Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

046. كَانَ اللهُ وَلاَ شَيْءَ مَعَهُ، وَهُوَ الْآنَ عَلَى مَا كَانَ عَلَيْهِ.

Telah ada Allah, dan tiada suatu di sampingNya, dan la kini sebagaimana adaNya semula. Demikian contoh magam fana’, tiada melihat sesuatu kecuali Allah. Bagaikan seorang di dalam gedungnya, kemudian ia mengisi rumah dengan segala perabot dan boneka atau patung, lalu ditanya : Siapakah yang ada di dalam gedung itu ? Jawabnya : Hanya ia seorang, yakni semua boneka dan berhala itu tidak dapat disebut sebagai teman atau kawannya. Demikian orang ahli hakikat tidak melihat adanya sesuatu yang dapat disebut di samping Allah.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

200. الْعِبَارَاتُ قُوتٌ لِعَائِلَةِ الْمُسْتَمِعِينَ، وَلَيْسَ لَكَ إِلاَّ مَا أَنْتَ لَهُ آكِلٌ.

Ibarat (kata-kata) itu sebagai makanan bagi pendengar yang berhajat dan membutuhkannya, dan engkau tidak mendapat apa-apa daripadanya kecuali yang engkau makan. Bagaimanapun aneka warnanya hidangan, maka yang berguna bagi tiap orang hanya yang dimakannya, dan masing-masing makan kesukaannya, memilih yang dimengertinya.

Terjadi ada tiga orang sama-sama mendengar suara yang berkata : Ya sa'tara birri maka masing-masing menerima kalimat itu sendiri-sendiri, Yang satu berkata : Saya telah mendengar suara itu berkata : Is'a tara birri. Berusahalah niscaya engkau akan melihat (mendapat) kurnia pemberianKu. Yang kedua berkata : Saya telah mendengar : Assa' atatara birri : Pada saat itu juga engkau akan mendapat (melihat) kurnia pemberianKu. Yang ketiga berkata : Saya telah mendengar : Ma ausa'a birri : Alangkah luasnya kurnia pemberianKu.

Firman Allah :

تُسْقَىٰ بِمَاءٍ وَاحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَىٰ بَعْضٍ فِي الْأُكُلِ (الرعد: ٤)

Disiram dengan satu macam air, tetapi Kami lebihkan yang satu dari yang lain dalam rasa makanannya.

Firman Allah :

قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَّشْرَبَهُمْ (البقرة: ٦٠)

Masing-masing golongan telah mengetahui di mana tempat minumnya. Muhyiddin (Muhammad) bin Al-Araby ra. berkata : Pada suatu hari kami mendapat undangan dari teman di Zugagil-ganadil di Mesir, tiba- tiba di situ bertemu dengan guru-guru, dan setelah hidangan dikeluarkan, di situ ada suatu wadah dipakai untuk tempat kencing, tetapi karena sudah tidak terpakai lagi, maka dipakai juga untuk tempat makanan, maka setelah selesai orang-orang makanan tiba-tiba wadah itu berkata : Karena kini saya telah mendapat kehormatan dari Allah untuk tempat makanan guru-guru ini maka sejak kini saya tidak rela untuk dipakai tempat kotoran, kemudian ia belah dua. Syaikh Muhyiddin bertanya kepada hadirin : Apakah yang kamu telah mendengar ? Jawab mereka : Ya, kami mendengar ia berkata : Sejak saya dipakai tempat makan untuk guru-guru, maka saya tidak mau menjadi tempat kotoran lagi. Berkata Muhyiddin : Tidak begitu katanya. Bertanya para hadirin : Lalu berkata apa ? Jawab Muhyiddin : Demikian pula hatimu setelah mendapat kehormatan dari Allah dijadikan tempat iman, maka janganlah rela ditempati najis-najis, syirik, maksiat dan cinta dunia.

Hikam Ibnu 'Atoillah

198. رُبَّمَا بَرَزَتِ الْحَقَائِقُ مَكْسُوفَةَ الْأَنْوَارِ إِذَا لَمْ تُؤْذَنْ لَكَ فِيهَا بِالْإِظْهَارِ.

Adakalanya ilmu hakikat itu tampak pudar cahayanya jika engkau belum mendapat izin untuk mengeluarkannya. Siapa yang belum sempurna sifat-sifatnya, belum diizinkan untuk menerangkan hakikat, dan bila ia menerangkannya pasti akan terlihat suram cahayanya, karena ia sendiri masih diliputi sesuatu yang berlawan- an dengan hakikat itu, dan karena itu pula ditolak oleh pendengarnya.

Abul-Abbas Almarsy berkata : Seorang wali itu lebih dahulu telah dipenuhi oleh ilmu dan pengertian ma'rifat, sehingga hakikat itu menjadi keyakinan dan terlihat terang baginya. Karena itu jika melepaskan kalimat

seolah-olah mendapat izin dari Allah, dan kalimat yang dikeluarkannya itu berhias indah bukan buatan, maka langsung diterima oleh pendengarnya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

223. لاَ تَنْفَعُهُ طَاعَتُكَ وَلاَ تَضُرُّهُ مَعْصِيَتُكَ، وَإِنَّمَا أَمَرَكَ بِهٰذِهِ وَنَهَاكَ عَنْ هٰذِهِ لِمَا يَعُودُ عَلَيْكَ.

Tidak berguna bagi Allah taatmu dan tidak madharrat (bahaya) pada Allah maksiat (dosa)mu, dan sesungguhnya Allah menyuruh kamu berbuat taat dan melarang kamu dari maksiat (dosa) itu untuk kepentinganmu sendiri. Allah Tuhan yang maha sempurna, kesempurnaan Allah tidak membutuhkan apa-apa, sedang semua makhluk sebagai hamba Tuhan tetap berhajat kepada Tuhan. Maka karena rahmat Allah untuk kepentingan kemaslahatan hamba, maka mengadakan perintah dan larangan, perintah dan larangan itu sedikitpun tidak berguna atau Dalam Hadits Allah berfirman : Hai hambaKu, andaikan orang yang pertama hingga yang terakhir dari kamu, manusia dan jin semua berbuat setaqwa-taqwa (sebaik-baik) hati seorang di antara kamu, maka yang demikian itu tidak menambah kekayaanKu sedikitpun, dan sebaliknya jika semua itu berbuat sejahat-jahat perbuatan seorang di antara kamu, maka yang demikian itu tidak mengurangi kekuasaan kerajaanKu sedikitpun, kecuali sebagai kurangnya air laut jika diambil dengan jarum, hai hambaKu sesungğuhnya amal perbuatanmu Aku catat untukmu kemudian Aku. serahkan kembali kepadamu, maka siapa yang mendapat kebaikan, hendaknya mengucapkan Alhamdulillah, dan siapa yang mendapatkan kejahatan maka jangan menista kecuali dirinya sendiri.

Disalin