Cukup menjadi balasan Allah atas ketaatanmu, jika Allah ridha (rela) menjadikan engkau ahli taat/ibadat. Taufiq dan hidayah yang diberikan Allah kepada seorang hamba itu sebagai karunia yang sebesar-besarnya bagi seorang hamba, sebab dengan hidayat dan taufiq itulah seorang hamba dapat menerima nikmat dan bahagia dunia akherat.
056. حُسْنُ الْأَعْمَالِ نَتَائِجُ حُسْنِ الْأَحْوَالِ، وَحُسْنُ الْأَحْوَالِ مِنَ التَّحَقُّقِ فِي مَقَامَاتِ الْإِنْزَالِ.
Baiknya amal perbuatan itu, sebagai hasil dari baiknya budi dan hati, dan baiknya hati itu sebagai hasil dari kesungguhan Istiqamah pada apa yang diperintah oleh Tuhan (yakni tidak bergerak dari apa yang didudukkan oleh Tuhan). Amal yang baik itu hanya yang diterima oleh Tuhan, dan itu pasti karena baik dalam segi keikhlasan kepada Allah, dan tidak mungkin ikhlas kecuali jika ia mengerti benar-benar kedudukan dirinya terhadap Tuhannya. Abu Hamid Alghazzaly berkata : Tiap tingkat dalam kepercayaan/keyakinan itu mempunyai ilmu, dan hal (perasaan) dan amal perbuatan. Ilmu-yaqin (keyakinan yang didapat dari pengertian teori pelajaran). Ainul-yaqin keyakinan yang didapat dari fakta kenyataan lahir setelah terungkap/terbuka). Haqqul-yagin (keyakinan yang benar-benar langsung dari Allah, dan tidak dapat diragukan sedikitpun, yaitu keyakinan yang mutlak.
Baiknya amal perbuatan itu, sebagai hasil dari baiknya budi dan hati, dan baiknya hati itu sebagai hasil dari kesungguhan Istiqamah pada apa yang diperintah oleh Tuhan (yakni tidak bergerak dari apa yang didudukkan oleh Tuhan). Amal yang baik itu hanya yang diterima oleh Tuhan, dan itu pasti karena baik dalam segi keikhlasan kepada Allah, dan tidak mungkin ikhlas kecuali jika ia mengerti benar-benar kedudukan dirinya terhadap Tuhannya. Abu Hamid Alghazzaly berkata : Tiap tingkat dalam kepercayaan/keyakinan itu mempunyai ilmu, dan hal (perasaan) dan amal perbuatan. Ilmu-yaqin (keyakinan yang didapat dari pengertian teori pelajaran). Ainul-yaqin keyakinan yang didapat dari fakta kenyataan lahir setelah terungkap/terbuka). Haqqul-yagin (keyakinan yang benar-benar langsung dari Allah, dan tidak dapat diragukan sedikitpun, yaitu keyakinan yang mutlak.
275. الْفِكْرَةُ فِكْرَتَانِ: فِكْرَةُ تَصْدِيقٍ وَإِيمَانٍ، وَفِكْرَةُ شُهُودٍ وَعِيَانٍ، فَالْأُولَى لِأَرْبَابِ الاِعْتِبَارِ، وَالثَّانِي لِأَرْبَابِ الشُّهُودِ وَالاِسْتِبْصَارِ.
Pikiran itu dua macam : Pikiran yang timbul dari iman percaya, dan pikiran yang timbul karena melihat kenyataan, maka yang pertama bagi orang salik yang mengambil dalil : Adanya makhluk menunjukkan adanya khalik, ialah mereka ahli i tibar. Sedang yang kedua bagi mereka yang terbuka hijab hingga dapat melihat kenyataan dengan matahatinya. Dan yang kedua ini berdalil : Adanya yang menjadikan itulah yang menunjukkan adanya benda yang dijadikan. Yang pertama yaitu orang salik, dari bawah ke atas, sedang orang majdzub dari atas ke bawah. Orang yang memikirkan (memperhatikan) adanya alam (makhluk) ada yang langsung melihat pada yang menjadikan, sehingga ia berkata : Karena adanya pencipta, maka terjadilah yang dicipta, sebaliknya ada yang terpengaruh oleh bendanya, sehingga berkata : Adanya ciptaan ini menunjukkan adanya pencipta.
Pikiran itu dua macam : Pikiran yang timbul dari iman percaya, dan pikiran yang timbul karena melihat kenyataan, maka yang pertama bagi orang salik yang mengambil dalil : Adanya makhluk menunjukkan adanya khalik, ialah mereka ahli i tibar. Sedang yang kedua bagi mereka yang terbuka hijab hingga dapat melihat kenyataan dengan matahatinya. Dan yang kedua ini berdalil : Adanya yang menjadikan itulah yang menunjukkan adanya benda yang dijadikan. Yang pertama yaitu orang salik, dari bawah ke atas, sedang orang majdzub dari atas ke bawah. Orang yang memikirkan (memperhatikan) adanya alam (makhluk) ada yang langsung melihat pada yang menjadikan, sehingga ia berkata : Karena adanya pencipta, maka terjadilah yang dicipta, sebaliknya ada yang terpengaruh oleh bendanya, sehingga berkata : Adanya ciptaan ini menunjukkan adanya pencipta.
261. لاَ يَلْزَمُ مِنْ ثُبُوتِ الْخُصُوصِيَّةِ عَدَمُ وَصْفِ الْبَشَرِيَّةِ، إِنَّمَا مَثَلُ الْخُصُوصِيَّةِ كَإِشْرَاقِ شَمْسِ النَّهَارِ، ظَهَرَتْ فِي الْأُفُقِ وَلَيْسَتْ مِنْهُ، تَارَةً تُشْرِقُ شُمُوسُ أَوْصَافِهِ عَلَى لَيْلِ وُجُودِكَ، وَتَارَةً يَقْبِضُ ذٰلِكَ عَنْكَ فَيَرُدُّكَ إِلَى حُدُودِكَ، فَالنَّهَارُ لَيْسَ مِنْكَ وَإِلَيْكَ، وَلٰكِنَّهُ وَارِدٌ عَلَيْكَ.
Adanya sifat-sifat khushusiyah (kewalian) itu, tidak melazimkan, lengkapnya sifat-sifat manusia yang biasa dan umum. Sesungguhnya contoh/perumpamaan khushusiyah itu bagaikan terangnya matahari di waktu siang, tampak di ufuk tetapi bukan dari ufuk, ada kalanya terbit nur cahaya sifat-sifat Allah pada kegelapan kejadian wujudmu, dan ada kalanya dicabut yang demikian itu daripadamu, maka kembali engkau ke batas-batas asal kejadianmu, maka terang siang itu bukan daripadamu dan kepadamu tetapi ia datang menjelang padamu. Sifat-sifat khushusiyah (kewalian) seperti kasyaf terhadap sesuatu hal, atau kekuatan yang istimewa untuk berbuat dan mengadakan sesuatu, itu semua tidak melazimkan lenyap sifat-sifat manusia yang biasa, seperti kebodohan, kemiskinan dan kelemahan. Sama dengan sinar matahari terhadap benda-benda yang tadinya gelap mendapat cahaya matahari maka berubah menjadi terang, tetapi jika terbenam matahari itu kembali benda-benda itu kepada kegelapannya, sebab cahaya matahari itu tidak termasuk sifat dzatnya, maka apabila menerima nur tajalli maka tampak keluar dari padanya sifat-sifat Allah yang menerangi dzatnya itu, tetapi bila ditarik kembali nur
tajalli itu, maka kembalilah sifat-sifat yang asli pada manusia. Maka sifat-sifat khushusiyah (keistimewaan/kewalian) itu bukan sifat manusıa yang aslı, hanya menjelma (datang) kepadanya, pada sifat- sifat yang ditentukan Allah sendiri yang memberi itu.
Adanya sifat-sifat khushusiyah (kewalian) itu, tidak melazimkan, lengkapnya sifat-sifat manusia yang biasa dan umum. Sesungguhnya contoh/perumpamaan khushusiyah itu bagaikan terangnya matahari di waktu siang, tampak di ufuk tetapi bukan dari ufuk, ada kalanya terbit nur cahaya sifat-sifat Allah pada kegelapan kejadian wujudmu, dan ada kalanya dicabut yang demikian itu daripadamu, maka kembali engkau ke batas-batas asal kejadianmu, maka terang siang itu bukan daripadamu dan kepadamu tetapi ia datang menjelang padamu. Sifat-sifat khushusiyah (kewalian) seperti kasyaf terhadap sesuatu hal, atau kekuatan yang istimewa untuk berbuat dan mengadakan sesuatu, itu semua tidak melazimkan lenyap sifat-sifat manusia yang biasa, seperti kebodohan, kemiskinan dan kelemahan. Sama dengan sinar matahari terhadap benda-benda yang tadinya gelap mendapat cahaya matahari maka berubah menjadi terang, tetapi jika terbenam matahari itu kembali benda-benda itu kepada kegelapannya, sebab cahaya matahari itu tidak termasuk sifat dzatnya, maka apabila menerima nur tajalli maka tampak keluar dari padanya sifat-sifat Allah yang menerangi dzatnya itu, tetapi bila ditarik kembali nur
tajalli itu, maka kembalilah sifat-sifat yang asli pada manusia. Maka sifat-sifat khushusiyah (keistimewaan/kewalian) itu bukan sifat manusıa yang aslı, hanya menjelma (datang) kepadanya, pada sifat- sifat yang ditentukan Allah sendiri yang memberi itu.