Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

060. لاَ صَغِيرَةَ إِذَا قَابَلَكَ عَدْلُهُ، وَلاَ كَبِيرَةَ إِذَا وَاجَهَكَ فَضْلُهُ.

Tidak ada dosa kecil jika Allah menghadapi engkau dengan keadilanNya, dan tidak berarti dosa besar jika Allah menghadapimu dengan kurniaNya.

Nabi saw. bersabda :

لَا كَبِيرَةَ مَعَ الِاسْتِغْفَارِ وَلَا صَغِيرَةَ مَعَ الْإِصْرَارِ.

Tidak ada artinya dosa besar jika disertai dengan Istighfar (minta ampun), dan tidak dapat dianggap dosa kecil jika dikerjakan terus menerus.

Yahya bin Mu’aadz r.a. berkata : Jika Allah menggunakan keadilannya tidak berarti segala amal kebaikan, dan bila Allah menghadapi dengan kurniaNya maka tidak ada artinya segala dosa. • Yahya bin Mu’aadz dalam berdoa ia berkata : Tuhanku, jika Engkau kasih kepadaku, Engkau ampunkan semua dosaku, tetapi jika Engkau murka kepadaku tidak Engkau terima amal kebaikanku.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

136. كُنْ بِأَوْصَافِ رُبُوبِيَّتِهِ مُتَعَلِّقًا، وَبِأَوْصَافِ عُبُودِيَّتِكَ مُتَحَقِّقًا.

Bersandarlah selalu kepada sifat-sifat ke Tuhanan Allah, dan perhatikan sungguh-sungguh sifat-sifat kehambaanmu sendiri. Ingatlah selalu sifat-sifat ke Tuhanan Allah, yaitu : Kaya, kuasa, mengetahui mulya dan kuat, sedang sifat-sifat kehambaanmu ialah : Miskin, lemah, bodoh, hina dan tidak berdaya. Karena mengingati selalu kepada sifat-sifat ke Tuhanan, maka kita harus bersandar diri kepada- Nya untuk mendapatkan apa hajat kebutuhan kita itu. Tidak ada lain

jalan melainkan bersandar kepada Tuhan untuk mencapai semua hajat kebutuhan itu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

251. لَيْسَ الْمُتَوَاضِعُ الَّذِي إِذَا تَوَاضَعَ رَأَى أَنَّهُ فَوْقَ مَا صَنَعَ، وَلٰكِنَّ الْمُتَوَاضِعَ إِذَا تَوَاضَعَ رَأَى أَنَّهُ دُونَ مَا صَنَعَ.

Bukan orang yang tawadhu' itu, seorang yang bila bertawadhu' lalu merasa bahwa ia telah mengalah/merendahkan dirinya, tetapi orang tawadhu' itu ialah yang bila berbuat sesuatu merasa diri belum layak mendapatkan kedudukan itu.

Asysyibly berkata : Siapa yang merasa diri berharga, maka ia tidak bertawadhu' (maka tidak ada bagian dalam tawadhu').

Abu Sulaiman Addarany berkata : Seorang hamba tidak dapat bertawadhu' kepada Allah, hingga mengetahui kedudukan dirinya (letak dirinya). Abu Yazid berkata : Selama seorang itu merasa ada orang yang lebıh jahat daripadanya, maka ia sombong. Dan ketika ditanya : Bilakah seorang itu bertawadhu'? Jawabnya : Jika tidak merasa ada kedudukan atau kemuliaan, dan tawadhu' seseorang itu menurut kadar ma'rifatnya terhadap Tuhan dan dirinya. Muhammad bin Mugatil ketika dimintai doa oleh orang-orang, ia menangis sambil berkata : Semoga bukan sayalah yang menyebabkan kamu menderita bala bencana ini. Dan tanda bahwa ia benar-benar bertawadhu', jika ia tidak marah ketika dihina atau dicela.

Hikam Ibnu 'Atoillah

019. كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَ لِكُلِّ شَيْءٍ. كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَهُوَ الظَّاهِرُ قَبْلَ وُجُودِ كُلِّ شَيْءٍ.

Bagaimana akan dapat ditutupi oleh sesuatu, padahal la yang tampak pada tiap segala sesuatu. Bagaimana akan dapat dibayangkan, bahwa Allah dapat dihijab oleh sesuatu, padahal Allah yang ada dhahir sebelum adanya sesuatu.

Disalin