Tiada sesuatu yang sangat berguna bagi hati (jiwa), sebagai- mana menyendiri untuk masuk ke medan berfikir (tafakur).
Rasulullah saw. bersabda : Perumpamaan teman yang tidak baik, bagaikan tukang besi yang membakar besi, jika engkau tidak terbakar oleh peltikan apinya, maka terkena bau busuknya. Allah mewahyukan kepada Nabi Musa as.: Hai putera Imraan waspadalah selalu dan pilihlah untuk dirimu teman (sahabat), dan tiap teman (kawan) tidak membantumu untuk berbuat taat (bakti) kepadaku, maka ia adalah musuhmu. Demikian pula wahyu Allah kepada Nabi Dawud as.: Hai Dawud, mengapakah engkau menyendiri? Jawab Dawud : Aku menjauhkan diri dari makhluk untuk mendekat kepadaMu. Maka Allah berfirman: Hai Dawud waspadalah selalu, dan pilihlah untukmu kawan-kawan, dan tiap kawan yang tidak membantu untuk berbakti kepadaku, maka itu adalah musuhmu, dan akan menyebabkan keras hatimu, serta jauh dari padaKu. Nabi Isa as. bersabda : Jangan berkawan pada orang-orang yang mati, niscaya mati hatimu. Ketika ditanya: Siapakah orang-orang yang mati itu ? Jawabnya : Mereka yang rakus kepada dunia.
Rasulullah saw. bersabda : Yang sangat aku kuatirkan terhadap ummatku ialah kelemahan dalam iman keyakinan. Nabi Isa as. berkata : Berbahagialah orang yang perkataannya dzikir, dan diamnya berfikir, dan pandangannya perhatian. Sesungguh- nya orang yang sempurna akal ialah yang selalu mengoreksi hari kemudian sesudah mati.
Sahl bin Abdullah Attustary ra. berkata : Kebaikan itu terhimpun dalam empat macam, dan dengan itu tercapai derajat wali (yakni di samping melakukan semua kewajiban-kewajiban agama), yaitu : 1. Lapar, 2. Diam,
3. Menyendiri dan 4. Bangun malam (yakni bertahajjud).