Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

058. مِنْ عَلاَمَاتِ مَوْتِ الْقَلْبِ عَدَمُ الْحُزْنِ عَلَى مَا فَاتَكَ مِنَ الْمُوَافَقَاتِ، وَتَرْكُ النَّدَمِ عَلَى مَا فَعَلْتَهُ مِنْ وُجُودِ الزَّلاَّتِ.

Sebagian daripada tanda matinya hati, yaitu jika tidak merasa sedih (susah) karena tertinggalnya suatu amal perbuatan kebaikan, (kewajiban), juga tidak menyesal jika terjadi berbuat suatu pelanggaran dosa.

Dalam suatu hadits Rasulullah saw. bersabda :

مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ فَهُوَ مُؤْمِنٌ.

Siapa yang merasa senang oleh amal kebaikannya, dan merasa sedih/menyesal atas perbuatan dosanya, maka ia seorang mukmin (beriman). * Abdullah bin Mas’ud ra. berkata : Ketika kami dalam majlis Rasulullah saw. tiba-tiba datang seorang turun dari kendaraannya dan mendekat kepada Nabi saw. dan berkata : Ya Rasulullah, saya telah melelahkan kendaraanku selama sembilan hari, maka saya jalankan terus menerus selama enam hari, tidak tidur diwaktu malam dan puasa pada siang hari, hingga lelah benar kendaraanku ini, keperluannya hanya untuk menanyakan kepadamu dua masalah yang telah merisaukan hatiku hingga tidak dapat tidur. Lalu ditanya oleh Nabi saw. : Siapakah engkau ? Jawabnya : Zaidul-Khoir. Berkata Nabi : Engkau Zaidul-Khoir, tanyakanlah kemungkinan sesuatu yang sukar itu aku sudah pernah ditanyainya. Berkata Zaid : Saya akan bertanya kepadamu tandanya orang yang disukai oleh Allah dan yang tidak disukai (yang dimurkai)? Jawab Nabi saw : Untung, untung, bagaimanakah keadaanmu kini hai Zaid Jawab Zaid : Saya kini suka kepada amal kebaikan dan orang-orang yang melakukan amal kebaikan, bahkan suka akan tersebarnya amal kebaikan itu, dan bila aku ketinggalan merasa menyesal dan rindu pada kebaikan itu, dan bila aku berbuat amal sedikit atau banyak, tetap saya yakin akan pahalanya. Jawab Nabi saw. : Ya itu, yaitulah dia, andaikan Allah tidak suka kepadamu, tentu engkau disiapkan untuk melakukan yang lain dari itu, dan tidak perduli di jurang yang mana engkau akan binasa. Berkata Zaid : Cukup-cukup, lalu ia berangkat kembali di atas kendaraannya itu.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

125. إِنَّمَا يَسْتَوْحِشُ الْعُبَّادُ وَالزُّهَّادُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ لِغَيْبَتِهِمْ عَنِ اللهِ فِي كُلِّ شَيْءٍ، فَلَوْ شَهِدُوهُ فِي كُلِّ شَيْءٍ لَمْ يَسْتَوْحِشُوا مِنْ شَيْءٍ.

Sesungguhnya yang menyebabkan kerisauan hatı (perasaan) orang-orang ahli ibadat dan zahid dari segala sesuatu itu, disebabkan karena mereka masih terhijab/tidak melihat Allah dalam apa yang mereka lihat itu, tetapi andaikan mereka telah melihat Allah dalam

tiap sesuatu, pasti tidak akan risau dari (terhadap) segala sesuatu. Ahli ibadat ialah mereka yang bertagarrub (mendekat) kepada Allah dengan berbagai amal ibadat. Sedang orang zahid ialah orang yang ber- tagarrub kepada Allah dengan jalan tawakkal (menyerah). Kedua-dua golongan ini selalu ingin menjauh dari sesama makhluk, disebabkan mereka merasa bahwa makhluk itu hanya sebagai perintang dan merepot- kan mereka, sehingga tidak dapat khusu' tetap tagarrun kepada Allah. Tetapi sekiranya mereka lebih mendalam ma'rifat terhadap Allah, tentu mereka tiak dapat terhalang oleh sesuatu apapun, sebab Allah berada pada segala sesuatu, maka tidak ada sesuatu yang melupakan dari Allah, bahkan sebaliknya mengingatkan kebesaran kekuasaan Allah ta'ala.

Hikam Ibnu 'Atoillah

248. إِذَا عَلِمْتَ أَنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَغْفُلُ عَنْكَ فَلاَ تَغْفُلْ أَنْتَ عَمَّنْ نَاصِيَتُكَ بِيَدِهِ.

Jika engkau telah mengetahui bahwa syaithan itu tidak pernah lupa kepadamu, maka engkau jangan lupa terhadap Tuhan yang nasibmu ada di tanganNya.

Firman Allah :

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا (فاطر: ٦)

Sesungguhnya syaithan itu musuhmu, maka nyatakanlah ia sebagai musuh. (Fathir 6). Yakni waspadalah daripadanya, karena ia sebagai musuh yang tidak ada masa damainya.

Abul-Abbas Almarsy berkata : Dalam memahami ayat ini ada suatu kaum yang berfaham bahwa mereka diperintah untuk memusuhi syaithan maka mereka mengerahkan segala tenaga untuk memusuhi, tetapi lain golongan mengartikan : Sesungguhnya, syaithan musuhmu, dan Aku (Allah) kekasihmu, maka orang-orang ini sibuk kepada yang dicintai dan lupa pada musuhnya, akhirnya Allah sendiri yang melindungi kekasihnya dari gangguan syaithan sebagai musuh itu.

Abu Hasim berkata : Siapakah syaithan itu sehingga harus ditakuti, demi Allah ia sudah pernah diikuti tetapi sama sekali tidak berguna menurut kepadanya, begitu pula ketika dilanggar maka juga tidak dapat berbuat apa-apa.

Abu Sulaiman Addarany berkata : Tidak ada makhluk yang lebih rendah dari syaithan, dan andaikan Allah tidak menyuruh kami berlindung kepada Allah daripadanya, niscaya saya tidak merasa gentar sama sekali daripada syaithan. Dzinnun Almisry berkata : Jika syaithan itu dapat melihat engkau dari arah yang tidak dapat anda melihatnya, maka Allah melihat padanya dari arah yang dia tidak melihat kepada Allah, karena itu berlindunglah kepada Allah dari gangguan syaithan. Malik bin Dinar berkata : Suatu musuh yang dapat melihat padamu sedang kau tidak dapat melihatnya, sungguh sukar perlawanannya, kecuali jika dilindungi oleh Allah.

Abu Saied Alkhudry berkata : Saya telah mendengar Rasulullah saw. bersabda : Iblis berkata kepada Tuhan : Demi kemuliaan dan kebesaranMu, saya tetap akan menyesatkan anak Adam selama ada

ruh dikandung badannya, maka dijawab oleh Allah : Demi kemuliaan dan kebesaranKu : Saya tetap akan mengampunkan anak Adam selama mereka minta ampun (membaca istighfar) kepadaKu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

293. وَقَدْ أَوْحَى اللهُ إِلَى دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ: قُلْ لِلصِّدِّيقِينَ بِي فَلْيَفْرَحُوا، وَبِذِكْرِي فَلْيَتَنَعَّمُوا.

Allah telah mewahyukan kepada Nabi Dawud as. : Hai Dawud katakan kepada orang-orang siddiqin : Dengan Aku mereka hendaknya bersenang gembira, dan dengan berdzikir menyebut namaKu hendaknya mereka merasakan nikmat. Allah teiah menurunkan wahyu kepada Nabi Dawud as., supaya menyampaikan firman Allah kepada orang-orang yang benar-benar dalam iman percaya kepada Allah, supaya mereka hanya senang

kepada Allah tidak pada lain-lainnya, dan supaya mereka merasakan nikmat dalam berdzikir kepada Allah.

Disalin