Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

276. وَقَالَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مِمَّا كَتَبَ بِهِ لِبَعْضِ إِخْوَانِهِ: أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ الْبِدَايَاتِ مَرْآةُ النِّهَايَاتِ، وَإِنَّ مَنْ كَانَتْ بِاللهِ بِدَايَتُهُ كَانَتْ إِلَيْهِ نِهَايَتُهُ.

Berkată Ibn Atha’allah dalam surat yang ditulis untuk kawan-kawannya : Amma ba’du : Sesungguhnya bidayah (permulaan) itu bagaikan cermin yang memperlihatkan nihayah (puncak akhirnya). Dan siapa yang sejak mula (bidayahnya) selalu bersandar kepada Allah, maka pasti akhirnya (nihayahnya) akan sampai kepada Allah).

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

084. مَتَى رَزَقَكَ الطَّاعَةَ وَالْغِنَى بِهِ عَنْهَا فَاعْلَمْ أَنَّهُ قَدْ أَسْبَغَ عَلَيْكَ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً.

Apabila Allah telah memberi rizqi kepadamu berupa perasaan puas melakukan taat (ibadat) pada lahirmu, dan merasa cukup kaya dengan Allah dalam hatimu, sehingga benar-benar tidak ada sandaran bagimu kecuali allah. Maka ketahuilah bahwa Allah telah melimpahkan kepadamu nikmat lahir batin. Seorang hamba dituntut dua macam, yaitu menurut perintah dan meninggalkan larangan pada lahirnya, dan bersandar/berharap kepada Allah pada batinnya. Karena itu siapa yang diberi rizqi oleh Allah demikian, berarti telah menerima kurnia nikmat Allah yang lengkap lahir batın.

Hikam Ibnu 'Atoillah

149. لَوْلاَ ظُهُورُهُ فِي الْمُكَوَّنَاتِ مَا وَقَعَ عَلَيْهَا وُجُودُ أَبْصَارٍ، وَلَوْ ظَهَرَتْ صِفَاتُهُ لاَضْمَحَلَّتْ مُكَوَّنَاتُهُ.

Andaikan Allah tidak dhahir pada benda-benda alam ini, tidak mungkin adanya penglihatan padaNya, dan andaikan Allah mendhahirkan sifatNya pasti lenyaplah alam bendaNya.

Firman Allah :

فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا (الأعراف: ١٤٣)

Ketika Allah bertajalli kepada bukit, hancurlah (lenyaplah) bukit itu, sedang Nabi Musa jatuh pingsan.

Rasulullah saw. bersabda : Hijab Allah itu berupa cahaya, andaikan dibuka pasti akan terbakar segala sesuatu yang menghadapinya. n Abdi pada Khalanya)

Hikam Ibnu 'Atoillah

030. مَا مِنْ نَفَسٍ تُبْدِيهِ إِلاَّ وَلَهُ قَدَرٌ فِيكَ يُمْضِيهِ.

Tiada suatu nafas terlepas daripadamu, melainkan di situ pula ada takdir Allah yang berlaku di atasmu. Sebab pada tiap nafas hidup manusia pasti terjadi suatu taat atau maksiat, nikmat atau bala' (ujian). Berarti nafas yang keluar sebagai wadah bagi sesuatu kejadian, karena itu jangan sampai nafas itu terpakai untuk maksiat dan perbuatan terkutuk oleh Allah.

Disalin