Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

167. سُبْحَانَ مَنْ لَمْ يَجْعَلِ الدَّلِيلَ عَلَى أَوْلِيَائِهِ إِلاَّ مِنْ حَيْثُ الدَّلِيلُ عَلَيْهِ، وَلَمْ يُوصِلْ إِلَيْهِمْ إِلاَّ مَنْ أَرَادَ أَنْ يُوَصِّلَهُ إِلَيْهِ.

Maha Suci Allah yang sengaja tidak mengadakan suatu bukti (tanda) untuk para walinya, kecuali sekedar untuk mengenal kepada- nya, sebagaimana tidak menyampaikan (mempertemukan) dengan mereka kecuali pada orang yang akan disampaikan kepada Allah.

Abul-Abbas Almarsy berkata : Untuk mengenal seorang waliyullah itu lebih sukar daripada mengenal kepada Allah, sebab Allah mudah dikenal dengan adanya bukti-bukti kebesaran, kekuasaan dan keindahan buatanNya, tetapi untuk mengetahui seorang makhluk yang sama- sama dengan engkau : makan minum dan menderita segala penderitaan- mu sungguh sangat sukar. Tetapi jika Allah memperkenalkan engkau dengan seorang wali, maka Allah menutupi sifat-sifat manusia biasanya dan memperlihatkan kepadamu keistimewaan-keistimewaan yang diberikan oleh Allah kepada wali itu.

Dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman : Para waliKu dibawah naunganKu, tiada yang mengenal mereka dan mendekat kepada seorang

wali, kecuali jika Ałlah memberikan taufiq hidayatNya. Supaya ia langsung juga mengenal kepada Allah dan kebesaranNya yang diberikan kepada scorang manusia yang dikehendakiNya.

Abu Ali Al-Jurjay berkata : Seorang wali itu ialah orang yang fana (lupa pada dirinya, dan tetap (baga’)) dalam musyahadah dan melihat Tuhan. Allah yang mengatur segala-galanya, maka karena itu berturut- turut datang kepadanya nur ilahi. Dalam Al-Qur’an : Para wali ialah mereka yang beriman dan bertakwa. Dalam lain riwayat : Ialah mereka yang mengakui Rabbunallah (Tuhan kami Allah) dan istigamah (tetap tidak berubah). Dari itu merekalah yang merasa hidup aman tidak takut dan tidak berduka cita di dunia dan akherat.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

046. كَانَ اللهُ وَلاَ شَيْءَ مَعَهُ، وَهُوَ الْآنَ عَلَى مَا كَانَ عَلَيْهِ.

Telah ada Allah, dan tiada suatu di sampingNya, dan la kini sebagaimana adaNya semula. Demikian contoh magam fana', tiada melihat sesuatu kecuali Allah. Bagaikan seorang di dalam gedungnya, kemudian ia mengisi rumah dengan segala perabot dan boneka atau patung, lalu ditanya : Siapakah yang ada di dalam gedung itu ? Jawabnya : Hanya ia seorang, yakni semua boneka dan berhala itu tidak dapat disebut sebagai teman atau kawannya. Demikian orang ahli hakikat tidak melihat adanya sesuatu yang dapat disebut di samping Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

212. مَنْ لَمْ يَعْرِفِ النِّعَمَ بِوِجْدَانِهَا عَرَفَهَا بِوُجُودِ فِقْدَانِهَا.

Siapa yang tidak mengenal harga nikmat ketika adanya nikmat itu, maka ia akan mengetahui harga kebesaran nikmat setelah tidak adanya (lenyapnya). Sariy Assagathi berkata : Siapa yang tidak menghargai nikmat, maka akan dicabut nikmat itu dalam keadaan ia tidak mengetahui. Al-Fudhail bin Iyadh ra. berkata : Tetapkanlah mensyukuri nikmat, sebab jarang sekali nikmat yang telah hilang akan datang kembali. Sesungguhnya yang sangat mengetahui nikmat air itu, hanya orang yang benar-benar haus.

Rasulullah saw. bersabda : Jika seorang melihat pada orang yang lebih daripadanya kekayaan dan sehatnya, maka hendaklah juga melihat kepada orang yang lebih menderita daripadanya. Dalam lain riwayat Rasulullah saw. bersabda : Lihatlah kepada orang-orang yang dibawahmu, dan jangan melihat pada orang yang di atasmu, maka yang demikian itu lebih tepat untuk tidak meremehkan nikmat yang diberikan Allah kepadamu. Dan orang yang bahagia (untung) itu ialah yang dapat pengertian dengan pengalaman (dengan kejadian) yang terjadi pada lain orang. nikmat berarti membiarkannya hilang, dah siapa yang menyukurinya berarti telah mengikat nikmat itu dengan tali ikatnya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

034. مِنْ عَلاَمَاتِ النَّجْحِ فِي النِّهَايَاتِ الرُّجُوعُ إِلَى اللهِ فِي البِدَايَاتِ.

Suatu tanda akan lulusnya seorang pada akhir perjuangannya, jika selalu tawakkal, menyerah kepada Allah sejak mulai perjuangannya. Seorang arief berkata : Siapa yang menyangka bahwa ia akan dapat sampai kepada Allah, dengan perantaraan sesuatu selain Allah, pasti akan putus karenanya, Dan siapa dalam ibadatnya bersandar pada kekutan dirinya diserahkan oleh Allah kepada kekuatan dirinya. Yakni, hanya sampai disitu saja, dan tidak dapat mencapai bahagian- bahagian yang hanya dapat dicapai dengan tawakkal menyandarkan diri kepada Allah.

Disalin