Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

110. خَيْرُ أَوْقَاتِكَ وَقْتٌ تَشْهَدُ فِيهِ وُجُودَ فَاقَتِكَ، وَتُرَدُّ فِيهِ إِلَى وُجُودِ ذِلَّتِكَ.

Sebaik-baik saat dalam masa hidupmu, ialah saat-saat di mana engkau merasa dan mengakui kebutuhanmu, dan kembali kepada adanya kerendahan dirimu. Sebaik-baik saat dalam masa hidupmu, ialah saat ingat kepada Tuhan dan putus hubungan dengan segala sesuatu yang lainnya. Yaitu pada saat merasakan benar-benar kebutuhanmu kepada Tuhan. Sedang segala sesuatu yang lain tidak dapat menolong meringankan kebutuhan- mu. Dan pada saat tidak ada pandangan yang lain dari Allah, maka pada saat itu murnilah pengertian tauhidmu kepada Allah.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

058. مِنْ عَلاَمَاتِ مَوْتِ الْقَلْبِ عَدَمُ الْحُزْنِ عَلَى مَا فَاتَكَ مِنَ الْمُوَافَقَاتِ، وَتَرْكُ النَّدَمِ عَلَى مَا فَعَلْتَهُ مِنْ وُجُودِ الزَّلاَّتِ.

Sebagian daripada tanda matinya hati, yaitu jika tidak merasa sedih (susah) karena tertinggalnya suatu amal perbuatan kebaikan, (kewajiban), juga tidak menyesal jika terjadi berbuat suatu pelanggaran dosa.

Dalam suatu hadits Rasulullah saw. bersabda :

مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ فَهُوَ مُؤْمِنٌ.

Siapa yang merasa senang oleh amal kebaikannya, dan merasa sedih/menyesal atas perbuatan dosanya, maka ia seorang mukmin (beriman). * Abdullah bin Mas'ud ra. berkata : Ketika kami dalam majlis Rasulullah saw. tiba-tiba datang seorang turun dari kendaraannya dan mendekat kepada Nabi saw. dan berkata : Ya Rasulullah, saya telah melelahkan kendaraanku selama sembilan hari, maka saya jalankan terus menerus selama enam hari, tidak tidur diwaktu malam dan puasa pada siang hari, hingga lelah benar kendaraanku ini, keperluannya hanya untuk menanyakan kepadamu dua masalah yang telah merisaukan hatiku hingga tidak dapat tidur. Lalu ditanya oleh Nabi saw. : Siapakah engkau ? Jawabnya : Zaidul-Khoir. Berkata Nabi : Engkau Zaidul-Khoir, tanyakanlah kemungkinan sesuatu yang sukar itu aku sudah pernah ditanyainya. Berkata Zaid : Saya akan bertanya kepadamu tandanya orang yang disukai oleh Allah dan yang tidak disukai (yang dimurkai)? Jawab Nabi saw : Untung, untung, bagaimanakah keadaanmu kini hai Zaid Jawab Zaid : Saya kini suka kepada amal kebaikan dan orang-orang yang melakukan amal kebaikan, bahkan suka akan tersebarnya amal kebaikan itu, dan bila aku ketinggalan merasa menyesal dan rindu pada kebaikan itu, dan bila aku berbuat amal sedikit atau banyak, tetap saya yakin akan pahalanya. Jawab Nabi saw. : Ya itu, yaitulah dia, andaikan Allah tidak suka kepadamu, tentu engkau disiapkan untuk melakukan yang lain dari itu, dan tidak perduli di jurang yang mana engkau akan binasa. Berkata Zaid : Cukup-cukup, lalu ia berangkat kembali di atas kendaraannya itu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

090. بَسَطَكَ كَيْ لاَ يُبْقِيَكَ مَعَ الْقَبْضِ، وَقَبَضَكَ كَيْ لاَ يَتْرُكَكَ مَعَ الْبَسْطِ، وَأَخْرَجَكَ عَنْهُمَا كَيْ لاَ تَكُونَ لِشَيْءٍ دُونَهُ.

Allah melapangkan bagimu, supaya engkau tidak selalu dalam kesempitan, dan Allah menyempitkan bagimu supaya engkau tidak hanyut dalam kelapangan, dan Allah melepaskan engkau dari keduanya, supaya engkau tidak bergantung kepada sesuatu selain Allah. Allah merubah-rubah keadaanmu dari sedih ke gembira, dari sehat ke sakit, dari kaya ke miskin, dari terang ke gelap, supaya mengerti bahwa engkau tidak bebas dari hukuman ketentuanNya, supaya selalu engkau berdiri di atas landasan LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAH. (Tidak ada daya untuk mengelakkan sesuatu dan tidak ada kekuatan untuk melaksanakan sesuatu, kecuali dengan pertolongan Allah ta'ala).

Firman Allah :

لِّكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ (الحديد: ٢٣)

Supaya kamu tidak sedih (menyesal) terhadap apa yang terlepas dari tanganmu, dan tidak gembira atas apa yang diberikan kepadamu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

146. مَا أَحَبَّكَ إِلاَّ مَنْ صَحِبَكَ وَهُوَ بِعَيْبِكَ عَلِيمٌ، وَلَيْسَ ذٰلِكَ إِلاَّ مَوْلاَكَ الْكَرِيمُ، خَيْرُ مَنْ تَصْحَبُ مَنْ يَطْلُبُكَ لاَ لِشَيْءٍ يَعُودُ مِنْكَ إِلَيْهِ.

Sebenarnya bukan sahabatmu, kecuali yang bersahabat kepadamu, setelah ia mengetahui benar-benar kejelekanmu, dan tiada yang demikian itu kecuali Tuhanmu yang maha mengetahui. Sebaik- baik sahabatmu ialah yang selalu memperhatikan kepentinganmu, bukan karena suatu kepentingan yang diharap daripadamu untuk dirinya. Dan yang sedemikian itu juga tidak ada, kecuali Tuhan Allah sendiri tiada lain-lainnya. Sedangkan ayah dan ibu masih juga ada kepentingan- kepentingan dan pengharapan-pengharapan daripadamu, sedangkan di dunia tidak ada manusia yang kasih sayang kepadamu sebagaimana ayah dan ibu, demikian pula masih tidak sunyi dari harapan dan kepentingan.

Disalin