Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

157. الزُّهَّادُ إِذَا مُدِحُوا انْقَبَضُوا لِشُهُودِهِمُ الثَّنَاءَ مِنَ الْخَلْقِ، وَالْعَارِفُونَ إِذَا مُدِحُوا انْبَسَطُوا لِشُهُودِهِمْ ذٰلِكَ مِنَ الْمَلِكِ الْحَقِّ.

Orang-orang zahid (ahli ibadat) jika dipuji merasa ketakutan, karena melihat pujian itu dari sesama makhluk, sebaliknya orang aarif jika dipuji merasa gembira karena mengerti benar-benar bahwa pujian itu langsung dari Allah raja yang hak. Karena itu Rasulullah mengajarkan secara umum : Siratkan (hamburkan) tanah di muka orang yang memuji-muji. Sedang Rasulullah sendiri ketika dipuji dengan gasidah oleh Hassan dan Ka’ab bin Zuhair, Rasulullah saw. menunjukkan kegembiraan bahkan melemparkan mantel (serban) kepada Ka’ab bin Zuhair. Dan suatu tanda bahwa ia seorang aarif bila ia tidak berubah dalam pujian maupun celaan orang, sebab yang diperhatikan hanya semata-mata hubungannya kepada Allah.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

100. كَفَى مِنْ جَزَائِهِ إِيَّاكَ عَلَى الطَّاعَةِ أَنْ رَضِيَكَ لَهَا أَهْلاً.

Cukup menjadi balasan Allah atas ketaatanmu, jika Allah ridha (rela) menjadikan engkau ahli taat/ibadat. Taufiq dan hidayah yang diberikan Allah kepada seorang hamba itu sebagai karunia yang sebesar-besarnya bagi seorang hamba, sebab dengan hidayat dan taufiq itulah seorang hamba dapat menerima nikmat dan bahagia dunia akherat.

Hikam Ibnu 'Atoillah

120. مَتَى جَعَلَكَ فِي الظَّاهِرِ مُمْتَثِلاً لِأَمْرِهِ، وَرَزَقَكَ فِي الْبَاطِنِ الاِسْتِسْلاَمَ لِقَهْرِهِ، فَقَدْ أَعْظَمَ الْمِنَّةَ عَلَيْكَ.

Apabila Allah telah menjadikan engkau pada lahirnya menurut perintahNya dan dalam hatimu menyerah bulat kepadaNya, maka berarti Tuhan memberi kepadamu sebesar-besar nikmat kurniaNya. Sebesar-besar nikmat kurnia Tuhan kepada hambanya ialah jika Allah telah memberi taufiq hidayat kepada hamba untuk melakukan segala perintah kemudian ditambah dengan fekuatan menyerah tawakkal kepada Allah dalam batinnya. Sebab Seseorang dengan dua nikmat lahir batin itu telah mencapai kebutuhan dunia dan akherat sekaligus. Sebab manusia hanya diperintah supaya beribadat dengan tulus ikhlas menuju kepada Allah, tentang segala kepentingan hajatnya sudah dicukupi oleh Allah, maka tidak usah menurutkan hawa nafsu yang tidak kunjung puas.

Hikam Ibnu 'Atoillah

061. لاَ عَمَلَ أَرْجَى لِلْقَبُولِ مِنْ عَمَلٍ يَغِيبُ عَنْكَ شُهُودُهُ وَيَحْتَقِرُ عِنْدَكَ وُجُودُهُ.

Tiada suatu amal kebaikan yang dapat diharapkan diterima oleh Allah, melebihi dari amal yang terlupa olehmu adanya dan remeh/kecil dalam pandanganmu kejadiannya. Amal kebaikan yang pasti diterima oleh Allah, yaitu jika merasa bahwa amal itu semata-mata terjadi karena taufiq hidayah dari Allah, kemudian ia tidak berbangga dengan amal itu, dan tidak merasa seolah- olah sudah cukup baik dengan adanya amal itu. Karena amal itu telah ditujukan kepada keridhaan Allah, maka tidak usah diingat-ingat lagi. Sebab siapa yang merasa sudah beramal, jarang sekali yang tidak merasa ujub/bangga dengan amalnya itu. Dan itu suatu bahaya bagi amal itu.

Disalin