Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

196. كُلُّ كَلاَمٍ يَبْرُزُ وَعَلَيْهِ كِسْوَةُ الْقَلْبِ الَّذِي مِنْهُ بَرَزَ.

Tiap-tiap kalimat yang keluar, pasti membawa corak bentuk hati yang mengeluarkannya. Dalam peribahasa :

كُلُّ إِنَاءٍ يَنْضَحُ بِمَا فِيهِ.

Tiap bejana (moci dan sebagainya) pasti mengeluarkan yang terisi didalamnya. Terjadi seorang mencela : Mengapakah hati orang-orang sekarang tidak khusyu’ dan matapun tidak mencucurkan air mata. Maka dijawab oleh Muhammad bin Wasi : Kemungkinan yang demikian itu dari engkau sendiri, sebab bila nasehat itu keluar dari hati yang ikhlas pasti masuk ke dalam hati. Sebaliknya yang hanya berupa gubahan lidah dan fantasi belaka, maka ia akan masuk dari telinga kanan dan keluar dari telinga kiri. Abul-Abbas Almarsy berkata : Keadaan hamba ini hanya ada empat macam : Nikmat, bala’, taat dan maksiat. Maka jika di dalam nikmat kewajiban hamba bersyukur kepada Allah, dan jika menerima bala’ harus sabar. Dan jika dapat melakukan taat harus merasa taufiq hidayat dari kurnia Allah. dan bila tergelincir dalam dosa maksiat maka harus membaca istighfar.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

207. قَيَّدَ الطَّاعَاتِ بِأَعْيَانِ الْأَوْقَاتِ كَيْ لاَ يَمْنَعَكَ عَنْهَا وُجُودُ التَّسْوِيفِ، وَوَسَّعَ عَلَيْكَ الْوَقْتَ كَيْ تَبْقَى لَكَ حِصَّةُ الاِخْتِيَارِ.

Allah sengaja mengikat amal taat itu dengan waktu yang tertentu untuk tidak menahan engkau daripada mengerjakannya karena kebiasaan keteledoran dan kemalasanmu yang suka menunda- nunda, tetapi Allah memperluas waktunya supaya tetap ada bagimu kesempatan memilih waktu yang lebih tepat/ringan atau lebih khusyuk. Sebab apabila waktu itu tidak ditetapkan, niscaya manusia akan menunda-nunda yang akhirnya tidak sampai berbuat, dan diperluas waktu bagi orang yang betul-betul masih sibuk, sehingga ia berbuat setelah tenang dan dapat mengerjakan dengan lebih sempurna.

Hikam Ibnu 'Atoillah

037. شَتَّانَ بَيْنَ مَنْ يَسْتَدِلُّ بِهِ أَوْ يَسْتَدِلُّ عَلَيْهِ، فَالْمُسْتَدِلُّ بِهِ عَرَفَ الحَقَّ لِأَهْلِهِ فَأَثْبَتَ الْأَمْرَ مِنْ وُجُودِ أَصْلِهِ، وَالاِسْتِدْلاَلُ عَلَيْهِ مِنْ عَدَمِ الْوُصُولِ إِلَيْهِ، وَإِلاَّ فَمَتَى غَابَ حَتَّى تُسْتَدَلَّ عَلَيْهِ، وَمَتَى بَعُدَ حَتَّى تَكُونَ الْآثَارُ هِيَ الَّتِي تُوصِلُ إِلَيْهِ.

Jauh berbeda antara orang yang berdalil; adanya Allah menunjukkan adanya alam, dengan orang yang berdalil; bahwa adanya alam inilah yang menunjukkan adanya Allah. Orang yang berdalil adanya Allah menunjukkan adanya alam, yaitu orang yang mengenal hak dan meletakkan pada tempatnya, sehingga menetapkan adanya sesuatu dari asal mulanya. Sedang orang yang berdalil adanya alam menunjukkan adanya Allah, karena ia tidak sampai kepada Allah. Maka bilakah Allah itu ghaib sehingga memerlukan dalil untuk mengetahuinya. Dan bilakah Allah itu jauh sehingga adanya alam ini dapat menyampaikan kepadanya.

Firman Allah :

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (النحل: ٧٨)

Dan Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibumu tidak mengetahui apa-apa, kemudian Allah memberi kepadamu pendengaran dan penglihatan serta fikiran (perasaan), supaya kamu bersyukur. (S. An-Nahi 78). Memang asal mula kejadian manusia bodoh tidak mengetahui apa- apa, kemudian Allah memberinya alat untuk mengetahui dan mengenal- Nya, pendengaran, penglihatan, perasaan dan fikiran semua alat mengenal Allah itu supaya manusia bersyukur, sebab dengan bersyukur itu manusia sempurna dan sejahtera hidupnya, yaitu setelah mengenal kepada Tuhan Allah yang menjadikan dan menjamin segala hajat kebutuhannya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

047. لاَ تَتَعَدَّ نِيَّةُ هِمَّتِكَ إِلَى غَيْرِهِ، فَالْكَرِيمُ لاَ تَتَخَطَّاهُ الْآمَالُ.

Jangan melanggar/melampaui niat tujuanmu (hasrat harapanmu) kepada lain-lainNya. Maka Tuhan yang maha murah itu tidak dapat diliwati oleh sesuatu harapan (angan-angan). Perasaan yang luhur enggan membuka hajat kebutuhannya kepada orang yang tidak dermawan, dan tidak ada yang dermawan pada hakikat yang sebenarnya kecuali Allah ta'ala.

Al-Junaid berkata : Al-Karim (Dermawan) itu ialah yang memberi hajat kebutuhan sebelum diminta. Ada pula pendapat : Al-Karim ialah yang tidak pernah mengecewakan harapan orang yang berangan-angan (berharap). Al-Karim yaitu apabila berkuasa memaafkan, dan bila berjanji menepati, dan bila memberi lebih memuaskan dari harapan, dan tidak

hirau berapa pemberiannya, dan kepada siapa memberinya.

Disalin