Apabila Allah telah menjemukan engkau dari makhluk, maka ketahuilah bahwa Allah akan membukakan untukmu perasaan jinak, dan senang kepada Allah. Apabila engkau telah merasa jemu kepada makhluk, karena merasa bahwa mereka tidak bermanfaat bagimu, bahkan ada kalanya membawa madharrat/bahaya bagimu, maka di saat yang demikian engkau merasa jinak senang kepada Allah. Riwayat Abu Yazid Al-Busthamy ketika ia diperlihatkan oleh Allah alam malakut, kemudian ditanya : Adakah sesuatu yang menyenangkan engkau ? Jawabnya : Tidak. Maka dikatakan kepadanya : Engkau hamba Allah yang sesungguhnya.
015. مِمَّا يَدُلُّكَ عَلَى وُجُودِ قَهْرِهِ سُبْحَانَهُ أَنْ حَجَبَكَ عَنْهُ بِمَا لَيْسَ بِمَوْجُودٍ مَعَهُ.
Di antara bukti-bukti yang menunjukkan adanya kekuasaan Allah yang luar biasa, ialah dapat menghijab engkau daripada melihat kepada-Nya dengan hijab yang tidak ada wujudnya (yakni : Bayangan- bayangan hijab) di sisi Allah. Sepakat para arifin, bahwa segala sesuatu selain Allah tidak ada, artinya : tidak dapat disamakan adanya sebagaimana adanya Allah, sebab adanya alam terserah kepada karunia Allah, bagaikan adanya bayangan yang tergantung selalu kepada benda yang membayanginya. Maka siapa yang melihat bayangan dan tidak melihat kepada yang membayanginya, di sini terhijabnya.
Firman Allah :
كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ (القصص: ٨٨)
Segala sesuatu rusak hancur kecuali dzat Allah. Rasulullah saw. membenarkan perkataan pujangga yang berkata :
أَلَا كُلُّ شَيْءٍ مَا خَلَا اللَّهَ بَاطِلٌ
Camkanlah, bahwa segala sesuatu selain Allah itu palsu belaka.
وَكُلُّ نَعِيمٍ لَا مَحَالَةَ زَائِلٌ
Dan tiap nikmat kesenangan dunia, pasti akan rusak lenyap.
Di antara bukti-bukti yang menunjukkan adanya kekuasaan Allah yang luar biasa, ialah dapat menghijab engkau daripada melihat kepada-Nya dengan hijab yang tidak ada wujudnya (yakni : Bayangan- bayangan hijab) di sisi Allah. Sepakat para arifin, bahwa segala sesuatu selain Allah tidak ada, artinya : tidak dapat disamakan adanya sebagaimana adanya Allah, sebab adanya alam terserah kepada karunia Allah, bagaikan adanya bayangan yang tergantung selalu kepada benda yang membayanginya. Maka siapa yang melihat bayangan dan tidak melihat kepada yang membayanginya, di sini terhijabnya.
Firman Allah :
كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ (القصص: ٨٨)
Segala sesuatu rusak hancur kecuali dzat Allah. Rasulullah saw. membenarkan perkataan pujangga yang berkata :
أَلَا كُلُّ شَيْءٍ مَا خَلَا اللَّهَ بَاطِلٌ
Camkanlah, bahwa segala sesuatu selain Allah itu palsu belaka.
وَكُلُّ نَعِيمٍ لَا مَحَالَةَ زَائِلٌ
Dan tiap nikmat kesenangan dunia, pasti akan rusak lenyap.
050. الْعَجَبُ كُلُّ الْعَجَبِ مِمَّنْ يَهْرُبُ مِمَّا لاَ انْفِكَاكَ لَهُ عَنْهُ، وَيَطْلُبُ مَا لاَ بَقَاءَ لَهُ مَعَهُ، فَإِنَّهَا لاَ تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ.
Keajaiban yang sangat mengherankan (ajaib) terhadap orang yang lari dari apa yang sangat dibutuhkan, dan tidak dapat lepas dari padanya, dan berusaha mencari apa yang tidak akan kekal padanya. Sesungguhnya bukan mata kepala yang buta, tetapi yang buta ialah matahati yang di dalam dada. Seorang yang melarikan diri dari panggilan Tuhan untuk berbuat ibadat semata-mata karena ingin memuaskan hawa nafsu syahwatnya, nyata-nyata sebagai tanda buta matahatinya, sebab ia telah meng- utamakan bayangan daripada hakikat, mengutamakan yang sementara dan meninggalkan yang kekal abadi, mengutamakan yang rusak daripada yang tetap kekal untuk selamanya.
Keajaiban yang sangat mengherankan (ajaib) terhadap orang yang lari dari apa yang sangat dibutuhkan, dan tidak dapat lepas dari padanya, dan berusaha mencari apa yang tidak akan kekal padanya. Sesungguhnya bukan mata kepala yang buta, tetapi yang buta ialah matahati yang di dalam dada. Seorang yang melarikan diri dari panggilan Tuhan untuk berbuat ibadat semata-mata karena ingin memuaskan hawa nafsu syahwatnya, nyata-nyata sebagai tanda buta matahatinya, sebab ia telah meng- utamakan bayangan daripada hakikat, mengutamakan yang sementara dan meninggalkan yang kekal abadi, mengutamakan yang rusak daripada yang tetap kekal untuk selamanya.
077. إِذَا رَأَيْتَ عَبْدًا أَقَامَهُ اللهُ تَعَالَى بِوُجُودِ الْأَوْرَادِ وَأَدَامَهُ عَلَيْهَا مَعَ طُولِ الْإِمْدَادِ، فَلاَ تَسْتَحْقِرَنَّ مَا مَنَحَهُ مَوْلاَهُ، لِأَنَّكَ لَمْ تَرَ عَلَيْهِ سِيمَا الْعَارِفِينَ وَلاَ بَهْجَةَ الْمُحِبِّينَ، فَلَوْلاَ وَارِدٌ مَا كَانَ وِرْدٌ.
Jika kau melihat seorang yang ditetapkan oleh Allah dalam menjaga wiridnya, sampai lama tidak juga menerima kurnia (keistimewaan) dari Allah, maka jangan kau remehkan pemberian Tuhan kepadanya, karena belum terlihat padanya tanda orang arif, atau keindahan orang cinta pada Allah, sebab sekiranya tidak ada warid (kurnia Allah), maka tidak mungkin adanya wirid. Hamba Allah yang mendapat keistimewaan dari Allah ada dua macam : Abraar dan Mugarrabin. Adapun hamba yang mugarrabin itu, maka mereka yang telah dibebaskan dari kepentingan dunia, yang hanya sibuk menunaikan ibadat kepada Tuhan, karena merasa sebagai hamba yang mengharapkan keridhaan Allah semata-mata, dan mereka ini yang disebut aarifin, muhibbin. Adapun orang Abraar, mereka yang masih merasa banyak kepentingan di dunia, di samping kewajiban- kewajiban taat ibadat kepada Allah, dan mereka yang dinamakan orang zahid aabid, dan masing-masing mendapat kurnia sendiri- sendiri di dalam tingkat derajatnya yang langsung dari Allah ta'ala. Sebenarnya seorang yang mendapat taufiq hidayat dari Allah sehingga istigamah dalam menjalankan suatu wirid (kelakuan taat/ ibadat), berarti telah mendapat kurnia dan rahmat yang besar sekali, sebab ia berarti telah diberi kunci oleh Allah untuk membuka dan menghasilkan lain-lain karunia kebesaran dari Allah.
Jika kau melihat seorang yang ditetapkan oleh Allah dalam menjaga wiridnya, sampai lama tidak juga menerima kurnia (keistimewaan) dari Allah, maka jangan kau remehkan pemberian Tuhan kepadanya, karena belum terlihat padanya tanda orang arif, atau keindahan orang cinta pada Allah, sebab sekiranya tidak ada warid (kurnia Allah), maka tidak mungkin adanya wirid. Hamba Allah yang mendapat keistimewaan dari Allah ada dua macam : Abraar dan Mugarrabin. Adapun hamba yang mugarrabin itu, maka mereka yang telah dibebaskan dari kepentingan dunia, yang hanya sibuk menunaikan ibadat kepada Tuhan, karena merasa sebagai hamba yang mengharapkan keridhaan Allah semata-mata, dan mereka ini yang disebut aarifin, muhibbin. Adapun orang Abraar, mereka yang masih merasa banyak kepentingan di dunia, di samping kewajiban- kewajiban taat ibadat kepada Allah, dan mereka yang dinamakan orang zahid aabid, dan masing-masing mendapat kurnia sendiri- sendiri di dalam tingkat derajatnya yang langsung dari Allah ta'ala. Sebenarnya seorang yang mendapat taufiq hidayat dari Allah sehingga istigamah dalam menjalankan suatu wirid (kelakuan taat/ ibadat), berarti telah mendapat kurnia dan rahmat yang besar sekali, sebab ia berarti telah diberi kunci oleh Allah untuk membuka dan menghasilkan lain-lain karunia kebesaran dari Allah.