Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

113. الْعَارِفُ لاَ يَزُولُ اضْطِرَارُهُ، وَلاَ يَكُونُ مَعَ غَيْرِ اللهِ قَرَارُهُ.

Seorang aarif tidak kunjung hilang rasa hajat kebutuhannya, dan tidak pernah merasa tenang, atau bersandar pada sesuatu selain Allah ta’ala. Seorang aarif (wali) yaitu yang tetap merasa berhajat kepada Allah, sebab memang tidak ada sesuatu yang dapat memuaskan kepadanya selain Allah. Juga karena sadar benar-benar terhadap kekuasaan Allah di samping kelemahan dan kebutuhan diri sendiri kepada Allah.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

290. وَقَدْ قَالَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لِعَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا لَمَّا نَزَلَتْ بَرَاءَتُهَا مِنَ الْإِفْكِ عَلَى لِسَانِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا عَائِشَةُ! اشْكُرِي رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَقَالَتْ: وَاللهِ لاَ أَشْكُرُ إِلاَّ اللهَ. دَلَّهَا أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَلَى الْمَقَامِ الْأَكْمَلِ مَقَامَ الْبَقَاءِ الْمُقْتَضِي لِإِثْبَاتِ الْآثَارِ، وَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ. وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ يَشْكُرِ اللهَ مَنْ لاَ يَشْكُرِ النَّاسَ. وَكَانَتْ هِيَ فِي ذٰلِكَ الْوَقْتِ مَشْغُولَةً عَنْ شَاهِدِهَا غَائِبَةً عَنِ الْآثَارِ، فَلَمْ تَشْهَدْ إِلاَّ الْوَاحِدَ الْقَهَّارَ.

Abubakar Assiddiq ra. telah berkata kepada 'Aisyah ra. ketika Allah menurunkan ayat yang menerangkan kesuciannya dari tuduhan-tuduhan orang munafiq yang diturunkan kepada Rasulullah saw. : Hai 'Aisyah bersyukur (terima kasih)lah kepada Rasulullah saw. Jawab 'Aisyah : Demi Allah, saya tidak akan bersyukur melainkan kepada Allah. Abubakar menunjukkan kepadanya tingkat kedudukan yang lebih sempurna yaitu bagaa' yang mengakui adanya makhluk. Sedang Allah telah berfirman : Syukurlah kepadaKu dan kepada kedua ayah bundamu. Juga Rasulullah saw. bersabda : Tidak bersyukur kepada Allah, orang yang tidak berterima kasih terhadap sesama manusia. Tetapi Siti A'isyah ra. ketika itu sedang terpengaruh dari perasaannya, lupa dari semua makhluk, sehingga tidak melihat sesuatu kecuali dzat Allah yang Esa dan Maha Kuasa.

Hikam Ibnu 'Atoillah

041. الْحَقُّ لَيْسَ بِمَحْجُوبٍ، وَإِنَّمَا الْمَحْجُوبُ أَنْتَ عَنِ النَّظَرِ إِلَيْهِ، إِذْ لَوْ حَجَبَهُ شَيْءٌ لَسَتَرَهُ مَا حَجَبَهُ، وَلَوْ كَانَ لَهُ سَاتِرٌ لَكَانَ لِوُجُودِهِ حَاصِرٌ، وَكُلُّ حَاصِرٍ لِشَيْءٍ فَهُوَ لَهُ قَاهِرٌ، وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ.

Alhaq yaitu Allah ta'ala, tiada terhijab oleh sesuatu apapun, sebab tidak mungkin adanya sesuatu yang dapat menghijab Allah ta'ala. sebaliknya manusialah yang terhijab sehingga tidak dapat melihat adanya Allah. Sebab sekiranya ada sesuatu yang menghijab Allah, berarti sesuatu itu dapat menutupi Allah, dan andaikata ada tutup bagi Allah, berarti wujud Allah dapat terkurung, dan sesuatu yang mengurung itu, dapat menguasai yang dikurung, padahal Allah yang berkuasa atas semua makhlukNya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

216. كَمَا لاَ يُحِبُّ الْعَمَلَ الْمُشْتَرَكَ، كَذٰلِكَ لاَ يُحِبُّ الْقَلْبَ الْمُشْتَرِكَ، الْعَمَلُ الْمُشْتَرَكُ لاَ يَقْبَلُهُ، وَالْقَلْبُ الْمُشْتَرِكُ لاَ يُقْبِلُ عَلَيْهِ.

Sebagaimana Allah tidak menerima amal yang dipersekutu- kan dengan lainNya, demikian pula Allah tidak suka pada hati yang bersekutu. Amal perbuatan yang dipersekutukan kepada suatu selain Allah tidak akan diterima oleh Allah, dan hati yang bersekutu tidak menghadap kepadaNya (Allah). Amal perbuatan yang bersekutu ialah riya', sum'ah dan yang dibuat- buat, dan hati yang bersekutu yaitu yang masih merasa cinta kepada lain Allah dan mengharap atau takut atau menyandar kepada lain Allah.

Disalin