Alangkah ajaibnya (sungguh sangat ajaib), bagaimana tampak wujud di dalam adam (tidak ada). Atau bagaimana dapat bertahan sesuatu yang hancur itu, di samping dzat yang bersifat gidam. Yakni sesuatu yang hakikatnya tidak ada bagaimana dapat tampak ada wujudnya. Hakikat adam (tidak ada) itu gelap, sedangkan wujud itu bagaikan nur terang. Demikian pula batil dan hak. Batil itu harus rusak hancur. Sedang hak itulah yang harus tetap kuat bertahan.
280. فَالْعَاقِلُ مَنْ كَانَ بِمَا هُوَ أَبْقَى أَفْرَحَ مِنْهُ بِمَا هُوَ يَفْنَى، قَدْ أَشْرَقَ نُورُهُ وَظَهَرَتْ تَبَاشِيرُهُ.
Maka orang yang sempurna akal, ialah yang lebih suka (gemar) pada apa yang kekal daripada yang rusak lenyap. Karena
telah terang nur hatinya, dan tampak tanda-tanda bukti nur itu pada seri mukanya.
Sahl bin Abdullah berkata : Siapa yang senang pada sesuatu yang tidak layak disenangi, maka ia telah mendatangkan kesusahan yang tidak ada habisnya.
Maka orang yang sempurna akal, ialah yang lebih suka (gemar) pada apa yang kekal daripada yang rusak lenyap. Karena
telah terang nur hatinya, dan tampak tanda-tanda bukti nur itu pada seri mukanya.
Sahl bin Abdullah berkata : Siapa yang senang pada sesuatu yang tidak layak disenangi, maka ia telah mendatangkan kesusahan yang tidak ada habisnya.
128. لَمَّا عَلِمَ الْحَقُّ مِنْكَ وُجُودَ الْمَلَلِ لَوَّنَ لَكَ الطَّاعَاتِ، وَعَلِمَ مَا فِيكَ مِنْ وُجُودِ الشَّرَهِ فَحَجَرَهَا عَلَيْكَ فِي بَعْضِ الْأَوْقَاتِ، لِيَكُونَ هَمُّكَ إِقَامَةَ الصَّلاَةِ لاَ وُجُودَ الصَّلاَةِ، فَمَا كُلُّ مُصَلٍّ مُقِيمٌ.
Ketika Allah mengetahui bahwa engkau mudah jemu, maka Allah membuat bermacam-macam cara taat, dan ketika Allah telah mengetahui bahwa engkau juga bersifat rakus, maka dilarang melakukan sembahyang dalam beberapa waktu, supaya semangatmu tertuju pada sempurnanya sembahyang bukan sekedar sembahyang, sebab bukan semua orang yang sembahyang itu sempurna sembahyangnya. Igamatus-sholah (tegak sempurnanya sembahyang) yaitu dengan menjaga syarat, rukunnya. Kemudian setelah sempurna, menjaga khusyu* dalam sembahyang, supaya dalam sembahyang tidak ingat sesuatu melainkan kepada Allah semata-mata, dan setelah merasa bahwa sembahyangnya itu semata-mata kurnia pemberian Tuhan kepadanya.
Ketika Allah mengetahui bahwa engkau mudah jemu, maka Allah membuat bermacam-macam cara taat, dan ketika Allah telah mengetahui bahwa engkau juga bersifat rakus, maka dilarang melakukan sembahyang dalam beberapa waktu, supaya semangatmu tertuju pada sempurnanya sembahyang bukan sekedar sembahyang, sebab bukan semua orang yang sembahyang itu sempurna sembahyangnya. Igamatus-sholah (tegak sempurnanya sembahyang) yaitu dengan menjaga syarat, rukunnya. Kemudian setelah sempurna, menjaga khusyu* dalam sembahyang, supaya dalam sembahyang tidak ingat sesuatu melainkan kepada Allah semata-mata, dan setelah merasa bahwa sembahyangnya itu semata-mata kurnia pemberian Tuhan kepadanya.
275. الْفِكْرَةُ فِكْرَتَانِ: فِكْرَةُ تَصْدِيقٍ وَإِيمَانٍ، وَفِكْرَةُ شُهُودٍ وَعِيَانٍ، فَالْأُولَى لِأَرْبَابِ الاِعْتِبَارِ، وَالثَّانِي لِأَرْبَابِ الشُّهُودِ وَالاِسْتِبْصَارِ.
Pikiran itu dua macam : Pikiran yang timbul dari iman percaya, dan pikiran yang timbul karena melihat kenyataan, maka yang pertama bagi orang salik yang mengambil dalil : Adanya makhluk menunjukkan adanya khalik, ialah mereka ahli i tibar. Sedang yang kedua bagi mereka yang terbuka hijab hingga dapat melihat kenyataan dengan matahatinya. Dan yang kedua ini berdalil : Adanya yang menjadikan itulah yang menunjukkan adanya benda yang dijadikan. Yang pertama yaitu orang salik, dari bawah ke atas, sedang orang majdzub dari atas ke bawah. Orang yang memikirkan (memperhatikan) adanya alam (makhluk) ada yang langsung melihat pada yang menjadikan, sehingga ia berkata : Karena adanya pencipta, maka terjadilah yang dicipta, sebaliknya ada yang terpengaruh oleh bendanya, sehingga berkata : Adanya ciptaan ini menunjukkan adanya pencipta.
Pikiran itu dua macam : Pikiran yang timbul dari iman percaya, dan pikiran yang timbul karena melihat kenyataan, maka yang pertama bagi orang salik yang mengambil dalil : Adanya makhluk menunjukkan adanya khalik, ialah mereka ahli i tibar. Sedang yang kedua bagi mereka yang terbuka hijab hingga dapat melihat kenyataan dengan matahatinya. Dan yang kedua ini berdalil : Adanya yang menjadikan itulah yang menunjukkan adanya benda yang dijadikan. Yang pertama yaitu orang salik, dari bawah ke atas, sedang orang majdzub dari atas ke bawah. Orang yang memikirkan (memperhatikan) adanya alam (makhluk) ada yang langsung melihat pada yang menjadikan, sehingga ia berkata : Karena adanya pencipta, maka terjadilah yang dicipta, sebaliknya ada yang terpengaruh oleh bendanya, sehingga berkata : Adanya ciptaan ini menunjukkan adanya pencipta.