Amal perbuatan itu sebagai kerangka yang tegak, sedang ruh (jiwa)nya, ialah terdapatnya rahasia ikhlas (ketulusan) dalam amal perbuatan itu. Keikhlasan seseorang dalam amal perbuatannya menurut tingkat kedudukannya, maka keikhlasan orang abrar, apabila amal perbuatan itu telah bersih dari riyaa’ yang jelas maupun yang samar, sedang tujuan amal perbuatan mereka selalu hanya pahala yang dijanjikan oleh Allah kepada hambaNya yang ikhlas. Dan ini terambil dari ayat : “Iyyaaka na’budu : Hanya kepadaMu kami menyembah, dan tiada kami mempersekutukan Engkau dalam ibadatku ini kepada sesuatu yang lain. Adapun keikhlasan orang-orang mugarrabin ialah menterapkan pengertian : “Laa haula walaa quwwata illaa billaahi” : Tiada daya untuk mengelakkan, dan tiada kekuatan untuk berbuat apapun kecuali dengan pertolongan langsung dari Allah, tiada daya kekuatan sendiri, sedang semua itu hanya daripada Allah, ia merasa bahwa semua amal perbuatan semata-mata kurnia Allah kepadanya, sebab Allah yang memberi hidayat dan taufiq, ini terambil dari ayat : “Iyyaaka nasta’ iin” Hanya kepadaMu kami mengharap bantuan pertolongan, sebab kami sendiri tidak berdaya. Amal orang abrar dinamakan amal lillah : Beramal karena Allah. Sedangkan amal mugarrabin dinamakan : Amal billahi : Beramal dengan bantuan kurnia Allah. Amal lillah menghasilkan sekedar memperhatikan hukum lahir, sedangkan amal billahi menembus ke dalam perasaan hati. Seorang guru berkata : Perbaikilah amal perbuatan- mu dengan ikhlas, dan perbaikilah keikhlasanmu itu dengan perasaan tidak ada kekuatan sendiri, sedang semua kejadian itu hanya semata- mata karena bantuan pertolongan Allah ta’ala.
171. رُبَّمَا دَخَلَ عَلَيْكَ الرِّيَاءُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَنْظُرُ الْخَلْقُ إِلَيْكَ.
Ada kemungkinan masuknya riya' dalam amal perbuatanmu dari arah yang tidak ada orang yang melihat kepadamu. Beramal di muka orang untuk dilihat orang itu riya' yang terang jelas. Beramal sendirian, tidak ada orang yang mengetahui lalu ingin disanjung dihormat, bahkan jika ada kebutuhan supaya lekas-lekas orang membantu kepadanya, atau bila membeli sesuatu supaya dikorting (dikurangi) harga- nya, dan sekiranya ada orang yang tidak hormat padanya, ia mengharap semoga terkena siksa atau balasan Allah, ini semuanya termasuk riya' yang samar. Rasulullah saw. bersabda : Syirik itu ada yang lebih samar dari jalannya semut hitam di atas batu hitam di malam yang gelap. Dan riya' termaşuk dari syirik yang samar. Yaitu beramal tidak karena Allah ta'ala.
Ali bin Abi Thalib ra. berkata : Kelak pada hari kiamat Allah akan berkata kepada orang-orang yang zahid dan fakir : Tidakkah telah dimurah- kan (diturunkan) harga barang-barang untuk kamu, tidakkan jika kamu, berjalan lalu diberi salam lebih dahulu, tidakkah jika kamu berhajat (kepentingan) segera disampaikan segala hajatmu. Di dalam lain hadits : Kini tidak ada pahala bagimu, sebab semua pahalamu telah kamu terima semasa hidup di dunia. Abdullah bin Al-Mubarak meriwayatkan dari
Wahb bin Munabbih : ada seorang ahli ibadat berkata : kepada kawan- kawannya : Kami setelah meninggalkan harta kekayaan ini tidak kuatir menyeleweng dari jalan Allah, tetapi kami kuatir kalau-kalau kami telah menyeleweng dari agama melebihi dari penyelewenangan orang yang banyak harta dan anak buah, karena ada di antara kami yang ingin dihormati, disanjung karena agamanya, jika berhajat minta lekas disampaikan hajat- nya karena merasa beragama. Jika membeli sesuatu minta dimurahkan
karena merasa beragama. Ketika berita nasehat ini sampai kepada raja, maka datangiah raja dengan rombongannya yang besar sekali untuk berziarah kepada gunt vang bernasehat demikian kepada kawan-kawannya İtu, dun ketika terdengar kepadanya bahwa raja akan ziarah kepadanya, segera ia minra zepada kawannya berbagai macam makanan, lalau ia anakan dengan razas, sehingga keaka maja bertanya : Manakah orang vang meinbert nasehat demikian itn ? Di jawab : Itulah orang yang sedang nakan. Maka raja bertanya : bagaimanakah keadaanmu ? Jawabnya : amu y Jawabdya seperti orang banvak, baik-baik saja. Maka ketika raja melihat keadaan itu iz berkata kepada rombongannya : Tidak perlu datang kepada orang ui, tidak ada sebaikon baginya, ialu kembali raja. Tiba-tiba orang itu berkata : Alhamdulillah yang menghalaukan engkau darı padaku dan menjadikan engkau mencela padaku. Yusuf bin Al-Husain Arrazy berkata : Sesuatu yang amat berharga di dunia ini ialah ikhlas, beberapa kali aku bersungguh-sungguh untuk menghilangkan riya' dari dalam hatiku, tiba-tiba ia tumbuh dalam lain corak (warna).
Ada kemungkinan masuknya riya' dalam amal perbuatanmu dari arah yang tidak ada orang yang melihat kepadamu. Beramal di muka orang untuk dilihat orang itu riya' yang terang jelas. Beramal sendirian, tidak ada orang yang mengetahui lalu ingin disanjung dihormat, bahkan jika ada kebutuhan supaya lekas-lekas orang membantu kepadanya, atau bila membeli sesuatu supaya dikorting (dikurangi) harga- nya, dan sekiranya ada orang yang tidak hormat padanya, ia mengharap semoga terkena siksa atau balasan Allah, ini semuanya termasuk riya' yang samar. Rasulullah saw. bersabda : Syirik itu ada yang lebih samar dari jalannya semut hitam di atas batu hitam di malam yang gelap. Dan riya' termaşuk dari syirik yang samar. Yaitu beramal tidak karena Allah ta'ala.
Ali bin Abi Thalib ra. berkata : Kelak pada hari kiamat Allah akan berkata kepada orang-orang yang zahid dan fakir : Tidakkah telah dimurah- kan (diturunkan) harga barang-barang untuk kamu, tidakkan jika kamu, berjalan lalu diberi salam lebih dahulu, tidakkah jika kamu berhajat (kepentingan) segera disampaikan segala hajatmu. Di dalam lain hadits : Kini tidak ada pahala bagimu, sebab semua pahalamu telah kamu terima semasa hidup di dunia. Abdullah bin Al-Mubarak meriwayatkan dari
Wahb bin Munabbih : ada seorang ahli ibadat berkata : kepada kawan- kawannya : Kami setelah meninggalkan harta kekayaan ini tidak kuatir menyeleweng dari jalan Allah, tetapi kami kuatir kalau-kalau kami telah menyeleweng dari agama melebihi dari penyelewenangan orang yang banyak harta dan anak buah, karena ada di antara kami yang ingin dihormati, disanjung karena agamanya, jika berhajat minta lekas disampaikan hajat- nya karena merasa beragama. Jika membeli sesuatu minta dimurahkan
karena merasa beragama. Ketika berita nasehat ini sampai kepada raja, maka datangiah raja dengan rombongannya yang besar sekali untuk berziarah kepada gunt vang bernasehat demikian kepada kawan-kawannya İtu, dun ketika terdengar kepadanya bahwa raja akan ziarah kepadanya, segera ia minra zepada kawannya berbagai macam makanan, lalau ia anakan dengan razas, sehingga keaka maja bertanya : Manakah orang vang meinbert nasehat demikian itn ? Di jawab : Itulah orang yang sedang nakan. Maka raja bertanya : bagaimanakah keadaanmu ? Jawabnya : amu y Jawabdya seperti orang banvak, baik-baik saja. Maka ketika raja melihat keadaan itu iz berkata kepada rombongannya : Tidak perlu datang kepada orang ui, tidak ada sebaikon baginya, ialu kembali raja. Tiba-tiba orang itu berkata : Alhamdulillah yang menghalaukan engkau darı padaku dan menjadikan engkau mencela padaku. Yusuf bin Al-Husain Arrazy berkata : Sesuatu yang amat berharga di dunia ini ialah ikhlas, beberapa kali aku bersungguh-sungguh untuk menghilangkan riya' dari dalam hatiku, tiba-tiba ia tumbuh dalam lain corak (warna).
243. الْعِلْمُ النَّافِعُ هُوَ الَّذِي يَنْبَسِطُ فِي الصَّدْرِ شُعَاعُهُ، وَيَنْكَشِفُ بِهِ عَنِ الْقَلْبِ قِنَاعُهُ.
Ilmu yang berguna ialah yang meluas dalam dada sinar cahayanya, dan membuka penutup hati.
Ilmu yang berguna (bermanfaat) itu ialah mengenal zat Allah dan sifat serta asma (nama) dan perbutan Allah. Juga mengerti bagaimana mengabdi diri kepada Allah serta beradab kepadaNya. Nabi Dawud as. berkata : Ilmu di dalam dada bagaikan lampu dalam rumah. Imam Malik bin Anas ra. berkata : Bukan yang bernama ilmu itu kepandaian atau banyak meriwayatkan, tetapi ilmu itu hanya nur yang diturunkan Allah dalam hati manusia. Dan bergunanya ilmu itu untuk mendekatkan manusia kepada Allah dan menjauhkannya dari kesombongan diri.
Al-Junaid berkata : Ilmu itu ialah mengenal Tuhanmu dan tidak melampaui kedudukan dirimu (yakni menyadari kehambaanmu).
Ilmu yang berguna ialah yang meluas dalam dada sinar cahayanya, dan membuka penutup hati.
Ilmu yang berguna (bermanfaat) itu ialah mengenal zat Allah dan sifat serta asma (nama) dan perbutan Allah. Juga mengerti bagaimana mengabdi diri kepada Allah serta beradab kepadaNya. Nabi Dawud as. berkata : Ilmu di dalam dada bagaikan lampu dalam rumah. Imam Malik bin Anas ra. berkata : Bukan yang bernama ilmu itu kepandaian atau banyak meriwayatkan, tetapi ilmu itu hanya nur yang diturunkan Allah dalam hati manusia. Dan bergunanya ilmu itu untuk mendekatkan manusia kepada Allah dan menjauhkannya dari kesombongan diri.
Al-Junaid berkata : Ilmu itu ialah mengenal Tuhanmu dan tidak melampaui kedudukan dirimu (yakni menyadari kehambaanmu).
257. جَعَلَكَ فِي الْعَالَمِ الْمُتَوَسِّطِ بَيْنَ مُلْكِهِ وَمَلَكُوتِهِ لِيُعْلِمَكَ جَلاَلَةَ قَدْرِكَ بَيْنَ مَخْلُوقَاتِهِ، وَأَنَّكَ جَوْهَرٌ تَنْطَوِي عَلَيْكَ أَصْدَافُ مُكَوَّنَاتِهِ.
Allah sengaja menempatkan engkau dalam alam yang pertengahan antara alam mulk (dunia) dan alam malakut (ghaib) untuk memberimu pengetahuan tentang kebesaran kedudukanmu diantara semua makhluk, dan bahwa engkau sebagai permata yang diliputi/ dikelilingi oleh wadah tempatnya yang berupa alam ini.
Abul-Abbas Almarsy ra. berkata : Isi alam ini semua bagaikan hamba tunduk padamu hai manusia, sedang engkau hanya hamba Allah ta'ala semata-mata. Tersebut dalam kitab-kitab Allah yang terdahulu : Hai anak Adam, Akulah (Allah kepentinganmu/kebutuhanmu) yang tidak dapat engkau abaikan, karena itu tetaplah engkau pada apa yang engkau butuhkan itu.
Allah juga berfirman : Hai anak Adam, Aku jadikan segala sesuatu untukmu dan aku jadikan engkau untukku, karena itu jangan sibuk dengan apa yang pasti datang kepadamu, sehingga meninggalkan apa yang engkau dijadikan untukNya.
Firman Allah :
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا (البقرة: ٢٩)
Dialah Allah yang menjadikan untuk kamu semua apa yang di bumi.
Firman Allah :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (الذاريات: ٥٦)
Tiadalah Aku menjadikan manusia dan jin kecuali supaya ibadah kepadaKu. Al-Wasithy dalam menafsirkan ayat : Sungguh Kami (Allah) telah memuliakan anak Adam (manusia). Yakni Kami serahkan kepada mereka alam seisinya supaya mereka tidak bingung atau tertipu oleh sesuatu dan supaya bulat melulu beribadah (mengabdikan diri kepada Allah).
Allah sengaja menempatkan engkau dalam alam yang pertengahan antara alam mulk (dunia) dan alam malakut (ghaib) untuk memberimu pengetahuan tentang kebesaran kedudukanmu diantara semua makhluk, dan bahwa engkau sebagai permata yang diliputi/ dikelilingi oleh wadah tempatnya yang berupa alam ini.
Abul-Abbas Almarsy ra. berkata : Isi alam ini semua bagaikan hamba tunduk padamu hai manusia, sedang engkau hanya hamba Allah ta'ala semata-mata. Tersebut dalam kitab-kitab Allah yang terdahulu : Hai anak Adam, Akulah (Allah kepentinganmu/kebutuhanmu) yang tidak dapat engkau abaikan, karena itu tetaplah engkau pada apa yang engkau butuhkan itu.
Allah juga berfirman : Hai anak Adam, Aku jadikan segala sesuatu untukmu dan aku jadikan engkau untukku, karena itu jangan sibuk dengan apa yang pasti datang kepadamu, sehingga meninggalkan apa yang engkau dijadikan untukNya.
Firman Allah :
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا (البقرة: ٢٩)
Dialah Allah yang menjadikan untuk kamu semua apa yang di bumi.
Firman Allah :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (الذاريات: ٥٦)
Tiadalah Aku menjadikan manusia dan jin kecuali supaya ibadah kepadaKu. Al-Wasithy dalam menafsirkan ayat : Sungguh Kami (Allah) telah memuliakan anak Adam (manusia). Yakni Kami serahkan kepada mereka alam seisinya supaya mereka tidak bingung atau tertipu oleh sesuatu dan supaya bulat melulu beribadah (mengabdikan diri kepada Allah).