Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

007. لاَ يُشَكِّكَنَّكَ فِي الْوَعْدِ عَدَمُ وُقُوعِ الْمَوْعُودِ وَإِنْ تَعَيَّنَ زَمَنُهُ، لِئَلاَّ يَكُونَ ذٰلِكَ قَدْحًا فِي بَصِيرَتِكَ وَإِخْمَادًا لِنُورِ سَرِيرَتِكَ.

Jangan sampai meragukan kamu, terhadap janji Allah, karena tidak terlaksananya apa yang telah dijanjikan itu, meskipun telah tertentu (tiba) masanya, supaya tidak menyaiani pandangan mata hatimu, atau memadamkan nur cahaya hatimu (sirmu).

Manusia sebagai hamba tidak mengetahui bilakah Allah akan menurunkan karunia rahmatNya, sehingga manusia jika melihat tanda-tanda ia menduga (mengira) mungkin telah tiba saatnya, padahąl bagi Allah belum memenuhi semua syarat yang dikehendaki- Nya, maka bila tidak terjadi apa yang telah dikira-kira itu, hendaknya tiada ragu terhadap kebenaran janjı Allah. Sebagaimana yang terjadi dalam Sulhul-Hudaibiyah, ketika Rasulullah saw. menceriterakan impiannya kepada sahabat, sehingga mereka mengira bahwa pada tahun itu mereka akan dapat masuk Mekkah dan melaksanakan ibadat Umroh dengan aman sejahtera (yaitu mimpi Nabi saw. yang tersebut dalam surat Alfathi ayat 27). Sehingga ketika gagal tujuan umroh karena ditolak oleh bangsa Quraisy dan terjadi penanda tanganan perjanjian Sulhul-Hudaibiyah, yang oleh Umar dan sahabat- sahabat lainnya dianggap sangat mengecewakan, maka ketika Umar ra. memajukan beberapa pertanyaan, dijawab oleh Nabi saw : Aku hamba Allah dan utusannya, dan Allah tidak akan mengabaikan aku.

Firman Allah :

حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ (البقرة: ٢١٤)

Dalam menghadapi ujian Allah. Sehingga Rasulullah dan para sahabat yang percaya kepadaNya sama-sama berkata : Bilakah tibanya bantuan (pertolongan) Allah ? Ingatlah, sesungguhnya bantuan pertolongan Allah telah hampir tiba (amat dekat). (S. Al-Bagarah 214).

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

178. إِنَّمَا احْتَجَبَ لِشِدَّةِ ظُهُورِهِ، وَخَفِيَ عَنِ الْأَبْصَارِ لِعِظَمِ نُورِهِ.

Sesungguhnya terhijabnya Allah dari penglihatanmu karena sangat terangnya, dan samar dari penglihatan itu karena besarnya sinar cahaya nurnya.

Alat panca indera manusia sangat terbatas, maka untuk mencapai sesuatu harus tepat pada ukuran yang tertentu, jika sangat jauh tidak dapat dicapai. Demikian pula terangnya sesuatu yang akan dicapai harus dalam ukuran yang memungkinkan, sehingga gelap tidak dapat dicapai, demikian pula jika sangat terang menyilaukan juga tidak dapat dilihat. Kedua sebab ini sebenarnya bukan hijab sebab sesuatu itu tidak dapat terhijab oleh dzatnya sendiri, tetapi yang nyata kini yang menjadi hijab itu hanya kelemahan alat yang ada pada manusia itu sendiri. Kata pujangga dalam gubahan syairnya : "Dengan cahaya dapat menjadi terang semua yang engkau lihat dari bentuk gambar lukisan dan dengan nur itu juga adanya benda-benda alam ini, tidak dapat diragukan". Tetapi ia menjadi samar karena sangat terangnya sehingga tidak tercapai oleh panca indera, tetapi dapat dicapai oleh orang yang tajam matahatinya. Maka apabila engkau melihat dengan matahatimu, tidak akan me- nemukan sesuatu yang terlukis pada benda-benda itu selain daripadanya. Dan apabila engkau mencari sesuatu hakikat dari lainNya, maka nyata engkau masih tergelincir oleh kebodohanmu sendiri.

Hikam Ibnu 'Atoillah

070. مَا بَسَقَتْ أَغْصَانُ ذُلٍّ إِلاَّ عَلَى بِذْرِ طَمَعٍ.

Tidak akan berkembang biak berbagai cabang kehinaan itu, *kecuali di atas bibit tamak (kerakusan). Sifat tamak (rakus) itu adalah bibit dari segala macam kehinaan dan kerendahan.

Abubakar Al-Warraq Alhakiem berkata : Andaikan sifat tamak itu dapat ditanyaii : Siapakah ayahmu? Pasti jawabnya : Ragu terhadap takdir Allah. Dan bila ditanya : Apakah pekerjaan mu ? Jawabnya : Merendahkan diri. Dan bila ditanya : Apakah tujuanmu? Jawabnya : Tidak dapat apa-apa. Ketika Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. baru masuk ke masjid jami' di Basrah, didapatkan banyak orang yang memberi ceramah di dalamnya. Maka ia menguji mereka dengan beberapa pertanyaan dan yang ternyata tidak dapat menjawab dengan tepat, diusir dan tidak diizinkan memberi ceramah di masjid itu, dan ketika sampai ke majlis Al-Hasan Al-Basry, ia bertanya : Hai pemuda, saya akan bertanya kepadamu sesuatu, jika engkau dapat menjawab, aku izinkan engkau terus mengajar di sini, tetapi jika engkau tidak dapat menjawab, aku usir engkau sebagaimana lain-lain temanmu yang telah aku usir itu. Jawab Al-Hasan : Tanyakan sekehendakmu. Sayyidina Ali bertanya : Apakah yang dapat mengukuhkan agama ? Jawab A1-Hasan : Wara' (yakni berjaga-jaga diri/menjauh dari segala syubhat dan haram). Lalu ditanya : Apakah yang dapat merusak agama ? Jawabnya : Tamak (rakus). Imam Ali berkata kepadanya : Engkau boleh tetap mengajar di sini, orang yang seperti engkau inilah yang dapat memberi ceramah kepada orang-orang. Seorang guru berkata : Dahulu ketika dalam permulaan bidayahku di Iskandariyah, pada suatu hari ketika aku akan membeli suatu keperluan dari seorang yang mengenal aku, timbul dalam perasaan hatiku; mungkin ia tidak menerima uangku ini, tiba-tiba terdengar suara yang berbunyi : Keselamatan dalam agama hanya dalam memutuskan harapan dari sesama makhluk Wara' dalam agama itu menunjukkan adanya keyakinan dan sempurnanya bersandar diri kepada Allah. Wara' yaitu jika sudah merasa tiada hubungan antara dia dengan makhluk, baik dalam pemberian, penerimaan atau penolakan, dan semua itu hanya terlihat langsung dari Allah ta'ala. Sahl bin Abdullah berkata : Di dalam iman tidak ada pandangan sebab perantara, sebab itu hanya dalam Islam sebelum mencapai iman. Semua hamba pasti akan makan rizqinya, hanya mereka berbeda- beda : ada yang makan dengan berhina-hina yaitu peminta-peminta. Ada yang makan rizqinya dengan bekerja keras yaitu kaum buruh, ada yang makan rizqinya dengan menunggu, yaitu pedagang yang menunggu lakunya barang. Adapun yang makan rizqinya dengan rasa mulya, yaitu orang sufi yang merasa tidak ada perantara dengan Tuhan.

Disalin