Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

116. مَنْ ظَنَّ انْفِكَاكَ لُطْفِهِ عَنْ قَدَرِهِ فَذٰلِكَ لِقُصُورِ نَظَرِهِ.

bala’ ujian yang ditakdirkan oleh Allah, maka yang demikian itu disebabkan karena piciknya (dangkalnya) pandangan ımannya.

Rasulullah saw. bersabda :

لَا تَتَّهِمِ اللهَ فِي شَيْءٍ قَضَاهُ عَلَيْكَ.

Jangan menuduh tidak baik terhadap segala apa yang telah ditakdirkan Allah untukmu. Rasulullah bersabda : Jika Allah kasih pada seorang hamba, maka diuji dengan bala’, maka jika sabar dipilihnya, dan jika telah rela maka diistimewakan.

Abuhurairah ra. berkata : Bersabda Rasulullah saw. : Siapa yang dikehendaki oleh Allah untuknya kebaikan, maka diujinya dengan mushibah bala’.

Abuhurairah dan Abu Said ra. keduanya berkata : Bersabda Rasulullah saw. : Tiada sesuatu yang mengenai seorang mukmin berupa penderitaan atau kelelahan (penat) atau risau hati/fikiran melainkan kesemuanya itu akan menjadi penebus dosanya. (Bukhary, Muslim).

Ibn Mas’ud ra. berkata : Rasulullah saw. bersabda : Tiada seorang muslim yang terkena mushibah bala’ gangguan atau penyakit, dan yang lebih ringan dari itu melainkan Allah menggugurkan dosanya bagaikan gugurnya daun pohon. Dangkal (picik)nya pandangan, sehingga tidak dapat melihat adanya nikmat rahmat kurnia Allah dalam takdir mushibah bala’ itu, hanya karena lemahnya iman keyakinan, dan tidak adanya husnudhdhan terhadap Allah ta’ala yang maha bijaksana dan rahmat. Imraan bin Hushain ra. menderita penyakit buang air tiga puluh tahun tidak dapat bergerak dari tempat tidurnya, sehingga dibuatkan lubang di bawah tempat tidur untuk kencing dan buang airnya, pada suatu hari datang saudaranya Al Alaa’ atau Mutharrif bin Asysyikhkhir, lalu menangis melihat penderitaan Imraan bin Alhushain, maka ditanya oleh Imraan : Mengapakah engkau menangis ? Jawabnya : Karena saya melihat keadaanmu, berkata Imraan : Jangan menangis, karena saya suka apa yang disukai oleh Allah untukku. Kemudian Imraan berkata : Saya akan berkata kepadamu semoga bermanfaat bagimu, tetapi jangan engkau buka kepada lain’orang, sehingga aku mati. Sesungguhnya para Malaikat berziarah kepadaku dan memberi salam kepadaku, sehingga saya merasa senang dengan adanya mereka. Urwah bin Azzubair ra. ketika menderita sakit yang oleh dokter diputuskan harus dipotong betisnya, maka ketika akan dilaksanakan oleh dokter akan diberi obat tidur supaya tidak terasa sakitnya dipotong betisnya itu, berkata Urwah : Jangan diberi obat tidur, tetapi teruskan potong betis tanpa obat tidur. Dan ketika digergaji betisnya tidak terdengar keluhan, kecuali ucapan Hasbi (cukup bagiku) yakni rahmat Allah). Dan setelah selesai operasinya, ia menyuruh pesuruhnya supaya mencuci dan membungkus potongan betisnya itu dan menguburkan- nya di kuburan kaum muslimin, lalu ia berkata : Allah telah mengetahui bahwa kaki itu tidak pernah saya gunakan berjalan kepada maksiat, lalu ia berkata : Ya Allah, jika Engkau ambil maka banyak sisanya, jika Engkau memberi bala’ masih banyak selamatnya.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

046. كَانَ اللهُ وَلاَ شَيْءَ مَعَهُ، وَهُوَ الْآنَ عَلَى مَا كَانَ عَلَيْهِ.

Telah ada Allah, dan tiada suatu di sampingNya, dan la kini sebagaimana adaNya semula. Demikian contoh magam fana', tiada melihat sesuatu kecuali Allah. Bagaikan seorang di dalam gedungnya, kemudian ia mengisi rumah dengan segala perabot dan boneka atau patung, lalu ditanya : Siapakah yang ada di dalam gedung itu ? Jawabnya : Hanya ia seorang, yakni semua boneka dan berhala itu tidak dapat disebut sebagai teman atau kawannya. Demikian orang ahli hakikat tidak melihat adanya sesuatu yang dapat disebut di samping Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

091. الْعَارِفُونَ إِذَا بُسِطُوا أَخْوَفُ مِنْهُمْ إِذَا قُبِضُوا، وَلاَ يَقِفُ عَلَى حُدُودِ الْأَدَبِ فِي الْبَسْطِ إِلاَّ قَلِيلٌ.

Orang aarif jika merasa lapang lebih kuatir (takut), dari pada jika berada dalam kesempitan, dan tidak dapat tegak di batas-batas adab dalam keadaan lapang itu kecuali sedikit sekali.

Abu Bakar Assiddiq ra. berkata : Kami diuji dengan kesukaran, maka kami tahan sabar, tetapi ketika diuji dengan kesenangan (kelapangan), hampir tidak sabar (tahan). Yusuf bin Husain Arrazy menulis surat kepada Al-Junaid : Semoga Allah tidak memberi kepadamu rasa kelezatan hawa nafsumu, sebab jika engkau merasakan kelezatannya, maka tidak akan merasakan kebaikan untuk selamanya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

213. لاَ تُدْهِشْكَ وَارِدَاتُ النِّعَمِ عَنِ الْقِيَامِ بِحُقُوقِ شُكْرِكَ، فَإِنَّ ذٰلِكَ مِمَّا يَحُطُّ مِنْ وُجُودِ قَدْرِكَ.

Jangan membingungkan kepadamu datangnya kurnia nikmat Allah yang bertimbun-timbun untuk menunaikan kewajiban mensyukurinya, sebab perasaan yang demikian berarti merendahkan harga dirimu sendiri.

Engkau diperintahkan mensyukuri nikmat Allah menurut kadar kekuatan yang diberikan Allah kepadamu, bukan sebanyak atau sebesar nikmat yang diberikan, sebab itu tidak mungkin engkau akan dapat menunaikannya, tetapi memberi nikmat yang besar sesuai dengan kebesaran Allah, sedangkan engkau diharuskan mensyukuri nikmat menurut kadar kelemahan/kekuatanmu. Nabi Dawud as. berkata : Tuhanku anak adam ini telah engkau beri pada tiap rambut ada nikmat di atas dan di bawahnya, maka bagaimana akan dapat menunaikan syukurnya kepadamu. Jawab Allah : Hai Dawud, Aku memberi sebanyak-banyaknya, dan rela menerima yang sedikit, dan untuk mensyukuri nikmat itu bila engkau mengetahui bahwa nikmat yang ada padamu itu daripadaKu.

Umar bin Abdul-Aziz ra. berkata : Tiadalah Allah memberikan suatu nikmat kepada hamba, kemudian hamba itu mengucap : duba ia m jah abis Alhamdulillah, melainkan nilai pujian Alhamdu lillah itu jauh lebih besar dari nikmat yang diberikan itu.

Disalin