Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

178. إِنَّمَا احْتَجَبَ لِشِدَّةِ ظُهُورِهِ، وَخَفِيَ عَنِ الْأَبْصَارِ لِعِظَمِ نُورِهِ.

Sesungguhnya terhijabnya Allah dari penglihatanmu karena sangat terangnya, dan samar dari penglihatan itu karena besarnya sinar cahaya nurnya.

Alat panca indera manusia sangat terbatas, maka untuk mencapai sesuatu harus tepat pada ukuran yang tertentu, jika sangat jauh tidak dapat dicapai. Demikian pula terangnya sesuatu yang akan dicapai harus dalam ukuran yang memungkinkan, sehingga gelap tidak dapat dicapai, demikian pula jika sangat terang menyilaukan juga tidak dapat dilihat. Kedua sebab ini sebenarnya bukan hijab sebab sesuatu itu tidak dapat terhijab oleh dzatnya sendiri, tetapi yang nyata kini yang menjadi hijab itu hanya kelemahan alat yang ada pada manusia itu sendiri. Kata pujangga dalam gubahan syairnya : “Dengan cahaya dapat menjadi terang semua yang engkau lihat dari bentuk gambar lukisan dan dengan nur itu juga adanya benda-benda alam ini, tidak dapat diragukan”. Tetapi ia menjadi samar karena sangat terangnya sehingga tidak tercapai oleh panca indera, tetapi dapat dicapai oleh orang yang tajam matahatinya. Maka apabila engkau melihat dengan matahatimu, tidak akan me- nemukan sesuatu yang terlukis pada benda-benda itu selain daripadanya. Dan apabila engkau mencari sesuatu hakikat dari lainNya, maka nyata engkau masih tergelincir oleh kebodohanmu sendiri.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

074. مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النِّعَمَ فَقَدْ تَعَرَّضَ لِزَوَالِهَا، وَمَنْ شَكَرَهَا فَقَدْ قَيَّدَهَا بِعِقَالِهَا.

Siapa yang tidak mensyukuri nikmat Tuhan, maka berarti berusaha untuk hilangnya nikmat itu, dañ siapa yang syukur atas nikmat berarti telah mengikat nikmat itu dengan ikatan yang kuat kukuh.

Firman Allah :

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ (إبراهيم: ٧)

Bila kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat bagimu.

Firman Allah :

وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ (النحل: ٥٣)

Tiada terjadi suatu nikmat bagimu melainkan itu dari Allah (maka itu dari Allah).

Firman Allah :

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ (الضحى: ١١)

Adapun terhadap nikmat pemberian Tuhanmu, maka kau pergunakan (ceritakan/sebarkan).

Annu'maan bin Basyir ra. berkata : Bersabda Nabi saw. : Siapa yang tidak mensyukuri nikmat yang sedikit, maka tidak akan dapat mensyukuri nikmat yang banyak, dan siapa yang tidak berterima kasih kepada sesama manusia berarti tidak bersyukur kepada Allah. Syukur : lalah merasa dalam hati, dan menyebut dengan lidah, dan mengerjakan dengan anggota badan.

Al-Junaid berkata : Ketika saya baru berusia 7 tahun hadir dalam majlis Assariyussagathi, tiba-tiba saya ditanya : Apakah arti syukur ? Jawabku : Syukur ialah tidak menggunakan suatu nikmat yang diberi Allah untuk perbuatan maksiat. Assary berkata: Saya kuatir kalau bagianmu dari kurnia Allah hanya dalam lidahmu belaka. Berkata Al-Junaid : Maka karena kalimat yang dikeluarkan oleh Assary itu saya selalu menangis, kuatir kalau benar apa yang dikatakan oleh Assary itu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

186. إِنَّمَا يُذَكَّرُ مَنْ يَجُوزُ عَلَيْهِ الْإِغْفَالُ، وَإِنَّمَا يُنَبَّهُ مَنْ يُمْكِنُ مِنْهُ الْإِهْمَالُ.

mungkin lupa, dan yang harus ditegor itu hanya mereka yang mungkin teledor (sembrono).

Abubakar A1-Wasithy ketika diminta untuk berdoa, ia berkata : Saya kuatir maka saya berdoa, lalu ditanya : Bila engkau minta hak milikmu, berarti engkau telah menuduh Kami dan bila engkau minta sesuatu yang bukan hakmu, berarti telah menyalah gunakan kewajiban- mu untuk memuji padaKu, dan bila engkau rela maka berjalan segala sesuatunya sebagaimana yang telah Kami putuskan dalam azal sejak dahulu kala sebelum menjadikan makhluk.

Abdullah bin Munazil berkata: Sejak lima puluh tahun saya tidak pernah berdoa minta kepada Allah, juga tidak ingin didoakan oleh lain orang, sebab segala sesuatu berjalan menurut apa yang telah ditetapkan oleh Allah dalam azal, sedang saya telah merasa puas dengan itu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

029. طَلَبُكَ مِنْهُ اتِّهَامٌ لَهُ، وَطَلَبُكَ لَهُ غَيْبَةٌ عَنْهُ، وَطَلَبُكَ لِغَيْرِهِ لِقِلَّةِ حَيَائِكَ مِنْهُ، وَطَلَبُكَ مِنْ غَيْرِهِ لِوُجُودِ بُعْدِكَ عَنْهُ.

Permintaanmu dari Allah mengandung pengertian menuduh Allah, kuatir tidak memberi kepadamu. Dan mintamu kepada Allah supaya mendekatkan dirimu kepadaNya, berarti engkau masih merasa jauh daripadaNya. Dan mintamu kepada Allah untuk mencapai kedudukan dunia akherat, membuktikan tiada malumu kepadaNya, dan permintaanmu kepada sesuatu selain dari Allah menunjukkan jauhmu dari padaNya. Permintaan hamba kepada Allah terbagi dalam empat macam, dan kemudian kesemuanya itu tidak tepat bila diteliti lebih jauh dan mendalam. Permintaan kepada Allah mempunyai pengertian menuduh, sebab sekiranya ia percaya bahwa Allah akan memberi tanpa minta, tidak akan minta, maka karena kuatir tidak diberi apa yang dibutuhkannya menurut pendapatnya, atau menyangka Allah melupakannya, dan lebih jahat lagi bila ia merasa berhak, tetapi oleh Allah belum juga diberi. Dan permintaanmu untuk tagarrub, menunjukkan bahwa engkau merasa ghaib daripadaNya. Sedang permintaanmu sesuatu dari kepentingan- kepentingan duniawi membuktikan tiada malunya dari-padaNya, sebab sekiranya engkau malu dari Allah tentu tidak merasa ada kepentingan bagimu selain mendekatkan kepadaNya. Sedang bila engkau minta d ıri sesuatu selain Allah, membuktikan jauhmu daripadaNya, sebab sekiranya engkau mengetahui bahwa Allah dekat kepadamu tentu engkau takkan minta kepada lainNya. Kecuali permintaan yang semata- mata untuk menurut perintah Allah. Hanya inilah yang tepat benar.

Disalin