Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

075. خَفْ مِنْ وُجُودِ إِحْسَانِهِ إِلَيْكَ وَدَوَامِ إِسَاءَتِكَ مَعَهُ أَنْ يَكُونَ ذٰلِكَ اسْتِدْرَاجًا لَكَ، سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لاَ يَعْلَمُونَ.

Hendaknya kau merasa takut jika kau selalu mendapat kurnia Allah, sebaliknya kau tetap dalam perbuatan maksiat kepadaNya jangan sampai kurnia itu semata-mata istidraj (dilulu) oleh Allah. Sebagaimana firman Allah :

سَنَسْتَدْرِجُهُم مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ (الأعراف: ١٨٢)

Akan aku lulu (putar) mereka itu dengan jalan yang mereka tidak mengetahui (tidak sadar). Istidraj : Yaitu mengulur, memberi terus menerus supaya bertambah lupa kemudian dibinasakan, juga berarti memperdaya.

Firman Allah :

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ (الأنعام: ٤٤)

Maka ketika mereka telah melupakan apa yang telah diperingat- kan kepada mereka. Kami bukakan bagi mereka segala jalan, sehingga apabila mereka telah mabuk gembira terhadap segala hasil usahanya. Kami tangkap dengan tiba-tiba, sehingga mereka mengalami dan merasa gagal total, dan putus harapan sama sekali.

(Al-An’aam 44).

Demikian contoh istidraj : Tiap berbuat dosa ditambah dengan nikmat, dan dilupakan minta ampun istighfar.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

130. الصَّلاَةُ مَحَلُّ الْمُنَاجَاةِ وَمَعْدِنُ الْمُصَافَاةِ، تَتَّسِعُ فِيهَا مَيَادِينُ الْأَسْرَارِ، وَتُشْرِقُ فِيهَا شَوَارِقُ الْأَنْوَارِ.

Sembahyang itu sebagai tempat bermunajat (menyampaikan hajat kepada Allah), serta memanjatkan puji syukur. Dam sebagai tempat pembersihan hati dari berbagai kotoran. Leluasa di dalamnya datangnya berbagai rahasia-rahasia Tuhan. Dan terbit terang padanya cahaya-cahaya ilmu dan ma'rifat.

Firman Allah :

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي (طه: ١٤)

Tegakkan sembahyang itu untuk dzikir ingat kepadaKu. Sesungguhnya seorang hamba bila ia berdiri sembahyang, maka Allah membuka untuknya tirai hijab, dan langsung dihadapinya, dan berdiri tegak para Malaikat dari atas bahunya hingga langit, mengikuti sembahyangnya dan mengaminkan doanya. Dan seorang yang sembahyang itu ditaburi rahmat dari langit hingga ubun kepalanya. Dan dipanggil oleh suara: Andaikata orang yang munajat ini mengetahui siapakah yang diajak bicara, tidak akan berhenti (memutuskan) sembahyangnya. Dan sesungguhnya pintu pintu langit terbuka untuk orang yang sembahyang. Dan sesungguhnya Allah membanggakan barisan orang-orang yang sembahyang di hadapan MalaikatNya. Dalam Kitab Taurat ada tersebut demikian : Hai anak Adam, jangan malas untuk berdiri sembahyang dihadapanKu sambil menangis, maka Akulah Allah yang telah mendekat dari hatimu, dan karena ghaib engkau telah dapat melihat cahayaKu.

Muhammad bin Ali Attirmidzy berkata : Allah telah memanggil orang- orang yang bertauhid supaya sembahyang lima waktu, karena rahmat kasihan kepada mereka, dan menyediakan berbagai macam hidangan, supaya seorang hamba itu dapat merasakan pada tiap bacaan dan gerak itu kurnia pemberian-pemberiannya, maka gerak itu bagaikan makanan, sedang bacaan itu bagaikan minuman. Dan hidangan itu disediakan oleh Allah tiap hari lima kali, supaya tidak ada lagi sisa kotoran atau debunya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

046. كَانَ اللهُ وَلاَ شَيْءَ مَعَهُ، وَهُوَ الْآنَ عَلَى مَا كَانَ عَلَيْهِ.

Telah ada Allah, dan tiada suatu di sampingNya, dan la kini sebagaimana adaNya semula. Demikian contoh magam fana', tiada melihat sesuatu kecuali Allah. Bagaikan seorang di dalam gedungnya, kemudian ia mengisi rumah dengan segala perabot dan boneka atau patung, lalu ditanya : Siapakah yang ada di dalam gedung itu ? Jawabnya : Hanya ia seorang, yakni semua boneka dan berhala itu tidak dapat disebut sebagai teman atau kawannya. Demikian orang ahli hakikat tidak melihat adanya sesuatu yang dapat disebut di samping Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

216. كَمَا لاَ يُحِبُّ الْعَمَلَ الْمُشْتَرَكَ، كَذٰلِكَ لاَ يُحِبُّ الْقَلْبَ الْمُشْتَرِكَ، الْعَمَلُ الْمُشْتَرَكُ لاَ يَقْبَلُهُ، وَالْقَلْبُ الْمُشْتَرِكُ لاَ يُقْبِلُ عَلَيْهِ.

Sebagaimana Allah tidak menerima amal yang dipersekutu- kan dengan lainNya, demikian pula Allah tidak suka pada hati yang bersekutu. Amal perbuatan yang dipersekutukan kepada suatu selain Allah tidak akan diterima oleh Allah, dan hati yang bersekutu tidak menghadap kepadaNya (Allah). Amal perbuatan yang bersekutu ialah riya', sum'ah dan yang dibuat- buat, dan hati yang bersekutu yaitu yang masih merasa cinta kepada lain Allah dan mengharap atau takut atau menyandar kepada lain Allah.

Disalin