Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

248. إِذَا عَلِمْتَ أَنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَغْفُلُ عَنْكَ فَلاَ تَغْفُلْ أَنْتَ عَمَّنْ نَاصِيَتُكَ بِيَدِهِ.

Jika engkau telah mengetahui bahwa syaithan itu tidak pernah lupa kepadamu, maka engkau jangan lupa terhadap Tuhan yang nasibmu ada di tanganNya.

Firman Allah :

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا (فاطر: ٦)

Sesungguhnya syaithan itu musuhmu, maka nyatakanlah ia sebagai musuh. (Fathir 6). Yakni waspadalah daripadanya, karena ia sebagai musuh yang tidak ada masa damainya.

Abul-Abbas Almarsy berkata : Dalam memahami ayat ini ada suatu kaum yang berfaham bahwa mereka diperintah untuk memusuhi syaithan maka mereka mengerahkan segala tenaga untuk memusuhi, tetapi lain golongan mengartikan : Sesungguhnya, syaithan musuhmu, dan Aku (Allah) kekasihmu, maka orang-orang ini sibuk kepada yang dicintai dan lupa pada musuhnya, akhirnya Allah sendiri yang melindungi kekasihnya dari gangguan syaithan sebagai musuh itu.

Abu Hasim berkata : Siapakah syaithan itu sehingga harus ditakuti, demi Allah ia sudah pernah diikuti tetapi sama sekali tidak berguna menurut kepadanya, begitu pula ketika dilanggar maka juga tidak dapat berbuat apa-apa.

Abu Sulaiman Addarany berkata : Tidak ada makhluk yang lebih rendah dari syaithan, dan andaikan Allah tidak menyuruh kami berlindung kepada Allah daripadanya, niscaya saya tidak merasa gentar sama sekali daripada syaithan. Dzinnun Almisry berkata : Jika syaithan itu dapat melihat engkau dari arah yang tidak dapat anda melihatnya, maka Allah melihat padanya dari arah yang dia tidak melihat kepada Allah, karena itu berlindunglah kepada Allah dari gangguan syaithan. Malik bin Dinar berkata : Suatu musuh yang dapat melihat padamu sedang kau tidak dapat melihatnya, sungguh sukar perlawanannya, kecuali jika dilindungi oleh Allah.

Abu Saied Alkhudry berkata : Saya telah mendengar Rasulullah saw. bersabda : Iblis berkata kepada Tuhan : Demi kemuliaan dan kebesaranMu, saya tetap akan menyesatkan anak Adam selama ada

ruh dikandung badannya, maka dijawab oleh Allah : Demi kemuliaan dan kebesaranKu : Saya tetap akan mengampunkan anak Adam selama mereka minta ampun (membaca istighfar) kepadaKu.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

253. لاَ يُخْرِجُكَ عَنِ الْوَصْفِ إِلاَّ شُهُودُ الْوَصْفِ.

Tidak ada sesuatu yang dapat mengeluarkan (melepaskan) engkau dari sifat kesombonganmu, kecuali jika engkau melihat sifat-sifat Allah. Yakni selama engkau tidak memperhatikan dan ingat selalu kepada sifat ketuhanan, kebesaran dan kekuasaan Allah, maka selama itu engkau

merasa besar, kuasa dan congkak (sombong). Selama engkau tidak melihat sifat kesempurnaan Allah, maka selama itu juga engkau tidak mengakui kekurangan-kekurangan atau kehambaan dirimu terhadap Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

209. أَوْجَبَ عَلَيْكَ وُجُودَ خِدْمَتِهِ، وَمَا أَوْجَبَ عَلَيْكَ إِلاَّ دُخُولَ جَنَّتِهِ.

Allah mewajibkan kepadamu berbuat taat, padahal yang sebenarnya hanya mewajibkan kepadamu masuk ke dalam surgaNya (dan tiada mewajibkan apa-apa kepadamu hanya semata-mata supaya masuk ke dalam surgaNya). Sebenarnya segala kewajiban-kewajiban yang diwajibkan oleh Allah kepada hamba semua itu semata-mata untuk kepentingan dan kemaslahatan hamba-hamba itu sendiri, sedang Allah sedikitpun tidak ada kepentingan manfaat atau madharrat. Abul Hasan Asshadzily berkata : Hendaknya engkau mempunyai satu wirid, yang tidak engkau lupakan selamanya, yaitu mengalahkan hawa nafsu dan cinta kepada Tuhan Allah swt. Nafas manusia ini sebagai amanat dari Tuhan, dan sebagai titipan wadah yang harus diisi. Dan hak ke Tuhanan tetap berlaku pada tiap detik yang harus dilakukan oleh hamba.

Abul-Hasan berkata : Pada tiap waktu (saat/detik) ada bagian yang mewajibkan kepadamu hai manusia terhadap Tuhan swt.

Hikam Ibnu 'Atoillah

002. إِرَادَتُكَ التَّجْرِيدَ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِي الْأَسْبَابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الخَفِيَّةِ، وَإِرَادَتُكَ الْأَسْبَابَ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِي التَّجْرِيدِ انْحِطَاطٌ مِنَ الْهِمَّةِ الْعَلِيَّةِ.

Keinginan untuk tajrid (melulu beribadat, tanpa berusaha dunia), padahal Allah masih menempatkan engkau pada golongan orang-orang yang harus berusaha (kasab) untuk mendapat kebutuhan sehari-hari, maka keinginanmu itu termasuk syahwat hawa nafsu yang samar (halus). Sebaliknya keinginanmu untuk berusaha kasab, padahal Allah telah menempatkan dirimu pada golongan orang yang melulu beribadat tanpa kasab, maka keinginan yang demikian berarti menurun dari semangat dan tingkat yang tinggi. Sebab kewajiban seorang hamba, menyerah kepada apa yang dipilihkan oleh majikannya. Lebih-lebih apabila majikan itu Tuhan Allah yang mengetahui benar-benar apa yang menguntungkan baginya dan yang menyusahkannya. Dan tanda bahwa Allah menempatkan dirimu dalam golongan orang yang harus berusaha kasab, apabila terasa ringan bagimu, sehingga tidak menyebabkan tertinggalnya sesuatu kewajiban dalam agamamu,juga menyebabkan kau tidak tamak (rakus) terhadap hak orang lain. Dan tanda bahwa Allah telah mendudukkan dirimu dalam golongan hamba yang tidak berusaha kasab : Apabila Tuhan memudahkan bagimu kebutuhan hidup dari jalan yang tidak disangka, kemudian jiwamu tetap tenang ketika terjadi kekurangan, karena tetap ingat dan bersandar kepada Tuhan, dan tidak berubah dalam menunaikan kewajiban-kewajiban. Syaithan sebagai musuh manusia, tidak suka bila melihat manusia itu tenang maka ia datang membisikkan kepada manusia, supaya tidak puas terhadap apa yang telah diberikan Allah kepadanya, dan selalu membayangkan kepadanya kesenangan, kemewahan, ketenangan lain orang untuk membangkitkan sifat tamak (rakus), iri hati terhadap apa yang bukan bagiannya, sehingga apabila ia telah melepaskan apa yang ia telah tenang, tentram itu untuk menurutkan sifat tamak rakusnya gagal amal perbuatannya dan kecewa. Firman Allah yang menunjukkan bagaimana tipu daya syaithan terhadap bapak Adam dan Hawa as.

مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَٰذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَن تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ . (الأعراف: ٢٠)

Berkata syaithan : Tuhan tidak melarang kamu mendekati pohon ini melainkan supaya kamu tidak dapat mencapai kedudukan Malaikat atau tidak dapat kekal.dalam surga. (S. Al -A'raf 20).

Dalam surat Thoha ayat 120 :

فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلَىٰ؟ (طه : ١٢٠)

Maka membisikkan syaithan, ia berkata : Hai Adam sukakah Aku tunjukkan kepadamu pohon khuldi, (sesuatu yang dapat mengekalkan) dan kekayaan yang takkan habis (rusak).

(S. Thoha 120).

Seorang berkata : Beberapa kali saya telah meninggalkan usaha kasab tetapi terpaksa kembali berkasab, sehingga akhirnya akulah yang di tinggalkan oleh kasab itu, maka tiadalah aku kembali kepadanya. Seorang murid merasa, bahwa untuk sampai kepada Allah dan masuk dalam barisan para wali dengan sibuk pada ilmu dhahir dan bergaul dengan sesama manusia agak jauh dan tak mungkin lalu ia pergi menghadap gurunya, tiba-tiba sebelum ia sempat bertanya, guru bercerita : Ada seorang terkemuka dalam ilmu dhahir, ketika ia dapat merasakan sedikit dari perjalanan ini, Ia datang kepadaku dan berkata : Aku akan meninggalkan kebiasaanku untuk mengikuti per- jalananmu. Jawab : Bukan itu yang harus kamu lakukan, tetapi tetapiah dalam kedudukanmu, sedang apa yang akan diberikan Allan kepadamu pasti sampai (tercapai) kepadamu (olehmu).

Disalin