Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

038. لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ، الْوَاصِلُونَ إِلَيْهِ، وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ السَّائِرُونَ إِلَيْهِ.

Hendaknya membelanjakan tiap orang kaya menurut kekaya- annya, ialah mereka yang telah sampai kepada Allah. Dan orang yang terbatas rizqinya yaitu orang sedang berjalan menuju kepada Allah.

Orang yang telah sampai kepada Allah, karena mereka telah terlepas dari kurungan melihat kepada sesuatu selain Allah, ke alam tauhid maka luaslah pandangan mereka, maka mereka berbuat di alam mereka lebih leluasa, sebaliknya orang yang masih merangkak-rangkak di dalam ilmu dan faham yang terbatas, mereka inipun mengeluarkan sekedarnya.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

157. الزُّهَّادُ إِذَا مُدِحُوا انْقَبَضُوا لِشُهُودِهِمُ الثَّنَاءَ مِنَ الْخَلْقِ، وَالْعَارِفُونَ إِذَا مُدِحُوا انْبَسَطُوا لِشُهُودِهِمْ ذٰلِكَ مِنَ الْمَلِكِ الْحَقِّ.

Orang-orang zahid (ahli ibadat) jika dipuji merasa ketakutan, karena melihat pujian itu dari sesama makhluk, sebaliknya orang aarif jika dipuji merasa gembira karena mengerti benar-benar bahwa pujian itu langsung dari Allah raja yang hak. Karena itu Rasulullah mengajarkan secara umum : Siratkan (hamburkan) tanah di muka orang yang memuji-muji. Sedang Rasulullah sendiri ketika dipuji dengan gasidah oleh Hassan dan Ka'ab bin Zuhair, Rasulullah saw. menunjukkan kegembiraan bahkan melemparkan mantel (serban) kepada Ka'ab bin Zuhair. Dan suatu tanda bahwa ia seorang aarif bila ia tidak berubah dalam pujian maupun celaan orang, sebab yang diperhatikan hanya semata-mata hubungannya kepada Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

143. أَنْتَ إِلَى حِلْمِهِ إِذَا أَطَعْتَهُ أَحْوَجُ مِنْكَ إِلَى حِلْمِهِ إِذَا عَصَيْتَهُ.

Engkau lebih membutuhkan maaf dan kesabaran Allah, ketika engkau berbuat taat, melebihi daripada kebutuhan ketika engkau berbuat maksiat dosa. Kemuliaan seorang hamba hanya ketika bersandar diri kepada Tuhannya, dan jatuhnya seorang hamba bila ia telah melihat dan berbangga dengan dirinya sendiri. Sedang manusia ketika berbuat taat merasa dirinya sudah baik lalu berbangga dengan amal perbuatannya itu, kemudian menghina pada lain orang. Padahal amal perbuatannya itu jika dikoreksi dalam hal keikhlasannya tidak mungkin akan diterima, bahkan amal itu semua hanya amal perbuatan yang palsu dan tidak berharga di sisi Allah. Allah telah menurunkan wahyu kepada seorang Nabi : Beritahukan kepada hamba-hambaKu yang siddiqin (yang sungguh-sungguh beribadat kepadaKu), janganlah kamu tertipu oleh kesombongan dengan amal per- buatanmu itu, karena apabila Aku menegakkan benar-benar keadilanKu pasti Aku akan menyiksa mereka dan tidak (bukan) suatu kedzaliman terhadap mereka. Dan katakan kepada hamba-hambaKu yang telah berbuat dosa : Janganlah kamu berputus harapan dari rahmatKu, sebab tidak ada suatu dosa yang tidak dapat Aku ampunkan. Abu Yazid Al-Bustamy berkata : Tobat karena berbuat maksiat itu cukup hanya satu kali, sedang tobat setelah berbuat taat harus seribu kali, sebab taat yang diliputi oleh ujub sombong itu berubah menjadi maksiat yang besar, dan orang tidak akan menyadarinya. Sebagaimana terjadi jatuhnya iblis dari singgasana kehormatannya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

253. لاَ يُخْرِجُكَ عَنِ الْوَصْفِ إِلاَّ شُهُودُ الْوَصْفِ.

Tidak ada sesuatu yang dapat mengeluarkan (melepaskan) engkau dari sifat kesombonganmu, kecuali jika engkau melihat sifat-sifat Allah. Yakni selama engkau tidak memperhatikan dan ingat selalu kepada sifat ketuhanan, kebesaran dan kekuasaan Allah, maka selama itu engkau

merasa besar, kuasa dan congkak (sombong). Selama engkau tidak melihat sifat kesempurnaan Allah, maka selama itu juga engkau tidak mengakui kekurangan-kekurangan atau kehambaan dirimu terhadap Allah.

Disalin