Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

117. لاَ يُخَافُ عَلَيْكَ أَنْ تَلْتَبِسَ الطُّرُقُ عَلَيْكَ، وَإِنَّمَا يُخَافُ عَلَيْكَ مِنْ غَلَبَةِ الْهَوَى عَلَيْكَ.

Tidak dikuatirkan padamu bingung jalan, tetapi yang di- kuatirkan atasmu daripada menangnya hawa nafsu atas akal dan imanmu. Jalan untuk menuju kepada Tuhan sudah jelas, cukup tuntunan dalam kitab Allah atau sunnat Rasulullah. Baik ketika berbuat taat atau maksiat atau mendapat nikmat atau bala’. Jika berbuat taat hendaknya merasa itu sebagai kurnia Allah, jika berbuat dosa lekas

membaca istighfar dah bertobat, jika menerima nikmat harus syukur, jika menderita bala’ harus sabar. Tetapi yang dikhawatirkan padamu ialah merajalelanya hawa nafsu, sehingga lupa terhadap ‘Tuhan dan tidak mengenal tuntunan/jalan Tuhan.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

245. الْعِلْمُ إِنْ قَارَنَتْهُ الْخَشْيَةُ فَلَكَ، وَإِلاَّ فَعَلَيْكَ.

Ilmu itu jika disertai rasa takut kepada Allah, maka itu yang menguntungkan bagimu, jika tidak maka itu bahaya bagimu. ulullah saw. bersabda: Tiap hari di mana aku tidak bertambah ilmu yang mendekatkan aku kepada Allah, maka berarti tidak berkat bagiku terbit matahari pada hari itu.

Rasulullah saw. bersabda : Akan keluar pada akhir zaman orang yang mencari (mencuri) dunia dengan kedok agama, memperlihatkan (memakai) di muka orang bulu domba karena lunak, lidahnya lebih manis dari madu, tetapi hatinya hati srigala. Allah akan berkata kepada mereka : Apakah kamu akan menentang kepadaKu, atau mempermainkan Aku, maka demi kebesaran-Ku Aku akan menurunkan terhadap mereka ujian fitnah, sehingga orang yang sabar tenang menjadi kebingungan.

Rasulullah saw. bersabda : Akan tiba suatu masa pada ummat manusia, tiada tinggal dari Qur'an kecuali tulisannya saja dan Islam hanya namanya belaka. Hati orang-orangnya kosong dari petunjuk hidayat, dan masjid hanya penuh jasad manusia yang tak berhati taqwa, sejahat manusia waktu itu ialah para ulama, sebab dari mereka sumber fitnah dan kepada mereka pula kembalinya.

Abuhurairah ra. berkata : Bersabda Nabi saw. : Siapa yang belajar ilmu agama, tidak untuk mencapai keridhaan Allah, tidak mempelajarinya kecuali untuk mencapai suatu kepentingan dunia, maka ia tidak akan mendapat (merasai) bau surga pada hari kiamat. Al-hasan ra. berkata : Siksa bagi seorang alim itu matinya hati. Ketika ditanya : bagaimana matinya hati itu ? Mencari dunia dengan menjual amal akherat.

Dan lebih jahat lagi jika ia menjilat-jilat kepada raja (pemerintah) untuk mencari keuntungan dari uang haram atau syubhat, maka yang demikian terang-terangan menentang murka Allah.

Abud-Dardaa' ra. berkata : Rasulullah saw. bersabda : Allah telah menurunkan wahyu pada salah seorang nabi : Katakanlah kepada orang-orang yang belajar figih agama, tidak untuk kepentingan agama, dan belajar tidak untuk diamalkan, mereka mencari dunia dengan amal akherat, memakai bulu kambing, tetapi hati mereka hati srigala, lidahnya lebih manis dari madu, dan hatinya lebih pahit dari jadam, apakah mereka akan mempermainkan Aku, atau mengejek kepadaKu, pasti akan Aku turunkan kepada mereka fitnah ujian, sehingga orang yang tenang sabar menjadi bingung.

Rasulullah saw. bersabda : Sesungguhnya Allah akan memperkuat/ menyebarluaskan agama ini dengan lidah seorang yang lacur/lancung Fargad Assindy bertanya pada Abul-Hasan Al-Bashry suatu masalah, dan setelah dijawab, ia berkata : Para fuqahaa' (ahli-ahli ilmu figih) berbeda dengan keteranganmu itu. Berkata Abul-Hasan : Pernahkah engkau melihat dengan mata kepalamu orang fagih (yang alim figih) itu. Seorang faqih ialah yang zuhud (tidak rakus) terhadap dunia, yang gemar akherat, yang waspada dalam agama, yang tetap pada taat ibadahnya, yang wara', tidak melukai kehormatan sesama muslim, yang menjauhi harta mereka, yang rajin beribadat, yang mengikuti sunnaturrasul, yang tidak membenci orang yang di atasnya, dan tidak menghina orang yang di bawahnya, yang tidak mencari dunia dengan ilmu yang diajarkannya oleh Allah. Berkata pengarang kitab Azzubad : Seorang alim yang tidak mengamalkan ilmunya akan disiksa sebelum menyembah berhala. Dan siapa yang bertambah ilmu tetapi tidak bertambah baik budi akhlaknya dan takutnya kepada Allah, maka tiada bertambah dekaı kepada Allah, bahkan bertambah jauh dari Allah ta'ala.

Hikam Ibnu 'Atoillah

105. رُبَّمَا فَتَحَ لَكَ بَابَ الطَّاعَةِ وَمَا فَتَحَ لَكَ بَابَ الْقَبُولِ، وَرُبَّمَا قَضَى عَلَيْكَ بِالذَّنْبِ فَكَانَ سَبَبًا فِي الْوُصُولِ.

Mungkin Allah membuka untukmu pintu taat, tetapi belum dibukakan bagimu kabul (penerimaan), sebagaimana ada kalanya ditakdirkan engkau berbuat dosa, tetapi menjadi sebab sampaimu (mendekatmu) kepada Allah.

Abuhurairah ra. berkata : Bersabda Nabi saw. : Demi Allah yang jiwaku ada di tanganNya, andaikan kamu tidak berbuat dosa, niscaya Allah menyingkirkan (mematikan) kamu dan diganti dengan orang-or- ang yang berbuat dosa lalu minta ampun kepada Allah, lalu diampuni oleh Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

262. دَلَّ بِوُجُودِ آثَارِهِ عَلَى وُجُودِ أَسْمَائِهِ، وَبِوُجُودِ أَسْمَائِهِ عَلَى ثُبُوتِ أَوْصَافِهِ، وَبِثُبُوتِ أَوْصَافِهِ عَلَى وُجُودِ ذَاتِهِ، إِذْ مُحَالٌ أَنْ يَقُومَ الْوَصْفُ بِنَفْسِهِ. فَأَرْبَابُ التَّجَلِّي يُكْشَفُ لَهُمْ عَنْ كَمَالِ ذَاتِهِ، ثُمَّ يُرْجَعُونَ إِلَى شُهُودِ صِفَاتِهِ، ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَى التَّعَلُّقِ بِأَسْمَائِهِ، ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَى شُهُودِ آثَارِهِ. وَالسَّالِكُونَ عَلَى عَكْسِ ذٰلِكَ، فَنِهَايَةُ السَّالِكِينَ بِدَايَةُ الْمَجْذُوبِينَ، وَبِدَايَةُ السَّالِكِينَ نِهَايَةُ الْمَجْذُوبِينَ، لٰكِنْ لاَ بِمَعْنًى وَاحِدٍ، فَرُبَّمَا الْتَقَيَا فِي الطَّرِيقِ، هٰذَا فِي تَرَقِّيهِ وَهٰذَا فِي تَدَلِّيهِ.

Terbukti dengan adanya makhluk (alam) atas adanya nama- nama Allah dan dengan nama-nama itu atas adanya sifat, dan dengan pastinya adanya, sifat-sifat itu atas adanya dzat Allah, sebab muhal (tidak dapat diterima oleh akal) adanya sifat yang berdiri sendiri tanpa dzat. Maka orang-orang yang maj-dzub pertama terbuka (terlihat) oleh mereka kesempurnaan dzat Allah, kemudian menurun melihat sifat-sifat Allah, dan menurun pula melihat (bersandar) kepada nama- nama Allah, sehingga menurun melihat makhluk buatan Allah, sebaliknya orang salik dari bawah naik ke atas, maka puncak orang salik sampai ke permulaannya orang maj-dzub, dan permulaan orang

salik itulah penghabisan orang maj-dzub, tetapi tidak berarti sama dalam segala-galanya, hanya saja ada kalanya bertemu di jalanan yang satu ketika sedang mendaki dan yang lain sedang menurun. Adanya makhluk alam ini menunjukkan (membuktikan) adanya nama-nama Allah : Qaadir, aliim, hakiim, murid dan adanya nama- nama itu pasti adanya sifat-sifat : Qudrat, iradat, ilmu dan tiap-tiap sifat pasti berdiri di atas dzat sebab sifat tidak berdiri sendiri, maka pasti pula adanya dzat Allah. Sedang sifat makhluk (manusia) ada yang maj-dzub (yakni langsung dibukakan oleh Allah dan sampai kepada ilmu/mengenal Allah) bukan dari bawah/saluran yang umum, dan ada yang melalui jalan biasa dari bawah ke atas yaitu orang yang disebut orang salik. Dan keduanya selama belum mencapai puncak akhirannya belum dapat dijadikan guru yang dapat ditiru. Orang maj-dzub jika belum mengetahui perjalanan orang salik dan orang salik jika belum sampai ke puncak yang didapat (dibukakan) bagi orang maj-dzub.

Disalin