Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

262. دَلَّ بِوُجُودِ آثَارِهِ عَلَى وُجُودِ أَسْمَائِهِ، وَبِوُجُودِ أَسْمَائِهِ عَلَى ثُبُوتِ أَوْصَافِهِ، وَبِثُبُوتِ أَوْصَافِهِ عَلَى وُجُودِ ذَاتِهِ، إِذْ مُحَالٌ أَنْ يَقُومَ الْوَصْفُ بِنَفْسِهِ. فَأَرْبَابُ التَّجَلِّي يُكْشَفُ لَهُمْ عَنْ كَمَالِ ذَاتِهِ، ثُمَّ يُرْجَعُونَ إِلَى شُهُودِ صِفَاتِهِ، ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَى التَّعَلُّقِ بِأَسْمَائِهِ، ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَى شُهُودِ آثَارِهِ. وَالسَّالِكُونَ عَلَى عَكْسِ ذٰلِكَ، فَنِهَايَةُ السَّالِكِينَ بِدَايَةُ الْمَجْذُوبِينَ، وَبِدَايَةُ السَّالِكِينَ نِهَايَةُ الْمَجْذُوبِينَ، لٰكِنْ لاَ بِمَعْنًى وَاحِدٍ، فَرُبَّمَا الْتَقَيَا فِي الطَّرِيقِ، هٰذَا فِي تَرَقِّيهِ وَهٰذَا فِي تَدَلِّيهِ.

Terbukti dengan adanya makhluk (alam) atas adanya nama- nama Allah dan dengan nama-nama itu atas adanya sifat, dan dengan pastinya adanya, sifat-sifat itu atas adanya dzat Allah, sebab muhal (tidak dapat diterima oleh akal) adanya sifat yang berdiri sendiri tanpa dzat. Maka orang-orang yang maj-dzub pertama terbuka (terlihat) oleh mereka kesempurnaan dzat Allah, kemudian menurun melihat sifat-sifat Allah, dan menurun pula melihat (bersandar) kepada nama- nama Allah, sehingga menurun melihat makhluk buatan Allah, sebaliknya orang salik dari bawah naik ke atas, maka puncak orang salik sampai ke permulaannya orang maj-dzub, dan permulaan orang

salik itulah penghabisan orang maj-dzub, tetapi tidak berarti sama dalam segala-galanya, hanya saja ada kalanya bertemu di jalanan yang satu ketika sedang mendaki dan yang lain sedang menurun. Adanya makhluk alam ini menunjukkan (membuktikan) adanya nama-nama Allah : Qaadir, aliim, hakiim, murid dan adanya nama- nama itu pasti adanya sifat-sifat : Qudrat, iradat, ilmu dan tiap-tiap sifat pasti berdiri di atas dzat sebab sifat tidak berdiri sendiri, maka pasti pula adanya dzat Allah. Sedang sifat makhluk (manusia) ada yang maj-dzub (yakni langsung dibukakan oleh Allah dan sampai kepada ilmu/mengenal Allah) bukan dari bawah/saluran yang umum, dan ada yang melalui jalan biasa dari bawah ke atas yaitu orang yang disebut orang salik. Dan keduanya selama belum mencapai puncak akhirannya belum dapat dijadikan guru yang dapat ditiru. Orang maj-dzub jika belum mengetahui perjalanan orang salik dan orang salik jika belum sampai ke puncak yang didapat (dibukakan) bagi orang maj-dzub.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

098. الْعَطَاءُ مِنَ الْخَلْقِ حِرْمَانٌ، وَالْمَنْعُ مِنَ اللهِ إِحْسَانٌ.

Pemberian dari makhluk itu suatu kerugian, dan penolakan dari Allah itu suatu pemberian dan karunia.

Ali bin Abi Thalib ra, berkata : Jangan merasa adanya yang memberi nikmat kepadamu selain Allah. Dan anggaplah segala nikmat yang engkau terima dari lain Allah itu sebagai kerugian. (yakni di antara engkau dengan Allah tidak ada badan perantara, maka semua nikmat yang engkau terima semata-mata dari Allah, dan bila terjadi engkau merasa menerima nikmat dari sesama manusia, maka itu sebagai kerugian bagimu). Seorang Hakim berkata : Menanggung budi kebaikan manusia itu lebih berat daripada sabar karena kekurangan (ketiadaan). Pemberian dari makhluk, pada umumnya menyebabkan terhijab dari Allah, sehingga tidak ingat pada Allah, dan merasa berhutang budi kepada sesama manusia, dan inilah letak kerugian moril. Sebaliknya penolakan yang menyebabkan ingat kepada Allah itu, berarti suatu karunia nikmat besar dari Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

221. مَا فَاتَ مِنْ عُمْرِكَ لاَ عِوَضَ لَهُ، وَمَا حَصَلَ لَكَ مِنْهُ لاَ قِيمَةَ لَهُ.

Yang telah hilang dari umur (usia) hidupmu tidak dapat ditarik kembali, sedang yang telah berhasil bagimu, tidak dapat dinilai harganya. Waktu itu sangat berharga karena itu jangan digunakan kecuali untuk sesuatu yang berharga. Adapula kata : Waktu itu adalah uang. Kata ahli sya'ir : Saat-saat dalam usia hidupmu itu bagaikan berlian yang sangat berharga, karena itu jadikanlah masa dan saat-saat yang berharga itu untuk mencapai kejayaan dunia akheratmu dan kebahagiaan.

Rasulullah saw. bersabda : Tiada sesuatu saat/masa yang datang pada seorang hamba, kemudian ia tidak berdzikir kepada Allah dalam saat itu, melainkan saat itu akan merupakan kemenyesalan pada hari qiamat. Kelak pada hari qiamat saat-saat umur manusia pada tiap hari dan malam itu akan diperlihatkan berupa 24 lemari yang berbaris, maka dapat melihat masing-masing lemari itu penuh dengan nikmat pembalasan, terhadap amal perbuatan yang dilakukan pada saat itu, adapun saat-saat yang tidak beramal apa-apa didalamnya, maka lemarinya pun kosong, maka di situlah letak kemenyesalan yang tidak terhingga. Dan sesal kemudian tetap tidak berguna.

Disalin