Apabila Allah membukakan bagimu pengertian (faham) tentang penolakanNya, maka berubahlah penolakan itu berarti (menjadi) pemberian. bijaksanaanNya dalam apa yang dijauhkannya daripadamu, maka itu berarti suatu kurnia Tuhan kepadamu, sehingga terasa olehmu keselamatanmu dunia dan akheratmu.
132. مَتَى طَلَبْتَ عِوَضًا عَلَى عَمَلٍ طُولِبْتَ بِوُجُودِ الصِّدْقِ فِيهِ، وَيَكْفِي الْمُرَبَّى وِجْدَانُ السَّلاَمَةِ.
Apabila engkau menuntut upah/pahala untuk sesuatu amal perbuatan, pasti engkau juga akan dituntut kesempurnaan dan keikhlasanmu dalam amal perbuatan itu. Dan bagi seorang yang merasa belum sempurna, harus merasa cukup puas jika ia telah selamat dari tuntutan. Khair Annassaj berkata : Timbangan amalmu itu sesuai dengan perbuatanmu, karena itu mintalah kemurahan kurniaNya, dan itulah yang baik bagimu. Al-Wasithy berkata: Ibadat-ibadat itu lebih dekat kepada mengharap maaf dan ampun daripada mengharap pahala dan upah. Annash-rabadzy berkata : Ibadat-ibadat itu bila diperhatikan kekurangan-kekurangannya, lebih dekat kepada mengharap maaf daripada mengharap pahala dan upah.
Firman Allah :
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ (يونس: ٥٨)
Katakanlah : Hanya karena kurnia dan rahmat Allah mereka boleh bergembira. sebab itu lebih baik bagi mereka dari segala apa yang dapat mereka kumpulkan sendiri.
Apabila engkau menuntut upah/pahala untuk sesuatu amal perbuatan, pasti engkau juga akan dituntut kesempurnaan dan keikhlasanmu dalam amal perbuatan itu. Dan bagi seorang yang merasa belum sempurna, harus merasa cukup puas jika ia telah selamat dari tuntutan. Khair Annassaj berkata : Timbangan amalmu itu sesuai dengan perbuatanmu, karena itu mintalah kemurahan kurniaNya, dan itulah yang baik bagimu. Al-Wasithy berkata: Ibadat-ibadat itu lebih dekat kepada mengharap maaf dan ampun daripada mengharap pahala dan upah. Annash-rabadzy berkata : Ibadat-ibadat itu bila diperhatikan kekurangan-kekurangannya, lebih dekat kepada mengharap maaf daripada mengharap pahala dan upah.
Firman Allah :
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ (يونس: ٥٨)
Katakanlah : Hanya karena kurnia dan rahmat Allah mereka boleh bergembira. sebab itu lebih baik bagi mereka dari segala apa yang dapat mereka kumpulkan sendiri.
028. مَا أَرَادَتْ هِمَّةُ سَالِكٍ أَنْ تَقِفَ عِنْدَ مَا كُشِفَ لَهَا إِلاَّ وَنَادَتْهُ هَوَاتِفُ الْحَقِيقَةِ: الَّذِي تَطْلُبُ أَمَامَكَ. وَلاَ تَبَرَّجَتْ ظَوَاهِرُ الْمَكَوَّنَاتِ إِلاَّ وَنَادَتْكَ حَقَائِقُهَا: إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ.
Tiada berkehendak semangat seorang shalih (yang berjalan menuju kepada Allah) untuk berhenti ketika terbuka baginya sebagian yang ghaib, melainkan segera diperingatkan oleh suara hakikat. Bukan itu tujuan, dan teruslah berjalan ke depan. Demikian pula tiada tampak baginya keindahan alam, melainkan diperingatkan oleh hakikatnya : Bahwa kami semata-mata sebagai ujian, maka janganlah tertipu hingga menjadi kafir.
Abul-Hasan Attus tary berkata : Di dalam jalan menuju kepada Allah jangan menoleh kepada yang lain, dan pergunakan selalu dzikir kepada Allah, itu sebagai benteng pertahananmu. Sebab segala
Abul-Hasan (Ali) Asysyadzily ra. berkata : Jika engkau ingin mendapatkan apa yang telah dicapai oleh para waliyullah, maka hendaknya engkau mengabaikan semua manusia, kecuali orang-orang yang menunjukkan kepadamu jalan menuju Allah, dengan isyarat (teori) yang tepat atau perbuatan yang tidak menyalahi Kitabullah dan sunnaturrasul, dan abaikan dunia tetapi jangan mengabaikan sebagian untuk mendapat bagian yang lain, sebaliknya hendaknya engkau menjadi hamba Allah yang diperintah mengabaikan musuh- Nya. Apabila engkau telah dapat melakukan dua sifat itu, yaitu : mengabaikan manusia dan dunia maka tetaplah tunduk kepada hukum ajaran Allah dengan Istiqomah dan selalu tunduk, Istighfar. Pengertian keterangan ini : Supaya engkau benar-benar merasa diri sebagai hamba Allah dalam semua yang engkau kerjakan atau engkau tinggalkan, dan menjaga hati perasaan, jangan sampai merasa seolah-olah di dalam alam ini ada kekuasaan bagi lain Allah, yakni bersungguh-sungguh dalam menanggapi (memfahami) :
اللَّهِ. لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Tiada daya dan tiada kekuatan sama sekali, kecuali dengan bantuan pertolongan Allah. Maka apabila masih merasa ada kekuatan diri sendiri berarti : belum sempurna mengaku diri hamba Allah. Sebaliknya bila telah
benar-benar perasaan Laa haula walaa Quwwata illaa billaah itu, dan tetap demikian beberapa lama niscaya Allah membukakan untuknya pintu rahasia-rahasia yang tidak pernah mendengar dari manusia seisi alam.
Tiada berkehendak semangat seorang shalih (yang berjalan menuju kepada Allah) untuk berhenti ketika terbuka baginya sebagian yang ghaib, melainkan segera diperingatkan oleh suara hakikat. Bukan itu tujuan, dan teruslah berjalan ke depan. Demikian pula tiada tampak baginya keindahan alam, melainkan diperingatkan oleh hakikatnya : Bahwa kami semata-mata sebagai ujian, maka janganlah tertipu hingga menjadi kafir.
Abul-Hasan Attus tary berkata : Di dalam jalan menuju kepada Allah jangan menoleh kepada yang lain, dan pergunakan selalu dzikir kepada Allah, itu sebagai benteng pertahananmu. Sebab segala
Abul-Hasan (Ali) Asysyadzily ra. berkata : Jika engkau ingin mendapatkan apa yang telah dicapai oleh para waliyullah, maka hendaknya engkau mengabaikan semua manusia, kecuali orang-orang yang menunjukkan kepadamu jalan menuju Allah, dengan isyarat (teori) yang tepat atau perbuatan yang tidak menyalahi Kitabullah dan sunnaturrasul, dan abaikan dunia tetapi jangan mengabaikan sebagian untuk mendapat bagian yang lain, sebaliknya hendaknya engkau menjadi hamba Allah yang diperintah mengabaikan musuh- Nya. Apabila engkau telah dapat melakukan dua sifat itu, yaitu : mengabaikan manusia dan dunia maka tetaplah tunduk kepada hukum ajaran Allah dengan Istiqomah dan selalu tunduk, Istighfar. Pengertian keterangan ini : Supaya engkau benar-benar merasa diri sebagai hamba Allah dalam semua yang engkau kerjakan atau engkau tinggalkan, dan menjaga hati perasaan, jangan sampai merasa seolah-olah di dalam alam ini ada kekuasaan bagi lain Allah, yakni bersungguh-sungguh dalam menanggapi (memfahami) :
اللَّهِ. لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Tiada daya dan tiada kekuatan sama sekali, kecuali dengan bantuan pertolongan Allah. Maka apabila masih merasa ada kekuatan diri sendiri berarti : belum sempurna mengaku diri hamba Allah. Sebaliknya bila telah
benar-benar perasaan Laa haula walaa Quwwata illaa billaah itu, dan tetap demikian beberapa lama niscaya Allah membukakan untuknya pintu rahasia-rahasia yang tidak pernah mendengar dari manusia seisi alam.
238. لِيَقِلَّ مَا تَفْرَحُ بِهِ يَقِلَّ مَا تَحْزَنُ عَلَيْهِ.
Kurangilah kesenanganmu dengan dunia, supaya berkurang pula kedukaanmu pada dunia. Seorang ditanya : Mengapakah engkau tidak pernah risau ? Jawabnya : Karena saya tidak menyimpan barang yang akan merisau- kan/menyusahkan bila hilang, sebab yang menyenangkan itulah pula yang menyusahkan, jika sedikit maka sedikit pula, dan bila banyak yang dişenangi tentu banyak pula yang akan menyusahkan. Hikayat : Seorang memberi hadiah kepada raja sebuah gelas dari pirus yang bertaburkan permata yang sangat berharga, maka karena
sangat gembira raja menerimanya. Ia menunjukkan hadiah itu pada ini ? Jawab Hakiem : Pendapatku itu suatu bala' dan kefakiran. Tanya raja : Bagaimana pendapatmu itu ? Jawabnya : Jika pecah berupa bala' sebab tidak dapat ditembel, dan tidak ada gantinya, jika tercuri kau sangat butuh kepadanya sehingga menjadi fakir kepadanya. Maka tidak lama tiba-tiba gelas itu pecah, maka benar raja merasa mendapat bala' dan sangat menyesal, lalu berkata : Benar, kata Hakiem itu. Seorang yang berakal sehat yaitu orang yang tidak terpengaruh oleh sesuatu jika ada (tiba) menyebabkan repot/sibuk, dan bila hilang menyebabkan menyesal dan bingung. Al Junaid berkata : Seorang yang berakal sehat itu ialah yang menyelidiki segala sesuatu, mencari yang lebih utama untuk dikerjakan dan didahulukan dari lain-lainnya, dan selalu mengikuti petunjuk Allah dan Rasulullah, dalam membedakan apa yang berguna atau madharrat baginya dunia dan akheratnya.
Kurangilah kesenanganmu dengan dunia, supaya berkurang pula kedukaanmu pada dunia. Seorang ditanya : Mengapakah engkau tidak pernah risau ? Jawabnya : Karena saya tidak menyimpan barang yang akan merisau- kan/menyusahkan bila hilang, sebab yang menyenangkan itulah pula yang menyusahkan, jika sedikit maka sedikit pula, dan bila banyak yang dişenangi tentu banyak pula yang akan menyusahkan. Hikayat : Seorang memberi hadiah kepada raja sebuah gelas dari pirus yang bertaburkan permata yang sangat berharga, maka karena
sangat gembira raja menerimanya. Ia menunjukkan hadiah itu pada ini ? Jawab Hakiem : Pendapatku itu suatu bala' dan kefakiran. Tanya raja : Bagaimana pendapatmu itu ? Jawabnya : Jika pecah berupa bala' sebab tidak dapat ditembel, dan tidak ada gantinya, jika tercuri kau sangat butuh kepadanya sehingga menjadi fakir kepadanya. Maka tidak lama tiba-tiba gelas itu pecah, maka benar raja merasa mendapat bala' dan sangat menyesal, lalu berkata : Benar, kata Hakiem itu. Seorang yang berakal sehat yaitu orang yang tidak terpengaruh oleh sesuatu jika ada (tiba) menyebabkan repot/sibuk, dan bila hilang menyebabkan menyesal dan bingung. Al Junaid berkata : Seorang yang berakal sehat itu ialah yang menyelidiki segala sesuatu, mencari yang lebih utama untuk dikerjakan dan didahulukan dari lain-lainnya, dan selalu mengikuti petunjuk Allah dan Rasulullah, dalam membedakan apa yang berguna atau madharrat baginya dunia dan akheratnya.