Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

261. لاَ يَلْزَمُ مِنْ ثُبُوتِ الْخُصُوصِيَّةِ عَدَمُ وَصْفِ الْبَشَرِيَّةِ، إِنَّمَا مَثَلُ الْخُصُوصِيَّةِ كَإِشْرَاقِ شَمْسِ النَّهَارِ، ظَهَرَتْ فِي الْأُفُقِ وَلَيْسَتْ مِنْهُ، تَارَةً تُشْرِقُ شُمُوسُ أَوْصَافِهِ عَلَى لَيْلِ وُجُودِكَ، وَتَارَةً يَقْبِضُ ذٰلِكَ عَنْكَ فَيَرُدُّكَ إِلَى حُدُودِكَ، فَالنَّهَارُ لَيْسَ مِنْكَ وَإِلَيْكَ، وَلٰكِنَّهُ وَارِدٌ عَلَيْكَ.

Adanya sifat-sifat khushusiyah (kewalian) itu, tidak melazimkan, lengkapnya sifat-sifat manusia yang biasa dan umum. Sesungguhnya contoh/perumpamaan khushusiyah itu bagaikan terangnya matahari di waktu siang, tampak di ufuk tetapi bukan dari ufuk, ada kalanya terbit nur cahaya sifat-sifat Allah pada kegelapan kejadian wujudmu, dan ada kalanya dicabut yang demikian itu daripadamu, maka kembali engkau ke batas-batas asal kejadianmu, maka terang siang itu bukan daripadamu dan kepadamu tetapi ia datang menjelang padamu. Sifat-sifat khushusiyah (kewalian) seperti kasyaf terhadap sesuatu hal, atau kekuatan yang istimewa untuk berbuat dan mengadakan sesuatu, itu semua tidak melazimkan lenyap sifat-sifat manusia yang biasa, seperti kebodohan, kemiskinan dan kelemahan. Sama dengan sinar matahari terhadap benda-benda yang tadinya gelap mendapat cahaya matahari maka berubah menjadi terang, tetapi jika terbenam matahari itu kembali benda-benda itu kepada kegelapannya, sebab cahaya matahari itu tidak termasuk sifat dzatnya, maka apabila menerima nur tajalli maka tampak keluar dari padanya sifat-sifat Allah yang menerangi dzatnya itu, tetapi bila ditarik kembali nur

tajalli itu, maka kembalilah sifat-sifat yang asli pada manusia. Maka sifat-sifat khushusiyah (keistimewaan/kewalian) itu bukan sifat manusıa yang aslı, hanya menjelma (datang) kepadanya, pada sifat- sifat yang ditentukan Allah sendiri yang memberi itu.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

119. لاَ تُطَالِبْ رَبَّكَ بِتَأَخُّرِ مَطْلَبِكَ، وَلٰكِنْ طَالِبْ نَفْسَكَ بِتَأَخُّرِ أَدَبِكَ.

Jangan menuntut Tuhan karena terlambatnya permintaan yang telah engkau minta kepada Tuhan, tetapi hendaknya engkau koreksi dirimu, tuntut dirimu supaya tidak terlambat melaksanakan kewajiban- kewajibanmu terhadap Tuhanmu. Jika tidak tercapai hajat permintaanmu, maka jangan engkau mempunyai sangkaan jahat terhadap Allah, sebab Allah tidak dapat dituntut terhadap apa saja yang diperbuat, tetapi hendaknya perminta- anmu itu semata-mata untuk menunjukkan sifat kehambaanmu kepada Allah, dan hajat kebutuhanmu kepadaNya. Sebab terhadap segala kepentinganmu Allah tidak usah diingatkan, bahkan Allah telah melengkapi segala kebutuhanmu sebelum kau mengerti apakah hajat kebutuhanmu yang sebenarnya. Maka sebaiknya bila kau menyerah sebulat-bulatnya tanpa reserve tanpa usul apa-apa kepada Allah, hanya itulah yang dapat menenangkan jiwa fikiranmu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

246. مَتَى أَلَمَّكَ عَدَمُ إِقْبَالِ النَّاسِ عَلَيْكَ أَوْ تَوَجُّهُهُمْ بِالذَّمِّ إِلَيْكَ، فَارْجِعْ إِلَى عِلْمِ اللهِ فِيكَ، فَإِنْ كَانَ لاَ يُقْنِعُكَ عِلْمُهُ، فَمُصِيبَتُكَ بِعَدَمِ قَنَاعَتِكَ بِعِلْمِهِ أَشَدُّ مِنْ مُصِيبَتِكَ بِوُجُودِ الْأَذَى مِنْهُمْ.

Apabila menyakitkan hatimu (menyedihkan hatimu) tidak menghadapnya orang-orang kepadamu, atau celaan orang-orang kepadamu, maka selidikilah apa yang diketahui Allah dari perbuatanmu (maka koreksilah keadaan diri yang sebenarnya menurut apa yang diketahui oleh Allah), maka apabila engkau belum puas dengan apa yang sebenarnya telah diketahui oleh Allah itu, maka bala' yang menimpa kepadamu karena tidak puas terhadap yang telah diketahui oleh Allah itu, lebih besar dari bala' sekedar diganggu oleh sesama manusia. Seharusnya seorang hamba hanya memperhatikan ridha dan murka Tuhannya saja, tidak gembira kecuali jika diridhai oleh Tuhan dan tidak sedih kecuali jika dimurkai oleh Tuhan, adapaun puji dan celaan orang, maka tidak harus dihiraukan, sebab jika engkau di sisi Allah baik, maka biarpun dicela oleh semua manusia niscaya engkau tetap baik dan untung, sebaliknya jika engkau busuk disisi Allah, maka walaupun engkau dipuji- puji oleh semua manusia, maka engkau tetap tersiksa dan binasa. Contohnya para Nabi, Rasul dan wali mereka tidak selamat dari makian orang. Karena itu kewajibanmu ialah membereskan dan memperbaiki hubungan dengan Allah, asal sudah beres sudah cukup baik.

Hikam Ibnu 'Atoillah

055. مَا قَلَّ عَمَلٌ بَرَزَ مِنْ قَلْبٍ زَاهِدٍ، وَلاَ كَثُرَ عَمَلٌ بَرَزَ مِنْ قَلْبٍ رَاغِبٍ.

Tidak dapat dianggap kecil/sedikit amal perbuatan yang dilakukan dengan ikhlas (sepi ing pamrih) dan tidak dapat dianggap banyak amal yang dilakukan oleh seorang yang tidak ikhlas.

Ali bin Abi Thalib ra. berkata : Tumpahkan semua hasrat keinginanmu itu kepada usaha untuk diterimanya amal perbuatanmu, sebab tidak dapat dianggap kecil/sedikit amal perbuatan yang diterima oleh Allah :

Firman Allah :

اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللهُ مِنَ المُتَّقِيْنَ.

Sesungguhnya Allah hanya menerima amal perbuatan dari orang yang bertakwa (ikhlas baginya, dan tepat menurut ajarannya).

Abdullah bin Mas'ud ra. berkata : Dua rakaat yang dilakukan oleh orang alim yang mengerti dan ikhlas (tidak rakus kepada dunia), lebih baik dari ibadat orang-orang ahli ibadat sepanjang masa. Abu Sulaiman Addarany bertanya kepada Ma'ruf Al-Karkhi : Mengapakah orang-orang itu kuat taat sampai sedemikian rupa banyaknya? Jawabnya : Karena mereka telah membersihkan hati mereka daripada cinta kepada dunia, andaikata masih ada sedikit cinta dunia, tidak akan diterima dari mereka amal perbuatan itu. Seorang shalih mengeluh kepada Abu Abdilah Alqurasyi; bahwa ia telah berbuat berbagai amal kebaikan, tetapi belum bisa merasakan kelezatan amal kebaikan itu dalam hatinya. Jawab Abu Abdullah Alqurasyi : Karena engkau masih memelihara puteri iblis yaitu kesenangan dunia, dan lazimnya ayah itu selalu berziarah kepada puterinya.

Disalin