Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

117. لاَ يُخَافُ عَلَيْكَ أَنْ تَلْتَبِسَ الطُّرُقُ عَلَيْكَ، وَإِنَّمَا يُخَافُ عَلَيْكَ مِنْ غَلَبَةِ الْهَوَى عَلَيْكَ.

Tidak dikuatirkan padamu bingung jalan, tetapi yang di- kuatirkan atasmu daripada menangnya hawa nafsu atas akal dan imanmu. Jalan untuk menuju kepada Tuhan sudah jelas, cukup tuntunan dalam kitab Allah atau sunnat Rasulullah. Baik ketika berbuat taat atau maksiat atau mendapat nikmat atau bala’. Jika berbuat taat hendaknya merasa itu sebagai kurnia Allah, jika berbuat dosa lekas

membaca istighfar dah bertobat, jika menerima nikmat harus syukur, jika menderita bala’ harus sabar. Tetapi yang dikhawatirkan padamu ialah merajalelanya hawa nafsu, sehingga lupa terhadap ‘Tuhan dan tidak mengenal tuntunan/jalan Tuhan.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

145. مَنْ أَكْرَمَكَ إِنَّمَا أَكْرَمَ فِيكَ جَمِيلَ سِتْرِهِ، فَالْحَمْدُ لِمَنْ سَتَرَكَ، لَيْسَ الْحَمْدُ لِمَنْ أَكْرَمَكَ وَشَكَرَكَ.

Siapa yang meng ormati kepa enarnya hanya meng- hormat keindahan tutup Allah kepadamu, oleh karena itu seharusnya pujian itu pada Tuhan yang menutupi engkau, bukan pada orang yang memuji dan terima kasih kepadamu. Tiap orang pasti ada cela kebusukannya yang andaikan diketahui oleh lain orang, pasti akan membenci dan tidak suka padanya, tetapi yang menyebabkan adanya orang yang memuji dan menghormati padanya, bukan semata-mata karena kebaikannya, tetapi karena Allah menutupi kebusukan dan cacatnya, maka pujian itu seharusnya kembali kepada Tuhan yang menutupi kebusukan (aibnya), bukan kepada orang yang tidak mengetahui kebusukannya. Tiap orang pasti mempunyai ciri- ciri dan kekurangan-kekurangan yang ia malu jika diketahui oleh lain orang, karena itu jika terjadi ada orang memuji kepadanya tidak lain karena indahnya tutup yang dipasang oleh Allah pada dirinya. Sehingga tertutup cela kekurangannya dan terlihat bagusnya semata-mata. Karena itu wajib ia bersyukur memuji kepada Allah yang menutupi dan tidak pada manusia yang memuj inya karena tidak tahu kejelekannya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

293. وَقَدْ أَوْحَى اللهُ إِلَى دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ: قُلْ لِلصِّدِّيقِينَ بِي فَلْيَفْرَحُوا، وَبِذِكْرِي فَلْيَتَنَعَّمُوا.

Allah telah mewahyukan kepada Nabi Dawud as. : Hai Dawud katakan kepada orang-orang siddiqin : Dengan Aku mereka hendaknya bersenang gembira, dan dengan berdzikir menyebut namaKu hendaknya mereka merasakan nikmat. Allah teiah menurunkan wahyu kepada Nabi Dawud as., supaya menyampaikan firman Allah kepada orang-orang yang benar-benar dalam iman percaya kepada Allah, supaya mereka hanya senang

kepada Allah tidak pada lain-lainnya, dan supaya mereka merasakan nikmat dalam berdzikir kepada Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

176. وَمَنْ أَحَبَّهُ لَمْ يُؤْثِرْ عَلَيْهِ شَيْئًا.

Dan siapa yang cinta pada Allah, tidak akan mengutamakan sesuatu yang lainnya.

Demikianlah siapa yang benar-benar mengenal kepada Allah, pasti ia selalu ingat pada Allah, pada tiap sesuatu apapun yang ia lihat, ia dengar dan rasa. Sebab tidak ada sesuatu melainkan menunjukkan keindahan, kekuasaan dan buatan Allah. Karena itulah siapa yang telah fana dengan Allah, sudah sungguh-sungguh ingatnya hanya kepada Allah, maka segala sesuatu yang ada di depannya seolah-olah sepi kosong dan bayangan belaka. Sedang siapa yang betul-betul cinta kepada Allah, maka pasti ia tidak akan mengutamakan sesuatu apapun selain Allah yang telah dicintainya itu, bahkan ia akan sanggup mengurbankan segala kepentingan dan hawa nafsunya di dalam mencapai keridhaan Allah swt. Sebab hakikat dari semua panca indera, penglihatan pendengaran dan perasaan itu semua bukan semata-mata karena adanya mata, telinga dan lidah atau hidung, tetapi semua membutuhkan nur ilahi yang langsung dari Allah, sehingga terangnya mata tanpa terangnya benda yang akan dilihat, tidak memungkinkan terlihat benda itu, maka dari kedua-duanya tetap mem- butuhkan nur ilahi yang langsung untuk panca indera dalam mencapai sesuatu apapun. Maka dengan pandangan yang sedemikian orang aarif selalu melihat pada Allah pada tiap apa saja yang dipandangnya. Yang setelah melihatnya fana dengan Allah dan lupa (ghaib) dari segala sesuatu selain Allah, kemudian cinta yang tidak ada taranya kepada Allah.

Disalin