Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

218. رُبَّمَا وَرَدَتْ عَلَيْكَ الْأَنْوَارُ فَوَجَدَتِ الْقَلْبَ مَحْشُوًّا بِصُوَرِ الْآثَارِ، فَارْتَحَلَتْ مِنْ حَيْثُ نَزَلَتْ. فَرِّغْ قَلْبَكَ مِنَ الْأَغْيَارِ يَمْلَأْهُ بِالْمَعَارِفِ وَالْأَسْرَارِ.

Ada kalanya nur Ilahi turun kepadamu, tetapi didapatkan hati masih penuh dengan keduniaan/hawa nafsu, maka ia kembali ketempat yang ia turun dari padanya. Kosongkan hatimu dari segala sesuatu selain Allah, niscaya Allah akan memenuhinya dengan ma’rifat dan rahasia-rahasia. Nur Ilahi adakalanya datang ke hati, tetapi ia merasa tidak ada tempat karena itu ia kembali ke tempat asalnya. Maka oleh sebab demikian, maka bila engkau ingin mendapatkan nur Ilahi itu, hendaknya engkau kosongkan hatimu dari keduniaan dan segala sesuatu selain Allah. hati sedang gambar-gambar keduniaan masih melekat dalam cermin hatinya.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

284. فَإِذَا نَزَلُوا إِلَى سَمَاءِ الْحُقُوقِ أَوْ أَرْضِ الْحُظُوظِ فَبِالْإِذْنِ وَالتَّمْكِينِ وَالرُّسُوخِ فِي الْيَقِينِ، فَلَمْ يَنْزِلُوا إِلَى الْحُقُوقِ بِسُوءِ الْأَدَبِ وَالْغَفْلَةِ، وَلاَ إِلَى الْحُظُوظِ بِالشَّهْوَةِ وَالْمُتْعَةِ، بَلْ دَخَلُوا فِي ذٰلِكَ بِاللهِ وَلِلَّهِ وَمِنَ اللهِ وَإِلَى اللهِ.

Maka apabila mereka tiba di langit (yakni menunaikan) hak kewajiban, atau turun ke bumi (yang berarti) menurutkan hawa nafsu, maka keduanya itu dengan izin dan keyakinan yang mendalam. Karena itu tidak menunaikan kewajiban dengan menyalahi adab atau kelalaian, demikian pula bila menurutkan hawa nafsu, bukan semata-mata dorongan syahwat yang meluap atau kesenangan duniawi, tetapi mereka masuk dalam kedua-dua bagian itu dengan bantuan pertolongan Allah, dan untuk keridhaan Allah, menurut tuntunan Allah, serta berharap kepada Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

178. إِنَّمَا احْتَجَبَ لِشِدَّةِ ظُهُورِهِ، وَخَفِيَ عَنِ الْأَبْصَارِ لِعِظَمِ نُورِهِ.

Sesungguhnya terhijabnya Allah dari penglihatanmu karena sangat terangnya, dan samar dari penglihatan itu karena besarnya sinar cahaya nurnya.

Alat panca indera manusia sangat terbatas, maka untuk mencapai sesuatu harus tepat pada ukuran yang tertentu, jika sangat jauh tidak dapat dicapai. Demikian pula terangnya sesuatu yang akan dicapai harus dalam ukuran yang memungkinkan, sehingga gelap tidak dapat dicapai, demikian pula jika sangat terang menyilaukan juga tidak dapat dilihat. Kedua sebab ini sebenarnya bukan hijab sebab sesuatu itu tidak dapat terhijab oleh dzatnya sendiri, tetapi yang nyata kini yang menjadi hijab itu hanya kelemahan alat yang ada pada manusia itu sendiri. Kata pujangga dalam gubahan syairnya : "Dengan cahaya dapat menjadi terang semua yang engkau lihat dari bentuk gambar lukisan dan dengan nur itu juga adanya benda-benda alam ini, tidak dapat diragukan". Tetapi ia menjadi samar karena sangat terangnya sehingga tidak tercapai oleh panca indera, tetapi dapat dicapai oleh orang yang tajam matahatinya. Maka apabila engkau melihat dengan matahatimu, tidak akan me- nemukan sesuatu yang terlukis pada benda-benda itu selain daripadanya. Dan apabila engkau mencari sesuatu hakikat dari lainNya, maka nyata engkau masih tergelincir oleh kebodohanmu sendiri.

Hikam Ibnu 'Atoillah

163. نُورٌ مُسْتَوْدَعٌ فِي الْقُلُوبِ مَدَدُهُ مِنَ النُّورِ الْوَارِدِ مِنْ خَزَائِنِ الْغُيُوبِ.

Nur cahaya yang tersimpan dalam hati itu datangnya dari nur yang datang langsung dari perbendaharaan ghaib. Nur keyakinan yang ada dalam hati orang-orang aarif itu salurannya langsung daripada nur yang berasal dari perbendaharaan ghaib. Allah telah menerangi alam benda yang lahir ini dengan nur cahaya benda buatanNya, dan Allah menerangi hati batin itu dengan nur cahaya sifat-sifat-Nya.

Disalin