَنَّهُ سُبْحَانَهُ هُوَ الْمُبْلِي لَكَ، فَالَّذِي وَاجَهَتْكَ مِنْهُ الْأَقْدَارُ هُوَ الَّذِي عَوَّدَكَ حُسْنَ الاِخْتِيَارِ.

Seharusnya terasa ringan kepedihan bala' yang menimpa kepada- mu, karena engkau mengetahui bahwa Allah yang menguji padamu, maka Tuhan yang menimpakan kepadamu takdirnya itu. Dia pula yang telah biasa memberi kepadamu sebaik-baik apa yang dipilihkan untukmu (Dialah yang membiasakan kau merasakan sebaik-baik pilihannya (pemberiannya).

Abu Ali Addaqgaq berkata : Suatu tanda bahwa seorang itu men- dapat taufiq kurnia Allah, ialah terpeliharanya iman (tauhid) di waktu menghadapi bala' ujian bencana.

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ (البقرة: ٢١٦)

Mungkin kamu tidak suka pada sesuatu, padahal itu baik untukmu.

Abu Thalib Al-Makki berkata : Manusia tidak suka miskin, hina dan penyakit, padahal itu semua mungkin baik baginya untuk bekal di akherat, sebaliknya ia suka kaya, sehat dan ternama/terkenal padahal semua itu bahaya di sisi Allah, dan jelek akibatnya.

Al-Junaid berkata : Ketika saya tidur di tempat Assariyu Sagathy, tiba-tiba saya dibanguni, lalu ia berkata : Ya Junaid, saya telah bermimpi seolah-olah berhadapan dengan Allah, lalu Allah berkata kepadaku: Hai Sari, ketika Aku menjadikan makhluk maka semua mengaku cinta kepadaKu, kemudian Aku membikin dunia, maka lari daripadaKu sembilan puluh persen (90%) dan tinggal hanya sepuluh persen (10%), kemudian Aku membuat surga, maka lari daripadaKu sembilan puluh persen dari sisanya itu, kemudian Aku membuat neraka, maka lari daripadaKu sembilan puluh persen dari sisanya itu, kemudian Aku turunkan bala' maka lari daripadaKu sembilan puluh persen dari sisa-sisa sten Abdi pads Khalanve)

itu. Maka Aku berkata kepada sisa yang tinggal itu : Dunia kamu tidak mau, surga juga kamu tidak suka, neraka kamu tidak takut, dari bala' musibat juga kamu tidak lari, maka apakah keinginanmu? Jawab : Engkau telah mengetahui keinginan kami. Aku berkata : Aku akan menuangkan kepadamu bala' yang tidak akan sanggup menanggungnya walau bukit yang besar. Sabarkah kamu ? Jawab mereka : Apabila Engkau yang menguji, maka terserahlah kepadamu (berbuatlah sekehendakmu), maka mereka itulah hambaKu yang sebenarnya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

116. مَنْ ظَنَّ انْفِكَاكَ لُطْفِهِ عَنْ قَدَرِهِ فَذٰلِكَ لِقُصُورِ نَظَرِهِ.

bala' ujian yang ditakdirkan oleh Allah, maka yang demikian itu disebabkan karena piciknya (dangkalnya) pandangan ımannya.

Rasulullah saw. bersabda :

لَا تَتَّهِمِ اللهَ فِي شَيْءٍ قَضَاهُ عَلَيْكَ.

Jangan menuduh tidak baik terhadap segala apa yang telah ditakdirkan Allah untukmu. Rasulullah bersabda : Jika Allah kasih pada seorang hamba, maka diuji dengan bala', maka jika sabar dipilihnya, dan jika telah rela maka diistimewakan.

Abuhurairah ra. berkata : Bersabda Rasulullah saw. : Siapa yang dikehendaki oleh Allah untuknya kebaikan, maka diujinya dengan mushibah bala'.

Abuhurairah dan Abu Said ra. keduanya berkata : Bersabda Rasulullah saw. : Tiada sesuatu yang mengenai seorang mukmin berupa penderitaan atau kelelahan (penat) atau risau hati/fikiran melainkan kesemuanya itu akan menjadi penebus dosanya. (Bukhary, Muslim).

Ibn Mas'ud ra. berkata : Rasulullah saw. bersabda : Tiada seorang muslim yang terkena mushibah bala' gangguan atau penyakit, dan yang lebih ringan dari itu melainkan Allah menggugurkan dosanya bagaikan gugurnya daun pohon. Dangkal (picik)nya pandangan, sehingga tidak dapat melihat adanya nikmat rahmat kurnia Allah dalam takdir mushibah bala' itu, hanya karena lemahnya iman keyakinan, dan tidak adanya husnudhdhan terhadap Allah ta'ala yang maha bijaksana dan rahmat. Imraan bin Hushain ra. menderita penyakit buang air tiga puluh tahun tidak dapat bergerak dari tempat tidurnya, sehingga dibuatkan lubang di bawah tempat tidur untuk kencing dan buang airnya, pada suatu hari datang saudaranya Al Alaa' atau Mutharrif bin Asysyikhkhir, lalu menangis melihat penderitaan Imraan bin Alhushain, maka ditanya oleh Imraan : Mengapakah engkau menangis ? Jawabnya : Karena saya melihat keadaanmu, berkata Imraan : Jangan menangis, karena saya suka apa yang disukai oleh Allah untukku. Kemudian Imraan berkata : Saya akan berkata kepadamu semoga bermanfaat bagimu, tetapi jangan engkau buka kepada lain'orang, sehingga aku mati. Sesungguhnya para Malaikat berziarah kepadaku dan memberi salam kepadaku, sehingga saya merasa senang dengan adanya mereka. Urwah bin Azzubair ra. ketika menderita sakit yang oleh dokter diputuskan harus dipotong betisnya, maka ketika akan dilaksanakan oleh dokter akan diberi obat tidur supaya tidak terasa sakitnya dipotong betisnya itu, berkata Urwah : Jangan diberi obat tidur, tetapi teruskan potong betis tanpa obat tidur. Dan ketika digergaji betisnya tidak terdengar keluhan, kecuali ucapan Hasbi (cukup bagiku) yakni rahmat Allah). Dan setelah selesai operasinya, ia menyuruh pesuruhnya supaya mencuci dan membungkus potongan betisnya itu dan menguburkan- nya di kuburan kaum muslimin, lalu ia berkata : Allah telah mengetahui bahwa kaki itu tidak pernah saya gunakan berjalan kepada maksiat, lalu ia berkata : Ya Allah, jika Engkau ambil maka banyak sisanya, jika Engkau memberi bala' masih banyak selamatnya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

117. لاَ يُخَافُ عَلَيْكَ أَنْ تَلْتَبِسَ الطُّرُقُ عَلَيْكَ، وَإِنَّمَا يُخَافُ عَلَيْكَ مِنْ غَلَبَةِ الْهَوَى عَلَيْكَ.

Tidak dikuatirkan padamu bingung jalan, tetapi yang di- kuatirkan atasmu daripada menangnya hawa nafsu atas akal dan imanmu. Jalan untuk menuju kepada Tuhan sudah jelas, cukup tuntunan dalam kitab Allah atau sunnat Rasulullah. Baik ketika berbuat taat atau maksiat atau mendapat nikmat atau bala'. Jika berbuat taat hendaknya merasa itu sebagai kurnia Allah, jika berbuat dosa lekas

membaca istighfar dah bertobat, jika menerima nikmat harus syukur, jika menderita bala' harus sabar. Tetapi yang dikhawatirkan padamu ialah merajalelanya hawa nafsu, sehingga lupa terhadap 'Tuhan dan tidak mengenal tuntunan/jalan Tuhan.

Disalin