Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

084. مَتَى رَزَقَكَ الطَّاعَةَ وَالْغِنَى بِهِ عَنْهَا فَاعْلَمْ أَنَّهُ قَدْ أَسْبَغَ عَلَيْكَ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً.

Apabila Allah telah memberi rizqi kepadamu berupa perasaan puas melakukan taat (ibadat) pada lahirmu, dan merasa cukup kaya dengan Allah dalam hatimu, sehingga benar-benar tidak ada sandaran bagimu kecuali allah. Maka ketahuilah bahwa Allah telah melimpahkan kepadamu nikmat lahir batin. Seorang hamba dituntut dua macam, yaitu menurut perintah dan meninggalkan larangan pada lahirnya, dan bersandar/berharap kepada Allah pada batinnya. Karena itu siapa yang diberi rizqi oleh Allah demikian, berarti telah menerima kurnia nikmat Allah yang lengkap lahir batın.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

200. الْعِبَارَاتُ قُوتٌ لِعَائِلَةِ الْمُسْتَمِعِينَ، وَلَيْسَ لَكَ إِلاَّ مَا أَنْتَ لَهُ آكِلٌ.

Ibarat (kata-kata) itu sebagai makanan bagi pendengar yang berhajat dan membutuhkannya, dan engkau tidak mendapat apa-apa daripadanya kecuali yang engkau makan. Bagaimanapun aneka warnanya hidangan, maka yang berguna bagi tiap orang hanya yang dimakannya, dan masing-masing makan kesukaannya, memilih yang dimengertinya.

Terjadi ada tiga orang sama-sama mendengar suara yang berkata : Ya sa'tara birri maka masing-masing menerima kalimat itu sendiri-sendiri, Yang satu berkata : Saya telah mendengar suara itu berkata : Is'a tara birri. Berusahalah niscaya engkau akan melihat (mendapat) kurnia pemberianKu. Yang kedua berkata : Saya telah mendengar : Assa' atatara birri : Pada saat itu juga engkau akan mendapat (melihat) kurnia pemberianKu. Yang ketiga berkata : Saya telah mendengar : Ma ausa'a birri : Alangkah luasnya kurnia pemberianKu.

Firman Allah :

تُسْقَىٰ بِمَاءٍ وَاحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَىٰ بَعْضٍ فِي الْأُكُلِ (الرعد: ٤)

Disiram dengan satu macam air, tetapi Kami lebihkan yang satu dari yang lain dalam rasa makanannya.

Firman Allah :

قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَّشْرَبَهُمْ (البقرة: ٦٠)

Masing-masing golongan telah mengetahui di mana tempat minumnya. Muhyiddin (Muhammad) bin Al-Araby ra. berkata : Pada suatu hari kami mendapat undangan dari teman di Zugagil-ganadil di Mesir, tiba- tiba di situ bertemu dengan guru-guru, dan setelah hidangan dikeluarkan, di situ ada suatu wadah dipakai untuk tempat kencing, tetapi karena sudah tidak terpakai lagi, maka dipakai juga untuk tempat makanan, maka setelah selesai orang-orang makanan tiba-tiba wadah itu berkata : Karena kini saya telah mendapat kehormatan dari Allah untuk tempat makanan guru-guru ini maka sejak kini saya tidak rela untuk dipakai tempat kotoran, kemudian ia belah dua. Syaikh Muhyiddin bertanya kepada hadirin : Apakah yang kamu telah mendengar ? Jawab mereka : Ya, kami mendengar ia berkata : Sejak saya dipakai tempat makan untuk guru-guru, maka saya tidak mau menjadi tempat kotoran lagi. Berkata Muhyiddin : Tidak begitu katanya. Bertanya para hadirin : Lalu berkata apa ? Jawab Muhyiddin : Demikian pula hatimu setelah mendapat kehormatan dari Allah dijadikan tempat iman, maka janganlah rela ditempati najis-najis, syirik, maksiat dan cinta dunia.

Hikam Ibnu 'Atoillah

269. أَكْرَمَكَ كَرَامَاتٍ ثَلاَثٍ: جَعَلَكَ ذَاكِرًا لَهُ، وَلَوْلاَ فَضْلُهُ لَمْ تَكُنْ أَهْلاً لِجَرَيَانِ ذِكْرِهِ عَلَيْكَ، وَجَعَلَكَ مَذْكُورًا بِهِ إِذْ حَقَّقَ نِسْبَتَهُ لَدَيْكَ، وَجَعَلَكَ مَذْكُورًا عِنْدَهُ فَتَمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ.

Allah telah memuliakan engkau dengan tiga kehormatan (kemuliaan) kebesaran : menjadikan engkau berdzikir padaNya, padahal andaikan tidak ada kurniaNya, niscaya tidak patut (layak) engkau berdzikir padaNya. Dan menjadikan engkau terkenal dengan dzikir itu, karena Allah sendiri yang menisbahkan dzikir itu kepadamu. Dan men- jadikan engkau terkenal (tersebut) di sisi Allah, maka dengan demikian Allah telah menyempurnakan (melengkapi) nikmatNya kepadamu.

Firman Allah :

وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ (العنكبوت: ٤٥)

Demi sungguh dzikir Allah kepada hamba itulah yang lebih besar (daripada dzikir hamba terhadap Allah). Dan bagi hamba berdzikir kepada Allah itulah kemuliaan/ kebesaran hamba dan kekayaanNya yang tidak ada lebih besar dari itu.

Abu Hurairah ra. berkata : Rasulullah saw. bersabda : Allah berfirman : Aku selalu mengikuti persangkaan hambaKu, dan Aku selalu mendampingiNya selama ia berdzikir padaKu, jika ia dzikir padaKu dalam hatinya Aku ingat padanya dalam dzat Ku, dan bila dzikir padaKu di muka umum Aku ingati dia dalam umum yang lebih baik dari golongannya, dan bila ia mendekat padaKu sejengkal Aku mendekat padanya sehasta, dan bila ia mendekat padaKu sehasta, Aku mendekat padanya sedepa, dan bila ia datang kepadaKu berjalan, Aku datang kepadanya berlari.

Firman Allah :

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ (البقرة: ١٥٢)

Berdzikirlah kamu kepadaKu niscaya Aku (Allah) berdzikir kepadamu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

268. أَشْهَدَكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَسْتَشْهِدَكَ، فَنَطَقَتْ بِإِلٰهِيَّتِهِ الظَّوَاهِرُ، وَتَحَقَّقَتْ بِأَحَدِيَّتِهِ الْقُلُوبُ وَالسَّرَائِرُ.

Allah memperlihatkan dzatNya kepadamu, sebelum ia menuntut kepadamu harus mengakui kebesaranNya, sehingga nyata mengakui ke-TuhananNya segala makhluk yang lahir, dan nyata hakikat ke-Esa-anNya dalam hati dan sir perasaan. Allah bertajalli ke dalam hati tiap orang, menurut kadar kekuatan tingkat orang itu, sehingga iman tiap orang itu pun menurut apa yang diperlihatkan oleh Allah daripada kebesaran kekuasaannya. Apabila Allah telah bertajalli kepada seorang hambaNya, maka tampak pada orang ini bahwa semua makhluk ini seolah-olah mengakui ketuhanannya, sebagaimana makin yakin dalam hati sanubarinya (perasaannya ke Esa- an) Allah yang tidak bersekutu dalam dzat, sifat, af' aal, kekuasaan dan Kebesaran-Nya.

Disalin