Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

107. نِعْمَتَانِ مَا خَرَجَ مَوْجُودٌ عَنْهُمَا وَلاَ بُدَّ لِكُلِّ مُكَوَّنٍ مِنْهُمَا: نِعْمَةُ الْإِيجَادِ وَنِعْمَةُ الْإِمْدَادِ.

Dua nikmat yang tıdak uatu makhluk yang terlepas dari keduanya yaitu nikmat ciptaan dan n ulan. Karena tiap makhluk asalnya tidak ada, maka nikmat yang pertama diterimanya ialah nikmat ciptaan Allah yang menjadikannya (mewujudkannya), kemudian dilanjutkan dengan nikmat kelanjutan hidup itu, yakni melengkapi kebutuhan hidup, sebab bila tidak dilengkapi kebutuhan, tidak akan dapat bertahan hidup.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

140. مَا طَلَبَ لَكَ شَيْءٌ مِثْلُ الاِضْطِرَارِ، وَلاَ أَسْرَعَ بِالْمَوَاهِبِ إِلَيْكَ مِثْلُ الذِّلَّةِ وَالاِفْتِقَارِ.

Tiada sesuatu yang dapat menyegerakan tercapainya permintaan hajatmu seperti keadaan terpaksa, dan tiada sesuatu yang dapat menyegerakan tibanya pemberian-pemberian kurnia Allah seperti merasa rendah diri dan sangat fakir miskin.

Firman Allah :

أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ. (النمل: ٦٢)

Siapakah yang dapat memperkenankan (menyambut) doa orang yang terpaksa bila berdoa minta padanya? (An Naml 62). Orang mudh-thar (yang terpaksa) itu ialah yang merasa sudah tidak ada daya dan tidak ada kekuatan lain yang dapat menolongnya, baik dari

luar atau dari dirinya sendiri, kecuali satu yaitu Allah semata-mata. Orang demikianlah yang pasti segera tercapai hajat kebutuhannya, dan itulah yang bernamatauhid (meng-Esakan Allah). Hal orang ini bagaikan orang yang akan tenggelam di lautan, atau tersesat di hutan belukar yang seram sekah.

Firman Allah :

وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنتُمْ أَذِلَّةٌ (آل عمران: ١٢٣)

Sungguh Allah telah membantu kamu (me nangkan kamu) dalam perang badar, ketika kamu dalam keadaan hi na dan rendah diri tidak berdaya.

Firman Allah :

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ. (التوبة: ٦٠)

Sungguhnya sedekah pemberian itu hanya untuk orang yang benar-benar fakir miskin. At trna ran. Ketiga macam hal inilah yang paling cepat untuk menyampaikan atau mendatangkan kurnia pemberian Tuhan. Seorang yang terpaksa karena benar-benar telah merasa tidak ada lagi yang dapat menolong kepadanya, kecuali rahmat kurnia Allah, sebab ia sendiri telah begitu miskin dari segala apa yang dapat diguna- kan untuk memancing apa-apa dari Tuhan, maka hanya bergantung pada rahmat karunia Tuhan semata-mata. Maka dengan demikian ia merasa rendah betul, sebab ia minta tetapi tanpa sesuatu yang diajukan untuk layaknya ia menerima pemberian itu.

Rasulullah saw. bersabda :

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ.

Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah semata-mata, kalimat ini suatu kekayaan dari kekayaan surga. Berarti orang yang mempergunakannya, maka ia bagaikan hidup pemberianNya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

172. اِسْتِشْرَافُكَ أَنْ يَعْلَمَ الْخَلْقُ بِخُصُوصِيَّتِكَ دَلِيلٌ عَلَى عَدَمِ صِدْقِكَ فِي عُبُودِيَّتِكَ.

Keinginanmu untuk diketahui orang, tentang sesuatu dari keistimewaanmu itu, sebagai buktı tidak adanya kejujuranmu dalam kehambaanmu. Keistimewaan yang diberikan Allah kepada makhluk itu berupa ilmu, atau amal shalih, yang seharusnya dalam mengamal keduanya itu harus semata-mata untuk mendapat keridhaan Allah asalkan sudah beres dengan Allah itulah yang penting, karena itu jika dipergunakan untuk pameran dan ditonjol-tonjolkan untuk mendapat pujian orang, maka r yata baiwa rasa kehambaannya kepada Allah belum betul (belum jujur). Nabi Isa as. berkata : Jika orang berpuasu, maka hendaknya me- ninyaki rambutnya dan membasahi bibirnya, supaya jika dilihat orang disangka tidak puasa, begitu pula jika bersedekah hendaknya memberi Jengan tangan kanan dan disembunyikan dari tangan kiri, dan jika sembahyang ham tenutup tabir rumahnya, sebab Allah membagi pujian itu sebagaiman. membagi rizqi.

Abu Abdullah Al-Qurasyi berkata : Siapa yang tidak puas dengan pendengaran dan penglihatan Allah dalam amal perbuatan dan perkataannya, maka pasti kemasukan riya'.

Firman Allah :

أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ (فصلت: ٥٣)

Apakah engkau tidak merasa cukup dengan Tuhanmu, bahwa la menyaksikan dan mengetahui segala sesuatu.

Abul-Khair Al-Aqtha berkata : Siapa yang ingin supaya amalnya diketahui orang, maka itu riya' dan siapa yang ingin diketahui orang hal keistimewaannya maka itu pendusta.

Abu Abbas Almarsy berkata : Siapa yang ingin terkenal, maka ia budaknya terkenal, dan siapa yang ingin tersembunyi, maka ia budaknya tersembunyi, dan siapa yang benar-benar merasa sebagai hamba Allah, maka terserah pada Allah apakah diterangkan atau disembunyikan. yakni sama saja yang penting ia beramal karena Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

193. مِنْ عَلاَمَاتِ إِقَامَةِ الْحَقِّ لَكَ فِي الشَّيْءِ إِقَامَتُهُ إِيَّاكَ فِيهِ مَعَ حُصُولِ النَّتَائِجِ.

Suatu tanda bahwa Allah telah menetapkan engkau dalam suatu kedudukan, bila engkau didudukkan dalam hal itu dengan membuahkan hasil serta terjaga agamamu.

Disalin